
Terik matahari membakar kulit di siang itu. Rana Wulung dengan muka pucat menunggangi kudanya di samping Rantas Madan. Hati pemuda ini hancur sudah. Dendam kesumatnya terhadap Pendekar Kumbang Malam tak akan pupus selama hidupnya. Ketika rombongan melalui lereng sebuah bukit dalam perjalanan pulang itu, ada sesuatu yang menarik perhatian Rana Wulung. Dia berpaling pada Rantas Madan.
“Bapak, kau lihat burung-burung gagak yang beterbangan di puncak bukit itu.”
Ki Lurah Rantas Madan terkejut lalu memandang ke puncak bukit di atasnya. Beberapa burung gagak hitam dilihatnya terbang berputar-putar naik turun di atas puncak sana. Berdebar hati laki-laki ini. Lalu dihentikannya rombongan.
“Kita ke sana!”, Rantas Madan mengambil keputusan.
Masing-masing kemudian memacu kuda mereka ke puncak bukit. Rana Wulung di depan sekali. Di puncak bukit pemuda ini menghentikan kudanya dan meneliti ke mana turunnya burung-burung gagak tadi. Diikuti oleh anggota-anggota rombongan yang lain Rana Wulung bergerak ke arah serumpunan semak belukar lebat. Waktu dia mencapai semak itu, empat ekor burung gagak terbang ke udara. Rana Wulung melompat dari kudanya dan lari ke balik semak belukar lebat.
“Tuhanku!” seru pemuda itu.
Lututnya goyah. Matanya membeliak. Tiba-tiba laksana orang kalap dia melompat ke muka sambil berseru nyaring . “Nining! Nining!”
__ADS_1
Ning Leswani terhampar di atas rerumputan. Tak selembar benangpun yang menutupi auratnya. Tubuh yang telanjang ini sudah tiada nafas lagi dan sebagian sudah berlubang-lubang dipatuk gagak-gagak hitam pemakan bangkai. Tubuh yang malang itulah yang dipeluk Rana Wulung. Namun cuma sebentar saja. Sewaktu Rantas Madan dan rombongan lainnya sampai ke situ, Rana Wulung sudah jatuh pingsan.
Rantas Madan sendiri hampir-hampir tak kuat pula menyaksikan pemandangan itu. Hampir tak sanggup melihat anak kandung yang dikasihinya menemui kematian dalam cara yang mengenaskan begitu rupa. Mulutnya komat kamit. Tenggorokannya turun naik.
“Anakku....” desis laki-laki itu.
Dia berlutut. Beberapa orang menarik Rana Wulung dari atas tubuh Ning Leswani. Rantas Madan cepat membuka bajunya dan menutupi aurat anaknya dengan baju itu. Air matanya berlinang. Dendam kesumat seperti mau memecahkan dadanya saat itu.
******************************
Beberapa tokoh silat utama dari golongan putih kabarnya telah turun tangan membuat perhitungan dengan Pendekar Kumbang Malam. Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat dunia persilatan tambah geger. Bagaimanakah tidak, Semua tokoh-tokoh silat yang berani bikin perhitungan itu disikat mentah-mentah oleh Pendekar Kumbang Malam.
“Ilmu Jari Penghancur Sukma” yang dimiliki pemuda terkutuk itu menjadi biang momok mengerikan bagi dunia persilatan, apalagi bagi orang-orang yang tidak mengerti silat sama sekali. Tiap kota dan desa, tiap kampung dan pelosok diselimuti rasa ketakutan dan cemas. Takut dan cemas kalau Pendekar Kumbang Malam akan muncul mendadak di daerah mereka, menyebar maut dan menebar noda di kalangan penduduk yang tak berdosa.
__ADS_1
Kejahatan, kebejatan dan seribu satu macam perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh Pendekar Kumbang Malam itu telah sampai pula ke puncak gunung Merbabu. Saat itu tengah hari tepat. Matahari berada di titik tertingginya. Keterikan sinar matahari tiada terasa di atas puncak gunung yang ditutupi halimun sejuk itu. Asap belerang dari kawah gunung bergulung-gulung ke atas, bercampur jadi satu dengan halimun dan menutupi pemandangan.
Di satu bagian dari puncak gunung Merbabu, di dalam sebuah ruangan batu, diterangi oleh sebuah pelita kecil, kelihatan duduk seorang laki-laki tubuhnya kurus sekali, hampir tinggal kulit pembalut tulang. Tubuh yang kurus ini ditutupi dengan sehelai selempang kain putih. Melihat kepada air mukanya yang penuh dengan keriputan itu, nyatalah bahwa manusia ini umurnya sudah lanjut sekali. Tapi anehnya, rambut dan janggutnya yang panjang sampai ke pinggang itu masih berwarna hitam legam dan berkilat-kilat ditimpa sinar pelita.
Orang tua ini adalah Begawan Citrakarsa. Saat itu dia tengah bersemedi mengheningkan cipta rasa dan menutup semua inderanya. Ketika matahari menggelincir ke titik tenggelamnya, ketika sinar kuning emas berpalun dengan sinar kemerahan menyaputi langit di ufuk barat, barulah Begawan itu menyelesaikan semedinya. Dibukanya kedua matanya, dibukanya segenap inderanya. Kemudian perlahan-lahan Begawan ini berdiri dari duduknya dan melangkah ke pintu.
Dari pintu batu tempat dia berdiri itu dapat dilihatnya keseluruhan puncak Gunung Merbabu. Sebagian dari puncak Gunung Merbabu itu telah diselimuti lagi oleh kabut belerang dan halimun. Di kaki gunung menghampar sawah ladang. Jauh di sebelah selatan mengalir sebatang anak sungai. Begawan Citrakarsa menghela nafas dalam. Betapa indahnya bumi buatan Tuhan. Tapi betapa sayangnya, bumi yang indah dan suci itu telah dikotori oleh segala macam kemaksiatan, segala macam kemesuman, kejahatan, kebejatan.
Begawan Citrakarsa masuk kembali ke dalam ruangan batu. Dari dinding ruangan batu diambilnya sebilah keris lalu disisipkannya ke balik selempangan kain putih di pinggangnya. Dengan sedikit lambaian tangan Begawan Citrakarsa memadamkan pelita dalam ruangan batu itu. Dia melangkah ke pintu kembali. Di luar pintu terdapat sebuah batu besar. Dengan mempergunakan tangan kirinya Begawan ini menggeser batu itu hingga menutupi pintu ruangan batu. Batu besar itu beratnya ratusan kati, tapi sang Begawan hanya menggesernya dengan mempergunakan tangan kiri. Sampai dimana kehebatan tenaga dalam Begawan bertubuh kurus yang hanya tinggal kulit pembalut tulang itu sungguh tak dapat dijajaki.
Bila angin dari timur bertiup sejuk. Bila bola penerang jagat hanya seperenam bagiannya saja lagi yang kelihatan di ufuk barat sana, dan bila puncak gunung Merbabu hampir keseluruhannya terselimut halimun, maka Begawan itupun menggerakkan kakinya. Sepasang kaki yang kurus kering itu dengan lincah dan dengan kecepatan yang luar biasa berlari di tepi kawah dengan seenaknya. Sekali-sekali melompati jurang batu yang lebarnya sampai tiga – empat tombak. Bersamaan dengan lenyapnya sang surya ke tempat peraduannya, maka bayangan Begawan Citrakarsa pun tak kelihatan lagi di puncak gunung Merbabu itu.
************************************
__ADS_1
Tikungan jalan itu terletak di tempat yang ketinggian. Sinar matahari panasnya seperti mau memanggang kulit. Burung-burung kecil yang berlindung di balik daun-daun pepohonan berkicau tiada hentinya, seakan-akan turut gelisah oleh panasnya hari sehari itu. Pemuda berambut gondrong di atas cabang pohon, duduk dengan sepasang mata yang terus menatap ke liku-liku jalan di kaki bukit. Sudah satu jam hampir dia berada di cabang pohon itu dan apa yang ditunggunya masih juga belum muncul. Kekesalan hatinya dicobanya melenyapkan dengan bersiul-siul. Ada satu keluarbiasaan, cabang pohon yang diduduki pemuda itu kecil sekali. Jangankan manusia, seekor kucing pun bila duduk di situ pastilah cabang itu akan menjulai ke bawah. Tapi anehnya, diberati oleh tubuh pemuda berambut gondrong itu, jangankan menjulai, bergerak sedikitpun cabang pohon itu tidak. Kalau si pemuda bukannya seorang sakti mandraguna yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, pastilah hal itu tak bisa kejadian.
BERSAMBUNG.....