PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
IBLIS PENCABUT SUKMA


__ADS_3

"Kita pesta tuak malam ini", seru Pengemis Mata Buta.


"Pesta tuak dan anggur”, menimpali Pengemis Kaki Pincang. 


Kedua pimpinan Perkumpulan itu sama-sama mengeluarkan sebuah kantung uang dan melemparkannya ke hadapan Mata Picak. Memang inilah yang ditunggu-tunggu oleh si Mata Picak. Dengan segera kedua kantung uang itu disambutinya. Dia menjura. 


Belum lagi sempat dia berdiri tegak dari menjuranya itu, maka dari pintu muka masuklah seorang anggota Perkumpulan. Mukanya tak kalah bengis angker, namun di saat ini tampang itu kelihatan sedikit pucat, lesu dan kuyu. Pengemis Kaki Pincang kerutkan kening melihat anggotanya ini. Tak biasanya Kuntawana berparas semurung itu. 


Maka bertanyalah dia. "Kabar apakah yang agaknya kau bawa dari luar rimba, Kuntawana?!" 


"Hemm… Kutawana juga sudah kembali?", ujar Pengemis Mata Buta. 


Anggota yang baru datang itu menjura. Dihelanya nafas panjang lalu berkatalah dia . "Aku membawa kabar buruk, para Ketua...” 


"Kabar buruk bagaimana?", tanya Pengemis Kaki Pincang sementara yang lain-lainnya juga tujukan perhatian terhadap Kuntawana. 


"Kemarin aku memasuki kota Asoka. Kota itu tengah berada dalam kegemparan karena menemukan sesosok mayat di belakang bengkel kuda. Ketika aku menyeruak diantara orang banyak, ternyata mayat itu adalah mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing!". Terkejutlah semua orang. "Ada keanehan dalam cara matinya…".


"Keanehan bagaimana maksudmu?!", tanya Pengemis Mata Buta. 


“Kulit keningnya hitam, dadanya biru. Sedang pada kulit kening yang hitam itu tedapat sebuah gambar. Gambar Trisula!".


Terjadilah perubahan pada air muka pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki Pincang memandang pada pengemis Mata Buta. Pengemis Mata Buta sendiri di saat itu merenung. 


"Bagaimana pendapatmu, Ketua Pengemis Mata Buta?", bertanya Pengemis Kaki Pincang. 


Sejurus lamanya barulah menjawab Pengemis Mata Buta itu. Nada suaranya kentara berubah sekali kali ini. "Sesudah hampir empat puluh tahun menghilang tak tentu rimbanya, ternyata dia muncul kembali. Dia adalah momok yang menakutkan bagi tokoh-tokoh silat golongan hitam macam kita ini, Ketua Kaki Pincang. Pastilah dia muncul kembali untuk menghancurkan golongan kita seperti empat puluh tahun yang lalu itu".


"Maksudmu Pendekar Trisula Maut Maut Naga Langit si Ratih Parwati Itu...?!", tanya Pengemis Kaki Pincang. 


"Siapa lagi!" 


“Ah... kalau dia memang muncul untuk maksud yang seperti masa lampau, dia salah perhitungan! Dunia persilatan dulu tidak sama dengan dunia persilatan masa sekarang! Golongan hitam banyak maju pesat, banyak mempunyai tokoh-tokoh kosen serta lihay dan sakti! Ratih Parwati boleh datang kemari. Dan itu berarti dia antarkan nyawa sendiri!" 


Pengemis Mata Buta menarik nafas dalam, "Kita tak bisa menganggap enteng momok perempuan itu, Ketua Kaki Pincang”, kata Pengemis Mata Buta pula. "Ketahuilah, kedua mataku yang buta ini, dialah yang telah mengoreknya dulu". 


Kagetlah Pengemis Kaki Pincang. Matanya mendelik dan dipandanginya paras rekannya itu. Akhirnya dia memandang ke jurusan lain, karena merinding juga kuduknya memandang lama-lama pada rongga-rongga mata yang menggidikkan itu. 


Suasana hening seketika. Dan keheningan itu dipecahkan oleh bentakan Pengemis Mata Buta. "Kuntawana, apa yang kau telah lakukan terhadap mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing...?!" 


Terkejutlah Kuntawana. 


"Jawab! Apa sesudah kau temui lantas kau tinggal begitu saja.?!" 


"Ketua… di saat itu mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing dikerumuni oleh banyak orang. Di antaranya beberapa prajurit kerajaan. Tak mungkin bagiku…” 

__ADS_1


"Tutup mulut! Kesalahanmu besar! Kau dipecat sebagai anggota Perkumpulan!" 


Muka Kuntawana menjadi pucat. "Ketua…” 


"Diam! Lekas angkat kaki dari sini!" 


"Para Ketua…''. 


"Diam! Berlalulah sebelum amarahku lebih memuncak!",bentak Pengemis Mata Buta. 


Kuntawana menyurut mundur. "Aku bersedia kembali ke Asoka untuk mengambil mayat Ketua Bibir Sumbing…”


"Tak perlu", jawab Pengemis Mata Buta tetap keras. "Aku bisa suruh anggota yang lain!". 


Maka membesilah paras Kuntawana. "Baik, aku akan pergi tapi serahkan dulu uang jasaku". 


"Kurang ajar! Kau berani bicara seenaknya demikian rupa?! Ini bagianmu!". 


Pengemis Mata Buta kebutkan lengan jubah hitamnya. Satu gelombang angin dahsyat melanda ke arah Kuntawana. Terkejutlah Kuntawana. Dia tahu betul pukulan yang dilancarkan oleh si Mata Buta itu. Pukulan "seribu topan!" 


Dengan cepat Kuntawana melompat ke atas namun dia tak bisa melompat tinggi karena bangunan di mana mereka berada mempunyai loteng yang rendah. 


"Celaka, mampuslah aku!", kata Kuntawana di dalam hati. 


Namun pada detik yang berbahaya itu, dari jendela samping satu larikan sinar merah menyambar memapaki angin pukulan seribu topan, dan kejapan itu juga buyarlah pukulan Pengemis Mata Buta dan selamatlah Kuntawana. 


Di luar terdengar suara tertawa bergelak. Sesaat kemudian sesosok tubuh berjubah merah dan berkerudung kain merah dengan gerakan yang sangat sebat dan enteng sudah menjejakkan kaki di lantai ruangan. 


"Iblis Pencabut Sukma!", teriak Pengemis Kaki Pincang berbarengan dengan anggota-anggota Perkumpulan lainnya. Wajah mereka mengkerut tegang.


Orang berkerudung merah keluarkan suara tertawa mengekeh kembali. Pengemis Mata Buta rangkapkan kedua tangannya di muka dada. "Kiranya lblis Pencabut Sukma! Pantas keras dan hebat angin pukulannya! Tapi gerangan apakah yang membuat kau datang ke sini serta mencampuri urusan Perkumpulan kami?!" 


Laki-laki berkerudung yang merupakan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma lagi-lagi tertawa mengekeh. "Ketua-ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam, kuharap tanpa banyak bicara segeralah serahkan Keris Tumbal Wilayuda, Sultan Hasanuddin dan gadis itu kepadaku!". 


"Eh... ini suatu hal yang tidak kami sangka! Rupanya kau juga inginkan semua itu heh...?”


"Hidung kerbau!", maki Iblis Pencabut Sukma. "Aku bilang jangan banyak bicara! Serahkan cepat! Atau seluruh Perkumpulanmu akan kulabrak!". 


"Ah.... Kalau tak salah kita ini masih sama-sama satu golongan. Kenapa harus bikin persoalan begini rupa? Semua manusia berhak memang memiliki keris dan kedua manusia yang kau katakan itu. Dan pihakku telah berhasil menguasainya, kau terlambat. Itu adalah salahmu sen....." 


"Katakan saja kau tak mau menyerahkan apa yang aku minta!”, memotong lblis Pencabut Sukma. 


"Untuk mendapatkan semua itu, pihakku sampai korbankan salah seorang ketuanya. Sekarang kau seenaknya meminta. Aturan macam mana yang kau pakai?!", kata Pengemis Kaki Pincang. 


"Kaki Pincang, kau menentukan kematianmu sendiri dengan bicara macam begitu!". 

__ADS_1


Pengemis Kaki Pincang tertawa tawar. "Orang lain mungkin takut pada kau! Tapi aku Pengemis Kaki Pincang boleh dicoba nyalinya!". 


lblis Pencabut Sukma tertawa gelak-gelak. Kedua kakinya merenggang. "Dalam satu jurus kau akan konyol ke akherat Pengemis Kaki Pincang!". 


"Coba saja, aku mau lihat!", kata Pengemis Kaki Pincang dengan tertawa menghina. 


Sementara itu telinganya mendengar suara rekannya si Mata Buta, yang disampaikan dengan ilmu menyusupkan suara. "Ketua Kaki Pincang, hati-hatilah. Manusia ini berbahaya". 


Ketika Iblis Pencabut Sukma angkat tangan kanan ke atas, dan ketika Pengemis Kaki Pincang pusatkan tenaga dalamnya ke tangan kiri, tiba-tiba Kuntawana melompat antara tengah-tengah kedua Orang itu. 


"Manusia sontoloyo! Kau juga minta dikirim keakhirat?!", bentak Iblis Pencabut Sukma. 


Kuntawana menghadap pada Pengemis Mata Buta dan Kaki Pincang. "Para Ketua, harap perkenankan aku melayani dajal berkerudung ini sebagai penebus kesalahanku".. 


"Hem…". Pengemis Mata Buta merenung. "Baiklah. Kaki Pincang, kau mundurlah!". 


Maka Pengemis Kaki Pincang Pun mundurlah, sedang Kuntawana segera cabut cambuk hitamnya. Iblis Pencabut Sukma menyeringai. 


"Manusia tampangmu cukup tiga langkah saja kulayani!". katanya. 


Kuntawana putar cambuknya dengan sebat. Iblis Pencabut Sukma maju satu langkah. Kuntawana tiba-tiba lepaskan pukulan tangan kiri, sesudah itu laksana hujan cambuknya bergelegaran ke arah lawan. Iblis Pencabut Sukma majukan langkah kedua. Jari-jari tangan kanannya terbentang ke muka seperti hendak mencakar, sedang tangan kiri mengebut menahan serangan lawan. Pada detik dia buat langkah ketiga, maka tangan kanannya ditarik ke belakang dengan keras. Inilah yang disebut ilmu pukulan pencabut sukma. 


Kuntawana merasakan badannya seperti tersedot. Isi perutnya seperti dibetot. 


"Huah!" 


Sesaat kemudian anggota Pengemis Darah Hitam inipun muntah darahlah. Tubuhnya terkapar di lantai tanpa nyawa. Berdeburlah darah para anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. 


Pengemis Kaki Pincang dan Pengemis Mata Buta tergetar hati masing-masing. Kuntawana adalah anggota Perkumpulan yang ilmu kepandaiannya tidak rendah. Tapi Iblis Pencabut Sukma membunuhnya hanya dalam tiga langkah. 


Iblis Pencabut Sukma tengadahkan muka dan tertawa bekakakan menegakkan bulu roma.. "Siapa yang tidak senang melihat mampusnya kroco itu boleh maju segera”, katanya. 


Kemudian dia berpaling pada dua orang pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Sepasang matanya kelihatan menyorot berkilat. "Kalian berdua masih belum mau serahkan apa-apa yang aku minta?!". 


Sebelum kedua Ketua Pengemis Darah Hitam berikan jawaban, sesosok tubuh dengan gerakan enteng melompat ke hadapan dua Ketua Pengemis Darah Hitam. 


"Para Ketua, perkenankanlah aku Lah Simpong untuk membasmi iblis yang kesasar ini!" 


Pengemis Mata Buta tidak memberikan sahutan. Dia tahu kepandaian Lah Simpong memang lebih tinggi dari Kuntawana, tapi untuk menghadapi lblis Pencabut Sukma, tingkat kepandaian Lah Simpong masih belum dapat diharapkan. 


Sebaliknya Pengemis Kaki Pincang setelah merenung sejurus, lalu anggukkan kepala dan berkata, "Baiklah, tapi hati-hati. Manusia ini benar-benar ganas seperti iblis!". 


Setelah diperkenankan begitu rupa, maka Lah Simpong segera putar badan. Cambuk di tangan kiri, sebuah toya besi di tangan kanan, maka dia pun maju ke arah Iblis Pencabut Sukma. Iblis Pencabut Sukma menyeringai di balik kerudung kain merahnya. 


"Rupanya Para Ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam lebih suka korbankan anggotanya dari pada maju sendiri!" 

__ADS_1


"Jangan banyak mulut manusia iblis! Lihat cambuk!".


BERSAMBUNG....


__ADS_2