
Di atas sana tiba-tiba dilihatnya Ketua dan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma kembali mendekati tepi perangkap. Pendekar Trisula Maut segera hantamkan tangan ke atas mengirim pukulan Bintang Perak dan serentak dengan itu dia melompat ke udara. Trisula Naga Langit diputar dengan sebat.
"Trang... trang... trang...!"
Ternyata Trisula Naga Langit Mampu menghancurkan jalur-jalur besi penutup perangkap. Pendekar Trisula Maut Tertawa gembira dan berdiri dengan berkacak tangan kiri di pinggang, sementara empat lawannya di ruangan itu diam-diam menjadi ngeri melihat kehebatan pemuda ini.
Dari kerudung dan jubahnya yang lebih merah laksana darah. Pendekar Trisula Maut Segera mengenali yang mana adanya Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma.
Maka berkatalah pemuda ini dengan membentak. "Lekas serahkan Keris Tumbal Wilayuda. Dan jika kalian berjanji untuk kembali ke jalan yang benar niscaya aku masih mau memberi ampun!"
Ketua Perkumpulan tertawa mendengus. "Usia masih seumur jagung, tubuh masih bau amisnya orok, mungkin tidur pun masih ngompol tapi sudah berani bicara membentak dan memerintah dihadapanku!"
"Ucapanmu tidak lucu Ketua Perkumpulan Iblis! Ringkas kata kau mau serahkan Keris Tumbal Wilayuda atau tidak?!"
Perlahan-lahan Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma angkat tangannya ke udara. Gerakannya ini diikuti oleh Wakil dan dua anggotanya. "Baik!,” katanya, "aku akan serahkan Keris Tumbal Wilayuda padamu, tapi serahkan dulu kau punya jiwa!"
Habis berkata demikian maka empat tanganpun sama-sama ditarik melancarkan pukulan yang sangat diandalkan oleh Perkumpulan mereka yaitu pukulan pencabut sukma.
Dalam keadaan lengah seperti di Goa Dewi Kerudung Biru tempo hari mungkin empat pukulan sakti itu akan menamatkan riwayat Pendekar Trisula Maut. Tapi kali ini keadaan berlainan, apalagi saat itu Rangga memegang pula Trisula Maut Naga Langit ditangan.
Begitu empat angin maut membetot ke arah badannya maka Pendekar Trisula Maut berseru nyaring. Tubuhnya lenyap. Menyusul suara siulan melengking dan Trisula Maut Naga Langit membuat putaran putih yang sebat sekali, angin yang keluar dari Trisula sakti itu melanda hebat tarikan angin maut keempat musuh. Dan setengah jurus kemudian dua anggota kelas satu Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma sama menjerit keras. Tubuh mereka rebah ke lantai. Yang satu berbusaian isi perutnya, yang satu lagi hampir putus batang lehernya. Ketua dan Wakil Perkumpulan terkutuk sama-sama tersurut.
"Apa kau masih belum mau serahkan apa yang kuminta?!" bentak Pendekar Trisula Maut.
"Aku bilang serahkan nyawamu lebih dulu, budak hina!" balas membentak Ketua Iblis.
"Manusia tolol, dikasih ampun malah minta mampus!" Gusar sekali Pendekar Trisula Maut jadinya. Tubuhnya berkelebat untuk kesekian kalinya. Kali ini dalam jurus "membuka pintu memanah bintang".
Trisula Naga Langit mula-mula menderu sebat ke samping. Dan terdengarlah jerit kematian Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Ketua Perkumpulan tersirap dan melompat mundur ketika melihat Wakilnya terhuyung huyung dengan dada mandi darah lalu jatuh duduk di lantai.
Namun Pendekar Trisula Maut betul betul tidak mau memberikan kesempatan lagi. Trisulanya terus menyelesaikan jurus yang dibuat dan kini membabat deras ke udara. Ketua Perkumpulan terkutuk itu melolong setinggi langit. Dagunya terbabat putus berikut sebagian kerudungnya sekaligus. Tubuhnya terbanting ke dinding.
__ADS_1
Ketika Trisula Maut Naga Langit hendak membalik lagi guna menamatkan riwayat Ketua Perkumpulan durjana itu, maka tahu-tahu melesatlah sesosok tubuh manusia dan terdengar satu seruan. "Bangsat yang satu ini adalah bagianku, Rangga!".
Pendekar Trisula Maut berpaling, yang datang ternyata Dewi Kerudung Biru alias Anggini. "Ah, kau rupanya Anggini. Betul, memang tepat sekali kalau kau yang cabut nyawa anjing manusia terkutuk ini! Kau selesaikanlah perhitungan lamamu!”
Ketika Pendekar Trisula Maut bicara ini, Ketua Perkumpulan Iblis pergunakan kesempatan untuk menghambur ke pintu. Tapi secepat kilat Rangga angsurkan kaki kirinya menyerimpung pergelangan salah satu kaki Ketua Perkumpulan Iblis itu. Tak ampun lagi tubuhnya tersungkur ke lantai.
"Cepat bangun, manusia iblis agar cepat pula kuantarkan kau punya nyawa menghadap penjaga neraka!,” bentak Dewi Kerudung Biru.
Perlahan-lahan Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma berdiri. Tiba-tiba dia hantamkan satu pukulan ke arah Dewi Kerudung Biru. Tapi tenaga pukulannya ini sudah banyak berkurang akibat luka didagunya yang mengandung bisa, dan bisa itu mulai menjalar ke segenap pembuluh darahnya.
Melihat lawan memukul, Dewi Kerudung Biru berkelit cepat dan kirimkan serangan balasan yaitu jurus naga kepala seribu mengamuk. Terkejutlah Ketua Perkumpulan Iblis melihat jurus yang dahsyat ini. Dia melompat mundur tiga tombak dan berseru. "Dewi Kerudung Biru, antara kau dan aku tiada permusuhan, mengapa kita musti bertempur begini rupa?!"
Dewi Kerudung Biru tertawa dingin sedingin salju. "Kau lupa pada seorang gadis yang hendak kau perkosa beberapa bulan yang lalu?!"
Dewi Kerudung Biru membuka kerudung penutup wajahnya! "Apa kau masih lupa dan tidak kenali aku?!"
Terkejutlah Ketua Iblis Pencabut Sukma melihat paras gadis dihadapannya. Namun rasa terkejutnya ini tiada lama. Anggini kembali menyerbu. Kali ini dalam jurus "cakar garuda emas". Kedua tangannya terpentang.
Kuku-kuku yang panjang dari gadis itu menyambar dada sang Ketua. Dan tidak sampai di sana saja, Anggini buka mulutnya lebar-lebar.
"Huaah!"
Menyemburlah asap kencana biru ke arah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Manusia ini menjerit. Tubuhnya terhuyung-huyung. Ketika dia rebah ke lantai maka sekujur badannya menjadi sangat biru. Tamatlah riwayat manusia yang paling terkutuk dan ganas itu. Belum puas sampai di situ, Anggini maju mendekati mayat laki-laki itu lantas menendang kepalanya. Tubuh Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma mencelat enam tombak kepalanya hancur.
"Kau hebat sekali, Anggini,” memuji Pendekar Trisula Maut seraya melangkah mendekati mayat Ketua Iblis Pencabut Sukma. Ketika digeledah di balik pinggangnya diketemukan Keris Tumbal Wilayuda.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Rangga?,” bertanya Dewi Kerudung Biru atau Anggini.
Pendekar Trisula Maut merenung beberapa lamanya lalu menjawab. "Setelah Keris Tumbal kerajaan ini berhasil diketemukan, kurasa ada baiknya aku segera menemui Sultan Banten".
"Mengapa begitu?,” tanya Anggini. "Bukankah kau sendiri sudah tahu bahwa Sultan Hasanuddin pergi ke Demak untuk meminta bantuan balatentara dari Sultan Trenggono, guna mengusir kaum pemberontak yang kini bercokol di Banten?"
__ADS_1
"Betul, namun saat ini aku ada rencana baru. Rencanaku ini akan sangat banyak mengurangi korban-korban yang tiada berdosa”
"Aku tak mengerti maksudmu,” kata Anggini pula.
Pendekar Trisula Maut tersenyum. "Kau akan mengerti setelah menyaksikannya sendiri nanti. Sementara aku menyusul Sultan ke Demak, kuharap kau sudi pergi keperbatasan dan menunggu kedatangan kami di sana”.
Bagi Anggini adalah lebih disukainya bila dia bisa ikut bersama-sama dengan pemuda itu. Namun setelah berpikir sejurus akhirnya dia menganggukkan kepala.
"Sampai jumpa Anggini,” kata Pendekar Trisula Maut seraya memegang bahu gadis itu. Anggini meremas seketika jari-jari si pemuda dan sebelum tubuhnya lebih dijalari gelora darah muda maka Pendekar Trisula Maut segera meninggalkan tempat itu.
Meskipun satu hari terlambat, namun dengan ilmu larinya yang sangat lihai, Rangga berhasil mendahului Sultan Hasanuddin yang berangkat ke Demak dengan menunggangi seekor kuda. Rangga menunggu kedatangan Sultan di jalan luar kota sebelah timur. Tentu saja Sultan Hasanuddin sangat terkejut dan heran bertemu dengan pemuda sahabatnya itu.
"Sahabat, bagaimana kau tahu-tahu sudah muncul di sini?" tanya Sultan seraya turun dari kuda.
Dengan ringkas Rangga Geblek segera berikan keterangan. Selesai memberikan keterangan maka dikeluarkannya lah Keris Tumbal Wilayuda dan diserahkannya pada Sultan. Berseri-serilah paras Sultan Hasanuddin.
"Sahabat, jasamu sungguh tak dapat diukur dengan luasnya laut, dengan tingginya gunung. Aku berterima kasih betul kepadamu”
Rangga memotong ucapan Sultan dengan berkata. "Sultan sebelum memasuki kota dan menemui Sultan Trenggono, perkenankanlah aku memberikan sedikit rencana.”
"Boleh saja. Silahkan", kata Sultan seraya sisipkan Keris Tumbal Wilayuda dibalik pinggang pakaian.
"Dengan membawa bala tentara Demak ke Banten berarti akan pecah lagi peperangan dan pertumpahan darah di Banten. Sultan tentu lebih tahu dariku bahwa akibat peperangan yang paling buruk ialah jatuhnya beban penderitaan, serta kesengsaraan di pundaknya rakyat jelata”
"Betul, dalam hal ini aku memang sedapat-dapatnya berusaha agar penduduk jangan sampai banyak yang jatuh korban,” kata Sultan pula.
Rangga mengangguk. "Di samping itu, sebagian besar dari prajurit-prajurit pemberontak tiada lain hanya merupakan alat mati yang bisa dikutak katik oleh atasan. Di hati kecil mereka sendiri mungkin tak ingin melakukan pertumpahan darah itu. Tapi demi tugas dari atasan, mereka terpaksa melakukan peperangan yang kejam itu. Jadi letak tanggung jawab, atau biang racun dari segala kemusnahan dan penderitaan itu tiada lain terletak di tangan pentolan-pentolan tinggi pemberontak. Nah, manusia manusia inilah yang harus kita lenyapkan lebih dulu, yang dibawah soal mudah.Apalagi dua begundalnya pembantu Parit Wulung yaitu Resi Singo Ireng serta Macan Seta telah menemui ajal!"
"Apa yang kau katakan itu semua adalah benar sobat,” kata Sultan. "Tapi aku masih belum melihat bagaimana caramu yang tepat dan baik dalam merebut kembali takhta kerajaan dengan menghindarkan pertumpahan darah".
"Kalau Sultan bisa memberikan sedikit kepercayaan kepadaku, pastilah aku akan bersedia melaksanakannya”. Maka Pendekar Trisula Maut-pun menuturkan rencananya selengkapnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....