
Dengan muka merah laksana saga karena malu dengan terbongkok-bongkok, Nenek Kelewang Merah mengambil kelewangnya lalu dengan geramnya berkata pada lndrajaya: "Apa yang terjadi hari ini tidak bakal kulupakan! Kelak aku datang kembali untuk mengorek kau punya jantung dari balik tulang dadamu!"
Habis berkata demikian, diiringi oleh sorak sorai mereka yang hadir maka tanpa menoleh lagi, si nenek tua itu segera meninggalkan tempat tersebut.
Belum lagi habis sorak sorai para hadirin, tahu-tahu seorang resi berpakaian ungu sudah melesat naik ke atas panggung. Munculnya resi ini dengan serta merta menghentikan segala kehiruk pikukan. Semua mata ditujukan kepadanya. Sikapnya yang tenang dan mimik air mukanya yang polos menyatakan bahwa dia mempunyai wibawa serta berilmu tinggi. Pada punggung dan dada jubahnya yang berwama ungu itu kelihatan gambar tombak bermata tiga, yang disulam dengan benang emas.
Melihat jubah dan sulaman tombak emas kepala tiga itu, maka segenap yang hadir serta tuan rumah segera mengenali siapa adanya resi tersebut. Di dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Tiga Tombak Emas Trisula, dan berdiam di Pulau Wuwutan di Pantai Selatan Jawa Tengah. Bersama dua orang resi lainnya dia membentuk satu perkumpulan silat yang akan melakukan tugas apa saja dan dari manapun datangnya asal dibayar dengan uang atau barang-barang berharga.
Dikabarkan komplotan Tiga Tombak Emas Trisula dulunya juga turut menjadi kaki tangan pengkhianat yang hendak meruntuhkan Demak. Mengapa sampai salah satu anggota perkumpulan Tiga Tombak Emas Trisula itu bisa sampai di tempatnya belum dapat dijajaki oleh Ketua Partai Telaga Wangi, karena memang dia merasa tak pernah memberikan undangan pada mereka. Apakah manusia ini Cuma datang sendirian atau bersama dua rekannya lainnya ? Mungkin pula kedatangannya atas bayaran seseorang atau satu perkumpulan lain dengan tugas membuat kekacauan pada saat peresmian pendirian Partai Telaga Wangi?
Resi itu setelah memandang ke seluruh anggota Partai, melirik sekilas pada lndrajaya kemudian menganggukkan kepalanya pada Dewa Pedang. "Aku adalah Godapati, salah seorang yang termuda dari Tiga Tombak Emas Trisula. Meski tak diundang telah memberanikan diri untuk datang ke mari ...."
"Ah ...." Dewa Pedang balas mengangguk. "Sudah barang tentu ini satu kehormatan bagi kami menerima kunjungan seorang tokoh silat macam saudara ... ."
Godapati batuk-batuk beberapa kali lalu berkata pula, ”sudah lama aku mendengar nama besar Dewa Pedang. Ketika mendengar kabar yang dibawa oleh angin bahwa Dewa Pedang hendak membangun satu Partai baru dalam dunia persilatan, maka itu mendorong aku untuk datang dan menyaksikannya sendiri ...."
”Terima kasih ... terima kasih ...." kata Dewa Pedang.
“ Jika Ketua Partai Telaga Wangi memberi izin, aku berkehendak sekali untuk melihat dari dekat kehebatan permainan pedang Ketua Partai ...."
Dewa Pedang tertawa jumawa. Putra kedua dari sang Ketua tiba-tiba berdiri.
__ADS_1
“ Ayah, perkenankan aku mewakilimu dalam memenuhi kehendak tamu kita ini ....”
Dewa Pedang merenung sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Namun dengan ilmu menyusupkan suara dia berkata pada anaknya “ Hati-hati Jayengrana, dia lihai sekali, senjatanya sebuah tombak emas bermata tiga. Ingat baik-baik jangan sampai pedangmu beradu atau bertempelan dengan senjatanya!”.
Godapati meneliti Jayengrana dengan matanya yang tajam. Kemudian pemuda itu melangkah ke hadapannya.
"Tombak Emas Trisula," kata Jayengrana, "Atas izin ayahku selaku Ketua Partai Telaga Wangi, kuharap kau tak keberatan kalau niatmu terhadap ayahku, aku yang mewakilinya."
Jika saja tidak menyaksikan sendiri kelihaian lndrajaya tadi, maka pastilah Godapati akan menganggap remeh terhadap si pemuda. Tapi untuk menjaga nama besar dirinya dan nama gagah perkumpulannya, maka Godapati berkata: "Ah, dari jauh datang hendak bertemu dan bertutur ilmu dengan Dewa Pedang, sampai di sini hanya diberi kesempatan untuk berhadapan dengan putranya ...."
Godapati berpaling pada Ketua Partai Telaga Wangi dan berkata: "Dewa Pedang, kuharap kau jangan marah bila terhadap putramu nanti aku kesalahan tangan...!"
Meski tahu bahwa tutur kata yang sopan itu adalah dibuat-buat saja, namun Dewa Pedang tersenyum dan mengangguk ramah. Maka dari balik jubah ungunya, Resi Godapati segera mengeluarkan sebuah tombak yang terbuat dari emas dan bermata tiga.
"Silahkan Tombak Emas Trisula ...." jawab Jayengrana.
Dengan mengeluarkan bentakan yang teramat dahsyat, Resi Godapati menyerang. Senjatanya berkelebat dan menimbulkan tiga larik sinar kuning emas, namun anehnya senjata yang berbentuk tombak kepala tiga itu bergerak agak lamban. Melihat ini Jayengrana segera hendak menabas senjata lawan dengan pedangnya, namun ketika dia ingat pesan ayahnya, bahwa sekali-kali jangan sampai beradu senjata atau menempelkan pedang dengan senjata lawan maka pemuda itu mengurungkan niatnya. Seandainya Jayengrana meneruskan niatnya tadi hendak memapas senjata lawan, maka dalam jurus pertama itu pastilah Resi Godapati akan menjepit badan pedangnya antara salah satu legukan dua mata tombak, kemudian akan mematahkan pedang itu.
Godapati sendiri merasa heran mengapa si pemuda tak meneruskan niatnya dan dia membathin mungkin sekali Jayengrana mengetahui rahasia kehebatan senjatanya. Maka tanpa menunggu lebih lama dia segera menyerang kembali. Jayengrana berkelebat dan bergerak gesit. Kegesitan inilah yang banyak menolongnya dari serangan senjata lawan yang hebat itu. Ketika Godapati mempercepat gerakannya, maka Jayengrana juga mempercepat kelebatannya, sehingga kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang saja kini dan dalam waktu yang singkat keduanya sudah bertempur lima belasan jurus.
Para tamu yang hadir dan pihak tuan rumah sendiri menyaksikan pertempuran itu dengan mata hampir tak berkedip. Sudah beberapa kali Jayengrana mengeluarkan jurus-jurus terlihai dari permainan pedang Partai Telaga Wangi, namun sampai begitu jauh tak berhasil membuat kemajuan. Resi Godapati sendiri tidak pula mampu melakukan sesuatu dari pada seperti keadaannya disaat itu. Sukar baginya untuk menerobos pertahanan lawan. Berkali-kali dia berusaha untuk menjepit pedang Jayengrana, tapi si pemuda senantiasa menjauhkan pedangnya dari ujung tombak kepala tiga itu.
__ADS_1
Ketika pertempuran sudah berjalan dua puluh lima jurus, Resi Godapati mulai menjadi penasaran. Di samping itu telinganya mulai mendengar ejekan-ejekan para tamu di sekitar panggung yang membuat dia jadi kehilangan muka.
"He ... he .... Jika tiga jurus lagi kau tak mampu mengalahkan pemuda itu sebaiknya kembali saja ke Pulau Wuwutan dan tak usah munculkan diri lagi di dunia persilatan!" terdengar suara mengejek dari panggung sebelah Barat. Suara ini adalah suara manusia yang tadi pertama kali juga telah mengejek Si Bayangan Setan.
Godapati kertakkan rahangnya. Tangan kirinya dengan cepat masuk lalu ke luar lagi dari saku jubah. "Awas jarum!' seru Resi Godapati.
Jayengrana membentak keras dan melompat ke udara setinggi lima tombak. Puluhan jarum emas yang menjadi senjata rahasia Resi Godapati lewat di bawahnya. Dan pada detik itu pula laksana seekor burung garuda menyambar mangsanya, maka menukiklah Jayengrana. Pedangnya menyambar deras ke arah leher lawan. Resi Godapati cepat menangkis dengan senjatanya. Disamping Jayengrana tak mau bentrokan senjata, maka dengan cepat dan tak terduga sama sekali, pemuda itu gerakkan pedang membuat satu tusukan kilat ke arah dada. Demikianlah cepatnya sehingga Godapati tak punya kesempatan untuk menangkis kembali.
Terpaksa Resi lihai itu memaki dalam hati dan cepat-cepat melompat ke belakang. Pada lompatan ke belakang ini sang Resi membuat lagi satu gerakan yang hebat luar biasa. Tubuhnya jungkir balik di udara. Tombak Emas Trisula di tangannya menyapu dari samping dan tahu-tahu salah satu legukannya telah berhasil menjepit pedang perak di tangan Jayengrana. Begitu berhasil menjepit, segera Godapati memutar tombaknya. Di lain pihak karena tidak ingin senjatanya menjadi patah dua, Jayengrana terpaksa dengan cepat melepaskan pedangnya. Namun dia tak mau terima kalah begitu saja. Begitu pedangnya dirampas lawan, cepat laksana kilat pemuda itu jatuhkan diri ke lantai dan .... "Bret!"
Sekali Jayengrana gerakkan tangannya, maka robeklah jubah ungu Resi Godapati. Penasaran sekali karena jubah kebesarannya dirusak lawan, Resi Godapati hantamkan tombaknya ke tubuh Jayengrana. Yang diserang menggulingkan dirinya dengan cepat dan sekejapan mata kemudian tombak kepala tiga itu menancap di lantai papan panggung sampai setengahnya.
Para tamu yang hadir bersorak gegap gempita melihat pertempuran yang hebat seru itu. Jayengrana berdiri dengan cepat sementara Resi Godapati mencabut senjatanya yang amblas ke dalam lantai lalu menyimpannya kembali ke balik jubah ungunya. Dia memandang pada Ketua Partai Telaga Wangi, menganggukkan kepala lalu berkata: "Dewa Pedang, ternyata puteramu telah sanggup menyuguhkan satu permainan yang berharga kepadaku. Memang tidak percuma kalau kau berhasrat mendirikan satu partai besar dengan anggota-anggota yang berkepandaian tinggi macam anakmu!".
Dewa Pedang tertawa cerah. Siapa yang akan menyangka kalau seorang tokoh silat golongan hitam seperti Godapati mau bicara dan bersikap jujur seperti itu?
“Terima kasih, Resi Godapati. Jikalau penyambutan kami terhadapmu kurang baik mohon dimaafkan” kata Dewa Pedang pula.
Secara nyata memang puteranya telah dikalahkan oleh resi kosen itu meskipun Jayengrana tidak begitu kehilangan muka karena dia juga berhasil merobek jubah lawannya. Sekali lagi Resi Godapati menganggukkan kepalanya. Dia memutar tubuh hendak meninggalkan panggung, namun langkahnya tertahan ketika di lembah di mana telaga itu terletak, tiba-tiba sekali terdengar suara mengumandang yang dahsyat dan menggidikkan. Lalu tahu-tahu sebuah benda jatuh menggelinding di hadapan kaki Dewa Pedang.
Ketika Dewa Pedang dan semua anggota partai serta para hadirin memandang ke benda yang menggelinding itu, maka terkejut dan gemparlah semuanya, karena benda itu bukan lain daripada kepala manusia.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....