
Pendekar Trisula Maut Naga Langit menggeram dan membentak, dan lancarkan pukulan ”Orang Gila Menggebuk Lalat”. Kedua lengannya membabat kian kemari. Hanya dua jurus ketiga pengeroyoknya bisa tertahan, sesudah itu kembali Rangga Geblek terdesak hebat.
"Gila betul!" kutuk pemuda itu penuh beringas. Dia melompat ke luar kalangan pertempuran.
Dewi Kala Hijau yang menyangka bahwa pemuda itu hendak melarikan diri berseru keras: "Budak hina, jangan kira kau bisa kabur dari sini hidup-hidup!"
"Eh perempuan kunyuk! Siapa bilang aku mau kabur?!" tukas Rangga Geblek penasaran. "Sekalipun kau ikut mengeroyok tak bakal aku ambil langkah seribu! Majulah beramai-ramai!"
"Kau terlalu tekebur budak hina! Murid-muridku lekas selesaikan dia!"
Pendekar Trisula Maut Naga Langit Rangga Geblek berdiri dengan kedua kaki merenggang. Sepasang tangannya diacungkan tinggi-tinggi ke atas. Ketiga murid Dewi Kala Hijau menyerbu kembali maka laksana titiran. Rangga Geblek memutar kedua tangannya. Angin yang sangat hebat menderu-deru. Debu serta pasir beterbangan. Air telaga berombak-ombak. Daun-daun pohon berguguran. lnilah pukulan "Angin Puyuh". Kehebatan angin ini mengejutkan ketiga murid Dewi Kala Hijau.
"Tidak usah takut! Kalian tak bakal celaka dengan ilmu picisan itu!" teriak Dewi Kala Hijau.
Maka lenyaplah keraguan ketiga gadis itu. Dengan serentak mereka menyerbu kembali. Dan seperti yang dikatakan oleh Dewi Kala Hijau, memang kehebatan gempuran tiga gadis itu tak dapat ditahan oleh pukulan "Angin Puyuh" Rangga Geblek. Tiga jurus kemudian pemuda itu kembali terdesak ke dekat panggung.
Pendekar Trisula Maut keluarkan keringat dingin. Dia membathin: "Kalau benar-benar perempuan-perempuan iblis ini dapat mendirikan Partai Lembah Tengkorak, celakalah dunia persilatan!"
Dalam dia membathin itu satu tendangan menghantam pinggulnya. Pendekar Trisula Maut terpelanting. Sebelum dia bisa mengimbangi diri empat jalur asap biru menyambar kearah kepalanya.
"Sialan betul!" gerendeng pemuda ini lalu cepat-cepat jatuhkan diri dan berguling di tanah.
"Ha ... ha ... nyawamu sudah di ujung hidung! untuk penghabisan kalinya aku beri kesempatan padamu! Menyerah, berlutut minta ampun dan masuk ke dalam Partaiku!" kata Dewi Kala Hijau pula.
__ADS_1
”Jangan mengigau, perempuan muka tengkorak!” sahut Rangga Geblek seraya berdiri. "Jika murid-muridmu sanggup menerima pukulan yang bakal kulancarkan ini, baru aku bersedia masuk Partaimu! Bahkan menjilat pantat kalian pun aku sudi!"
Habis berkata segitu Rangga renggangkan kedua kaki. Sedetik kemudian tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas sedang kedua kaki melesak ke dalam tanah. Tubuh bergetar dan tangan kanannya kelihatan menjadi putih sedang jari-jari kuku memerah menyilaukan.
”Pukulan Bintang Perak!" seru Dewi Kala Hijau Terkejut bukan main. "Murid-muridku mundurlah! Kalian takkan sanggup menerima pukulan itu!"
”Guru!" seru Kala Biru. "Kami bersedia mati demi berdirinya Partai Lembah Tengkorak!"
"Jangan tolol!" bentak Dewi Kala Hijau.
Pendekar Trisula Maut tertawa mengekeh. Tangan kanannya tiba-tiba turun dengan cepat. Satu larik besar sinar putih perak yang sangat menyilaukan dan menebar hawa yang sangat panas menderu ke arah Kala Biru, Kala Putih dan Kala Hitam. Ketiga murid Dewi Kala Hijau ini bersuit nyaring dan tanpa menghiraukan peringatan gurunya menyerbu ke muka membabi buta.
"Murid tolol!" teriak Dewi Kala Hijau.
"Bum!"
Terdengar letusan membelah langit ketika sinar-sinar hijau dan sinar putih perak itu beradu di udara. Dewi Kala Hijau terguling di tanah tapi tiada terluka sedang Pendekar Trisula Maut jatuh duduk di tanah. Keningnya mandi keringat. Ketiga murid Dewi Kala Hijau berpekikan memanggil gurunya karena menyangka Dewi Kala Hijau terguling mati. Tapi begitu perempuan itu bangun kembali legalah hati mereka.
Yang hebatnya ialah ketika dua sinar putih dan hijau itu bentrokan, angin pukulan pecah ke samping dan menghantam panggung besar. Panggung itu hancur berantakan. Mayat-mayat di atasnya berpelantingan banyak diantaranya yang mencemplung ke dalam telaga.
Rangga Geblek berdiri dan memandang tak berkedip pada Dewi Kala Hijau. Sepasang mata mereka saling beradu pandang. Masing-masing sama mengagumi kehebatan lawan terutama dipihak Dewi Kala Hijau. Kekaguman terhadap ketinggian ilmu silat pemuda itu disertai pula dengan kekaguman terhadap kegagahannya.
"Pendekar Trisula Maut," berkata Dewi Kala Hijau. "Apakah kau masih belum bersedia untuk menyerah sebelum terlambat?! Sampai saat ini masih ada waktu bagimu untuk masuk menjadi anggota Partai Lembah Tengkorak! Kelak kau kuberi kedudukan yang tinggi! Kita akan memimpin Partai bersama-sama!"
__ADS_1
Rangga Geblek tertawa dingin. "Aku dilepas oleh guruku dari pertapaan bukan untuk bersekutu dengan manusia-manusia macammu tapi justru untuk membasmi-nya!"
Maka marahlah Dewi Kala Hijau. Dia memberi isyarat pada ketiga muridnya. Sesaat kemudian disertai dengan lengking jerit yang mengandung maut, keempatnya pun menyerbu mengeroyok Pendekar Trisula Maut. Tentu saja pertempuran empat lawan satu ini tak dapat dilukiskan kehebatannya. Karena Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya tiada memberi kesempatan bagi Rangga untuk melepaskan pukulan "Bintang Perak", maka dalam tiga jurus saja pemuda ini terdesak dan mendapat tekanan serangan yang berbahaya dan mengancam jiwanya.
"lblis-iblis betina! Aku paling benci bertempur melawan musuh yang tak bersenjata! Tapi karena kalian telah lebih dahulu mengeroyokku secara pengecut, lagi pula terhadap manusia-manusia macam kalian tak perlu begitu memandang aturan persilatan, maka aku terpaksa mengeluarkan senjata!"
Begitu habis ucapan itu, maka menderulah suara mengaung laksana tempat itu diserbu oleh ribuan tawon. Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya merasakan kulit mereka menjadi sangat perih sedang serangan-serangan yang mereka lancarkan kini menjadi buyar. Tubuh dan gerakan mereka hanyut terbawa arus sinar putih putaran Trisula Maut Naga Langit yang berada di tangan Rangga Geblek. Dan kalau tadi mereka yang menggempur serta mendesak kini terjadi hal yang sebaliknya. Berkali-kali mereka melepaskan pukulan Kala Hijau, berkali-kali mereka menghembuskan "Empat Jalur Asap Kematian", tapi percuma saja. Sinar putih yang menggulung-gulung dari Trisula Maut Naga Langit di tangan Rangga memusnahkan seluruh serangan mereka.
Dewi Kala Hijau menjadi cemas gelisah. Nyalinya untuk meneruskan pertempuran menjadi tipis ketika ujung lengan pakaian hijaunya kena disambar putus oleh senjata lawan. Maka perempuan ini segera memberi isyarat pada ketiga muridnya. Keempatnya menyerang dengan gencar lalu melompat keluar kalangan pertempuran.
"lblis-iblis pengecut, kalian mau lari ke mana?!" bentak Rangga Geblek memburu.
"Budak hina dina, sayang kami tak punya waktu banyak untuk menghadapimu! Jika kau masih penasaran silahkan datang ke Lembah Tengkorak pada hari dua belas bulan dua belas!"
Habis berkata demikian Dewi Kala Hijau mengeluarkan sebuah benda berbentuk bola berwarna hitam dan besarnya sebesar kepalan. Benda itu dilemparkannya ke tanah di hadapan Rangga Geblek.
"Wuuuss!"
Bola hitam itu pecah. Maka mengebullah asap hitam pekat yang tak tertembus pemandangan.
"Keparat betul!" maki Rangga Geblek.
Dia menerjang asap itu dengan geramnya. Namun lapisan asap tebalnya sampai sepuluh tombak. Dan bila dia berhasil keluar dari lapisan asap itu, maka Dewi Kala Hijau dan ketiga muridnya sudah lenyap. Mayat Kala Merah juga lenyap.
__ADS_1
BERSAMBUNG....