PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
ANGGINI


__ADS_3

“Aha… Nyatanya seorang gadis molek! Pantas malu-malu unjukkan diri…!”


kata Rangga Geblek pula dengan tertawa lebar.


melihat kepada pakaian ungu yang dikenakan gadis itu segera pemuda ini mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid


Raja Tuak.


“Gadis molek, ada apa kau menguntit aku sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana...?” bertanya Rangga.


Anggini, si gadis baju ungu, tak memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Rangga Geblek tertawa lagi dan berkata:


“Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik .... “


“Saudara... a...aku...” Anggini gugup sekali. Apa yang harus dikatakannya pada pemuda itu?


“Apakah gurumu si Raja Tuak itu juga ikut bersamamu saat ini?


Barangkali juga kalian hendak menjebakku...?”


“Saudara dengarlah...” kata Anggini pula. “Aku sebenarnya tidak mau dengan semuanya ini...”


“Semuanya ini apa...?” potong Rangga Geblek.


Anggini menggigit bibir.


“Gurumu bersamamu?”


“Tidak....”


“Gurumu yang menyuruh untuk menguntit aku?”


Gadis itu anggukkan kepala.


“Perlu apa gurumu menyuruh demikian?”


Kembali Anggini menggigit bibir.


“Apa dia belum puas dengan sedikit pertempuran siang tadi...?”


Anggini tetap membungkam. Ya, bagaimana dia harus mengatakan pada si pemuda bahwa gurunya menyuruhnya mengejar untuk kemudian berusaha menjadi kawan hidup pemuda itu? Bagaimana dia harus terangkan semua itu!


Ingin dia menangis dan lari dari hadapan pemuda itu. Tapi kepada Raja Tuak gadis ini takut sekali!


Pendekar Trisula Maut kerutkan kening. Mendadak mukanya menjadi merah, semerah langit yang disaputi sinar sang surya yang mau tenggelam di saat itu. Dia ingat akan ucapan Raja Tuak yang mengatakan bahwa dirinya cocok untuk jadi jodoh muridnya! Pendekar muda ini melirik pada gadis baju ungu. Anggini berparas bujur telur dan molek. Kulitnya kuning dan potongan tubuhnya sedap dipandang mata. Tapi urusan


jodoh mana ini pemuda berpikir sampai di situ. Tak ada ingatannya sampai sejauh itu. Bahkan kewajiban berat yang dipikulkan gurunya ke pundaknya, hutang nyawa


dendam seribu karat terhadap Suranyawa alias Mahesa Jenar sampai hari ini masih belum lunas! Masih belum dilaksanakannya!


Rangga Geblek berdiri dari duduknya. Dipandanginya gadis baju ungu itu seketika lalu mengumandanglah gelak tawanya.


“Saudari... apakah penguntitan ini ada sangkut pautnya dengan ucapan gurumu si Raja Tuak?”


Paras Anggini semakin merah. “Tadi aku sudah bilang... sebenarnya aku tak senang dengan semua ini. Tapi guru memaksaku...”


“Memaksa bagaimana?!”


“Katanya aku harus mengejarmu sampai dapat. Kalau tak berhasil tak usah kembali kepertapaan. Katanya lagi aku harus... harus...” Anggini tak dapat meneruskan ucapannya.


“Kurasa gurumu itu sudah sinting! Sekurang-kurangnya seperempat sintingl”


Meski Anggini memang tak suka menjalankan apa yang diperintahkan Raja Tuak namun mendengar nama gurunya dicaci demikian rupa gadis ini jadi marah.


“Jangan hina guruku, saudara!” bentaknya.


Rangga Geblek garuk kepala. “Ah... guru dan murid sama saja gebleknya!” kata ini pemuda. “Kalau gurumu suruh kau makan beling dan minum racun, apakah kau juga akan ikuti ucapannya itu...?!”


“Guruku tidak segila itu!” bentak si gadis.


“Aku memang tidak bilang gurumu gila, tapi sinting!” menukasi Rangga Geblek.


“Sekali lagi kau berani menghina guruku, kutampar mulutmu!” ancam Anggini.


Rangga Geblek keluarkan suara bersiul! “Gurumu memang sinting!” katanya lagi.


Anggini telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ketinggian kesaktian Pendekar Trisula Maut waktu terjadi pertempuran di jurang Nagreg beberapa saat yang lalu.


Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa gurunya sekali pun belum tentu akan dapat mengalahkan pemuda itu dengan mudah. Namun saat itu kegemasannya tak dapat ditahan lagi. Tangan kanannya bergerak cepat. Sebaliknya Rangga Geblek malah angsurkan pipi ke muka!


“Plaak!”


Tamparan mendarat di pipi Rangga Geblek. Pendekar muda ini tertawa.


“Betapa lembutnya jari-jarimu mengelus pipiku..,” katanya dengan pejamkan mata. “Ayo, tamparlah sekali lagi... dua kali lagi... tiga kali lagi... sesuka hatimulah...!”


Rangga menunggu tapi tamparan berikutnya tak datang dan pemuda ini bukakan kedua matanya 'kembali. Dilihatnya Anggini berdiri dengan hidung kembang kempis menahan geram yang menyesaki dadanya.


Pendekar Trisula Maut tertawa. “Kenapa tidak mau tampar?” tanyanya sinis.


Karena digemasi terus-terusan Anggini jadi penasaran sekali. Segera dibukanya selendang ungu yang melilit di pinggangnya yang berpinggul besar.


“Eh... saudari kau ini apa mau buka pakaian di depanku?” tanya Rangga Geblek sambil kedip-kedipkan mata dengan ceriwis.


“Pemuda rendah terima selendangku ini!” bentak Anggini.

__ADS_1


Tangan kanannya bergerak. Ujung selendang berputar pelahan dan lamban ke arah kepala Rangga Geblek. Selendang terbuat dari kain yang halus. Bila benda itu bergerak lamban berarti benda itu dialiri oleh aliran tenaga halus. Dan Rangga tahu bahwa kadangkala tenaga halus lebih berbahaya daripada tenaga kasar yang di luarnya kelihatan hebat.


Pemuda ini tak mau menyambuti liuk liuk selendang itu. Dia menggeser kedua kaki dan menjauhkan kepalanya. Masih tertawa dia mengejek:


“Saudari, tarianmu bagus sekali! Apakah ini juga dari gurumu kau pelajari?!”


Dugaan Pendekar Trisula Maut memang tepat. Kalau sekiranya dia mencoba memapasi selendang yang meliuk-liuk itu maka dengan satu sentakan cepat Anggini akan menarik selendang dan melesatkan ujungnya ke mata si pemuda. Ini pun sebenarnya belum ketentuan Rangga Geblek akan kena dihajar begitu saja. Tapi demikianlah kenyataannya bahwa kadangkala ilmu halus dan lembut harus dihadapi dengan kehalusan dan kelembutan pula.


Melihat si pemuda geser kaki menjauh tapi masih dengan sikap mengejek maka kini Anggini rubah permainan selendangnya. Laksana seekor naga selendang ungu itu meliuk dan


mematuk kian ke mari. Dan kini barulah Rangga menghadapinya dengan kekasaran pula.


“Saudari, permainan selendangmu patut dikagumi!” memuji Pendekar Trisula Maut. “Tapi tak cukup pasal kalau kau sampai menyerangku begini rupa. Aku...” Ucapan Rangga terpotong oleh bentakan Anggini.


“Tutup mulutmu pemuda ceriwis! Lihat selendang!”


Ujung selendang ungu dengan sangat tiba-tiba mematuk ke arah mata kiri Rangga. Ganda tertawa pemuda ini tundukkan kepala


untuk mengelak. Sejak tadi meski dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan cara kasar tapi sesungguhnya Pendekar Trisula Maut terus-terusan mengambil sikap mengelak. Tapi pada saat Rangga mengelak, pada detik itu pula ujung selendang dengan sangat cepat turun dan melibat leher!


Setengah libatan Pendekar Trisula Maut cepat-cepat pergunakan tangan kiri untuk rnengibaskan ujung selendang tapi ini tak bisa dilakukannya karena serentak dengan itu Anggini kirim satu tusukan dua ujung jari tangan kiri ke dada kiri Rangga.


Hebat sekali serangan ini sehingga kalau dilihat dari atas maka serentakan dengan serangan selendangnya tadi, maka sepasang serangan Anggini tak ubahnya seperti sebuah gunting besar


yang hendak menggerus tubuh dan leher si pemuda!


“Ah... ah... bagus, bagus sekali saudari! Tak percuma kau jadi murid si Raja Tuak!” memuji Rangga.


Tangan kirinya terpaksa dipalangkan untuk menunggu tusukan jari tangan lawan. Anggini yang tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih tinggi darinya batalkan serangan sebaliknya tangan kanannya siap menyentakkan selendang ungu yang ujungnya telah melibat setengah leher Rangga Geblek.


Pendekar Trisula Maut cepat angsurkan lehernya ke muka untuk mengendurkan selendang sehingga kalaupun detik itu disentak, sentakan itu tak akan mencelakainya. Kemudian dengan tangan kanannya, cepat sekali disampoknya bagian tengah selendang!


Anggini sama sekali tak dapat melihat cepatnya tangan kanan lawan yang menyampoki senjatanya. Dia hanya tahu tiba-tiba saja bagaimana selendangnya menjadi menegang dan tertarik ke muka!


Sesaat mengetahui bahwa selendangnya kena terpegang lawan terkejutlah gadis ini, tapi juga penasaran sekali. Dibetotnya selendang itu namun mana mau Rangga Geblek lepaskan,


malahan sebaliknya pemuda ini tarik selendang tersebut sehingga tubuh Anggini sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah ikut tertarik ke hadapannya.


Anggini memaki dalam hati.


“Sambut paku perakku, manusia rendah!” bentak gadis itu.


Sekali dia gerakkan tangan kirinya maka selusin benda yang besarnya setengah jengkal, berbentuk paku dan berwarna putih perak mendesing ke arah Rangga Geblek. Karena jarak


mereka terpisah dekat sekali maka dua belas senjata rahasia ini sangat berbahaya bagi keselamatan si pemuda. Anggini sendiri tiba-tiba merasa menyesal melepaskan senjata rahasia itu karena kawatir si pemuda tak dapat berkelit atau memapakinya, karena bukankah gurunya telah berpesan bahwa pemuda itu adalah cocok bakal jadi jodohnya...?!


Sebaliknya yang diserang tenang-tenang saja. Bahkan sambil bersiul dilambaikannya tangan kirinya. Delapan paku perak luruh ke tanah sedang yang empat lagi dielakkan dengan berkelit sedikit ke samping.


Kalau tadi dia merasa menyesal menyerang pemuda itu dengan senjata rahasianya maka kini setelah si pemuda berhasil selamatkan diri, kembali Anggini menjadi penasaran.


“Ah, tak sangka gadis molek begini galak sekali!” kata Rangga Geblek pula.


Dia melompat ke samping. Membuat gerakan satu putaran, dan sebelum Anggini turun ke tanah, kedua kaki gadis itu sudah terlibat selendangnya sendiri!


Membuatnya berdiri dengan terhuyung-huyung tak bisa melangkah!


Rangga tertawa gelak-gelak.


“Ayo, kenapa berhenti galaknya?” tanyanya mengejek.


Karena sampai saat ini Anggini masih memegang ujung yang lain dari selendangnya maka dengan cepat dia dapat membukanya kembali. Paras gadis ini merah sekali. Matanya menyorot memandang kepada Rangga Geblek, sebaliknya Pendekar Trisula Maut dengan ceriwis mengedip-ngedipkan matanya!


“Senjata apa lagi yang bakal kau keluarkan?!” tanya Rangga.


“Lepaskan selendangku!” teriak Anggini.


Rangga hanya tertawa.


“Lepaskan!” teriak gadis itu lagi. Dicobanya menyentakkan selendang itu tapi Rangga memegangnya erat sekali. Kalau ditariknya keras pasti selendang kain itu akan robek.


Kesal dan gemas akhirnya dengan menghentakkan kaki Anggini lepaskan selendangnya, putar tubuh dan lari ke balik sebuah batu besar. Di sini menangislah gadis itu.


“Heh... kenapa jadi nangis?” tanya Rangga ketika dia melangkah dan datang di balik batu besar. Pemuda ini jadi garuk-garuk kepala.


Lalu katanya: “Saudari, lihat, hari sudah senja. Sebaliknya kau kembalilah ke tempat gurumu! Kalau tidak pasti kau akan sesat di malam yang gelap nanti!”


“Aku tak mau kembali! Tak bisa kembali ke pertapaan!” jawab Anggini di antara tangis sesenguknya.


“Kenapa tak mau? Kenapa tak bisa?”


“Guruku akan marah!”


“Marah kenapa?” tanya Rangga lagi.


“Sudah... sudah! Kau tidak tahu!” Dan tangis Anggini semakin mengeras.


“Lalu kalau kau tak mau kembali ke tempat gurumu, apa kau bakal nginap di sini?!”


“Tak usah perdulikan aku! Biar aku mau malang mau melintang tak usah ambil pusing! Pergi dari sini kau...!” Anggini menyeka mata dan pipinya.


“Tak perlu bicara keras macam begitu, Saudari. Antara kita tak ada permusuhan. Ini semua adalah gara-gara gurumu yang berotak sinting itu!”


“Jangan hinakan guruku!” hardik Anggini.


“Kau seorang murid yang baik. Patuh terhadap guru dan juga hormati Tapi sayang kau juga turut-turutan bertindak tidak pakai pikiran sehat. Sekarang sudah, kembalilah ke pertapaan gurumu sebelum hari menjadi malam...”

__ADS_1


“Tidak!”


Rangga Geblek melangkah ke belakang Anggini. Kasihan-kasihan lucu dia merasa saat itu. Akhirnya pemuda ini berkata juga: “Ini selendangmu. Kalau kau banyak berlatih pasti kau menjadi seorang gadis yang hebat....”


Rangga lantas menyampirkan selendang ungu itu di pundak si gadis. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan


samarsamar di balik awan.


“Sudah malam....” desis pemuda ini. Kemudian dia memandang pada gadis yang berdiri di depannya dengan membelakang itu.


“Pergilah cepat, saudari. Nanti kau kemalaman di jalan....”


Anggini gelengkan kepala. “Guruku akan marah... akan marah kalau aku kembali.... “


“Kalau begitu ya tak usah kembali saja...” ujar Rangga Geblek.


“Aku memang tak bakal kembali...” kata Anggini pula.


“Hem... dan kau mau pergi ke mana?”


“Apa urusanmu tanya-tanya?”


“Ah...” Rangga tertawa. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Kemudian dipegangnya pundak Anggini. Si gadis dengan serta merta hendak menyibakkan tangan itu. Tapi tubuhnya sudah keburu dijalari perasaan aneh yang menggelora-gelora sampai ke lubuk hatinya. Tak kuasa dia menyibakkan pegangan tangan pada bahu itu.


“Saudari, dengarlah…” kata Rangga pula.


Tangannya masih memegang bahu si gadis malahan meremas-remasnya dengan lembut.


“Dalam hubungan guru dan murid walau bagaimana pun kau musti kembali ke pertapaan. Kau tak boleh tempuh jalan sendiri. Kalau kau tak kembali malah gurumu akan marah sekali. Kau pasti akan dihukumnya!”


“Tapi bagaimana aku mungkin bisa kembali? Tidak bisa saudara.., kau tidak tahu....”


“Apa yang aku tidak tahu?” tanya Rangga.


Tak mungkin bagi Anggini untuk mengatakannya dengan terus terang. Namun terluncur juga ucapan dari mulutnya: “Kalau aku musti kembali kata guruku... aku harus bersamamu...”


Rangga tertawa. Suara tertawanya menggema di daerah sepi dingin di permulaan malam itu.


“Saudari... namamu siapa?” bertanya Rangga Geblek.


Dan karena tadi gadis itu diam saja diremas bahunya maka tangan Rangga kini meluncur ke pipi, membelai pipi yang masih belum kering dengan air mata itu. Rasa yang menyentak-nyentak mendebarkan dada si gadis kini tambah keras dari tadi. Lagi-lagi tak kuasa dia menyibakkan tangan yang membelaibelai


itu. Ditundukkannya kepalanya.


“Siapa namamu, saudari...?” tanya Rangga lagi.


“Anggini,” jawab si gadis perlahan.


“Nama bagus... nama bagus,” puji Pendekar Trisula Maut dan tangannya semakin berani membelai muka Anggini.


“Dengar Anggini, orang tua macam gurumu itu memang suka


bicara ngelantur. Sekarang kau kembali saja ke pertapaannya dan katakan bahwa kau tak berhasil mengejar atau menemui aku. Habis perkara. Atau kalau tidak katakan saja kau telah


menemuiku dalam keadaan tak bernyawa mati di jurang Nagreg!”


“Aku tak bisa berdusta... kalau aku berdusta dia selalu mengetahuinya!” kata Anggini pula.


“Wah berabe kalau begini!” ujar Pendekar Trisula Maut dengan garuk-garuk kepala. Dia berpikir-pikir apa yang aka diperbuatnya. Kalau ditinggalkannya gadis itu sendirian di situ, tak tega pula hatinya. Pemuda ini hela nafas panjang. Akhirnya diajaknya gadis itu duduk di sebuah batu datar. Daerah belantara di mana mereka berada saat itu serba asing baginya. Mungkin sampai ratusan tombak bahkan ribuan tombak perjalanan belum menemui rumahbpenduduk.


Apakah dia dan gadis itu terpaksa tinggal terus di tempat itu malam ini?


Angin bertiup dari celah-celah batu-batu yang meruncing memenuhi tempat itu.


“Dingin...?” bisik Pendekar Trisula Maut.


Anggini mengangguk. Dan tangan kiri Pendekar Trisula Maut bergerak di balik punggung si gadis untuk kemudian merangkul bahu Anggini. Suasana berubah hangat. Dan untuk beberapa


lamanya mereka tiada bicara.


Rangga memecah kesunyian. “Kalau kau tak mau kembali ke pertapaan dan aku tak bisa pula meninggalkan kau sendirian maka kita terpaksa bermalam di sini. Tunggulah sebentar aku


akan cari tempat yang baik....”


“Nanti sajalah.... “ kata Anggini. Diletakkannya tangan kanannya di paha Pendekar Trisula Maut dan dia memandang ke angkasa.


“Langit cerah,” kata Rangga. “Kalau nanti turun hujan, memang. kita yang sialan.... !”


Anggini tertawa. Manis sekali tertawa itu. Hati Pendekar Trisula Maut sejuk sekali jadinya. Dan diperketatnya rangkulannya. Kemudian dengan beraninya pendekar ini menggelitiki tengkuk si


gadis dengan hidungnya.


“Jangan begitu ah....” kata Anggini menggeliat kegelian. Tapi tubuh dan tengkuknya tidak dijauhkannya.


Malam itu Rangga Geblek sengaja tidak membuat perapian. Dia khawatir kalau-kalau nyala api hanya akan mengundang datangnya hal-hal yang tidak diingini. Apalagi kalau yang


datang itu adalah Raja Tuak adanya. Meskipun dingin, meskipun mereka hanya terbaring di balik batu besar hitam itu dan beratapkan langit luas namun tubuh mereka yang berada


berdekatan itu saling memberi kehangatan.


Pendekar Trisula Maut ingat pada suatu malam ketika


dia berada berdua-duaan di sebuah dangau di tengah sawah dengan Nilamsuri. Malam ini tak adabbedanya dengan malam yang dulu itu. Sama-sama ada seorang gadis di sampingnya. Tapibterhadap Anggini, Pendekar Trisula Maut masih punya pikiran panjang dan sehat: Meski saat itu Anggini sudah berbaring pasrahkan seluruh tubuhnya untuknya dan memang sudah hampir setiap bagian dari tubuh Anggini disentuh oleh Pendekar Trisula Maut, namun untuk berbuat lebih jauh


dari itu pemuda ini tidak mau. Tubuh perawan itu laksana bara hangatnya, tangannya menggapai punggung Rangga dan pahanya melejang-lejang halus. Tapi Pendekar Trisula Maut hanya merangkuli tubuh itu, hanya mengecupi bibirnya yang basah, hanya menciumi matanya yang sayu kuyu tapi menyembunyikan hasrat yang meluap itu.

__ADS_1


__ADS_2