PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
TUMBANG SATU PERSATU


__ADS_3

"Jangan banyak mulut manusia iblis! Lihat cambuk!"


Cambuk hitam di tangan kiri Lah Simpong berkelebat. Suaranya menggelegar macam petir. Ujung cambuk dengan sangat cepat, sukar dilihat oleh mata biasa, mendera ke muka si kerudung merah. Sebelum serangan ini sampai, Lah Simpong susul dengan serangan toya besi hitam. Kedua ujung toya menderu berubah seperti ratusan banyaknya dan menyerang ke selusin bagian tubuh Iblis Pencabut Sukma. 


Yang diserang terkekeh-kekeh. "Keluarkan seluruh kepandaianmu, Lah Simpong. Kalau tidak, setengah jurus di muka kau akan jadi mayat". 


"Tubuhmu yang akan terkapar lebih dulu, iblisl". 


Ujung cambuk menyambar dengan dahsyat ke muka Iblis Pencabut Sukma, sementara toya besi sedetik lagi pasti akan menghancur luluhkan tulang-tulang anggota Iblis Pencabut Sukma. 


Tapi pada kejapan mata itu Iblis Pencabut Sukma kebutkan lengan jubah merahnya. Selarik angin pukulan yang hebat menyusup di antara deraan cambuk dan terus melabrak Lah Simpong. Tubuh anggota Pengemis Darah Hitam ini jatuh duduk di lantai. Mukanya pucat laksana mayat. Dia berusaha bangun. Tubuhnya tertatih-tatih tanda dia terluka parah di dalam. 


"Sekarang pasrahkan ajalmu, Lah Simpong!". 


Iblis Pencabut Sukma angkat tangan kanannya lalu ditarik ke belakang dengan cepat. Tubuh Lah Simpong seperti ditarik besi berani, tersedot sampai dua tombak ke muka, lalu jatuh menelungkup. Darah membuih dimulutnya. Ajalnya sampai. 


Putihlah wajah dua Ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Para anggota yang lain berdiri laksana kaku. Mereka merasa seperti nyawa mereka sendiri yang lepas waktu menyaksikan kernatian Lah Simpong itu. 


"Keganasanmu sudah keliwatan sekali, Iblis Pencabut Sukma”, kata Pengemis Kaki Pincang. "Jangan harap kau bakal bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat!". 


Pengemis Kaki Pincang maju dua langkah. "Mulailah, Iblis”, tantangnya. 


Iblis Pencabut Sukma tertawa dingin. Pengemis Kaki Pincang mendengus. "Kau tidak punya nyali untuk memulai?! Kalau begitu sambut pukulanku ini!". 


Pengemis Kaki Pincang angkat tangan kanan. Namun dua anggota Perkumpulan melompat ke tengah kalangan. Mereka adalah dua kakak beradik Sepasang Cakar Garuda yang dulunya merupakan fakir-fakir miskin di kaki gunung Salak, tapi yang kemudiannya berhasil diseret oleh Pengemis Kaki Pincang untuk masuk ke dalam Perkumpulan Pengernis Darah Hitam. 


"Para Ketua, kalau untuk membereskan manusia ini, serahkan pada kami!”, kata Sepasang Cakar Garuda yang tertua. 


Meskipun darahnya sudah mendidih namun Pengemis Kaki Pincang yang percaya akan kemampuan kedua anggotanya itu segera bersurut mundur. "Bereskanlah cepat!”, katanya. 

__ADS_1


"Ah lagi-lagi bangsa-bangsa kroco yang disuruh maju", menghina Iblis Pencabut Sukma. 


"Kroco atau apa, tapi ketahuilah nyawamu hanya beberapa kejapan mata saja Iblis". 


Iblis Pencabut Sukma mendengus. "Sombongnya!”, katanya. 


Dan disaat itu cambuk-cambuk lawan sudah menderu laksana topan, menyerang ke arah leher dan kaki, lalu bergantian secara teratur dan cepat membabat ke dada dan ke perut. Dalam seketika saja, maka Iblis Pencabut Sukma sudah terbungkus serangan cambuk yang bergelegaran itu. Jubah Merah dan kerudungnya berkibar-kibar karena kerasnya sambaran cambuk hitam kedua lawan. 


"Hemm... permainan cambuk kalian boleh juga! Tapi aku mau lihat apa bisa menerima pukulan menendang langit menjungkir awan ini?!". 


Habis berkata demikian, Iblis Pencabut Sukma tendangkan kaki kiri ke muka dan hantamkan telapak tangan kanan dari bawah ke atas. Disaat itu pula maka menggelindinglah kedua anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu. Tapi begitu terhampar, begitu keduanya bangun lagi, meskipun dengan keluarkan keringat dingin dan sama menyadari bahwa diri mereka di bagian dalam terluka parah. 


Keduanya sama-sama menggerung. Cambuk hitam mendera ganas. Sedang tangan kiri yang membentuk cakar burung garuda dengan kecepatan yang luar biasa menyambar ke muka dan ke dada Iblis Pencabut Sukma. 


"Oh jadi kalian adalah Sepasang Cakar Garuda huh?!", ujar Iblis Pencabut Sukma yang kenali permainan silat kedua lawannya. 


Sebaliknya dua anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu rupanya tidak mau kasih hati lagi. Serangan-serangan mereka yang dahsyat itu mereka susuli dengan empat buah tendangan sekaligus. Iblis Pencabut Sukma bersuit keras. Serasa mau pecah gendang-gendang telinga mendengarnya. Begitu suitannya lenyap, maka dari tangan kirinya menyambarlah sinar merah yang menyeruak laksana kipas menyerang Sepasang Cakar Garuda sekaligus. 


Pengemis Kaki Pincang tahan nafas. "Pukulan kipas merah”, membatin ketua Pengemis Darah Hitam ini, sedang Pengemis Mata Buta meskipun tidak dapat melihat, namun perasaannya yang tajam serta pendengarannya yang luar biasa, diam-diam juga mengetahui ilmu pukulan apa yang telah dilepaskan lawan. 


Ruangan itu sehening di kuburan. Sekali lagi Iblis Pencabut Sukma menengadah dan keluarkan suara tertawa bekakakan. Dari arah pintu melangkah enteng seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Tubuhnya tinggi kekar. Tampangnya seram. Kumis dan janggutnya tajam meranggas sedang salah satu matanya picak. 


"Para Ketua, izinkan aku si Mata Picak membuat perhitungan dengan manusia itu". 


Baik Pengemis Kaki Pincang maupun Pengemis Mata Buta sama-sama manggutkan kepala. Mata Picak adalah anggota yang paling tinggi ilmunya dan mempunyai kelihaian dalam memainkan senjata rahasia "paku darah hitam". Karena itu Ketua-ketua Perkumpulan pengemis Darah Hitam sama mempercayakan, bahwa anggota mereka yang berilmu tinggi ini sanggup mengalahkan lawan yang tangguh itu. 


Mata Picak putar tubuh menghadapi Iblis Pencabut Sukma. "Iblis Pencabut Sukma", dia berkata, "aku Pengemis Mata Picak mohon diberi beberapa jurus Pelajaran dari kau".


"Aha... Mata Picak, kau punya peradatan sedikit. Bagus aku ampunkan jiwamu. Tapi lekas korek kau punya biji mata lalu tinggalkan tempat ini".

__ADS_1


Gigi-gigi dan geraham Pengemis Mata Picak bergemeletakan. "Kepongahanmu setinggi langit Iblis Pencabut Sukma. Tapi apa kau kira kau punya nyawa rangkap!". 


lblis Pencabut Sukma tertawa bergelak. “Dikasih keampunan malah menantang" 


"Sudahlah! Tiada guna bicara panjang lebar padamu! Mulailah!".


“Karena kau yang minta dikirim ke akhirat, maka kau mulailah lebih dulu, Mata Picak!", kata Iblis Pencabut Sukma dengan jumawa. 


Mendengar ini Pengemis Mata Picak tidak sungkan-sungkan lagi. Laksana terbang, tubuhnya melesat ke muka. Empat tendangan menderu, enam pukulan membadai. 


Diam-diam Iblis Pencabut Sukma terkejut juga melihat kehebatan lawan yang satu ini. Dia membentak garang dan berkelebat cepat. Tubuhnya Pun lenyap. Kelebatan tubuhnya mengeluarkan angin deras yang membendung keseluruhan serangan lawan. 


Penuh penasaran Pengemis Mata Picak keruk saku bajunya yang bertambal-tambal. "Lihat paku!" serunya. 


Dua belas buah paku hitam yang beracun melesat menyerang dua belas bagian tubuh Iblis Pencabut Nyawa. Manusia berkerudung ini menggerung dan kebutkan kedua tangannya. Maka terdengarlah jeritan Pengemis Mata Picak. Enam dari paku darah hitamnya yang beracun berbalik dan menembus tubuhnya sedang enam lainnya mental ke loteng. 


Terbeliaklah mata Pengemis Kaki Pincang dan anggota-anggota Perkumpulan lainnya yang masih hidup, sedang Pengemis Mata Buta yang tidak punya mata kelihatan wajahnya mengkerut tegang. 


"Iblis Pencabut Sukma", buka suara Pengemis Mata Buta. "Kita sama-sama satu golongan hitam. Antara pihakku dan pihakmu tiada permusuhan. Mengapa turun tangan sampai seganas ini?!" 


"Ah, aku bosan mendengar bicaramu yang itu ke itu juga. Walau bagaimanapun aku tidak sudi disama ratakan satu golongan dengan kau. Aku beri waktu lima kejapan mata bagimu dan rekanmu si pincang untuk merenung dan memenuhi permintaanku" 


Lima kejapan mata pun lewat dalam suasana hening tegang. 


"Kalian manusia-manusia keras kepala dan dogol geblek!", bentak Iblis Pencabut Sukma, "Lihat ini!". 


Sepasang tangannya terpentang ke muka, dan dua larik sinar merah yang menyeruak seperti kipas menggebubu ke arah tiga belas orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki Pincang dan Pengemis Mata Buta terkejut. Buru-buru keduanya hantamkan tangan untuk memapasi namun luput. Di seberang sana tiga belas anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam mencelat ke dinding dan jatuh bertumpukan tanpa nyawa. Tubuh mereka matang merah laksana dipanggang. Maka murkalah kedua pucuk pimpinan perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Keduanya maju berbarengan. 


"He... he, dua tokoh silat yang katanya lihay dan terkenal, nyatanya hanya nama-nama kosong belaka, menyerang main keroyok!”, kata Iblis Pencabut Sukma dengan suara lantang.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2