
Sepasang Kaki Kematian memutar tubuh dengan cepat ketika di belakangnya terdengar suara tertawa mengejek.
"ltulah akibatnya kalau manusia mata picak kalap membabi buta! Panggung tak bersalah ditendang!"
"Kucincang tubuhmu, keparatl" teriak Sepasang Kaki Kematian.
Tubuhnya mengapung lagi. Goloknya berbolang baling deras sekali laksana kitiran dan mengurung si pemuda dengan cepatnya. Yang diserang bergerak lincah kian kemari sambil tertawa-tawa dan sekali-sekali bersiul.
"Terima ini, setan alas!" teriak Sepasang Kaki Kematian.
Golok panjangnya menebas ke pinggang, membalik ke kepala dan menusuk ke perut. Serentak dengan itu tangan kirinya melancarkan pukulan tangan kosong yang hebat. Namun lagi-lagi semua itu hanyalah tipuan belaka karena begitu si pemuda rambut gondrong mengelak, maka kedua kakinya menderu ke muka. Satu ke perut dan satu lagi ke ************.
"Tipu silatmu boleh juga, mata picak!" memuji si pemuda namun dengan senyum mengejek. "Tapi terima dulu, telapak tanganku ini!"
Telapak tangan kiri si pemuda menghantam ke perut Sepasang Kaki Kematian. Laki-laki ini menebaskan goloknya ke lengan si pemuda. Namun kalau tadi ia yang menipu maka kali ini dia kena tipu. Karena begitu goloknya menebas, maka lawan menarik tangan kiri dan tahu-tahu .... "Plak!"
Telapak tangan kanan si pemuda menghantam keningnya. Sepasang Kaki Kematian menjerit keras. Tubuhnya terpelanting beberapa tombak dan terjerongkang jatuh menelungkup tepat di hadapan Dewi Kala Hijau.
Untuk kedua kalinya Dewi Kala Hijau dan ketiga muridnya dibikin terkejut. Dewi Kala Hijau melirik pada mayat Sepasang Kaki Kematian lalu memandang menyorot pada si pemuda dan membentak. "Siapa kau sebenarnya?!"
Pemuda itu tersenyum. "Kalau kepingin tahu namaku, aku telah menggambarnya di kening budakmu itu, Dewi ... !"
__ADS_1
Sepasang mata Dewi Kala Hijau kelihatan tambah menyorot. "Jangan bicara ngaco, orang muda! Sekali lagi kau mempermainkan aku, nyawamu pasti tak terampunkan lagi!"
"Kentut!" tukas si pemuda. "Kau tanya aku menjawab, apa itu namanya bicara ngaco?! Kalau tak percaya silahkan lihat di kening budak mata picak itu!”
Penasaran sekali, tapi juga ingin tahu, Dewi Kala Hijau membalikkan tubuh Sepasang Kaki Kematian dengan ujung kaki kirinya. Begitu tubuh laki-laki itu tertelentang maka berkerutlah muka perempuan iblis itu serta murid-muridnya. Di kening Sepasang Kaki Kematian yang hitam membiru kelihatan tercetak sebuah gambar Trisula.
"Jadi kau adalah Rangga Geblek, manusia yang berjuluk Pendekar Trisula Maut Naga Langit?!" ujar Dewi Kala Hijau pula.
Si pemuda hanya tertawa. "Agaknya kau dan murid-muridmu kurang senang dengan pertemuan ini, bukan?"
Dewi Kala Hijau merenung sejenak. Nama Rangga Geblek dan gelaran Pendekar Trisula Maut Naga Langit itu memang sudah sejak lama didengarnya. Ketika dia memberi tugas pada murid-muridnya dan ketika dia sendiri meninggalkan gua di kaki gunung Merapi, Dewi Kala Hijau sudah mengetahui bahwa pendekar itu adalah salah seorang dari sekian banyak lawan-lawan yang bakal dihadapinya dalam rencananya mendirikan Partai Lembah Tengkorak.
Dan bila hari ini dia berhadapan, tidaklah pernah diduganya sebelumnya kalau Pendekar Trisula Maut Naga Langit adalah seorang pemuda berparas gagah. Tadi dia telah menyaksikan sendiri kehebatan pemuda itu. Pembunuh Tanpa Bayangan dirobohkannya dalam satu jurus dan Sepasang Kaki Kematian dibikin konyol dalam dua jurus. Manusia-manusia lihai semacam ini, apalagi segagah Rangga Geblek sangat dibutuhkan oleh Dewi Kala Hijau dalam rencana besarnya.
"Hem ...." Rangga Geblek usap-usap dagunya. "Janji yang bagus dan muluk!" katanya, Lalu "Kalau aku duduk dalam Partaimu, berapakah kau mau gaji aku..... ?"
"Pemuda gendeng!" ketus Dewi Kala Hijau. "Orang sudah bersedia memberikan ampun masih saja bicara ngelantur!"
"Dewi, jangankan masuk Partaimu, melihat parasmu saja aku sudah mau muntah rasanya! Dan menyaksikan kejahatanmu berdiri bulu kudukku. Terus terang saja aku sudah lama mendengar tentangmu dan murid-muridmu! Kejahatanmu sudah lebih dari takaran. Dosa kalian sudah setinggi langit sedalam lautan! Kalian tak akan berhasil mendirikan Partai Lembah Tengkorak! Dunia persilatan akan bersatu untuk menghancurkan kalian! Karenanya lebih baik kalian kembali pada kebenaran sebelum terlam ...."
"Tutup mulut!!" teriak Dewi Kala Hijau gemas dan marah sekali. "Kalau kau mau pidato, pidato lah nanti di akhirat!"
__ADS_1
Perempuan ini berpaling pada kelompok murid-muridnya yang kini cuma tinggal tiga orang itu. "Kala Putih! Cabut nyawanya dalam satu jurus!" perintah Dewi Kala Hijau penuh kebuasan.
Kala Putih mengangguk lalu memutar badan menghadapi si pemuda. Begitu sepasang mata Kala Putih beradu pandang dengan sepasang mata Pendekar Trisula Maut, maka tergetarlah hati gadis muka tengkorak ini. Sebetulnya sejak munculnya si pemuda tadi Kala Putih telah tertarik hati oleh kegagahan Pendekar Trisula Maut, apalagi setelah menyaksikan pula kehebatan pemuda itu. Di dalam diri Kala Putih terjadi semacam pertentangan. Hati kecilnya menentang dan tak mau disuruh membunuh pemuda gagah itu namun sebaliknya tugas gurunya musti dilaksanakan, kecuali kalau dia ingin mendapat hukuman yang sangat berat.
"Kala Putih! Kau tunggu apa lagi?!" bentak Dewi Kala Hijau. "Lekas bunuh pemuda gila itu!"
Kala Putih maju lagi beberapa langkah. "Bersiaplah untuk mati, pemuda tidak tahu diri!" bentak Kala Putih tapi dengan suara bergetar. Tangan kanannya diangkat ke atas lalu secepat kilat dipukulkan ke muka.
"Wut!"
Gelombang sinar hijau beserta enam ekor kala hijau beracun menderu ke arah Pendekar Trisula Maut. Yang diserang bersuit nyaring dan melompat Iima tombak ke atas lalu hantamkan telapak tangan kanannya ke muka. Serangkum angin dahsyat menggeru memapasi serangan maut Kala Putih. Debu beterbangan. Pasir dan kerikil-kerikil berpelantingan. Sinar hijau dan keenam kala beracun tersapu lalu luruh ke tanah. Kala Putih sendiri kalau tidak lekas-lekas mengelak ke samping pasti akan dilanda angin pukulan lawan yang terus menyerempet ke arahnya. itulah pukulan "Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih" yang telah dilepaskan oleh Pendekar Trisula Maut Rangga Geblek.
Berubahlah paras Dewi Kala Hijau. Matanya membeliak. Demikian juga dengan ketiga muridnya terutama Kala Putih yang menghadapi langsung sang pemuda.
“Putih! Kuberi tambahan dua jurus padamu untuk mematahkan batang leher pemuda itu! Ayo lekas!"
Mendengar ini maka dengan segala kehebatannya menerjanglah Kala Putih.
Rangga Geblek bersiul nyaring. Tubuhnya lenyap. Dan terdengar suaranya: "Jangan kesusu tak karuan kalau menyerang, gadis muka tengkorak, salah-salah bisa mencelakai dirimu sendiri! Aku paling benci bertempur dengan lawan yang muka aslinya ditutup dengan topeng! Bukalah topeng tengkorakmu itu lebih dahulu Kala Putih!"
Geram sekali mendengar ucapan Pendekar Trisula Maut itu maka Kala Putih lipat gandakan tenaga dalamnya dalam menyerang. Demikian hebatnya sehingga angin serangannya saja laksana topan prahara.
__ADS_1
BERSAMBUNG....