
Secara ilmu luar, memang walau bagaimanapun kepalan tak akan menang melawan lutut. Dan adalah sangat berbahaya bagi seorang yang menyerang dengan tinju bila dia meneruskan niatnya menyerang lutut yang keras dengan tinjunya. Namun Pendekar Kumbang Malam sama sekali tidak menarik pulang serangannya.
“Ageng Comal!! Lekas tarik tanganmu!” teriak seorang di bawah panggung berteriak memberi peringatan.
Tapi, “Braak!”
Kasip sudah. Pemimpin kesenian gamelan itu menjerit. Tubuhnya terguling pingsan di lantai panggung. Tulang tempurung lututnya hancur, kakinya sendiri teruntai-untai hampir putus. Semua mata melotot. Semua muka pucat dan semua mulut melongo. Bagaimanakah tidak, Pemuda jubah hitam di atas panggung itu merobohkan lawannya tanpa bergeser satu langkah pun.
Di lain kejap seorang lain telah melompat pula ke atas panggung. Orang itu adalah Rantas Madan yang sudah sejak tadi tak dapat lagi menahan hati panasnya.
Pendekar Kumbang Malam lontarkan pandangan mengejek pada orang tua itu. “Kau juga mau cari penyakit hah?!” hardiknya.
“Selagi masih ada waktu berlututlah minta ampun! Hukumanmu pasti ku peringan!,” kata Rantas Madan.
Pendekar Kumbang Malam tertawa mengekeh. “Jangan ngaco, orang tua! Kalau mau konyol marilah!”
Tentu saja ditantang demikian rupa membuat Ki Lurah Rantas Madan semakin berkobar kemarahannya. Tanpa menunggu lebih lama laki-laki ini yang pernah menuntut ilmu kesaktian di Gunung Simping menerkam ke muka. Dalam jarak satu meter saja serangannya sudah menimbulkan angin bersiuran yang tajam dan menerpa ke arah Pendekar Kumbang Malam. Yang diserang maklum bahwa lawannya yang seorang ini berbeda dengan dua orang yang terdahulu.
Tanpa menghentikan tertawanya tadi, Pendekar Kumbang Malam lantas mengangkat dan melambaikan tangan kirinya ke muka. Setiup angin keras yang menggetarkan panggung bersuit memapas tubuh Ki Lurah Rantas Madan. Serangan Ki Lurah Rantas Madan dengan serta merta buyar dan tubuhnya sendiri kemudian terangkat ke udara setinggi lima tombak, hampir menyundul atap panggung.
Dengan cekatan Ki Lurah Rantas Madan jungkir balik di udara kemudian dengan gerakan kilat menukik dan menghantamkan tangan kanannya ke arah lawan. inilah jurus “Walet Menukik Lembah!”
Pemuda bertampang gagah tapi buas garang itu terkejut sekali sewaktu merasakan angin panas menyerang kepalanya. Cepat-cepat dia rundukkan tubuh sebatas pinggang dan balas mengirimkan pukulan jarak jauh dengan tangan kanan. Ki Lurah Rantas Madan terdengar menjerit. Tubuhnya mental ke atas, melabrak dan membobolkan atap panggung, lenyap dari pemandangan, untuk kemudian terdengar gedebuk tubuhnya sembilan tombak di tanah di belakang panggung. Waktu jatuh kepalanya lebih dahulu, tulang lehernya patah. Nyawanya lepas.
__ADS_1
Ning Leswani dan beberapa perempuan yang ada di sana menjerit. Bersama ibunya, temanten perempuan itu hendak lari memburu ayahnya, namun Rana Wulung dan seorang lainnya, menahan mereka. Rana Wulung seorang pemuda terpelajar yang tak kenal satu jurus ilmu silat pun. Namun menyaksikan kematian ayah serta mertuanya itu gelaplah pemandangannya. Keris perhiasan penganten yang tersisip di pinggang segera dicabut. Ketika melompat ke atas panggung kaki kanannya hampir tersandung.
“Ho-ho! Temanten juga mau ikut-ikutan minta digebuk?!” teriak Pendekar Kumbang Malam.
“Kubunuh kau keparat!” bentak Rana Wulung menggeledek. Keris di tangan kanannya ditusukkan sekeras-keras dan secepat-cepatnya ke dada Pendekar Kumbang Malam.
“Budak tolol!” maki Pendekar Kumbang Malam.
Sekali pemuda jubah hitam itu gerakkan tangannya, maka keris yang dipegang Rana Wulung sudah kena dirampas, dijepit di antara jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya. Suara tertawa Pendekar Kumbang Malam kernudian terdengar mengumandang di seantero panggung. Kemarahan dan sakit hati Rana Wulung tiada terperikan. Dengan kedua tinju terpentang dia menyerbu ke muka.
“Edan betul!” bentak Pendekar Kumbang Malam. “Masih tak melihat tingginya gunung dalamnya lautan!”
Dan manusia ini segera menyongsong serangan Rana Wulung dengan tendangan maut yang mengarah lambung. Kalau saja Rana Wulung seorang yang mengetahui sedikit ilmu silat, dalam posisinya seperti saat itu sebenarnya dia masih sanggup dan punya kesempatan untuk mengelak atau berkelit atau sekaligus melompat cepat ke samping.
Tapi....
Di saat ajal sudah di depan mata, disaat maut hendak merenggut, maka tiada terduga, disaat itu pula dari bawah panggung sebelah barat melesat sebuah benda yang mengeluarkan cahaya berkilau. Benda ini melesat ke arah kaki kanan Pendekar Kumbang Malam yang mencari maut di perut Rana Wulung.
Tentu saja Pendekar Kumbang Malam menjadi terkejut dan terpaksa menarik pulang serangannya. Benda yang berkilau itu lewat dan menghantam taron sehingga alat bunyi-bunyian ini terbalik dan hancur berantakan. Benda apakah yang sehebat itu dan siapa gerangan yang melemparkannya? Siapa yang telah menolong Rana Wulung dari kematian?!
“Pembokong licik! Cepat unjukkan diri,” teriak Pendekar Kumbang Malam marah sekali.
Sepasang matanya yang buas menyapu ke arah barang panggung. Di bagian barat panggung berdiri beberapa orang. Mata Pendekar Kumbang Malam yang tajam tidak berhasil kali ini menduga siapa gerangan manusia yang telah melemparkan senjata rahasia tadi.
__ADS_1
Dengan marah Pendekar Kumbang Malam mengangkat tangan kanannya ke udara dan berteriak, “Kalau tidak ada yang mengunjuk diri, semua yang ada di panggung barat pasti kubikin mampus!”
Seorang laki-laki tua yang berdiri di belakang sebuah kursi di bagian barat panggung berbatuk-batuk beberapa kali. Laki-laki ini berpakaian bagus dan bertopi tinggi yang dihiasi manik-manik. Jelas ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang bangsawan atau hartawan. Dia mengangkat kursi yang di depannya ke samping dan melangkah ke muka panggung, berhenti sejarak dua tombak dari panggung.
“Cepat beri tahu siapa kau!” bentak Pendekar Kumbang Malam. Tangan kanannya masih belum diturunkan dan kini telapaknya yang terbuka diarahkan pada orang tua berpakaian bagus.
“Aku hanya seorang tamu yang mengunjungi pesta perkawinan ini, orang muda....”
“Hem... cuma seorang tamu saja berani campur tangan! ilmu melemparkan senjata rahasia pengecut tadikah yang kau andalkan?!”
Orang tua itu berbatuk-batuk lagi. “Meski cuma tamu buruk begini,” katanya, “Aku juga adalah sahabat baik dari tuan rumah dan besannya. Sungguh tidak enak sekali melihat nasib sahabat-sahabat yang nahas tanpa bersedia turun tangan!”
“Oo begitu? Bagus!” ujar Pendekar Kumbang Malam pula. “Sanggupkah kau menerima pukulan tangan kananku?!”
Orang tua berpakaian bagus itu tertawa dingin. “Orang muda, nyalimu memang besar sekali. Sayang kejahatanmu dan kebuasanmu jauh lebih besar lagi, sehingga aku yang tua ini terpaksa tak bisa berpangku tangan...”
“Orang gendeng yang tak tahu gunung Semeru di depan hidung! Terima pukulan Tapak Jagat ini!”
Si orang tua cepat menyingkir ke samping waktu Pendekar Kumbang Malam menghantamkan telapak tangan kanannya ke depan. Semua orang terkejutnya bukan olah-olah sewaktu melihat bagaimana tanah bekas tempat si orang tua berpakaian bagus tadi menjadi berlubang besar di landa ilmu pukulan 'Tapak Jagat’ si pemuda jubah hitam.
Pasir berterbangan, kursi-kursi jungkir balik berpatahan sedang bumi bergetar. Kalau saja si orang tua tidak cepat menyingkir, tak dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan dirinya. Namun disaat itu semua orang dan Pendekar Kumbang Malam sendiri sama memaklumi bahwa si orang tua bukanlah orang tua sembarangan. Tidak sembarang orang yang sanggup mengelak dari pukulan 'Tapak Jagat” itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1