PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
BEGAWAN SITARAGA


__ADS_3

Puncak Gunung Halimun. 


Puncak gunung ini kelihatan diselimuti awan putih. Bila angin barat bertiup maka beraraklah awan itu kejurusan timur dan Puncak Gunang Halimun kembali kelihatan dengan jelas dan megah. 


Selewatnya tengah hari, sesosok tubuh berlari laksana angin, menuju ke puncak gunung. Semakin ke puncak, udara semakin sejuk serta segar. Laki-laki itu mempercepat larinya seakan-akan tak sabar untuk lekas-lekas sampai ke tempat yang ditujunya. Maka lewat sepeminuman teh sampailah dia ke puncak tertinggi dari gunung itu. Dia memandang berkeliling. Kemana mata memandang hanya bebatuan saja yang kelihatan. Mulai dari kerikil-kerikil kecil sampai kepada unggukan-unggukan batu besar sebesar-besar rumah. 


Di kaki-kaki batu-batu besar yang rata-rata licin berlumut itu tumbuh rumput-rumput liar. Laki-laki itu bertangan buntung. Dia tak lain adalah Kaligundil. Mengapa dia berada di puncak gunung ini adalah, dalam meneruskan rencana besarnya yaitu membalaskan dendam kesumat terhadap pendekar Trisula Maut Rangga Geblek. 


Kaligundil dengan gerakan yang enteng melompat ke salah satu batu besar. Seseorang yang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang ampuh, pasti tak akan sanggup membuat lompatan lihay itu. Kalaupun dapat, mungkin begitu menginjak batu, kakinya akan terpeleset karena licinnya lumut. 


Kaligundil memandang ke seantero puncak gunung yang telah mati itu. Di antara unggukan-unggukan batu-batu, maka di tengah-tengah kelihatanlah kawah yang besar yang sudah padam. Kawah ini berbentuk kerucut dan dalam sekali. 


Kaligundil melompat lagi ke batu besar yang lebih tinggi. Sekali lagi di layangkannya pandangannya ke seantero puncak gunung. Bila dia sudah yakin betul bahwa tempat kediaman orang yang hendak ditemuinya itu bukalah di permukaan puncak gunung, maka segeralah dia melompat ke tepi kawah. Dari sini dia terus turun ke dalam kawah. Selain dalam, kawah Gunung Halimun sukar sekali untuk dituruni. Tapi Kaligundil dengan cekatannya lompat sana lompat sini sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah berada di dasar kawah. 


Udara di dalam dasar kawah gunung ini pengap dan menyesakkan pernafasan. Karenanya Kaligundil segera atur jalan nafasnya. Begitu dirinya dapat menguasai kepengapan itu, maka dia segera meneliti keadaan dasar kawah di mana dia berada. 


Luas dasar kawah yang merupakan pusat kerucut itu hanya beberapa kali lebih besar dari sebuah sumur. Seluruh dasar kawah merupakan pasir campur tanah yang sudah membeku dan mengeras selama berabad-abad sesudah gunung itu meletus. 


Putaran bola mata Kaligundil terhenti pada sebuah lobang yang besarnya selebar bahu manusia. Laki-laki ini segera mendekati lobang itu. Menelitinya sesaat lalu tanpa ragu-ragu segera memasukinya. Mula-mula dia hanya bisa merangkak. Tapi semakin ke dalam lobang itu semakin besar sehingga dari merangkak kini dia dapat membungkuk-bungkuk dan akhirnya berjalan seperti biasa. 


Kaligundil sampai ke sebuah ruang empat persegi berdindingkan batu-batu hitam yang kasar. Dari keempat sudut ruangan ini keluar empat liukan asap tipis yang berwarna hitam. Begitu hidungnya mencium bau yang disebar oleh asap ini mendadak sontak kepala Kaligundil menjadi pusing. Cepat-cepat Kaligundil kerahkan tenaga dalam dan tutup jalan nafasnya. Kaligundil tahu bahwa ruangan batu itu bukanlah ruangan buntu. Tapi matanya tiada melihat adanya pintu atau sebuah celah pun. 


Laki-laki ini menengadah ke atas. Maka kelihatanlah di langit-langit ruangan sebuah liang tangga batu. Dia memandang berkeliling lalu enjot kedua kaki dan melompat ke tepi liang, terus menaiki tangga batu. 


Anehnya, bagaimanapun tingginya ilmu mengentengi tubuh yang dimilikinya namun setiap langkah yang dibuatnya di tangga batu itu berbunyi dan bergema keras. 


Begitu sampai di anak tangga yang teratas, maka sampailah Kaligundil ke satu ruangan putih yang sangat bersih. Demikian bersih dan berkilatan putihnya dinding-dinding serta lantai dan langit-langit ruangan itu, sehingga tak ubahnya seperti berada di satu ruangan kaca. 


Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar ini sesosok tubuh laksana patung tengah bersemedi jungkir balik, kaki ke atas kepala ke bawah di atas batu. Sosok tubuh ini mengenakan sehelai kain putih yang dibalutkan sekujur badan mulai dari betis sampai ke dada. Kepala dan paras orang yang bersemedi tiada kelihatan karena tertutup oleh janggut putih yang panjang, hampir menyamai panjangnya rambut yang menjulai di lantai dan juga berwarna putih. Sungguh hebat cara manusia ini bersemedi. 


Namun pandangan Kaligundil segera terbagi pada seekor harimau besar belang tiga yang berbaring di samping laki-laki yang tengah bersemedi. Begitu melihat kemunculan Kaligundil, makhluk ini berdiri dan menggereng. Mulutnya membuka lebar. Gigi dan taringnya kelihatan besar besar serta runcing mengerikan. 


Didahului dengan auman yang dahsyat dan menggetarkan ruangan putih itu maka melompatlah binatang itu. Kedua kaki terpentang ke muka, kuku-kuku yang tajam dan panjang siap merobek tubuh Kaligundil. 


Kaligundil yang maklum bahwa harimau itu bukan binatang biasa tapi peliharaan seorang sakti, dengan cepat segera melompat ke samping hindarkan diri. Namun meskipun demikian cepatnya, sang harimau lebih cepat lagi. Laksana seorang jago silat kawakan, masih melayang di udara binatang itu putar tubuh, ekornya berkelebat. Ekor yang panjang laksana cambuk itu menghantam bahu Kaligundil yang buntung. Pakaiannya robek. Bahunya sakit tiada terkirakan. 


Kaligundil kerahkan tenaga dalam dan disaat itu terpaksa segera melompat pula ke samping karena si belang sudah menyerangnya kembali. Hanya dengan berkelebat-kelebat cepat dan sigap lah, maka Kaligundil berhasil mengelakkan setiap serangan. Dia menghitung-hitung, sampai saat itu telah dua puluh jurus dia bertempur menghadapi sang harimau. Dan selama itu Kaligundil terus-terusan bersikap mengelak, sama sekali tak mau menyerang. Kalau dia mengelak terus, di satu ketika mungkin sekali harimau itu berhasil juga mengoyak daging tubuhnya. Kalau dia melawan, sedangkan binatang itu adalah peliharaan orang sakti dengan siapa dia ingin bertemu dan bicara. Inilah yang menyulitkan Kaligundil. 


Dan sementara dia bertempur demikian rupa, orang yang bersemedi masih juga terus bersemedi, seperti tiada terganggu, seperti tak mengetahui adanya pertempuran yang dahsyat itu. Satu-satunya jalan bagi Kaligundil untuk tidak mendapat celaka dan tidak mencelakai ialah meninggalkan ruangan putih itu, menghindar keluar untuk sementara, menunggu sampai orang yang bersemedi menyelesaikan semedinya. 


Maka ketika harimau itu mengaum dan menyerang, Kaligundil jatuhkan diri ke lantai lalu bergulingan ke arah tangga. Pada saat harimau itu hendak menubruknya sekali lagi. Kaligundil sudah lenyap ke bawah tangga.


*****


Telah tiga hari Kaligundil menunggu di dasar kawah itu. Telah tiga kali pula dia masuk ke dalam ruang putih dan mengintai dari balik anak tangga teratas, namun sampai saat itu orang yang bersemedi masih juga belum meninggalkan batu persemediannya. Menunggu sampai satu minggu pun bagi Kaligundil bukan suatu apa, tapi yang menyusahkannya ialah untuk mendapatkan bahan makanan selama hari-hari penungguan itu. 


Empat hari kemudian, pada kali yang ke tujuh Kaligundil mengintai dari balik anak tangga, orang itu dilihatnya masih juga bersemedi. Dengan hati kesal Kaligundil menuruni tangga kembali. Tapi begitu dia keluar dari liang tangga dan sampai di ruang bawah maka mendadak terdengar suara menggema dari ruang putih. 


“Manusia yang berani-beranian menginjakkan kaki kotor di tempatku cepat datang menghadap untuk terima hukuman”. 


Terkesiap Kaligundil mendengar ini. “Ayo cepat! Tunggu apa lagi?!”, kata suara dari ruang putih. 


Kaligundil memutar langkahnya kembali. Dalam melangkah kembali ke liang tangga, terdengar lagi suara tadi. “Hemm… seorang bertangan buntung macammu sungguh tak pantas masuk ke tempatku. Hukumanmu lipat ganda hai manusia”. 


Tentu saja Kaligundil terkejut mendengar ini. Bagaimana orang di dalam ruangan putih itu bisa mengetahui bahwa tubuhnya cacat ? Meski dia sakti luar biasa tapi mereka belum pernah bertemu muka dan tak mungkin menurut pikiran Kaligundil orang itu mengetahui hal keadaan dirinya. 


Kaligundil lupa bahwa dinding dan langit-langit ruangan putih di atas sana tak ubahnya seperti kaca sehingga orang yang ada di ruangan putih akan mudah melihat siapa saja yang ada di ruang bawah. 


Kaligundil melompat ke atas dengan gerakan enteng lalu menaiki tangga. Ketika dia muncul di ruangan putih anehnya harimau yang berbaring tidak lagi menyerangnya. Sedang manusia berselempang kain putih masih tetap berdiri dengan kepala di atas batu kaki ke atas.Seperti hari-hari sebelumnya parasnya masih tertutup oleh julaian janggut putihnya yang panjang menjela-jela. Meski harimau belang tiga itu tidak menyerangnya, namun Kaligundil berdiri dengan waspada. 


“Kau siapa?!”, membentak si kepala ke bawah kaki ke atas. 


“Namaku Kaligundil. Apakah saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga?”, tanya Kaligundil setelah terangkan dia punya nama. 


Yang ditanya tak menjawab melainkan ajukan pertanyaan: “Perlu apa kau datang mengotori tempatku ini, manusia tangan buntung?!”. 


“Harap dimaafkan kalau kedatanganku mengotori tempatmu. Tapi sesungguhnya aku tiada maksud demikian”, kata Kaligundil pula. “Aku...” 


“Sudah! Jangan berbacot juga! Melangkahlah lebih dekat untuk terima hukumanmu”. 

__ADS_1


Sebaliknya justru Kaligundil hentikan langkah. Diperhatikannya manusia yang berdiri jungkir balik di atas batu itu. 


“Melangkah lebih dekat!”, bentak orang itu. Suaranya menggaung di ruangan putih sedang harimau di sampingnya menggeram tak kalah hebat. 


“Begawan…”. Kaligundil putuskan kalimatnya. 


Kaki kiri manusia di hadapannya dilihatnya bergerak. Serangkum angin yang sangat deras melanda ke arah Kaligundil. Ruangan itu bergetar. Dengan jungkir balik secepat yang bisa dilakukannya Kaligundil berhasil elakkan serangan dahsyat itu. Terdengar suara gelak mengekeh. 


“Pantas... pantas kau berani petatang peteteng datang ke sini untuk bikin kotor tempatku. Rupanya kau memiliki ilmu yang diandalkan juga. Aku mau lihat apakah kau juga sanggup mempertahankan diri dengan jurus kaki selaksa baja ini?!”. 


Kepala yang di atas batu itu berputar. Kedua kaki bergerak. 


Tahu kalau dirinya hendak diserang lagi dengan tendangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari tadi, Kaligundil cepat mendahului berseru. “Begawan! Tahan! Aku datang membawa kabar untukmu”. 


Oleh ucapan yang lantang ini maka orang. itu hentikan maksudnya untuk kirimkan serangan: 


“Aku tidak kenal padamu. Kabar apa yang kau bawa?! Cepat katakan!”, hardiknya. Dia masih juga berdiri, dengan kepala ke bawah kaki ke atas seperti tadi. 


“Kabar ini kabar buruk Begawan…” 


“Sialan! Buruk atau baik cepat katakan! Jangan habiskan kesabaranku monyet alas!” 


Kaligundil pada dasarnya sangat tidak senang mendengar kata-kata makian seperti itu. Namun dia menjawab juga. “Sobat kentalmu Mahesa Jenar menemui kematiannya di tangan seorang manusia keparat…” 


Tubuh di atas batu kelihatan bergerak dan tahu-tahu manusia itu kini sudah tegak dengan kedua kakinya di atas batu. Maka kini kelihatanlah parasnya yang sejak tadi tertutup oleh geraian janggut putih panjang. Kulit mukanya sangat pucat seperti tiada berdarah. Pipinya cekung dan rongga matanya lebih cekung lagi membuat wajahnya angker sekali untuk dipandang. Rambutnya putih panjang sampai ke bahu sedang janggutnya menjulai sampai ke perut. 


Kaligundil menjura memberi hormat. “Jadi betul saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga..?” tanyanya. 


Si muka pucat. tidak ambil perduli pertanyaan itu. “Siapa yang bunuh dia dan dari mana kau bisa tahu?!” 


Kaligundil segera buka mulut berikan keterangan. “Mahesa Jenar dan beberapa orang Adipati memimpin sejumlah balatentara untuk memerangi Pajajaran. Tapi mereka kalah. Semua Adipati menemui ajalnya. Mahesa Jenar sendiri tewas di tangan seorang pemuda sakti “ 


Maka kelihatanlah kerutan-kerutan muncul di paras Begawan Sitaraga yang membuat parasnya menjadi tambah angker. Kedua matanya menyipit, pandangannya setajam mata pedang. Rencana untuk memerangi Pajajaran memang dia sudah tahu lama bahkan sebagaimana perundingannya dengan Mahesa Jenar, dia sendiri telah menjanjikan akan turun tangan membantu pemberontakan Mahesa Jenar, karena memang sejak lama dia mempunyai dendam kesumat dengan keluarga istana Pajajaran. Di puncak Gunung Halimun dia hanya menunggu kabar dari Mahesa Jenar kapan penyerangan dilakukan. Tapi hari ini datang seseorang yang membawa kabar bahwa pemberontakan gagal dan Mahesa Jenar sendiri menemui kematian. Tentu saja ini tak bisa dipercayainya. 


“Aku tidak percaya pada kau punya bicara, manusia tangan buntung!!”, bentak Begawan Sitaraga. 


“Namamu siapa…” 


“Kaligundil”. 


“Punya hubungan apa kau dengan Mahesa Jenar?”. 


“Dia adalah pemimpin dan sobat kentalku sejak tahunan, Begawan…” 


“Baik! Tapi aku tidak tahu apa itu betul atau tidak. Jawab pertanyaanku untuk membuktikan kebenaran keteranganmu! Siapa nama Mahesa Jenar sebenarnya…?”. 


Kaligundil tertawa. “Kau keliwat tidak percaya pada pihak sendiri, Begawan…”. 


“Siapa akui kau pihakku...? Tampangmu yang jelek inipun baru kali ini aku lihat”. 


Kaligundil menggerutu dalam hati. 


“Ayo jawab pertanyaanku! Siapa nama asli Mahesa Jenar?!”. 


“Suranyawa”, jawab Kaligundil. 


“Hem…” Sitaraga merenung, “Mahesa Jenar seorang berkepandaian tinggi. Tidak semudah itu untuk merenggut nyawanya…” 


“Di luar langit ada langit lagi Begawan. Kesaktian pemuda tandingannya melebihi kesaktiannya…” 


Begawan Sitaraga kerutkan kening. Dan Kaligundil teruskan ucapannya. “Aku sendiri pernah menghadapinya. Masih untung cuma tanganku yang dimintanya, bukan nyawaku”. 


“Ho-o… jadi maksudmu datang ke sini untuk mengadu dan merengek macam anak kecil agar aku turun tangan…?”. 


Merah muka Kaligundil. “Itu adalah terserah padamu Begawan. Sebagai sobat dari bekas pemimpinku, aku telah cari pemuda yang membunuh Mahesa Jenar. Namun dia lebih tinggi ilmu silatnya dan lebih tinggi…”. 


“Siapa nama bangsat itu?!” potong Sitaraga pula. 


“Rangga Geblek. Tapi dia lebih dikenal dengan julukan Pendekar Trisula Maut Naga Langit...” 

__ADS_1


Mendengar ini maka terkejutlah Begawan Sitaraga. “Kau bilang dia bergelar Pendekar Trisula Maut Naga Langit…?”. 


“Ya…” 


“Kalau begitu dia adalah nenek-nenek keriput si Ratih Parwati!”. 


“Tidak... dia adalah seorang pemuda. Masih sangat muda, bahkan tampangnya macam anak anak, berambut gondrong dan berotak miring sinting”. 


Sitaraga merenung lagi. Kemudian desisnya: “Kalau begitu mungkin sekali dia adalah murid nenek-nenek itu yang diam di puncak Gunung Ciremai. Tapi setahuku Ratih Parwati tidak punya murid sejak puluhan tahun berselang…” Sitaraga tarik nafas dalam. “Kalau betul dia murid Ratih Parwati, tidak salah Mahesa Jenar dipecundangi…” 


Sitaraga memandang jauh ke muka seperti pandangannya itu mau menembus dinding putih di belakang Kaligundil. Melihat ini maka Kaligundil mulai masukkan jarum hasutannya. 


“Sewaktu aku bertempur dengan dia di Rawasumpang, aku beri peringatan bahwa kelak sobat-sobat Mahesa Jenar yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama akan turun tangan untuk menuntut balas. Dan Rangga Geblek mengumbar bahwa terhadap siapapun dia tidak takut. Bahkan dia menantang untuk bikin perhitungan di puncak Gunung Tangkuban Perahu pada hari tiga belas bulan dua belas nanti”. 


Mata Begawan Sitaraga menyipit lagi. “Pongah betul”, desisnya. “Rupanya sudah kepingin cepat-cepat merasakan gelapnya liang kubur. Sudah cepat-cepat ingin minggat ke neraka”. 


“Betul Begawan. Bukan saja kepongahannya itu yang menyakitkan hati, tapi tantangannya itu adalah juga sangat menghina dan tiada memandang sebelah mata pun terhadap tokoh-tokoh silat utama macam Begawan”. 


Sitaraga manggut-manggut. “Manusia-manusia macam begitu musti dilenyapkan dengan lekas. Kalau tidak akan menjadi biang runyam golongan dan aliran kita”. 


Hati Kaligundil menjadi gembira karena tahu hasutannya sudah menyamaki dan mengobari dendam serta amarah Begawan itu. 


“Tantangan itu...,” kata Kaligundil pula meneruskan hasutannya, “sekaligus menghina terhadap guru Mahesa Jenar yang diam di Gunung Lawu. Aku bermaksud untuk menemuinya dan meminta langkah-langkah apa yang segera akan kita laksanakan”. 


“Kalau cuma untuk memecahkan batok kepala pemuda sedeng itu, aku sendiri pun menyanggupinya”. 


“Betul Begawan. Tapi untuk tidak mengecewakan guru Mahesa Jenar di kemudian hari, ada baiknya kematian muridnya itu diberi tahu” 


“ltu urusanmu,” jawab Sitaraga. Matanya memandang tepat-tepat ke pinggang Kaligundil. Sesungguhnya sejak tadi matanya itu memperhatikan secara diam-diam ke pinggang Kaligundil. 


“Coba aku mau lihat apa yang kau simpan di balik pinggangmu”, katanya tiba-tiba. 


Kaligundil kaget sekali. Dia melirik ke pinggangnya. Dia telah menyimpan senjatanya baik baik namun mata Sitaraga yang tajam masih sanggup mengetahuinya. 


“Ah, tidak ada apa-apa Begawan. Cuma…” 


“Cuma apa?!” Sitaraga pelototkan mata. 


“Cuma sebilah pedang buruk…” sahut Kaligundil. 


“Keluarkan” 


“Begawan....” 


“Jangan banyak bicara. Keluarkan!” 


Kalau bukan berhadapan dengan Begawan Sitaraga dan kalau tidak mengingat kepada rencana besarnya, maka pastilah saat itu Kaligundil akan beset mulut manusia yang di hadapannya itu. Dia memang mengharapkan bantuan Sitaraga tapi kalau dirinya dianggap remeh terus menerus dan dihina dimaki serta dibentak, siapa yang bisa sabarkan diri?. 


“Kau membangkang Kaligundil?!” 


Penasaran sekali Kaligundil cabut Pedang Siluman buntungnya. Maka sinar biru pun memancarlah di ruangan putih itu. 


Begawan Sitaraga terkejut. “Pedang Siluman Biru..”, desisnya. 


Dia di samping terkejut juga heran melihat pedang sakti itu kini hanya merupakan sebuah puntungan belaka. “Dari mana kau dapat senjata itu? Bagaimana bisa buntung? Apakah kau muridnya Siluman Biru?!” 


Kaligundil menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan menyerocos itu. “Itu semua adalah urusanku Begawan. Yang penting hari ini kita telah berjumpa dan kau telah mengetahui nasib Mahesa Jenar. Sampai bertemu di puncak Gunung Tangkuban Perahu”. 


Kaligundil berkelebat ke arah tangga. “Tunggu!” teriak Sitaraga. 


Tapi Kaligundil tak mau ambil perduli. Maka marahlah Begawan Sitaraga. “Kalau tidak memikir kau bekas anak buah Mahesa Jenar, sudah terlalu pantas aku minta nyawamu, Kaligundil. Tapi saat ini cukup kau tinggalkan saja salah satu dari daun telingamu”. 


Sebuah senjata rahasia melesat ke arah telinga kanan Kaligundil. Laki-laki ini segera lambaikan tangan kirinya. Tapi celaka senjata rahasia itu tak sanggup dibuat mental dengan pukulan tenaga dalam. Terpaksa Kaligundil cabut pedang saktinya kembali. Namun gerakan ini tentu saja sudah terlambat. Kaligundil mengeluh kesakitan. Darah membasahi pipi dan bahu pakaiannya. Daun telinganya sebelah kanan terbabat buntung oleh senjata rahasia Sitaraga. Kalau tidak mengingat-ingat akan rencana pembalasan dendamnya, maulah Kaligundil menyerang Begawan itu dengan kalap, lebih-lebih ketika didengarnya kekehan dari Sitaraga yang menusuk liang telinganya. 


Dalam waktu yang singkat Kaligundil sudah berada di luar Kawah Gunung Halimun. Dibersihkannya darah yang membasahi pipi kemudian dengan sehelai kain dibalutnya kepalanya tepat pada batasan telinga yang buntung. Kemudian diambilnya sebuah pil lalu ditelan untuk menolak racun senjata rahasia Sitaraga itu. 


Di dasar kawah Gunung Halimun, tak lama sesudah Kaligundil lenyap, kembali Sitaraga merenung. Siapa Kaligundil sebenarnya masih agak samar baginya. Tapi itu tidak begitu penting. Yang menjadi tanda tanya besar ialah siapa itu pemuda yang bergelar Pendekar Trisula Maut Naga Langit ? Apa betul murid Ratih Parwati ? Kalau Kaligundil telah menghadapinya dengan Pedang Siluman dan berhasil dikalahkan oleh si pemuda, maka sudah dapat dijajaki oleh Sitaraga sampai di mana ketinggian ilmu Pendekar Trisula Maut itu. Ini membuat dia ingin lekas-lekas berhadapan dengan sang pendekar muda. Namun dia musti menunggu beberapa bulan di muka sampai saat yang ditentukan yaitu hari tiga belas bulan dua belas.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2