
Keempatnya mula-mula sama menganggap remeh barisan itu. Sekali mereka menggerakkan tangan maka mampuslah semua pengurung itu, pikir mereka. Namun ketika mereka terdesak hebat dan hendak melancarkan serangan "Kala Hijau", segera mereka ketahui bahwa dikurung demikian rupa, tak mungkin bagi mereka untuk mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke muka. Keempatnya kaget, dan hanya ketinggian ilmu mengentengi tubuh mereka sajalah yang dapat menyelamatkan mereka dari arus pedang yang dahsyat laksana gelombang melanda karang itu.
Meskipun dapat bertahan namun lama-lama keempatnya merasa khawatir juga. Keempatnya diam-diam mencari siasat dan begitu mereka berhasil mengetahui kelemahan barisan "Telaga Maut" itu, maka dengan cepat keempatnya melancarkan serangan terpusat pada dua orang anggota barisan. Dua pekikan terdengar merobek langit. Dua sosok tubuh anggota barisan "Telaga Maut" mencelat ke udara, jatuh di tanah tanpa nyawa. Dengan demikian maka bobol lah kehebatan barisan yang sangat diandalkan oleh Partai Telaga Wangi itu. Sekelompok demi sekelompok mereka terguling tanpa nyawa.
Pada saat Kala Merah dan kawan-kawannya terkurung rapat oleh barisan "Telaga Maut", maka sebagian besar dari para tamu yang merasa tidak aman, dan tak punya harapan bila melakukan perlawanan terhadap Kala Merah serta kawan-kawannya, segera meninggalkan tempat itu. Namun tokoh-tokoh utama lainnya tetap duduk di tempat mereka. Terutama tokoh-tokoh silat kalangan putih yang bersahabat baik dengan Dewa Pedang almarhum.
Kini di atas panggung kelihatan pemandangan yang betul-betul mengerikan. Puluhan tubuh manusia terkapar tanpa nyawa. Ada yang hancur kepalanya, ada yang robek perutnya atau melesak dadanya tapi yang paling banyak ialah yang mati akibat "Kala Hijau" beracun yang dilepas oleh keempat gadis bermuka tengkorak yang haus jiwa manusia itu.
Di atas panggung Partai Telaga Wangi yang kini Cuma tinggal nama saja, Kala Merah berdiri bertolak pinggang menghadapi para hadirin yang kini hanya tinggal separoh saja lagi.
"Mana yang lain-lainnya?!" tanya Kala Merah membentak.
Sepasang matanya membeliak. Tapi tak ada satu pun dari yang hadir yang memberikan jawaban. Kala Merah menyapu mereka dengan Pandangannya yang tajam. Melihat kepada sikap Orang-orang itu dan melihat bagaimana mereka masih punya nyali untuk mendiamkan Pertanyaannya, Kala Merah maklum bahwa orang-orang itu tentulah tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi. Namun ini tidak mengejutkan hatinya. Malah sebaliknya Kala Merah menjadi gembira dapat berhadapan dengan tokoh-tokoh kawakan dunia persilatan itu.
"Kerbau-kerbau dogol, apa kalian tidak Punya mulut?! Orang bertanya didiamkan saja? Atau mungkin tuli semua?!"
Mendadak terdengar suara tertawa rnengekeh dari panggung sebelah Barat. "Kala Merah, jika kau punya nyali, turunlah!"
Kala Merah dan kawan-kawannya tentu saja kaget sekali dan memandang ke jurusan Barat, tapi tak dapat mengetahui siapa adanya orang yang bicara itu karena dia mempergunakan ilmu memindahkan suara.
”Keparat pengecut, berani menantang berani unjukkan diril" bentak Kala Merah penasaran.
Terdengar lagi suara tertawa mengekeh. “aku akan unjukkan diri bila kau bersedia bertempur dengan membuka kedok tengkorakmu!"
__ADS_1
Mata Kala Merah membeliak. Darahnya tersirap. Demikian juga dengan Kala Hitam, Kala Putih dan Kala Biru. Rupanya Manusia yang bersuara itu selain sakti juga mengetahui rahasia kedok tipis yang mereka pakai.
Karena geramnya, Kala Merah hantamkan pukulan "Kala Hijau" ke bagian panggung sebelah Barat itu. Jerit kematian terdengar di bagian situ. Enam tokoh silat golongan putih dan dua golongan hitam roboh terjerongkang dari kursi masing-masing.
“Jika belum juga unjukkan diri, semua yang ada di sini akan ku bikin minggat ke akhirat!" ancam Kala Merah.
"He... he ... enaknya kalau bicara!" terdengar jawaban Orang yang tak kelihatan dan tak diketahui di mana beradanya itu. "Kesaktianmu memang patut dikagumi perempuan-perempuan iblis, Kejahatan mu melewati batas! Dunia persilatan akan bersatu menghancurkanmu! Sekalipun kalian punya sepuluh nyawa, kalian tak bakal dapat hidup lama!"
"Kentut!" bentak Kala Merah gusar sekali.
"Kalau aku kentut, kalian adalah tahinya!" terdengar Suara tertawa mengekeh.
Kedua tinju Kala Merah dan kawan-kawannya sama terkepal erat, tapi kepada siapakah mereka akan turun tangan? Tak sedikit pun mereka tahu dari mana sebenarnya datang suara itu dan siapa adanya orang yang bicara.
Kala Merah mengangguk. Dia berdiri di tepi Panggung sebelah muka dengan bertolak pinggang. Setelah menyapu paras semua yang hadir dengan sepasang matanya yang tajam menyorot itu maka dia pun membuka mulut. Suaranya nyaring lantang dan mengumandang ke seluruh pelosok lembah.
"Semua Yang hadir, dengar baik-baik! Pada hari dua belas bulan dua belas yang akan datang, di Lembah Tengkorak kami akan mendirikan Partai baru yang dinamakan Partai Lembah Tengkorak! Semua kalian yang ada di sini musti masuk menjadi anggota Partai! Siapa berani menolak berarti mati!"
Suasana sehening di pekuburan beberapa lamanya. Tiba-tiba terdengar lagi suara mengekeh tadi. "Perempuan iblis! Kalian kira kami ini semua domba-domba tolol yang mau digiring seenaknya saja?! Persetan dengan Partaimu! Siapa sudi masuk anggota Partaimu! Kalau mau cari anggota, pergilah naik ke puncak Gunung Merapi lalu buang dirimu ke dalam kawahnya! Mengerti...?! He ... he ... he....!"
Empat murid Dewi Kala Hijau itu kertakkan rahang masing-masing. Kegeraman mereka sudah tak bisa dikendalikan lagi. Tapi kepada siapa mereka musti turun tangan?!
"Kakak Kala Merah, teruskan saja bicaramu. Nanti bangsat bermulut besar itu akan kita ketahui juga siapa adanya!" Lagi-lagi Kala Biru memberi nasihat pada saudara-saudara seperguruannya itu.
__ADS_1
Maka Kala Merah pun meneruskan ucapannya. "Kalian sudah saksikan sendiri apa akibat bagi manusia-manusia yang tidak mau mematuhi kehendak kami! Karenanya kalian semua lekas naik ke atas panggung, berlutut dan bersumpah sedia memasuki Partai Lembah Tengkorak!"
Sampai setengah menit lamanya, tak satu pun daripada yang hadir melakukan apa yang diperintahkan itu. Maka marahlah Kala Merah.
"Kalau begitu kalian minta mampus semua!" bentak Kala Merah.
Dia memberi isyarat pada ketiga saudara seperguruannya. Maka keempatnya kemudian serentak menaikkan tangan kanan tinggi-tinggi ke udara. Tiba-tiba dari tengah-tengah bawah panggung berdirilah dua manusia berjubah putih. Melihat kepada tampang-tampang mereka nyatalah bahwa keduanya beradik kakak. Yang di sebelah kanan mengangkat tangannya.
"Kalian berdua mau apa?” tanya Kala Merah.
"Malang tak dapat dihindar, untung tak dapat diraih! Kami berdua hanya inginkan nyawamu dan nyawa tiga gadis-gadis iblis lainnya itu!" menjawab laki-laki berjubah putih yang mengangkat tangan tadi. Suaranya menggetarkan lembah tanda tenaga dalamnya tinggi sekali.
Kala Merah kerenyitkan keningnya lalu tertawa gelak-gelak. "Kalau kau tidak buta tentu otakmu miring! Apa masih belum melihat bangkai-bangkai yang berkaparan di tempat ini?!"
"Tentu.. tentu saja kami lihat! Justru kami inginkan nyawa kalian adalah karena roh-roh busuk kalian tengah ditunggu-tunggu oleh roh sekian banyaknya manusia yang telah kalian binasakan ... !"
Meledaklah kemarahan Kala Merah. "Cepat katakan siapa kalian berdua supaya cepat pula kuberi jalan,kematian!"
Kedua orang berjubah putih itu tertawa dingin. Sementara itu Kala Merah sudah mengangkat kembali tangan kanannya tinggi-tinggi, sedang tokoh-tokoh silat yang lain bersiap-siap menunggu segala kemungkinan.
"Cepat terangkan nama kalian! Atau kalian akan mampus percuma!" membentak lagi Kala Merah.
Kedua orang berjubah putih tiba-tiba sama menggerakkan tangan kanannya ke balik jubah. Sesaat kemudian keduanya telah memegang masing-masing sebuah ruyung emas.
__ADS_1
BERSAMBUNG......