PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
ILMU IBLIS APA INI ?


__ADS_3

Namun Kala Putih menjadi bingung sendiri karena siapa yang akan diserangnya? Pendekar Trisula Maut lenyap tak kelihatan dari hadapannya. Dalam kebingungannya, gadis bertopeng tengkorak ini melihat sesuatu menyambar ke mukanya. Kala Putih hantamkan tangan kanannya ke depan. Dia memukul angin kosong. Dan .... "Bret!" 


Kala Putih berseru terkejut. Kedua tangannya menyampok lagi ke muka. Tapi tiada guna. Topeng tipis yang menutup parasnya tanggal dan pindah ke tangan lawan sehingga kelihatanlah paras asli Kala Putih dengan jelas. Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek sendiri terkejut bukan main sewaktu menyaksikan paras Kala Putih. Siapa menyangka kalau gadis berilmu tinggi dan berhati kejam lebih jahat dari iblis itu memiliki paras sedemikian jelitanya. 


"Ah ... sungguh satu hal yang luar biasa!" kata Rangga Geblek sambil garuk-garuk kepalanya. "Parasmu begini cantik, tapi kenapa kejahatan dan kekejaman-mu laksana lautan yang tiada bertepi?! Kalau kau jadi gadis baik-baik sekurang-kurangnya kau pasti akan dapat suami seorang Adipati ... !" 


"Pemuda hina dina! Tutup mulutmu!" hardik Kala Putih. 


Didahului oleh dua larik sinar hijau yang melesatkan lima puluh ekor kala maut, maka Kala Putih mengirimkan dua tendangan dahsyat sedang mulutnya menghembus ke muka. Dari mulutnya mengepul asap putih yang mengandung racun luar biasa jahatnya. Seluruh jalan darah di tubuh Pendekar Trisula Maut terancam bahaya maut kehancuran. Tak ayal lagi pemuda itu mengelak dengan cepat. Dan jika saja tidak ingat bahwa saat itu dia berhadapan dengan seorang gadis berparas jelita, maka pastilah Rangga Geblek akan mengirimkan serangan balasan yang tak kalah ganasnya. 


Sambil melompat menjauhi Kala Putih beberapa tombak Rangga Geblek berseru. "Kala Putih, aku beri kesempatan padamu untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar!" 


"Pemuda hina, jangan bicara ngelantur!" kertak Kala Putih. 


Kemudian sekali lagi dia melancarkan serangan ganas meskipun dalam hati kecilnya timbul secuil keraguan. Dia menyadari memang bahwa sebagai seorang gadis tidak selamanya dengan ilmu kesaktiannya dia akan hidup dalam keadaan seperti itu. Namun untuk berpikir lebih panjang dia tak ada waktu lagi. 


"Gadis goblok!" terdengar Pendekar Trisula Maut memaki. 

__ADS_1


Tangan kanannya memukul ke muka dalam jurus "Maling Melempar Batu". Kala Putih menyambuti pukulan ini dengan hantaman tangan kanan yang mengeluarkan angin pukulan berwarna hijau pekat. Dua pukulan sakti itu beradu di udara mengeluarkan suara dahsyat. Tubuh Pendekar Trisula Maut tergontai-gontai sedang Kala Putih tersurut mundur sampai empat langkah dengan tangan terasa perih kaku. 


Penuh geram karena sebelumnya tak pernah menghadapi lawan setangguh pemuda itu, maka Kala Putih memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke perut lalu mengalirkannya ke dada terus ke tenggorokan. Ketika dia menghembus ke muka, maka satu gelombang asap putih yang lebih dahsyat dari tadi menyambar Rangga Geblek dalam empat jalur arus asap, yaitu menggelung dari samping kiri dan kanan dari atas lalu dari bawah. lnilah yang dinamakan ilmu "Empat Jalur Asap Kematian" yang telah diciptakan Dewi Kala Hijau dan membutuhkan waktu lima tahun untuk menyempurnakannya. Setiap muridnya memiliki asap ini yang warna asapnya sesuai dengan pakaian-pakaian mereka. 


Melihat jalur asap yang aneh ini serta hawa jahat yang menyambar keluar dari asap itu, bukan main kagetnya Pendekar Trisula Maut. 


"Ilmu iblis apa pula ini!" membathin Rangga Geblek. 


Kedua tangannya segera diangkat ke atas dengan telapak tangan menghadap lurus-lurus ke muka. Rangga tahu bahwa demikian hebatnya empat jalur asap putih itu sehingga dia memaklumi bahwa akan besar risikonya jika dia mengelakkan diri ke samping atau melompat ke atas. Makanya begitu kedua tangan sudah terpentang, Pendekar Trisula Maut segera menghantam ke depan. Dua larik angin yang tidak kelihatan karena tidak berwarna menghembus ke muka dengan amat derasnya. Itulah pukulan yang bernama "Perisai Badai Melanda Samudera" yang telah dipelajari oleh Pendekar Trisula Maut dengan sempurna dari gurunya Eyang Ratih Parwati. 


Keduanya masih berdiri berhadap-hadapan dengan tangan-tangan yang tetap terpentang. Pada kening dan tubuh mereka kelihatan percikan-percikan butiran keringat tanda keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam. 


Dewi Kala Hijau yang melihat hal itu memaklumi bahwa jika dibiarkan lebih lama, maka dalam waktu yang singkat pastilah muridnya akan terluka parah di bagian dalam, bahkan tidak mustahil akan menemui ajalnya karena dalam pertempuran tadi, matanya yang tajam telah dapat mengukur bahwa tenaga dalam Rangga Geblek jauh lebih tinggi dari muridnya sendiri. 


Tak menunggu lebih lama, maka Dewi Kala Hijau memukulkan tangan kanannya ke muka. Serangkum angin menderu tepat ke arah di mana angin angin pukulan Rangga Geblek dan Kala Putih saling bentrokan. Langit laksana hendak runtuh. Bumi laksana mau rengkah ketika bentrokan itu menimbulkan suara letusan yang bukan olah-olah kerasnya. Kala Putih terguling di tanah tapi dirinya selamat. Rangga Geblek terhuyung nanar dan anehnya kemudian tertawa gelak-geiak. 


"Dewi Kala Hijaul" serunya. "Apakah kau masih belum melihat jalan kebenaran?!" 

__ADS_1


"Tutup mulutmu manusia hina dina!" bentak Dewi Kala Hijau. 


"Dasar perempuan gendeng," balas memaki Rangga Geblek. "Aku berani taruhan potong kuping bahwa maksudmu untuk mendirikan Partai terkutuk itu tak akan berhasil!" 


Dewi Kala Hijau tertawa sedingin salju. '"Partai Lembah Tengkorak bukan saja akan berdiri di dunia persilatan tapi akan merupakan satu-satunya Partai yang bakal menguasai dunia persilatan! Semua Partai yang tak mau bergabung pasti musnah! Semua tokoh silat yang tak mau menjadi anggota pasti meregang nyawa, termasuk kau!" 


Rangga Geblek tertawa membahak "Kau mimpi Dewi. ..” 


“Kaulah yang bakal mimpi di neraka!" tukas Dewi Kala Hijau. 


Lalu pada ketiga muridnya cepat memberikan perintah. ”Kalian bertiga cepat bikin mampus budak hina dina itu!" 


Kala Biru, Kala Hitam dan Kala Putih segera mengurung Pendekar Trisula Maut. Kala Biru memegang komando, begitu terdengar suitannya yang melengking langit maka ketiganya pun berubahlah menjadi bayangan hitam, putih dan biru. Lima jurus lamanya mereka mereka menggempur dahsyat. Lima jurus lamanya Pendekar Trisula Maut dilanda serangan-serangan sangat hebat. Harus menghadapi pukulan-pukulan sinar hijau dan Kala maut, sedang dari mulut masing-masing ketiga anak murid Dewi Kala Hijau itu tiada hentinya menghembuskan asap merah, hitam serta putih yang setiap asap mempunyai empat jaluran.


Lima jurus dimuka pertempuran semakin dahsyat. Pendekar Trisula Maut terdesak hebat. Berkali-kali pendekar muda ini melepaskan pukulan "Dinding Angin Berhembus tindih menindih", pukulan "Perisai Badai Melanda Samudra” serta pukulan "Maling Melempar Batu”. Namun desakan ketiga anak murid Dewi Kala Hijau itu sukar di bikin buyar.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2