PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
TEWASNYA SANG MANGKUBUMI


__ADS_3

Si perwira tertawa mengekeh. Itulah jurus mematikan dari ilmu pedang yang dianutnya, yang dinamakan jurus "menabas gunung menusuk bukit". Tentu saja tangkisan Mangkubumi Mintra tidak mempunyai arti apa-apa. Orang tua ini cepat rubah posisi senjatanya namun sia-sia karena ujung pedang lawan lebih dahulu menghujam di dadanya. Maka terdengarlah keluhan mengerikan dari tenggorokan orang tua malang itu. 


Di saat itu, Sultan Hasanuddin sudah berhasil keluar dari kurungan prajurit-prajurit pemberontak dan meskipun hatinya berat, namun dia terpaksa melarikan diri, bukan saja untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi juga menyelamatkan keris pusaka Tumbal Wilayuda, demi untuk menegakkan kembali kelak Kerajaan Banten. 


Namun sewaktu telinga mendengar keluhan Mangkubumi Mintra, Sultan hentikan lari dan putar badan. Maka naik pitam lah dia ketika menyaksikan bagaimana orang tua itu tersungkur di tanah bermandikan darah. 


" Pemberontak-pemberontak durjana!! Aku mengadu jiwa dengan kalian!! ”, seru Sultan Hasanuddin. 


Dia menyerbu ke muka, namun belum lagi dia melancarkan serangan maka terdengarlah suara mengaung seperti suara tawon. Enam benda putih aneh dan berbentuk bintang yang berkilauan melesat deras ke arah pemberontak-pemberontak. Lima prajurit pemberontak coba hindarkan diri atau menangkis benda itu, namun tiada ampun. Kelimanya menjerit keras, rebah ke tanah, kelojotan seketika lalu kaku tegang tiada nyawa. 


Perwira pemberontak dalam terkejutnya dan dengan kepandaiannya yang lebih tinggi, pergunakan pedang untuk memapaki benda bintang berkilau itu. 


"Trang !" 


Tampang perwira itu menjadi pucat. Pedangnya memang bisa membuat mental benda maut yang menyerangnya, namun senjatanya sendiri putung dua dihantam benda tersebut. Baik sang perwira maupun Sultan Hasanuddin serentak putar kepala ke arah atas pohon besar, dari arah mana datangnya senjata-senjata rahasia tadi. 


"Iblis keparat di atas pohon turunlah!!! Jangan sembunyikan diri!!! ”, bentak sang perwira. 


Sebagai jawaban terdengar suara tertawa bergelak, kemudian sesosok tubuh dengan entengnya melayang turun ke tanah dari atas pohon besar itu. Nyatanya dia adalah seorang pemuda bertampang keren dan berambut gondrong. Umurnya mungkin tiada banyak beda dengan Sultan sendiri. Saat itu bajunya tiada terkancing dan angin yang bertiup agak kencang menyibak-nyibakkan baju putihnya, sehingga jelaslah kelihatan Gambar Trisula tertera di dada kanannya Pendekar Trisula Maut. 


Melihat si pemuda ini menghadapinya dengan tertawa mengejek demikian rupa, maka membentaklah perwira tadi. " Rupanya kau masih belum tahu dengan siapa berhadapan!! Masih belum tahu apa akibat campur tanganmu dalam uru...” 

__ADS_1


Ucapan sang perwira cuma sampai di situ. Hampir tak kelihatan Pendekar Trisula Maut telah gerakkan tangan dan lemparkan bintang Naga Langit ke arah perwira pemberontak yang sedang bicara itu. Maka "heggg”. Terdengarlah suara tercekik dari rangkungan si perwira, ketika senjata rahasia Naga Langit dengan tepatnya masuk ke dalam mulut. Senjata rahasia itu lenyap dan darah segera muncrat ke luar dari mulut sang perwira. Nasibnya kemudian tidak beda dengan nasib bawahannya yang terdahulu. 


Sultan Hasanuddin segera dekati Pendekar Trisula Maut. "Saudara, kau telah tolong. Aku…” 


Pendekar Trisula Maut memberi isyarat. Dia melangkah cepat dan membungkuk di hadapan Mangkubumi Mintra. Ternyata orang tua itu masih bernafas satu-satu. Mulutnya bergerak-gerak. 


"Sultan… mungkin dia mau bicara padamu”, memberi tahu Pendekar Trisula Maut atau Rangga Geblek. 


Mendengar itu Sultan Hasanuddin segera pula berlutut di samping tubuh si orang tua. Mangkubumi Mintra dengan sisa-sisa tenaga yang ada buka kedua matanya yang berbinar-binar. Bila pandangannya menyentuh paras Sultan Hasanuddin maka tersenyumlah dia. "Sultan, kau tak apa-apa ? " 


"Tidak bapak". 


Sultan membelai rambut orang tua itu dan menyeka keringat di keningnya. Keringat dan kening itu sangat dingin seperti es. 


Sultan Hasanuddin mengangguk. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi karena dilihatnya orang tua itu memalingkan kepalanya kepada pemuda yang telah menolongnya. 


"Pendekar muda, aku gembira kau datang. Lebih gembira lagi karena kau telah berhasil menyelamatkan Sultan. Tuhan kelak akan membalas jasamu yang besar ini”. 


Orang tua itu terhenti bicaranya sejenak. Agaknya dia tengah mengumpulkan tenaga baru dari sisa-sisa tenaganya yang terakhir. Lalu mulutnya terbuka kembali. 


"Yang pasti adalah, bila takhta Banten telah kembali pada pemiliknya yang syah, maka Kerajaan dan rakyat Banten tak akan melupakan pertolongan atau jasamu ini” 

__ADS_1


Pendekar Trisula Maut coba tersenyum. Dia tahu bahwa keadaan orang tua itu tak mungkin lagi untuk ditolong. Maka berkatalah dia. "Menyesal orang tua, aku tak bisa berbuat sesuatu apa dengan lukamu” 


"Ah… diriku yang sudah rongsokan ini tak perlu diambil peduli. Aku gembira menemui kematian dengan cara begini rupa. Gembira karena di saat menjelang kematian ini aku telah dapat melihat sinar terang bahwa Banten pasti akan kembali kepada pewarisnya yang syah…" 


Mangkubumi memutar matanya pada Sultan Hasanuddin. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun malaikat maut meminta nyawanya lebih dahulu. Air mata menggenang di kedua mata Sultan Hasanuddin. Digigitnya bibir sendiri untuk menahan keluarnya suara isakan. Tiba-tiba kening Pendekar Trisula Maut kelihatan mengerenyit. Kepalanya diputar ke jurusan timur. 


"Ada apa ?", tanya Sultan yang saat itu masih belum mendengar suara apa-apa. 


"Cecunguk-cecunguk pemberontak itu kurasa”, ujar Pendekar Trisula Maut. 


Beberapa ketika kemudian, barulah Sultan mendengar suara derap kaki kuda yang banyak sekali, mendatangi ke arah di mana mereka berada saat itu. Disusul beberapa saat lagi maka diantara pohon-pohon dan semak-semak belukar tinggi, kelihatanlah kira-kira dua puluh prajurit pemberontak yang dipimpin oleh seorang berselempang kain putih bermuka sangat hitam dan berambut gondrong acak-acakan. 


" Sultan, tinggalkan tempat ini cepat! " 


"Tidak bisa sobat! Mangkubumi Mintra terbujur begini rupa dan adalah pengecut sekali meninggalkan kau seorang diri. Apalagi kau adalah tuan penolongku”, membantah Sultan ketika dia diminta pergi. 


"Ini bukan soal pengecut Sultan. Yang penting adalah keselamatan dirimu dan keselamatan keris Tumbal Wilayuda yang ada di tanganmu".


Tentu saja Sultan Hasanuddin menjadi kaget mendengar ucapan Pendekar Trisula Maut. Sewaktu pertama kali pemuda itu memanggilnya dengan sebutan "Sultan", dia telah terkejut dan kini bahkan dia mengetahui pula bahwa keris Tumbal Wilayuda berada di tangannya. 


Sementara itu rombongan penunggang-penunggang kuda semakin dekat. Rangga Geblek atau Pendekar Trisula Maut berkata lagi. "Pergilah cepat sebelum terlambat! Soal jenazah orang tua ini aku yang akan urus. Selama gunung masih hijau, kelak kita akan bertemu kembali! " 

__ADS_1


Mendengar itu dan lagi memang tak ada lain hal yang bisa diperbuatnya, maka Sultan Hasanuddin segera tinggalkan tempat itu. Begitu dia lenyap di balik semak-semak maka dua puluh prajurit pemberontak di bawah pimpinan si muka hitam sampai di tempat itu. Dia memberi isyarat. Prajurit-prajurit menyebar. Dan Pendekar Trisula Maut Naga Langit kini terkurung di tengah lingkaran dua puluh prajurit bersenjata lengkap, di bawah pimpinan seorang tokoh silat yang kosen.


BERSAMBUNG...


__ADS_2