
Sampai menjelang tengah malam pesta perkawinan puteri Ki Lurah Rantas Madan dengan putera Ki Lurah Jambar Wulung masih kelihatan meriah. Tamu-tamu duduk di kursi masing-masing sambil menikmati hidangan dan minuman yang diantar para pelayan serta sambil menikmati permainan gamelan dan suara pesinden Nit Upit Warda yang lembut mengalun membawakan tembang “Kembang Kacang.”
Kedua mempelai yang berbahagia yaitu Ning Leswani dan Rana Wulung kelihatan duduk diantara para tamu di barisan kursi paling depan, tepat dimuka panggung. Ki Lurah Rantas Madan duduk di samping Rana Wulung bersama istrinya sedang Ki Lurah Jambar Wulung di sebelah Ning Leswani juga bersama istrinya. Karena masing-masing mempelai yang kawin adalah anak-anak lurah dari dua desa yang berdekatan maka dengan sendirinya suasana perkawinan meriah dan besar-besaran.
Malam itu adalah malam pesta perkawinan yang pertama dan besok lusa akan dilanjutkan dengan pesta perkawinan yang kedua dan ketiga. Pada menjelang dinihari di mana udara dinginnya mencucuk tulang-tulang sampai ke sumsum, tamu-tamu sudah banyak yang pulang. Beberapa orang yang masih disana sudah mengantuk bahkan banyak yang tertidur seenaknya di kursi. Para pemain gamelan di bawah pimpinan Ageng Comal tak ketinggalan ketularan kantuk sehingga Ageng Comal menghentikan permainan sampai di situ.
Ki Lurah Rantas Madan dan Ki Lurah Jambar Wulung bersama istri masing-masing berdiri dari kursi mereka dan disertai beberapa orang lainnya kemudian melangkah mengiringi kedua pengantin masuk ke dalam rumah besar yang tentunya terus ke dalam kamar.
Namun, belum lagi rombongan ini mencapai tangga langkan rumah, dari atas atap mendadak berkelebat satu sosok tubuh manusia, melompat ke atas panggung. Kedua kakinya menjejak taron (salah satu alat bunyi-bunyian dalam permainan gamelan), sedang kedua tangan berkacak pinggang. Jarak atap rumah dan lantai panggung demikian tingginya tapi manusia tadi melompat ke atas taron tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Bahkan taron itu sama sekali tidak bergerak ataupun bergeser.
Orang ini masih muda belia, berbadan agak kurus dan tinggi. Rambutnya gondrong sampai ke bahu. Pada parasnya yang gagah itu terbayang sifat buas, apalagi jika diperhatikan sepasang bola matanya hal itu akan lebih kentara lagi. Pemuda ini mengenakan jubah hitam yang sangat panjang sehingga menjela-jela di atas taron dan lantai panggung. Jubah hitam ini disulam dengan bunga besar-besar berwarna kuning. Pada belakang kain penutup kepalanya tertancap sebuah bunga kertas yang juga berwarna kuning.
Melihat alat bunyi-bunyian diinjak seenaknya demikian rupa oleh seorang pemuda tak dikenal, tentu saja Ageng Comal menjadi marah sekali. Pemimpin kesenian gamelan ini maju melangkah sambil membentak. “Pemuda kurang ajar! Turun dari taron itu sebelum kupatahkan batang lehermu!”
Seringai menggurat di wajah si pemuda. Dari mulutnya meledak suara tertawa yang menggetarkan dan menggidikkan serta membuat liang telinga seperti ditusuk-tusuk. Suara tertawa itu, yang didahului oleh suara bentakan Ageng Comal tadi dengan serta merta membuat semua orang berpaling. Tamu-tamu yang duduk terhenyak tidur di kursi terbangun oleh kedahsyatan tertawa si jubah hitam dan semua mata ditujukan padanya.
Beberapa orang yang mengenali ciri-ciri pemuda di atas taron itu berseru kaget. “Pendekar Kumbang Malam!”
__ADS_1
Maka suasana itupun mendadak sontak menjadi gempar penuh ketegangan. Yang memiliki senjata segera menggerakkan tangan bersiap sedia menjaga segala kemungkinan. Ki Rantas Madan berbisik pada menantunya, “Rana, bawa istrimu ke dalam, cepat!”
Sedang Ki Lurah Jambar Wulung berbisik pula pada istrinya, “Wiri, cepat masuk ke dalam. Bawa besanmu serta…”
Rana Wulung yang memang pernah mendengar dan mengetahui siapa adanya manusia bergelar “Pendekar Kumbang Malam” itu segera memegang lengan istrinya lalu membimbing Ning Leswani. Istri Ki Lurah Jambar Wulung serta besannya mengikuti di belakang mereka.
Namun baru saja mereka bergerak satu langkah, pemuda jubah hitam di atas taron membentak garang. “Siapa berani meninggalkan tempat ini berarti mampus!”
Semua yang melangkah jadi berhenti. Ki Lurah Jambar Wulung hendak melangkah ke arah panggung, besannya – Rantas Madan – memegang lengannya dan berbisik, “Jangan tempuh jalan kekerasan, Ki Lurah Jambar. Manusia ini tinggi ilmunya dan berbahaya. Biar aku yang bicara…”
Habis berkata demikian Ki Lurah Rantas Madan maju ke depan panggung. Dia menegur dengan nada seramah mungkin. “Pendekar Kumbang Malam, kedatanganmu sungguh tak kami duga. Kalau kau ke sini hendak memberikan restu ucapan selamat kepada puteri dan menantuku, sebelumnya aku haturkan terima kasih.”
Disekanya ujung bibirnya dengan telapak tangan. “Orang tua, kau sedikit lebih ramah dari besanmu,” kata Pendekar Kumbang Malam pula. ”Tapi ketahuilah, aku datang ke sini bukan buat kasih ucapan selamat tapi sebaliknya.”
Pendekar Kumbang Malam untuk kesekian kalinya tertawa lagi gelak-gelak. “Aku datang untuk menjemput puterimu, Ki Lurah,” katanya. “Dia sudah ditakdirkan menjadi milikku!”
Berubahlah air muka orang banyak terutama Rantas Madan, Jambar Wulung, Rana Wulung dan Ning Leswani. Suasana sehening dipekuburan. Tegang mencekam.
Ki Lurah Jambar Wulung tak dapat lagi menahan hati dan luapan amarahnya. “Setan alas! Lekas angkat kaki dari sini kalau tidak ingin kupecahkan batok kepala sintingmu itu!”
__ADS_1
Pendekar Kumbang Malam mendengus. “Mulutmu keliwat besar, Ki Lurah. Kau andalkan ilmu apakah?!” bentak Pendekar Kumbang Malam.
Sebagai jawaban, Jambar Wulung melompat ke atas panggung. Laki-laki ini tidak memiliki ilmu kesaktian dan tak pernah menuntut ilmu kebathinan. Namun dalam ilmu silat luar dia sudah menjajakinya sampai tingkat teratas. Karenanya tidak mengherankan gerakannya melompat ke atas panggung tadi gesit dan enteng.
Namun Pendekar Kumbang Malam menyaksikan gerakan itu dengan sikap sinis dan air muka mengejek. Matanya yang tajam dan pengalamannya yang dalam sekilas saja sudah melihat dan mengetahui bahwa Ki Lurah Jambar Wulung hanya memiliki ilmu silat luar, tak mempunyai isi apa-apa.
Di lain pihak, begitu kedua kakinya menginjak lantai panggung, begitu Jambar Wulung berkelebat mengirimkan serangan. Meski ilmu silatnya ilmu silat yang tak memiliki tenaga dalam, namun serangan yang dilancarkannya menimbulkan angin deras.
“Huh, segala silat picisan. hendak diandalkan!” ejek Pendekar Kumbang Malam. “Makan sikutku ini, Ki Lurah!”
Manusia ini kelihatan menggeserkan kaki kirinya sedikit dan tahu-tahu terdengar suara, “ngek!” Suara itu keluar dari mulut Jambar Wulung.
Tubuh Ki Lurah ini terpelanting menabrak gong besar di sudut panggung sebelah kanan, terus jatuh ke bawah panggung bersama alat bunyi-bunyian itu dengan menimbulkan suara hiruk pikuk. Begitu terhampar di tanah Jambar Wulung tak bangun lagi alias pingsan. Dua tulang iganya telah hancur remuk di makan sikut Pendekar Kumbang Malam.
Melihat ayahnya dibuat sedemikian rupa, naiklah darah Rana Wulung. Tapi sebelum dia bergerak, mertuanya – Ki Lurah Tantas Madan – cepat memegang bahunya. Orang tua ini segera mendahului hendak melompat ke panggung, tapi di atas panggung dilihatnya Ageng Comal sudah berhadap-hadapan dengan Pendekar Kumbang Malam.
“Pemuda keparat! Biang racun pengacau! Jaga kepalamu!”
Ageng Comal dengan mempergunakan pukulan gong menyerbu ke muka. Pemuda yang diserang rundukkan kepala. Begitu pukulan gong berdesing di atasnya, cepat sekali tangan kirinya meluncur ke muka. Ageng Comal yang juga pernah mendalami ilmu silat melihat serangannya lewat, serta menyaksikan serangan balasan lawan dengan sigap memiringkan tubuh ke kiri. Serentak dengan itu lutut kanannya dilipat menyongsong pukulan lawan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....