PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
DEWI KERUDUNG BIRU


__ADS_3

Kejut Iblis Pencabut Sukma tentu saja tiada terlukiskan. "Kurang ajar! Hai, berhenti!", teriaknya memerintah.


Tapi bayangan biru itu terus kabur tancap gas. Dengan geram Iblis Pencabut Sukma lemparkan tiga puluh jarum merah ke arah si manusia berjubah biru. Yang diserang, tanpa menoleh lambaikan tangan kirinya. Ketiga puluh jarum merah itupun mental laksana disapu topan. Iblis Pencabut Sukma angkat kaki coba mengejar. Tapi bayangan biru sudah lenyap. "Setan alas,” memaki dia. "pasti perempuan laknat itu lagi!".


Larinya manusia berjubah biru itu sangat cepat sekali laksana angin. Sampai di satu puncak bukit, dia berhenti dan lepaskan totokan di tubuh Sultan. Begitu siuman, Sultan tentu saja sangat terkejut mendapatkan dirinya dikempit oleh seseorang. Ketika dia coba meneliti paras orang itu, ternyata dia mengenakan kerudung biru. Bau tubuhnya harum semerbak, seharum bunga melati yang tengah mekar diambang senja. Sultan merenung sejurus. Otaknya berputar mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya sebelumnya. Kemudian dicobanya melepaskan diri dari kempitan manusia jubah biru itu untuk turun ke tanah. Tapi bagaimanapun kerasnya dia gerakkan badan, tetap saja dia tiada sanggup lepaskan diri. 


"Saudara, kau siapakah?”, bertanya Sultan. 


Orang itu tiada menyahut melainkan menjelajahi seantero kaki bukit dengan sepasang matanya yang bening. 


"Saudara, kau tentu orang yang telah menolong aku. Tapi siapakah engkau adanya? Mohon agar diriku diturunkan”, berkata Sultan Hasanuddin. 


Orang itu tetap tak menyahut. Kemudian dia berkelebat lagi dan tubuhnya lari lagi laksana angin ke arah sebelah timur. 


"Saudara, jika kau tak terangkan siapa kau, tidak menjadi apa. Tapi aku mohon agar diturunkan”, berkata Sultan setelah dirinya diajak lari kira-kira setengah jam lamanya. 


Si jubah biru lari terus. Dengan rasa penasaran Sultan berkata. "Jika kau tidak mau turunkan aku, terpaksa aku berlaku kasar terhadapmu!".


Namun si jubah biru berkerudung biru tetap tak pedulikan ucapan yang mengancam itu. Maka Sultan Pun gerakkan tangan kanannya untuk menyikut pinggang manusia jubah biru itu. Tapi anehnya, berkali-kali dia lakukan hal itu maka tak satu hantaman sikunya pun yang berhasil mengenai sasarannya. 


"Pasti ini manusia sakti luar biasa", membatin Sultan Hasanuddin. "Saudara, aku ini mau dibawa ke mana?", bertanya pula Sultan. 


Agaknya manusia berkerudung kain habis kesabarannya karena ditanya terus menerus. "Kau terlalu cerewet, lihat sajalah!". 


“Heh...?!”, Sultan menjadi kaget. Betapa tidak karena orang yang membawa larinya itu ternyata adalah seorang perempuan. Meski suaranya agak membentak namun kemerduannya tiada sirna. 


"Pantas badannya berbau harum", kata Sultan dalam hati. 


Dan bila dia menyadari bahwa dirinya di kempit dan dibawa lari demikian rupa tentu saja Sultan menjadi malu dan tidak enak. Dia meronta-ronta lagi. Tapi tetap tak berhasil. Mereka kemudian memasuki sebuah rimba belantara. Di tengah rimba belantara ini terdapat sebuah goa dan ke dalam goa itulah si kerudung biru membawa Sultan. Ternyata di dalam goa tiada beda terangnya dengan udara di luar. Gua ini panjang dan mempunyai beberapa lorong yang bercabang-cabang, dan makin ke dalam makin menurun. 


Akhirnya mereka berhenti di satu ruang yang berbentuk kamar empat persegi. Disinilah baru si jubah biru melepaskan dan menurunkan Sultan. Sultan berdiri dan memandang berkeliling. Di salah satu dinding Sultan membaca sebuah tulisan yang berbunyi GOA DEWI KERUDUNG BIRU. Sultan jadi kaget dan memandang lekat-lekat ke paras si kerudung biru yang hanya sepasang matanya yang bening dan berkilat saja yang kelihatan. 


"Jadi saat ini aku berhadapan dengan Dewi Kerudung Biru?”, kata Sultan perlahan. 

__ADS_1


Tapi hatinya agak meragu. Di dalam ruangan itu terdapat dua buah batu hitam. Dewi Kerudung Biru pergi duduk ke salah satu batu lalu berpaling pada Sultan. "Silahkan duduk Sultan", katanya mempersilahkan. 


"Terima kasih", Sultan duduk. "Saudari, kau belum menjawab apakah kau yang selama ini dikenal di dunia persilatan dengan nama julukan Dewi Kerudung Biru?". 


Yang ditanya tertawa merdu berderai laksana taburan mutiara yang berjatuhan ke ubin. 


"Itu tak perlu kau tanyakan lagi, kau sudah baca apa yang tertulis di dinding itu, bukan?". Dalam berkata begitu sepasang matanya tiada berkesip memandangi paras Sultan.


"Ah kalau begitu sungguh tak terduga pertemuan ini. Terima kasih atas pertolonganmu Dewi Kerudung Biru", kemudian sambungnya, "karena kau telah membawa aku ke sini, tentulah kau mempunyai maksud tertentu". 


"Betul", membenarkan Dewi Kerudung Biru. "Aku tahu banyak apa yang telah terjadi dengan dirimu”. 


"Terima kasih kalau Dewi telah mau ambil perhatian terhadap diriku. Mohon petunjuk selanjutnya”.


"Kau harus cepat pergi ke Demak dan menemui Sultan Trenggono untuk meminta bantuan. Kembalilah ke Banten dengan membawa sejumlah pasukan". 


"Memang itu sudah menjadi rencanaku Dewi”, kata Sultan pula. 


"Ya, tapi pasukan saja tidak cukup. Parit Wulung mempunyai benggolan-benggolan silat golongan hitam yang sakti''. 


"Sebelum pergi kau harus tinggal selama satu hari di sini untuk kuturunkan beberapa ilmu silat". 


Sultan gembira sekali. "Tapi", katanya, "waktu yang sesingkat itu apakah bisa berhasil baik?!". 


"Yang penting dasar-dasarnya, kemudian baru latihannya dan terakhir pelaksanaannya” 


Sultan mengangguk. "Aku haturkan rasa hormat terhadapmu, Dewi. Mulai hari ini kau adalah guruku”, kata Sultan pula. 


Dewi Kerudung Biru geleng-gelengkan kepala. "Diriku tak perlu dihormati. Dan kuharap kau jangan salah sangka. Kalau aku wariskan beberapa ilmu kepandaian padamu bukan berarti aku telah menjadi guru dan kau telah menjadi murid". 


"Jadi.....?", tanya Sultan heran. 


"Semuanya adalah semata-mata untuk menolongmu Sultan". 

__ADS_1


"Terima kasih. Aku tak akan melupakan kebaikanmu ini. Demikian juga dengan rakyat Banten kelak. Cuma, untuk mengenang wajah penolongku, untuk mengukirnya dalam ingatanku, bolehkah aku melihat paras aslimu, Dewi Kerudung Biru ?". 


Dewi Kerudung Biru tertawa lagi seperti mutiara jatuh berderai ke lantai. Merdu sekali suara itu membuat Sultan semakin tambah ingin untuk melihat wajah yang ada dibalik kerudung itu. Namun suara tertawa yang merdu itu segera lenyap ketika di mulut gua terdengar suara ribut- ribut. 


"Pasti perempuan itu telah membawa Sultan ke sini! Ayo kita selidiki ke dalam!".


Dan sesaat kemudian empat sosok tubuh berjubah merah dan berkerudung merah muncul di ruangan itu. Sultan terkejut sedang Dewi Kerudung Biru mendengus di balik kerudungnya. 


Salah seorang dari anggota Iblis Pencabut Sukma berseru dan menunjuk ke muka. "Lihat! Tidak salah keterangan Wakil Ketua kita Sultan bersama dia!". 


Anggota Iblis Pencabut Sukma yang lain, yaitu yang berbadan tinggi langsing melangkah ke muka. "Perempuan laknat! Lekas serahkan rnanusia itu pada kami!".


"He... he.... berani memaki berani mampus kunyuk kerudung merah!", kata Dewi Kerudung Biru pula. 


"Betina edan, kau andalkan apakah berani berkata demikian?!", membentak si tinggi langsing. 


"Sebaiknya sebutkan nama masing-masing kalian! Aku tidak biasa membunuh kroco-kroco tanpa tahu namanya!". 


Si tinggi langsing tertawa hambar. Sambil mendongak dan tepuk-tepuk dada dia berkata . "Namaku Siralaya. Gelarku Tangan Perenggut Jiwa”. 


"Hem..bagus… bagus. Gelaranmu boleh juga. Tapi aku tanya apakah kau akan maju seorang diri atau berempat sekaligus?!" 


Merahlah muka Tangan Perenggut Jiwa. "Perempuan sedeng, sambut seranganku ini!".


Tangan Perenggut Jiwa pukulkan tangan kanannya. Berbarengan dengan itu Dewi Kerudung Biru dorongkan pula tangan kirinya ke depan. Si jangkung langsing Tangan Perenggut Jiwa terkejut, ketika bagaimana angin pukulannya kena didorong oleh angin pukulan lawan sehingga membalik menyerangnya. Cepat-cepat dia menghindar ke samping. 


"Siralaya, kau minggirlah. Biar aku yang selesaikan dajal betina ini!". Anggota Iblis Pencabut Sukma yang kedua melangkah ke muka. 


"Sebutkan namamu!", bentak Dewi Kerudung Biru. 


"Namaku tidak perlu. Tapi gelarku adalah Si Penggoncang Langit!". 


"Ho... ooo.... gelarmu keliwatan sekali sehingga tidak cocok dengan tubuhmu yang kontet itu. Bagusnya kau pakai gelar Kodok Buduk", mengejek Dewi Kerudung Biru. 

__ADS_1


Mulut Si Penggoncang Langit berkemik. Sekali kedua tangannya bergerak, maka dua gelombang angin yang menggetarkan ruangan itu melesat ke arah Dewi Kerudung Biru. Hebatnya, sang Dewi yang saat itu masih tetap duduk di atas batu keluarkan tertawa menghina dan kebutkan tangan kanannya. Maka runtuhlah angin pukulan Si Penggoncang Langit.


BERSAMBUNG.... YA...


__ADS_2