
“Aku Mahesa Jenar memerintahkan untuk hentikan pertempuran ini!”
Suara yang hampir menggeledek itu dengan serta merta menghentikan pertempuran. Prajurit-prajurit yang mengeroyok melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Si pemuda asing masih berdiri di tempat dengan tombak di tangan. Teriakan Mahesa Birawa tadi membuat dia putar kepala ke arah datangnya suara itu. Dan sepasang matanya segera membentur sesosok laki-laki berbadan tegap berkumis lebat melintang, berpakaian bagus. Pada pinggangnya terselip keris.
Dalam hatinya pemuda itu menggumam: “Hem... jadi inilah dia manusianya yang bernama Mahesa Jenar itu...”. Selagi dia menggumam begitu laki-laki itu melangkah mendatanginya.
“Orang asing,” kata Mahesa Jenar dengan nada keren dan lantang. “Meski kau punya sedikit ilmu yang diandalkan, tapi di sini bukanlah tempat untuk memamerkannya.”
Si pemuda keluarkan suara bersiul. “Betul aku berhadapan dengan Mahesa Jenar saat ini...?” tanyanya.
“Kau siapa?!,” membentak Mahesa Jenar.
“Namaku tertulis di kening anak buahmu itu.” Si pemuda pendekar Trisula Maut Menunjuk ke mayat Suto Rande.
“Hem... bagus kalau begitu.” Mahesa Jenar puntir kumisnya. “Kau yang membunuh Kalasrenggi, bukan?”
“Tidak! Aku hanya menggantungnya dan Tuhan kemudian mengambil rohnya....”. Habis berkata begitu pendekar Trisula Maut Rangga Geblek tertawa ngekeh.
“Kau tahu Mahesa, manusia macam Kalasrenggi itu tak layak hidup lama-lama di dunia! Masih kebagusan ada kali untuk tempat membuang mayatnya. Dan kau tahu... di atas bumi ini masih banyak manusia-manusia macam Kalasrenggi malahan lebih terkutuk dari Kalasrenggi yang mesti dilenyapkan.”
“Di sini bukan tempat pidato, budak hina.” bentak Mahesa Jenar.
“Oh, begitu…? Kalau demikian mari kita bicara empat mata Mahesa Jenar. Aku memang sudah lama mencarimu.”
Mahesa Jenar menyeringai. Kemudian kelihatan bagaimana mukanya menjadi kelam membesi. “Kalau aku bicara dengan kau maka biar aku terangkan padamu bahwa kedatanganmu ke sini hanyalah untuk mengantar nyawa.”
Habis berkata demikian Mahesa Jenar hantamkan tangan kanannya ke muka. Setiup angin yang bukan olah-olah panasnya menggebubu ke arah pendekar Trisula Maut. Pendekar Trisula Maut lompat tiga tombak ke atas. Angin pukulan lewat di bawahnya dan menghantam sebuah pohon kayu.
“Buum!” “Kraak!”
Pohon itu bukan saja tumbang dilanda angin pukulan tapi juga berwarna hitam karena hangus. Kedua orang itu sama-sama terkejut. Pendekar Trisula Maut terkejut melihat kehebatan pukulan dan tenaga dalam lawan, sedang Mahesa Jenar heran tidak menyangka kalau pukulannya itu dapat dielakkan dengan satu lompatan enteng ke udara.
Dengan penuh waspada Rangga Geblek jejakkan kedua kakinya kembali ke tanah.
“Mahesa Jenar,” katanya, “Soal pertempuran soal mudah. Mudah dimulai, mudah diakhiri. Tapi aku bilang, aku mau bicara dengan kau. Empat ma....”
“Budak hina! Siapa sudi bicara dengan kau.” potong Mahesa Jenar membentak.
Sekali lagi tangan kanannya dipukulkan ke muka. Kalau tadi dia hanya mempergunakan sepertiga dari tenaga dalamnya maka kini dialirkan ke dalam pukulannya itu setengah dari tenaga dalamnya. Namun untuk kedua kalinya pula Mahesa Jenar dibuat gemas karena Pendekar Trisula Maut berhasil pula mengelakkan serangannya yang dahsyat itu.
“Mahesa Jenar, apakah kau yang lebih tua tidak memberikan kesempatan padaku untuk bicara empat mata?!” tanya Rangga Geblek pula.
Kesabarannya mulai terkikis dari hatinya. Kalau saja dia tiada ingat pesan gurunya Eyang Ratih Parwati, pastilah saat itu juga dibalasnya serangan-serangan Mahesa Jenar tadi.
Untuk tidak terlalu kehilangan muka karena dua pukulannya berhasil dielakkan lawan maka berkatalah Mahesa Jenar: “Percuma saja kau bicara, toh nantinya nyawamu akan aku bikin merat juga dari kau punya badan.”
Pendekar Trisula Maut tertawa. “Dengar Mahesa Jenar…” kata pendekar ini.
Rahang-rahangnya bertonjolan. Pelipisnya bergerak-gerak tanda dia menekan amarahnya dan berusaha mempertahankan kesabarannya.
“Aku membawa pesan dari Eyang Ratih Parwati…”
Maka terkejutlah Mahesa Jenar mendengar nama itu.
__ADS_1
“Kau ini siapa kalau begitu?!” tanyanya.
“Siapa aku masih belum penting. Aku tunggu kau malam ini di bukit Jatimaleh. Seorang diri, Mahesa Jenar. Datanglah seorang diri.”
“Kau bisa bicara di sini!”
Pendekar Trisula Maut menggeleng. “Di bukit Jatimaleh.” desisnya.
“Aku bilang di sini!,” bentak Mahesa Jenar.
“Takutkah kau datang ke bukit itu malam-malam gelap begini? Atau mungkin takut pada dinginnya udara? Atau mungkin takut pada roh-roh manusia yang selama ini membayangimu?!”
Mahesa Jenar kertakkan geraham. Dia memberi isyarat. Bersama puluhan prajurit yang ada di situ maka menyerbulah dia. Pendekar Trisula Maut melompat sampai setinggi tujuh tombak. Dia berpegangan pada ujung sebuah cabang pohon, membuat satu kali putaran pada saat mana Mahesa Jenar lemparkan sejenis senjata rahasia.
Mahesa Jenar berseru tertahan ketika melihat senjata rahasianya membalik kembali menyerang dirinya sendiri. Dikebutkannya tangan kirinya. Senjata rahasia itu bermentalan, menghantam prajurit-prajurit di sekitarnya. Empat orang mengerang dan rebah ke tanah. Bayangan Rangga Geblek lenyap namun masih terdengar suara seruannya mengiangi anak telinga.
“Bukit Jatimaleh, Mahesa! Malam ini. Ingat, seorang diri.... !”
************
Bukit Jatimaleh terletak tidak berapa jauh dari perkemahan pemberontak. Ketika Mahesa Jenar hendak meninggalkan perkemahan, beberapa prajurit menyatakan hendak ikut serta tapi Mahesa berkata:
“Biar aku sendiri yang membereskan urusan ini. Kalian semua di sini bersiap siagalah. Perkuat penjagaan dan lipat gandakan prajurit-prajurit peronda.”
Cuaca malam di atas bukit Jatimaleh gelap gulita. Di langit tiada rembulan tiada bintang. Udara yang dingin mencucuki daging menyembilui tulang-tulang sampai ke sumsum. Dalam kegelapan inilah kelihatan dua sosok tubuh berdiri berhadap-hadapan.
Yang satu membentak lantang: “Cepat terangkan siapa kau adanya budak hina.”
“Ah... jangan bicara memaki terus-terusan Mahesa Jenar. Belum tentu aku lebih hina dari kau.” jawab Pendekar Trisula Maut.
“Pesan Eyang Ratih Parwati ialah agar kau segera kembali ke puncak Gunung Ciremai dalam waktu secepat-cepatnya.”
“Kembali ke puncak Gunung Ciremai ?!”
“Yeah... Untuk menerima hukuman atas perbuatan-perbuatan jahatmu sejak kau turun gunung tujuh belas tahun yang silam.”
“Jangan bicara ngaco belo. Ada hubungan apa kau dengan Eyang Ratih Parwati?!”
Pendekar Trisula Maut tertawa datar. “Aku hanya pesuruh buruk saja, Mahesa.” jawabnya.
“Dusta!,” bentak Mahesa Jenar menggeledek. “Kalau kau tak mau bicara yang sebetulnya jangan menyesal bila kepalamu kupuntir sampai putus.”
Rangga Geblek bersiul. “Aku tak tahu segala urusan puntir kepala. Aku hanya menyampaikan perintah Eyang Ratih Parwati agar kau menghadapnya di puncak Gunung Ciremai. Kau dengar Mahesa.... He... he... he....”
Jari-jari tangan Mahesa Jenar mengepal membentuk tinju.
“Aku ingin tahu saat ini juga. Apakah kau bersedia memenuhi perintah itu atau tidak?”
“Aku tanya dulu. Apa hubunganmu dengan Eyang Ratih Parwati? Jangan bikin kesabaranku habis.”
“Kurasa akulah yang mustinya kehabisan rasa sabar melihat tampangmu saat ini.” tukas Rangga Geblek.
“Katakan saja terus terang bahwa kau tak mau menghadap Eyang Ratih Parwati. Itu lebih baik dan lebih jelas!!”
__ADS_1
Mahesa Jenar busungkan dada. Katanya: “Kalau orang tua geblek itu butuh ketemu dengan aku, suruh dia datang ke sini.”
Suara menggeram jelas terdengar di tenggorokan Pendekar Trisula Maut. Mukanya kelam membesi. Tanah yang dipijaknya melesak sampai tiga senti.
“Bicaramu terlalu besar Mahesa Jenar. Terlalu pongah… Dosamu sendiri sudah lebih dari takaran. Hari ini kau hina gurumu sendiri. Guru yang bertahun-tahun telah memeliharamu, mengajarmu segala ilmu kepandaian. Guru yang telah kau nodai nama baiknya. Kau mengandalkan apakah, Mahesa Jenar?! “
“Bocah gila!!! Terpaksa mulutmu kurobek detik ini juga!” bentak Mahesa Jenar.
Secepat kilat, belum lagi habis bicaranya maka lima jari-jari tangan kanannya bergerak mencengkeram ke muka.
Pendekar Trisula Maut tertawa. Tertawa dan bersiul. Bentakan nyaring menggeledek dari mulutnya dan dia lompat ke samping sambil hantamkan tangan kirinya. Mahesa Jenar terkejut ketika merasakan satu angin yang deras mendorong tubuhnya. Cepat-cepat dia pergunakan tangan kanan untuk memapasi dorongan angin itu tapi tak urung tubuhnya menjadi gontai juga. Maka kini keringat dingin memercik di kening laki-laki itu.
“Urusan kekerasan urusan mudah, Mahesa.” kata Rangga Geblek. “Tapi bicaraku masih belum habis. Tujuh belas tahun yang lewat kau pernah malang melintang di Jatiwalu, Ingat?”
“Pemuda sedeng. Darimana....”
“Ah... kau masih ingat. Bagus... bagus sekali. Apa kau juga ingat bahwa pada masa tujuh belas tahun itu kau telah membunuh Ranamaya, Kepala Kampung Jatiwalu? Apakah kau juga masih ingat bahwa pada masa itu kau juga merusak kehormatan seorang perempuan bernama Surti, isteri Ranamaya, kemudian karena malu perempuan itu bunuh diri? Apa kau juga masih ingat dan sanggup menghitung berapa banyak jiwa penduduk yang kau renggut, kau bunuh?!”
Mulut Mahesa Jenar terkatup rapat-rapat.
Dan pendekar Trisula Maut buka mulut lagi: “Kalau aku tidak ingat pesan Eyang Ratih Parwati, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk mengermus kepalamu. Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk menghadap ke puncak Gunung Ciremai, maka tak ada lagi halangan bagiku untuk membalaskan dendam kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat berakar sejak tujuh belas tahun yang lewat. Ketahuilah Mahesa Jenar, aku adalah anak Ranamaya. Dan aku adalah juga murid Eyang Ratih Parwati, Adik seperguruan mu sendiri, tapi yang akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh bejatmu.”
Habis berkata begini maka tertawalah pendekar Trisula Maut. Suara tertawanya keras dan panjang, menegakkan bulu roma. Bergetar hati Mahesa Jenar mendengar suara tertawa yang menegakkan bulu kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu berlalu dan tahu-tahu kini dia berhadapan dengan kenyataan yang pahit. Berhadapan dengan anak laki-laki dari suami isteri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak percaya dia akan kenyataan ini.
“Orang muda,” kata Mahesa Jenar pula. Suaranya diperbawa dengan aliran tenaga dalam agar tidak kentara getaran hatinya. “Kuharap kau cepat-cepat saja bangun dari mimpimu dan tahu berhadapan dengan siapa.”
Pendekar Trisula Maut tertawa lagi seperti tadi. Lebih seram malah. Dan didengarnya suara Mahesa Jenar, musuh besarnya itu berkata pongah:
“Jangankan kau, Eyang Ratih Parwati sekalipun tak akan sanggup turun tangan terhadapku. Kalau kau teruskan niat edanmu, ketahuilah bahwa kedatanganmu sejauh ini dari puncak Gunung Ciremai hanyalah untuk mencari mampus sendiri.”
“Kita akan lihat Mahesa Jenar. Kita akan saksikan. Darah siapa di antara kita yang akan dihisap oleh tanah. Kau telah menentukan kematian ibu bapakku di siang hari. Disaksikan oleh langit siang dan matahari. Karena itu besok, bila matahari tepat sampai di puncak ubun-ubun, aku tunggu kau di atas bukit ini. Biar langit dan matahari yang dulu menyaksikan kematian ibu bapakku, besok menyaksikan pula kematianmu, menyaksikan pembalasan dendam kesumat seribu karat.”
Mahesa Jenar keluarkan suara mendengus. “Aku bukan manusia yang bisa menunggu, apa lagi terhadap keroco macam kau. Tapi dengar orang muda, daripada kau mati tiada guna, aku ada usul baik bagimu. Ikut bersamaku menghancurkan Pajajaran, niscaya kau akan kuangkat kelak menjadi seorang pejabat berpangkat tinggi.”
Rangga Geblek bersiul. “Aku tidak butuh usul Mahesa Jenar, juga tidak butuh apa-apa. Saat ini aku hanya butuh roh busukmu. Besok siang di tempat ini Mahesa. Darahmu atau darahku, nyawamu atau nyawaku.”
Maka kini Mahesa Jenar tidak dapat lagi menahan hatinya.
“Tak perlu tunggu sampai besok. Sekarang pun aku bersedia melayani. Terima pukulan seribu badai ini.”
Mahesa Jenar menerjang ke muka. Tangan kanannya memukul dan gelombang angin yang sangat hebat menderu menyambar ke arah pendekar Trisula Maut. Yang diserang tanpa tunggu lebih lama berkelebat dan melompat setinggi tujuh tombak. Kedua kakinya tergetar dan linu, ketika angin pukulan lawan dalam jarak setinggi itu masih sanggup menyapu kedua kakinya.
Dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya, Rangga Geblek hantamkan tangan kanan ke bawah melancarkan pukulan Perisai Badai Melanda Samudera.
Mahesa Jenar berseru tertahan melihat datangnya angin laksana badai ke arahnya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Tubuhnya hampir terpelanting diserempet angin pukulan lawan. Dengan kerahkan tenaga dalamnya dia masih sanggup berdiri di tempat setelah mengelak tadi. Namun demikian kedua kakinya melesak sampai lima senti ke dalam tanah.
Dalam keterkejutan melihat kehebatan lawan, Mahesa Jenar mendengar suara tertawa pendekar Trisula Maut.
“Kutunggu besok siang Mahesa Jenar. Di sini, di puncak bukit ini. Satu hal perlu kukatakan. Besok aku menghadapimu bukan sebagai manusia bernama Mahesa Jenar, tapi sebagai Suranyawa.”
Rangga Geblek berkelebat.
“Budak hina. Jangan lari!!” teriak Mahesa Jenar alias Suranyawa.
__ADS_1
Namun pendekar Trisula Maut sudah lenyap dari pemandangannya ditelan kegelapan malam.
Bersambung.