
"Jangan gugup!" membentak "Sepasang Sabit Baja".
Kemudian dia berseru pada dua belas tokoh silat lainnya, di antaranya enam tokoh silat golongan hitam. "Kalian tunggu apa lagi?! lnilah saatnya untuk menumpas perempuan-perempuan iblis ini!"
Serempak dengan itu maka menyerbulah kedua belas tokoh silat itu. Kini dua puluh lawan tiga. Dengan sendirinya ruang gerak ketiga gadis bertopeng tengkorak itu menjadi semakin sempit. Dua puluh senjata bergulung-gulung membungkusnya dalam jurus-jurus yang mematikan.
Kala Biru mengerling pada kedua saudara seperguruannya. "Bagaimana ... ?" tanyanya dengan ilmu menyusupkan suara. "Kurasa sukar bagi kita menghadapi lawan sebanyak ini!"
"Bukan sukar. Kita musti mencari kesempatan untuk menggerakkan tangan melepas Pukulan Kala Hijau!" menyahuti Kala Hitam.
"Sebaiknya kita melompat ke luar dari kurungan lalu menyerang mereka dari luar!" mengusulkan Kala Putih.
"Justru untuk ke luar dari kurungan yang rapat inilah yang sangat sukar!" ujar Kala Biru pula. "Tapi mari kita usahakan!"
Maka ketiganya pun bergerak lebih cepat. Dari mulut mereka ke luar lengkingan-lengkingan dahsyat yang merobek langit dan membisingi liang-liang telinga kedua puluh pengeroyok.,
"Sret!"
Ujung lengan pakaian Kala Biru robek besar disambar salah satu sabit baja di tangan tokoh Sepasang Sabit Baja, ketika gadis muka tengkorak ini mencoba melesat ke luar kalangan pertempuran dalam jurus yang keduapuluh sembilan.
"Celaka! Tak mungkin bagi kita untuk keluar dari kurungan ini!" keluh Kala Biru pada saudara-saudara seperguruannya.
”Bret!" "Bret!"
__ADS_1
Baru saja habis Kala Biru habis mengucapkan kata-kata di atas maka Kala Hitam dan Kala Putih juga mendapat nasib yang sama. Pakaian mereka sama-sama kena robek dimakan ujung senjata dua orang pengurung. Ketiga gadis-gadis iblis itu keluarkan keringat dingin. Bulu tengkuk mereka merinding. Untuk pertama kali dalam hidup mereka merasakan kengerian. Kengerian dalam menghadapi elmaut yang memburu dan mengurung dari dua puluh jurusan.
”Ha ... ha ... ha ... Sekarang coba perlihatkan kehebatanmu manusia-manusia dajal!" kata Sepasang sabit Baja.
Dua buah sabit di tangannya menderu-deru. “Bertobatlah sebelum nyawa kalian minggat dari badan masing-masing!"
Ketiga gadis iblis itu hanya bisa kertakkan rahang, Mereka menyadari bahwa tak sampai sepuluh jurus lagi pasti salah seorang dari mereka akan jatuh menjadi korban. Kurungan dua puluh senjata semakin hebat, dan saat Ruang gerak ketiga murid Dewi Kala Hijau itu sudah sempit sekali, puluhan senjata berkelebat ganas di muka hidung, di samping dan di belakang mereka.
Dalam suasana menjelang kematian yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengarlah suitan panjang dan nyaring. Entah dari mana datangnya tahu-tahu bertaburan angin deras hijau dan disusul oleh pekik maut para pengeroyok. Enam di antara mereka roboh ditancapi puluhan kala-kala hijau.
"Guru!" seru Kala Hitam, Kala Biru dan Kala Putih penuh kegembiraan.
Para pengeroyok mundur terkejut. Seorang di antaranya berteriak: "Dewi Kala Hijau! Lari! Kita tak akan bisa selamatkan diri dari tangannya!"
Lima tokoh-tokoh silat yang masih hidup terdiri dari tiga golongan hitam dan dua golongan putih. Salah satu dari golongan putih ini ialah Sepasang Sabit Baja. Mereka saling berpandangan.
"Meski kematian di depan mata tapi untuk melarikan diri adalah pantanganku!" kata Sepasang Sabit Baja.
Sementara itu tiga murid Dewi Kala Hijau menjura di hadapan guru mereka. Kala Biru berkata: "Dewi, syukur kau datang. Kalau tidak ...."
"Diam!" bentak Dewi Kala Hijau. "Lekas kalian bereskan dulu kelima manusia keparat itu!"
Maka Kala Biru, Kala Hitam dan Kala Putih segera menyerbu kelima tokoh silat di hadapan mereka, sedang Dewi Kala Hijau melangkah mendekati mayat Kala Merah. Muka tengkoraknya kelihatan mengkerut dan tambah menggidikkan ketika dia melihat bagaimana muridnya yang tertua dan terpandai itu menemui kematian demikian rupa. Di samping mayat Kala Merah dilihatnya pula sesosok tubuh laki-laki tua yang ditancapi puluhan kala hijau. Dewi Kala Hijau begitu memperhatikan jari-jari tangan laki-laki itu segera mengetahui siapa dia adanya. Sepuluh Jari Malaikat memang mempunyai ilmu yang teramat tinggi. Namun demikian kematian muridnya yang paling pandai dalam cara demikian rupa sungguh tak pernah diduganya. Dengan penuh geram dan sekali tendang saja maka mencelatlah mayat Sepuluh Jari Malaikat sampai sebelas tombak.
__ADS_1
Sepasang mata yang beringas dari Dewi Kala Hijau memandang berkeliling. Di atas dan di bawah panggung berhamburan puluhan mayat manusia. Hampir keseluruhannya mati dengan ditancapi oleh kala-kala hijau. Di antara tumpukan mayat itu masih bisa dikenalinya beberapa tokoh sakti seperti Si bayangan Setan, Nenek Kelewang Merah, Brahmana Wingajara, Sepasang Ruyung Emas, Si Golok Sakti dan lain sebagainya. Dewi Kala Hijau memalingkan badannya ketika di belakangnya terdengar jerit kematian.
Satu dari lima pengeroyok yang bertempur dengan ketiga muridnya roboh ke tanah dengan kening ditancapi kala hijau. Sekali lagi terdengar suara jeritan dan satu lagi roboh tanpa nyawa. Sepasang Sabit Baja serta dua tokoh kalangan hitam bertempur mati-matian. Tapi satu jurus kemudian Sepasang Sabit Baja juga terpaksa menyerahkan nyawanya di tangan Kala Hitam. Melihat ini dua tokoh silat golongan hitam lumer nyali mereka. Untuk kabur tentu tak mungkin dan untuk melawan terus berarti mati. Maka tanpa pikir panjang lagi keduanya melemparkan senjata masing-masing dan cepat-cepal jatuhkan diri berlutut.
"Keparat! Saat ini tiada ampun lagi bagi kalian!" bentak Kala Biru. Kaki kanannya ditendangkan ke muka tapi di belakangnya terdengar seruan Dewi Kala Hijau. "Kala Biru, tahan dulu!"
Maka Kala Biru pun membatalkan tendangannya. Dewi Kala Hijau melangkah ke hadapan kedua orang tokoh silat golongan hitam itu. Salah seorang dari mereka segera berkata: "Dewi, kami berdua mohon diampuni dan bersedia memasuki Partaimu ...."
"Sesudah hampir mampus, baru minta ampun huh!" kertak Dewi Kala Hijau. "Siapa nama kalian? Apakah mempunyai gelar?!"
Yang tadi bicara menjawab: "Aku Lalanang dari Pantai Selatan. Gelarku Pembunuh Tanpa Bayangan, Aku mohon keampunanmu Dewi ...."
"Kalian berjanji mau memasuki Partaiku ... ?"
"Kami berjanji."
"Baik! Tapi karena kalian sebelumnya sudah berani melawan terhadap murid-muridku maka aku baru mengampuni jiwa kalian dan memperbolehkan kalian memasuki partaiku bila kalian sudah mencongkel ke luar salah satu biji mata kalian!"
Sepasang Kaki Kematian dan Pembunuh Tanpa Bayangan saling pandang dan terkejut.
"Cepat, aku tak bisa menunggu lebih lama! Boleh pilih matamu atau nyawamu!" bentak Dewi Kala Hijau.
Sekali lagi kedua orang itu saling berpandangan. Apa boleh buat, pikir mereka. Dari pada mati lebih baik korbankan satu biji mata. Lagi pula mereka sama-sama dari golongan hitam, perbuatan itu tentu tak akan diambil perduli oleh dunia persilatan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....