
Tapak Luwing!! Kalau merasa sudah berilmu tinggi, biar ku kembalikan pisaumu”, teriak Rangga dari atas pohon.
Sesaat sesudah dia berkata begitu maka menderulah angin deras. Tiga pisau terbang kembali ke bawah menyerang pemiliknya sendiri. Dua buah masih sanggup dielakkan oleh Tapak Luwing, tapi yang ketiga sangat cepat sekali melesat ke arah batok kepalanya.
“Awas!!”, seru Begawan Sitaraga.
Sekali dia lambaikan tangan maka mentallah pisau itu, dan Tapak Luwing yang diam-diam keluarkan keringat dingin terlepaslah dari bahaya kematian.
Rangga Geblek kini tertawa membahak. “Kau terlalu bodoh untuk ikut-ikutan datang ke mari Tapak Luwing. Seharusnya saat ini kau cuci kaki dan pergi tidur”.
Saat itu Wirasokananta tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dengan tangan kanan dipukulnya batang pohon cemara. “Kraaak!”
Pohon itu tumbang. Rangga melompat ke samping dan melayang ke bawah dengan gerakan enteng.
Sambil melayang itu dia berkata: “Musuh penantang cuma satu, mengapa sekarang bisa jadi lima ? Apakah kau bisa beranak, Kaligundil ?”.
Lalu pada tiga tokoh silat utama itu Rangga berseru: “Kalian sudah tua bangka masih saja mau dengan urusan dunia dan nafsu membunuh. Apa tidak malu kena dihasut oleh kunyuk tangan buntung itu ?”.
“Jangan banyak bacot manusia gelo. Ajalmu hanya tinggal sekejapan mata saja”, bentak Tapak Gadjah.
Dia maju ke muka dan kirimkan tendangan kaki kanan di saat Pendekar Trisula Maut masih juga belum menjejakkan kaki di tanah. Angin tendangan kerasnya bukan main. Debu beterbangan. Untuk menjajaki sampai kemana kehebatan tenaga dalam lawan, Rangga sengaja tidak mengelak tapi memapasi serangan tersebut dengan lancarkan pukulan “Maling melempar Batu”.
Ketika dua angin pukulan itu beradu, terkejutlah Tapak Gadjah. Kedua kakinya melesak sampai tiga senti ke tanah, sedang angin tendangannya yang sanggup menghancurkan batu itu buyar. Ternyata tenaga dalam Pendekar Trisula Maut tidak berada di bawahnya.
Dengan membuat dua kali jungkir balik di udara, pada jungkiran yang ketiga, Rangga sudah berdiri di atas kedua kakinya. Lima manusia di hadapannya segera mengurung.
“Kalian kunyuk-kunyuk tua bangka apa tidak malu main keroyok begini rupa ?!”, Pendekar Trisula Maut masih sanggup bertanya sambil sunggingkan senyum mengejek.
“Seekor anjing kurap macam kau sudah terlalu pantas untuk dijagal bersama-sama”, menyahuti Wirasokananta.
“Ah, kau orang tua... Rupanya masih belum tahu kalau dikelabui orang lain. Demi kebenaran aku sama sekali tak pernah mendatangi Perguruanmu. Apa yang terjadi di Perguruanmu aku tidak tahu menahu. Itu semua adalah fitnah. Seseorang lain yang bertanggung jawab. Kurasa manusianya adalah si tangan buntung ini”, Rangga menuding ke arah Kaligundil.
“Ha... ha! Bukan saatnya untuk cuci tangan pendekar gila”, seru Kaligundil seraya main-mainkan pedang buntung di tangan kirinya. “Tak perlu kambing hitamkan orang lain. Tak perlu lempar batu sembunyi tangan”
“Aku memang tak mengkambinghitamkan kau orang buntung. Tapi coba berkaca di cermin Begawan Sitaraga, kau akan melihat bagaimana tampangmu, memang persis seperti kambing”.
Merah padam muka Kaligundil. Rangga tertawa mengekeh. Begawan Sitaraga yang merasa dihina segera maju ke muka. “Sobat-sobat, tak perlu bicara panjang lebar dengan orang sedeng ini. Mari kita kermus dia”.
Habis berkata begitu, Sitaraga gerakkan tangannya. Sinar putih yang panas dan menyilaukan menyambar ke arah muka Rangga Geblek. Begitu matanya tersambar sinar tersebut, gelaplah pemandangan Pendekar Trisula Maut.
“Celaka!”, kata Rangga dalam hati. Tenaga dalamnya dialirkan ke kepala dan dia melompat cepat ke salah satu pohon cemara untuk berlindung dari serangan lawan.
Tapak Gajah juga tidak berdiam diri. Tendangannya menggebubu. Pohon cemara patah dah disaat itu Rangga sudah berpindah ke tempat lain. Dengan mata masih terpejam dia putar kedua tangannya di udara. Maka menderulah angin pukulan “perisai badai melanda samudera”. Meski pukulan ini hanya mempergunakan sebagian tenaga dalam, karena yang sebagian masih tetap dialirkan ke muka, tapi kehebatannya cukup membuat lima penyerang hindarkan diri ke samping. Ketika matanya dibuka kembali, maka pemandangannya sudah terang seperti semula.
Begawan Sitaraga terkejut ketika melihat kedua mata lawannya tidak menjadi buta oleh kilapan sinar cerminnya. Di lain pihak, Rangga menganggap bahwa senjata yang paling berbahaya di antara penyerang-penyerangnya ialah cermin di tangan Sitaraga itu. Maka dia memutuskan untuk menghancurkan senjata itu terlebih dahulu.
Namun dikurung lima begitu rupa tidak mudah bagi Rangga Geblek untuk melaksanakan niatnya. Serangan lima lawan bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk menghancurkan senjata di tangan Sitaraga, maka pedang Kaligundil atau golok Tapak Luwing atau keris emas ataupun tendangan Tapak Gajah datang pula menyerangnya, kadangkala berbarengan sekaligus.
Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan serangan serangan balasan, dengan hanya bertangan kosong itu, Pendekar Trisula Maut cuma sanggup bertahan sampai dua belas jurus. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat Golok besar empat persegi berkali-kali membabat ke arah dada dan perutnya. Sinar biru Pedang Siluman di tangan Kaligundil tiada henti berkiblat ke sekujur tubuhnya, sedang keris emas Wirasokananta laksana hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan. Dan di antara itu, tendangan tendangan Tapak Gajah tiada terkirakan, ditambah yang paling berbahaya cermin di tangan Sitaraga berkata-kali menyambar ke mukanya, masih untung sanggup dielakkannya.
__ADS_1
Jurus kelima belas, murid Eyang Ratih Parwati itu terdesak ke tepi kawah. Sinar cermin menyambar ke mukanya. Di saat itu pula tendangan Tapak Gajah menyeruak ke arah ************. Dari atas menderu Pedang Siluman Biru, keris emas menikam ke dada dan golok besar Tapak Luwing menggebubu ke perut.
“Tamatlah riwayatmu pemuda gila”, teriak Kaligundil.
“Jangan lupa sampaikan salamku pada setan-setan neraka”, menimpali Wirasokananta.
“Bret”!
Ujung Pedang Siluman Biru menyambar lewat dada, merobek pakaian Pendekar Trisula Maut.
“Sialan!!”, maki Rangga Geblek.
“Memakilah sekenyangmu setan alas. Setan-setan neraka memang paling suka pada manusia-manusia tukang maki macammu”, teriak Kaligundil.
Rangga Geblek kertakkan geraham. Kedua pipinya menggembung. Sedetik kemudian meledaklah bentakan yang keras, demikian kerasnya sehingga menggema sampai ke dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu.
Tubuh Pendekar Trisula Maut lenyap. Serentak dengan itu terdengarlah suara siulan yang melengking-lengking. Dan di antara lengkingan siulan itu menderu suara laksana ratusan tawon, mendengung menyamaki liang telinga. Sinar putih bergulung-gulung. Lima penyerang tersurut mundur.
“Trisula Naga Langit”, seru Begawan Sitaraga ketika melihat senjata di tangan Rangga Geblek.
Belum lagi habis gaung seruannya itu sudah menyusul suara jeritan setinggi langit. Satu tubuh ambruk terpelanting di tanah mandi darah, kepala terbelah dua. Korban Maut Trisula Naga Langit yang pertama itu ialah Tapak Luwing.
“Kurung biar rapat”, teriak Tapak Gajah. Dia melompat tinggi. Kedua kakinya menendang susul menyusul. Dua senjata lainnya menderu pula ke arah Rangga Geblek.
“Ketua Perguruan Teratai Putih”, berseru Pendekar Trisula Maut . “Antara kau dan aku tak ada permusuhan. Sebaiknya undurkan diri saja”.
Wirasokananta percepat tusukan kerisnya. Maka keris emas, Pedang Siluman Biru dan Trisula Naga Langit beradu dengan mengeluarkan suara nyaring.
Wirasokananta berseru kaget. Tangannya tergetar hebat dan pedas panas. Keris saktinya terlepas mental. Cepat-cepat Ketua Perguruan Teratai Putih ini melompat mundur. Kaligundil sendiri tak kalah kagetnya. Bagian yang tajam dari pedang buntungnya gompal sedang tangannya menjadi seperti kaku. Kalau tidak sinar cermin Sitaraga menyambar ke arah lawan, pastilah Trisula Maut Naga Langit membabat perutnya. Kaligundil keluarkan keringat dingin.
Suara siulan Pendekar Trisula Maut kini sekali-sekali diselingi oleh suara tawa mengekeh. Tubuhnya hampir tak kelihatan lagi. Trisula Naga Langit mengaung mencari maut. Keempat lawan menjadi sibuk. Merasa mulai terdesak, Tapak Gadjah segera keruk saku pakaiannya. Tanpa memberi peringatan lagi, tokoh silat ini segera lepaskan seratus senjata rahasia yang berupa jarum-jarum hitam ke arah Rangga Geblek. Tapi angin putaran Trisula Naga Langit yang ampuh sekaligus meluruhkan jarum-jarum beracun itu. Malahan Tapak Gajah dan kawan kawan menjadi sibuk karena harus mengelakkan jarum-jarum hitam yang terdorong berbalik menyerang mereka sendiri.
“He.. he.. he..,” Pendekar Trisula Maut tertawa mengekeh. “Wirasokananta, untuk penghabisan kali, aku kasih peringatan padamu. Mundur atau mampus dengan percuma”.
Ketua Perguruan Teratai Putih menjadi bimbang. Dia membatin “Adakah seorang musuh yang sehebat ini sampai memberi dua kali peringatan kepadaku ?”.
“Wirasokananta, jangan bodoh”, teriak Kaligundil. “Manusia yang telah membunuh delapan muridmu, apa hendak kau lepaskan begitu sa… akhhhh.....”
Kata-kata Kaligundil tak sampai pada ujungnya. Salah satu dari mata Trisula di tangan Rangga Geblek membabat putus lengan kirinya. Tangan dan pedang buntung mental masuk kawah. Darah muncrat. Laki-laki ini terhuyung ke belakang kesakitan. Akhirnya ketika dia kehabisan darah, nafasnya megap-megap dan dia jatuh menelentang di tanah tapi belum mati.
Tapak Gajah dan Begawan Sitaraga tertegun seketika. Namun sesaat kemudian serentak pula keduanya menyerang sebat. Serangan ini disambut dengan siutan dan tawa mengejek oleh Rangga Geblek.
“Kalian berdua adalah tokoh-tokoh silat dari golongan hitam. Manusia-manusia macam kalian pantas menjadi umpan cacing di liang neraka”.
Pendekar Trisula Maut putar Trisulanya. “Buyar!”
Cermin di tangan Sitaraga pecah berhamburan. Begawan itu keluarkan seruan tertahan dan memandang senjatanya yang hancur dengan rasa tak percaya.
“Begawan awas!!”, teriak Tapak Gajah.
__ADS_1
Tapi terlambat. Trisula Maut Naga Langit datangnya tiada sanggup lagi untuk dielakkan. “Crras”!
Putuslah leher Begawan Sitaraga. Darah seperti air mancur muncrat ke udara. Kepala yang buntung menggelinding seperti bola terus masuk ke dalam kawah Gunung Tangkuban Perahu. Melihat kematian sobatnya ini, si kate kepala sulah Tapak Gajah menciut nyalinya. Tanpa buang waktu dia segera putar tubuh.
“Eit orang kate, mau minggat ke mana ?!”, Rangga Geblek berseru. “Ayo berhenti”.
Tapi mana Tapak Gajah mau berhenti. Malahan ini manusia tancap gas dan lari lintang pukang. Rangga menyeringai. Tangan kanannya bergerak menekan bagian dekat hulu Trisula yang berbentuk kepala naga-nagaan. Maka mengaunglah 100 batang jarum putih beracun ke arah Tapak Gajah. Tapak Gajah coba melompat ke samping namun dia kurang cepat. Hampir keseluruhan jarum-jarum putih itu menembus daging tubuhnya. Tapak Gajah meraung setinggi langit. Begitu racun jarum merembas jantungnya, maka tubuhnya kelojotan seketika lalu menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi.
Wirasokananta leletkan lidah melihat kehebatan pendekar Trisula Maut, tapi diam-diam bulu tengkuknya merinding karena ngeri. Sedang ketika dia berpaling pada pendekar itu, dilihatnya Rangga Geblek berdiri sambil garuk-garuk rambutnya yang gondrong. Rangga tarik nafas dalam lalu putar tubuh dan memandang pada Wirasokananta.
“Ketua Perguruan Teratai Putih”, katanya. “Kenyataan yang kita tidak saksikan dengan mata kepala sendiri adalah terlalu sukar untuk dipercaya. Demikian juga dengan peristiwa di perguruanmu. Sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku. Aku yakin manusia inilah yang jadi biang racun”.
Rangga mendekati Kaligundil yang tengah megap-megap. Dari dalam sakunya dikeluarkannya sebuah pil. Dia senyum-senyum dan menimang-nimang obat itu. “Kau masih inginkan hidup Kaligundil ?”, tanyanya.
Kaligundil diam saja.
“Obat ini bisa menyembuhkan lukamu dan memusnahkan racun Trisula Naga Langit yang mengalir di darahmu. Aku akan berikan kepadamu jika kau menerangkan dan mengaku bahwa kaulah yang telah membunuh delapan anak murid Perguruan Teratai Putih”.
Kaligundil masih diam.
“Kau tak mau hidup ?”.
Kaligundil memandang dengan matanya yang berbinar-binar pada pil di tangan Rangga. Dalam diri setiap manusia yang tengah meregang nyawa akan selalu datang harapan untuk dapat terus hidup. Demikian juga dengan Kaligundil.
“Masukkan dulu pil itu ke dalam mulutku”, katanya.
Rangga memasukkan obat itu ke dalam mulut Kaligundil dan Kaligundil cepat-cepat menelannya. “Sekarang terangkan cepat”.
Kaligundil buka mulut mengakui apa-apa yang telah diperbuatnya terhadap Perguruan Teratai Putih. Akan Wirasokananta begitu mendengar penuturan tersebut, tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Tanpa banyak cerita dengan kaki kanan ditendangnya Kaligundil. Demikian kerasnya sehingga tak ampun lagi tubuh Kaligundil mencelat beberapa tombak ke udara dan malang baginya tubuhnya terlempar tepat ke kawah. Masih terdengar jeritan laki-laki itu menggaung ketika tubuhnya melayang ke bawah sebelum amblas di dalam kawah belerang.
Sekali lagi Pendekar Trisula Maut hela nafas dalam dan berpaling pada Wirasokananta. Satu senyum terlukis di bibir pendekar muda itu. Ketua Teratai Putih balas tersenyum.
“Orang muda, apakah kau betul-betul muridnya Ratih Parwati?”.
“Ah.... murid siapapun aku bukan menjadi soal, Ketua Perguruan Teratai Putih”, menyahuti Pendekar Trisula Maut . “Orang-orang mencap aku pemuda edan, sinting, gila, geblek. Kurasa memang suatu ketika kegilaan itu ada perlunya. Hanya manusia-manusia gila semacam kita inilah yang sanggup membunuh manusia-manusia bejat dan menghancurkan kebejatan. Coba saja kau pikir mana ada manusia waras mau membunuh sesama manusia...?”.
Wirasokananta tertawa. “Ucapanmu benar juga, pendekar”, katanya.
Rangga mendongak ke langit. “Ah, matahari sudah tinggi. Banyak urusan baru yang menunggu kita. Ketua Perguruan Teratai Putih, pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku senang bisa berkenalan dengan kau. Semoga kita bisa jumpa lagi”.
“Pendekar Trisula Maut, tunggu dulu…”, seru Wirasokananta.
Tapi percuma saja. Sang pendekar saat itu sudah berkelebat dan lenyap.
Wirasokananta goleng-goleng kepala. “Pemuda hebat, sikapnya seperti betul-betul gila, tapi hatinya polos, ilmunya……. ah, aku yang sudah tua ini mungkin tak pernah bisa mencapai ilmu setinggi yang dimilikinya. Belum lagi sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah lenyap...”.
Wirasokananta memandang ke dasar kawah lalu mengikuti jejak Rangga Geblek meninggalkan tempat itu.
BERSAMBUNG.
__ADS_1