
"Trang"!
Bunga api memercik. Karena kamar itu gelap maka sinar percikan bunga api menjadi terang sekali dan menerangi kedua muka manusia yang berada disitu. Keduanya saling meneliti paras lawan masing-masing. Terkesiap Lah Sultan Hasanuddin ketika melihat bagaimana wajah manusia yang dihadapinya itu seramnya bukan main. Rambutnya kaku berdiri laksana ijuk. Manusia ini memelihara brewok yang meranggas lebat. Alisnya tebal, sepasang matanya besar merah. Bibirnya sumbing dan dua buah giginya yang besar tersembul keluar. Manusia ini boleh dikatakan tiada mempunyai hidung karena daging hidungnya sama rata dengan pipinya yang cekung. Dan bau badannya yang busuk sangat menusuk hidung.
"Manusia buruk! Jika kau tidak tinggalkan kamar ini dengan cepat, jangan menyesal bila kukirim ke akhirat!", ancam Sultan.
Manusia bermuka seram itu tertawa dingin. Dia hembuskan nafasnya yang busuk kemuka. Sultan tutup jalan nafas di hidung dan untuk kedua kalinya pergunakan pedang guna menangkis serangan lawan. Tapi kali ini keadaan tidak seperti tadi Iagi. Meski Sultan sanggup menangkis senjata lawan, namun pedangnya sendiri terlepas mental, tangannya tergetar hebat. Tiba-tiba satu tangan mendorongnya hingga dia terbanting dengan keras ke dinding. Ketika dia imbangi diri kembali, kaget Sultan tiada kepalang. Matanya membeliak menyaksikan bagaimana keris Tumbal Wilayuda kini sudah berada di tangan manusia bermuka seram itu.
"Maling hina dina! Kembalikan kerisku!", teriak Sultan.
Si Muka buruk hamburkan tawa mengekeh. "Masih untung aku hanya minta kerismu ini, dan bukan nyawamu".
Habis berkata begini, manusia muka seram itu sekali gerakkan badan, tubuhnya menerjang ke muka mendobrak jendela untuk kemudian lenyap lewat jendela yang ambruk itu di kegelapan malam.
"Pencuri terkutuk!". Sultan melesat pula ke luar jendela. Dia masih sempat melihat bayangan pencuri itu di balik sebuah gudang tua dan segera mengejar ke situ. Kejar mengejar itu berjalan hanya sebentar saja karena sejurus kemudian si pencuri lenyap seperti gaib ditelan bumi. Sultan berdiri gemas memandang berkeliling. Ke mana dia harus mengejar dan mencari si pencuri di malam buta begini ? Apakah manusia tangan panjang itu bukan salah seorang pula dari kaki tangan Parit Wulung ?
Tengah kebingungan begitu rupa tiba-tiba Sultan menangkap suara bentakan-bentakan orang yang tengah berkelahi. Cepat Sultan lari ke balik sebuah bengkel kuda dan dalam kegelapan dilihatnyalah dua manusia tengah bertempur dengan hebat.
Salah seorang tiada lain dari pada si pencuri yang tengah dicari-carinya, sedang orang yang kedua sesudah diperhatikan dengan teliti, ternyata dia adalah pemuda rambut gondrong yang pagi tadi telah menolongnya di perbatasan.
"Sobat! Serahkan pencuri terkutuk ini padaku!", seru Sultan.
"Ah... selamat jumpa Sultan", menjawab si rambut gondrong alias Pendekar Trisula Maut. "Tak perlu kotorkan tangan pada manusia bau bangkai ini".
"Dia mencuri kerisku sobat", memberi tahu Sultan.
"Aku tahu. Biar aku yang ringkus dia".
Begitu mendengar si pemuda yang menyerangnya memanggil "Sultan" 'terhadap laki-laki yang datang itu, terkejutlah si mulut sumbing. Dibalik terkejut hatinya juga senang.
"Ha... ha... jadi saat ini aku berhadapan dengan Sultan dan tukang pukulnya ? Bagus! Kerisnya aku sudah dapat, kini Sultannya sendiri datang antarkan diri untuk ditangkap hidup-hidup. Pasti aku mendapat hadiah berlipat ganda dari Parit Wulung".
__ADS_1
"Hem... jadi betul dugaanku bahwa kau kaki tangannya bangsat pemberontak itu huh ?! Terima pukulanku ini, pencuri hina dina".
Sultan lepaskan tiga pukulan sekaligus. Tapi yang diserang ganda tertawa dan kebutkan lengan pakaiannya yang bertambal-tambal. Serangkum angin dahsyat rnenyerang ke arah Sultan. Namun angin pukulan itu buyar di tengah jalan, kena dihantam angin pukulan lain yang datang dari samping.
Si muka seram menggerung. "Agaknya malam ini Pengemis Bibir Sumbing musti rampas dua jiwa sekaligus".
Sultan tersurut sewaktu mendengar manusia kate itu kenalkan diri. Pendekar Trisula Maut sendiri juga terkejut. Nama Pengemis Bibir Sumbing memang sudah sejak lama terkenal sepanjang pesisir Jawa Barat. Bersama dua orang lainnya, maka Pengemis Bibir Sumbing dikenal sebagai pemegang pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam.
Tiba-tiba Pengemis Bibir Sumbing lemparkan golok besarnya ke arah Pendekar Trisula Maut. Senjata ini dengan mudah bisa dielakkan. Begitu habis lemparkan golok, Pengemis Bibir Sumbing acungkan kedua tangan datar-datar ke muka dengan telapak tangan menghadap ke atas.
"Telapak tangan minta sedekah nyawa”, seru Pendekar Trisula Maut begitu dia kenali pukulan yang bakal dilancarkan lawan. "Sultan mundurlah”, serunya kemudian memperingatkan.
Tapi disaat itu Pengemis Bibir Sumbing sudah mencelat ke muka dan membagi-bagi serangan telapak tangannya pada Pendekar Trisula Maut dan Sultan. Tahu bahwa pukulan lawan sangat berbahaya, maka Pendekar Trisula Maut segera hantamkan tangan kanannya ke muka. Gelombang angin deras memukul ke arah Pengemis Bibir Sumbing. Meski tubuhnya sendiri kemudian terpelanting sampai tiga tombak oleh serangan lawan, namun Pengemis Bibir Sumbing sebelumnya masih sanggup hantamkan telapak tangannya ke dada Sultan. Sultan Hasanuddin mengeluh tinggi. Tubuhnya bergoncang, dadanya seperti melesak. Terbungkuk-bungkuk dia berbatuk. Darah segar menyembur.
Pendekar Trisula Maut bersuit keras. Tubuhnya lenyap pada detik Pengemis Bibir Sumbing coba lepaskan pukulan "telapak tangan minta sedekah nyawa" untuk kedua kalinya.
"Sultan, cepat telan pil ini", teriak Rangga Geblek.
Sultan Hasanuddin sambuti pil yang dilemparkan Pendekar Trisula Maut lalu menelannya dengan cepat. Kemudian segera duduk bersila mengatur jalan darah serta pernafasan, juga alirkan tenaga dalam kebagian yang terluka.
"Plaak"!
Pengemis Bibir Sumbing terpental empat tombak ke belakang. Kepalanya serasa pecah sedang kulit keningnya laksana terbakar. Dan pada kulit keningnya itu kini kelihatan gambar sebuah trisula.
Pengemis Bibir Sumbing meluap amarahnya. Tanpa hiraukan rasa sakit pada keningnya, dia menerpa kemuka kirimkan lima pukulan empat tendangan. Pendekar Trisula Maut mendengus dan bersiul nyaring. Tangan kanan menghantam ke muka. Angin pukulan menderu, menyusup di antara serangan lawan.
Untuk kedua kalinya Pengemis Bibir Sumbing terpental. Kali ini sampai delapan tombak dan kali ini terus terguling ke tanah dengan mulut memuntahkan darah. Tamatlah riwayatnya.
Sultan yang menyaksikan pertempuran hebat itu dalam sakitnya, leletkan lidah penuh kagum. Pendekar Trisula Maut mendekati mayat Pengemis Bibir Sumbing, mengambil keris Tumbal Wilayuda lalu menyerahkan kembali pada Sultan.
"Keris pusaka bagus. Karena senjata ini banyak yang ingini, sebaiknya disimpan lebih hati-hati Sultan".
__ADS_1
Sultan menghela nafas panjang. "Terima kasih”, katanya. "Dua kali kau telah menolongku sahabat. Siapakah engkau?"
"Namaku Rangga Geblek”, jawab Pendekar Trisula Maut. "Kalau aku boleh kasih nasihat, baiknya kau tak usah kembali ke penginapan, tapi segera teruskan perjalanan".
"Mengapa begitu?", tanya Sultan.
"Terlalu banyak manusia-manusia macam Pengemis Bibir Sumbing ini yang mencarimu dan inginkan keris Tumbal Wilayuda".
Sultan merenung sejurus. "Terima kasih atas nasihatmu sahabat. Karena kau telah berbuat baik kepadaku, perbuatan baik yang tak bakal kulupakan sebagai budi besarmu, bagaimana kalau aku tawarkan agar ikut bersamaku meneruskan perjalanan?"
"Ah... itu satu kehormatan besar bisa seiring denganmu Sultan", jawab Pendekar Trisula Maut ramah. "Tapi harap maafkan.. Aku masih banyak urusan. Namun demikian, aku berjanji tidak akan berada jauh dari padamu”
"Kalau begitu baiklah, aku tidak memaksa”, ujar Sultan.
Dari balik pakaian samarannya yang bertambal-tambal, dikeluarkannya sebuah benda yang bercahaya. Diserahkannya benda itu kepada Pendekar Trisula Maut, tapi sang pendekar tak berani menyambutinya.
"Sobat, terimalah", kata Sultan pula.
"Benda apakah ini Sultan?"
"Terimalah dulu".
Rangga menerimanya. Benda itu ternyata sebuah bintang bersudut delapan yang terbuat dari emas, dan di tengah-tengahnya dihiasi dengan sebutir berlian yang berkilauan.
"Benda itu adalah bintang utama Kerajaan Banten, yang diserahkan kepada siapa saja yang telah membuat jasa terhadap Raja dan rakyat Banten Rangga"
"Ah... mana aku pantas terima hadiah ini Sultan", kata Rangga Geblek pula dengan kerendahan.
Tapi sultan memaksakan juga agar Pendekar Trisula Maut menerima anugerah itu. Rangga menyimpan benda tersebut baik-baik di balik pakaiannya. "Terima kasih”, katanya. "Lalu karena penyamaranmu sebagai pengemis sudah diketahui oleh golongan rampok dan penjahat, sebaiknya ditukar saja Sultan"
"Aku memang sudah merencana begitu" kata Sultan pula.
__ADS_1
Sekali lagi mereka saling ucapkan terima kasih. Pendekar Trisula Maut menjura minta diri dan keduanya pun berpisahlah.
BERSAMBUNG...