
Mencari seorang musuh di daratan pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan mudah. Ratusan kilometer harus dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan sungai musti diarungi diseberangi, belasan rimba belantara harus dimasuki, dan diantara semua itu puluhan halangan harus dihadapi.
Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam sendiri, serta yang ditimbulkan oleh manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali dalam rimba dunia persilatan. Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru musuh besar itu berhasil dicari. Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil, mungkin si pencari musuh besar itu akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan meregang nyawa sebelum dendam kesumat terbalaskan.
Kaligundil tahu semua itu. Tapi dia tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini dimilikinya, meski tidak sempurna, dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu dalam perjalanannya mencari Pendekar Trisula Maut, musuh besar yang telah membuat tangannya buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup. Disamping itu Kaligundil memang sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan Rangga Geblek. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa rencana besarnya untuk menuntut balas akan berhasil.
Pertama kali ditemuinya Mahesa Jenar atau Suranyawa di Pajajaran, karena terakhir sekali diketahuinya, bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan tersebut. Namun sampai di sana Kaligundil kecewa besar. Bahkan juga dendam yang ada di dalam hatinya jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Jenar telah menemui ajalnya, mati ditangan Rangga Geblek, sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari. Dengan segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu, Kaligundil meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya perjalanan ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung. Pada masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang bernama Perguruan Teratai Putih. Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah mendapat nama tenar di di sepanjang daerah perbatasan Jawa barat dan Jawa Timur. Bukan saja karena Perguruan Teratai Putih ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan menghancurkan golongan hitam penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan, tapi juga adalah karena perguruan silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh tahun belakangan ini mendapat nama tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini adalah Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad. Pada saat itu Wirasokananta berada di puncak Gunung Galunggung, tengah bertapa memperdalam ilmu batin dan dan mempersuci diri dari segala kekhilafan-kekhilafan dan dosa-dosa yang pernah dibuatnya selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada murid tertua, terpandai dan yang paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara.
Perguruan Teratai Putih saat itu kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam rumah besar murid-murid perguruan yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua perempuan duduk bersila dengan khidmat mendengarkan apa yang tengah dibacakan oleh Gagak Kumara, yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup, kerohanian, kebatinan dan keduniaan. Suara Gagak Kumara terang dan jelas, sedap didengarnya sehingga setiap nasihat dan pelajaran yang dibacakannya dapat segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya yang tujuh orang itu.
“Dalam hidup ini…,” membaca Gagak Kumara, “setiap manusia akan dan musti melalui tiga tahap kehidupan. Pertama saat atau dimana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke atas dunia ini. Kedua tahap selama umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia meninggalkan dunia ini, kembali pada asalnya atau mati….”. Sampai di situ pembacaan Gagak Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara tertawa bergelak yang disusul dengan ucapan:
“Tepat… tepat… sekali. Lahir, hidup dan mati. Dibrojotkan kedunia, malang melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha… ha… ha….”.
Tentu saja suara yang lantang mengumandang, berisi tenaga dalam yang tinggi dan yang bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih, termasuk Gagak Kumara sendiri. Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat mana seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangan kanannya buntung berdiri diambang pintu.
“Saudara, kau siapa ?” Tanya Gagak Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu tak dikenal itu. Dia tetap duduk tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas pangkuannya.
“Tak perlu tanya dulu.” menyahuti laki-laki diambang pintu seraya menyeringai buruk. “Bicaraku belum habis.”
Beberapa orang diantara murid-murid Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi penasaran dan menggeser duduk mereka. Namun dengan memberi isyarat diam-diam, Gagak Kumara memberi kisikan agar jangan bertindak dulu. Dan orang yang diambang pintu meneruskan ucapannya. Terlebih dahulu dengan jari telunjuk tangan kiri ditunjuknya kitab yang ada di pangkuan Gagak Kumara.
“Apa yang tertulis di sana, apa yang kamu baca tadi betul sekali. Lahir, hidup, mati. Tapi apa kalian di sini tahu bahwa segala apa yang tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian alami sendiri?”
“Apa maksudmu saudara?,” tanya Gagak Kumara. Masih tetap dengan tenang dan tidak beringasan.
Si tangan buntung tertawa mengekeh. “Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu, percuma saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa maksud kata-kataku. Kalian sudah dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang melintang di dunia ini, tapi kalian masih belum pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus. Nah, hari ini, untuk membuktikan kebenaran isi kitab butut itu, aku –Kaligundil – akan bersedia menolong kalian untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu. Ha… ha… ha…!”
__ADS_1
Maka kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang dipangkuannya dilipat dan diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya.
“Saudara,” kata Gagak Kumara pula. “Di dunia ini memang banyak orang-orang yang berotak miring. Aku khawatir kau adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke sini!”
Kekehan Kaligundil terhenti. Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk. Tangan kirinya bergerak ke pinggang dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah memegang sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru, Pedang Siluman Biru.
Sekali lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai Putih sama memaklumi bahwa pedang yang di tangan manusia tak dikenal dan mengaku bernama Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun buntung tapi tetap berbahaya.
Tiba-tiba Kaligundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang buntung bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi, Gagak Kumara melepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi.
Namun betapa terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya membuat angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping.
“Saudara-saudara” seru salah seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. “Manusia kesasar macam begini tak perlu dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai.”
“Semuanya tetap ditempat!,” teriak Gagak Kumara. “Walau bagaimanapun, kita harus jaga nama Perguruan dan jangan mencemarkan nama guru. Pegang teguh sifat ksatria dunia per…”.
“Pedang buntung ini Pedang Siluman Biru. Mengandung racun yang jahat. Dalam tiga jam nyawamu akan melayang. Ha… ha… ha…”.
Terkejutlah Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang lain. Gagak Kumara cabut sebilah keris dari pinggangnya. Saudara-saudara seperguruannya yang lain pun segera cabut keris pula dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi. Maka delapan anak murid Perguruan Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masing masing mengurung Kaligundil yang bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu.
Kaligundil hanya tertawa buruk melihat hal ini. “Sebaiknya kalian bunuh diri saja daripada mampus di ujung patahan Pedang Siluman-ku ini.”
“Pedang Siluman…,” desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati. Mereka pernah mendengar tentang kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan sejak beberapa tahun yang silam pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung, tapi benar-benar tidak mempengaruhi kehebatannya.
Namun apapun senjata yang di tangan lawan saat itu, anak-anak murid Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut sedikitpun. Kedelapannya menyerbu ke muka. Delapan keris berkiblat ke arah delapan bagian dari tubuh Kaligundil. Yang diserang menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat, sinar biru dari pedangnya menderu seputar badan. Tiga jeritan terdengar hampir bersamaan dan tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ juga.
Gagak Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan luka telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga dalam yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah gagak Kumara dengan segala kehebatannya. Namun permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga jurus-jurusnya. Satu jurus dimuka, dua orang saudara seperguruannya lagi roboh tanpa nyawa. Melihat ini Gagak Kumara segera berseru pada dua orang saudara seperguruannya yang perempuan.
__ADS_1
“Wurni Mulan, Nyi Ratih, kalian segeralah tinggalkan tempat ini. Cepat lari selamatkan diri.”
Tapi kedua gadis itu meski betina, tapi betina yang berhati jantan. Wurni Mulan menyahuti:
“Hidup mati kita bersama kakak Gagak Kumara.”
Gadis itu berkelebat cepat dan kirimkan satu tusukan cepat ke leher lawan. Kaligundil tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di saat itu pula kaki kirinya bergerak.
“Bluk”
Saudara seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding. Tulang dadanya melesak ke dalam dihantam tendangan Kaligundil. Jantung dan paru parunya pecah. Nyawanya lepas.
Gagak Kumara sendiri saat itu sudah kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun pedang siluman sangat mempengaruhi keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah. Dia tahu sebentar lagi dia pasti akan menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain. Karena itu sekali lagi dia berseru memberi ingat: “Wurni Mulan, Nyi Ratih, Larilah sebelum terlambat.”
“Gadis-gadis cantik ini tak akan bisa pergi jauh. Nasib kematian kalian sudah ada di ujung Pedang Siluman-ku. Tapi sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih dahulu.”
Kaligundil tertawa mengekeh. Gagak Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata lawannya itu untuk kesekian kalinya berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau ambil peduli malahan menyerang dengan hebat. Kaligundil mengelak gesit beberapa kali. Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata di tangan kirinya, laki-laki itu menotok Wurnimulan dan Nyi Ratih. Keduanya kini kaku tak bergerak. Tahu malapetaka apa yang bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu, dengan sisa tenaga yang ada, dengan segala kehebatan yang masih dimilikinya, Gagak Kumara menyerbu Kaligundil dari samping.
Yang diserang sambil putar badan berkata: “Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah di depan hidung. Baiknya bunuh diri saja!”
“Terima kerisku lebih dulu, manusia durjana. Kami tidak ada permusuhan dengan kau. Kenapa kekejamanmu lewat takaran macam begini?”
“Akh… sudahlah. Biar mulutmu kututup saja saat ini” kata Kaligundil pula.
Pedang Siluman Biru membabat ke perut Gagak Kumara, dielakkan dengan melompat oleh murid Wirasokananta itu. namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini.
Bersambung..
__ADS_1