PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
TERBONGKARNYA SEBUAH KONSPIRASI


__ADS_3

Halaman rumah lurah bojongnipah penuh oleh penduduk. Suasana malam terang benderang oleh puluhan obor. Agaknya penduduk Bojongnipah sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi, untuk mencincang dengan segala senjata yang mereka bawa kedua manusia yang saat itu terikat ke tiang langkan rumah. Mereka tiada lain daripada anak-anak buah Tapak Luwing yang telah dirobohkan oleh Pendekar Trisula Maut. 


Keduanya telah siuman. Di samping terikat ke tiang, keduanya juga berada dalam pengaruh totokan Rangga Geblek. Kratomlinggo berdiri di samping Ki Lurah Kundrawana. Beberapa tombak dari mereka berdiri tenang-tenang Rangga Geblek. Kratomlinggo barusan saja menerangkan apa yang diketahuinya tentang kedua orang itu kepada Ki Lurah dan juga apa yang telah terjadi di tepi sungai dekat jembatan. Bola mata Ki Lurah Kundrawana pulang balik memandangi Rangga Geblek dan kedua anak buah Tapak Luwing. 


Saat itu Lurah Bojongnipah ini tak dapat lagi menahan hati dan mengendalikan amarahnya. Untuk sesaat lupa dia bahwa anaknya masih berada di dalam tawanan Tapak Luwing dan Tapak Luwing sendiri saat itu tidak berhasil ditangkap. 


“Saudara-saudaraku se-Bojongnipah”, kata Kundrawana seraya maju beberapa langkah ke hadapan penduduk yang berdesak-desakan. 


“Sekarang kurasa sudah waktunya untuk menerangkan kepada kalian apa sesungguhnya latar belakang timbulnya pajak gila itu. Aku dengan hati hancur dan seribu satu kepahitan telah terpaksa menerima segala kata-kata dan cap yang kalian lemparkan padaku. Kalian mencap aku sebagai tukang peras, aku telah terima. Kalian cap aku sebagai lintah darat, sebagai tukang tindas, sebagai ini, sebagai itu, semuanya aku terima. Namun hari ini, malam ini kalian terimalah juga satu penuturan dariku, satu kenyataan yang menyebabkan terjadinya pemungutan pajak berat itu. Dulu aku pernah berkata bahwa pajak itu dipungut atas perintah Raja. Untuk pembangunan dan pemeliharaan balatentara Kerajaan. Kini kuakui itu semua hanya alasan belaka, hanya dusta besar yang aku karang-karang demi untuk menyelamatkan keluargaku dan juga menyelamatkan kalian semua dari keganasan dan kejahatan yang kalian tidak ketahui”. 


Penduduk Bojongnipah saling pandang memandang satu sama lain penuh ketidak mengertian. Ki Lurah Kundrawana menyapu wajah mereka seketika lalu meneruskan bicaranya. 


“Tadi kalian sudah dengar semua keterangan Kratomlinggo. Ini satu kenyataan bagus yang dengan sendirinya telah mencuci diriku. Tapi biar aku beri penjelasan lebih lengkap. Dua manusia yang terikat itu adalah anak buah Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel, komplotan rampok-rampok bejat yang dikepalai oleh Tapak Luwing yang berhasil melarikan diri ditolong oleh seorang tak dikenal. Jadi ketiganya sama sekali bukanlah prajurit-prajurit Kadipaten seperti yang mereka sengaja menyamar pagi tadi. Tiga minggu yang lewat, di satu malam mereka telah datang ke rumahku dan memaksaku untuk menarik pajak sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah. Jadi berarti aku harus menarik pajak sebanyak sebelas kali terhadap kalian. Yang sepuluh bagian harus kuserahkan pada mereka sedang yang satu bagian sebagaimana biasa diserahkan ke Linggajati, di mana Adipati Linggajati kemudian meneruskan ke Kotaraja. Aku coba untuk melawan. Tapi di samping mereka bertiga berilrnu tinggi, aku tak bisa berbuat apa-apa karena anakku satu-satunya mereka bawa. Anakku akan mereka bunuh kalau pajak itu tidak aku pungut dari penduduk di sini. Kalian bisa merasakan dan mengetahui sendiri kini. Tak ada jalan lain bagiku untuk membantah, kecuali kalau ingin putera tunggalku rnenemui kematiannya”. 


Suasana malam sesepi dipekuburan kini. Penduduk sama menganga dan terlongong-longong. Tentu saja hal ini tiada diduga sama sekali oleh mereka. Dan serentak pula dengan itu maka menggelegaklah kemarahan penduduk. 


Ketika seseorang di antara mereka berseru: “Cincang dua bangsat ini”, maka menyerbulah penduduk Bojongnipah dengan senjata masing-masing. 


Namun disaat itu pendekar Trisula Maut maju ke muka dan berseru nyaring. Sengaja seruannya itu disertai tenaga dalam untuk mempengaruhi penduduk yang tengah marah itu. 


“Saudara-saudara, jangan ceroboh. Kunyuk-kunyuk ini akan dapat bagiannya juga. Tapi kalian harus ingat pada nasib anak Lurah kalian. Karena itu biarkan aku bicara sebentar dengan salah satu dari mereka”. 


Kalau saja penduduk tidak mendapat keterangan dari Kratomlinggo siapa adanya pemuda berambut gondrong itu, pastilah penduduk tak akan mau ambil perduli akan ucapan Rangga Geblek, lagi pula tenaga dalam si pemuda diam-diam sudah meresap mempengaruhi mereka. 


Rangga mendekati anak buah Tapak Luwing yang terikat di tiang langkan sebelah kanan. “Namamu siapa, sobat?”, tanyanya. 


Laki-laki itu diam saja. Hanya kedua bola matanya berputar menyorot melontarkan pandangan sangat membenci dan mendendam. 


“Eeeh rupanya bekas tanganku membuat kau jadi tuli, huh”. 


“Keparat! Tak usah banyak bicara… Kelak hari pembalasan dari pemimpinku Tapak Luwing akan tiba. Kalian semua di sini akan dikirim ke neraka”. 


Rangga Geblek menyeringai. “Mungkin kau dan kawanmu yang akan lebih dahulu dicincang penduduk sampai lumat”, kata Rangga Geblek pula. “Tak usah banggakan pemimpinmu. Dia sudah kabur bersama seorang kawannya”. 


Keterangan ini mengejutkan kedua anak buah Tapak Luwing. Memang sejak mereka siuman tadi mereka tidak melihat pemimpin mereka dan tak tahu berada di mana. 


Dan Rangga berkata lagi: “Aku mempunyai dugaan bahwa kau ada sangkut pautnya dengan Adipati di Linggajati. Katakan saja terus terang”.


 Anak buah Tapak Luwing diam. 


“Katakan!,” bentak Rangga. 


Sebaliknya laki-laki itu meludah ke lantai. 

__ADS_1


“Beset saja mulutnya”, teriak Kratomlinggo yang sudah tak sabaran. 


“Kau tak mau kasih keterangan?” tanya pendekar Trisula Maut. 


Anak buah Tapak Luwing itu meludah sekali lagi ke lantai langkan. Rangga tertawa. Dijangkaunya sebuah obor yang dipegang oleh seorang penduduk. 


“Pernah rasa panasnya api?”, tanya pendekar ini dengan tertawa-tawa. “Tampang-tampang macammu ini akan lebih keren bila disundut begini rupa”. 


Rangga Geblek lantas menyorongkan api obor ke muka laki-laki itu. Anak buah Tapak Luwing tak sanggup gerakkan kepalanya karena tertotok. Keluhan kesakitan terdengar tiada henti. Udara malam kini berbau hangusnya bulu mata, alis dan sebagian rambut laki-laki itu. Kulit mukanya kelihatan merah terbakar. 


“Mau sekali lagi?”, tanya Rangga dengan tertawa-tawa. 


“Aku bersumpah kalau lepas akan membunuhmu dan tujuh keturunanmu”, kata anak buah Tapak Luwing penuh penasaran. 


“Jangan ngaco. Kau tak akan lepas dari sini. Kalaupun lepas mungkin cuma rohmu saja. Dan aku belum punya keturunan”. Pendekar muda itu tertawa mengekeh. 


Mau tak mau orang banyak yang menyaksikan itu jadi ikut-ikutan geli. 


“Ayo, katakan apa hubunganmu dengan Adipati Linggajati”, bentak Rangga seraya mendekatkan api obor ke muka laki-laki itu. 


“Tak ada hubungan apa-apa”, jawab anak buah Tapak Luwing. 


“Ah… ini satu kebohongan atau kedustaan?”. 


“Lantas apa perlumu pagi tadi menyamar bertiga-tiga menjadi prajurit-prajurit Kadipaten…?”. 


“Itu bukan urusanmu”. 


“Oh begitu? Memang bukan urusanku. Tapi urusan api obor ini”. 


Dan sekali lagi api obor menjilati muka laki-laki itu. Dia menjerit-jerit. Rangga menunggu sampai beberapa detik di muka. 


“Mau kasih keterangan apa tidak?” tanyanya. 


“Aku akan terangkan”, berkata juga laki-laki itu pada akhirnya. 


Rangga tersenyum. Ditariknya obor kembali. “Nah bicaralah. Biar kerasan agar semua orang dengar”. 


Maka anak buah Tapak Luwing itupun memberikan penuturan: 


“Adipati Seta Boga dari Linggajati mengirimkan seorang utusan pada kami. Dia telah membuat rencana untuk melakukan pemerasan di sini. Kami ditawarkannya pekerjaan untuk menarik pajak itu dengan perjanjian hasilnya dibagi dua. Pemimpin kami menerimanya dan… dan…”. 


“Sudah. Itu sudah cukup terang”, kata Rangga Geblek pula. 

__ADS_1


Ki Lurah Kundrawana maju ke muka. “Jadi ini semua dibiangi oleh Adipati Seta Boga?”. 


“Ya...”. 


“Kita harus tangkap Adipati itu”, teriak penduduk. 


“Gantung saja bersama kunyuk-kunyuk yang dua ini”, teriak yang lain. 


Pendekar Trisula Maut angkat tangan kirinya. “Soal Adipati itu serahkan padaku,” katanya. “Yang penting kini ialah menyelamatkan anak laki-laki Ki Lurah”. 


Tersiraplah darah Ki Lurah Kundrawana bila dia ingat kembali akan anaknya. Dijambaknya rambut anak buah Tapak Luwing. 


“Anakku di mana kalian sekap?” tanyanya. 


Laki-laki itu tertawa buruk. Sangat buruk, apalagi melihat mukanya yang hangus dan merah mengelupas. 


“Jangan harap anakmu akan selamat Kundrawana”. 


Kundrawana menyentakkan kepala laki-laki itu. “Dimana?”. 


“Mungkin sudah mampus di tangan pemimpinku”. 


Kundrawana mengambil obor dari tangan Rangga Geblek. Anak buah Tapak Luwing menjerit keras ketika obor itu disodokkan ke mata kanannya, Mata itu pecah dan darah meleleh di kulit mukanya yang mengelupas hangus. 


“Kedua matamu akan kubikin buta keparat. Kecuali, kalau kau segera menerangkan di mana anakku kalian sekap”. 


Laki-laki itu sebenarnya menyadari bahwa kalau sudah tertangkap demikian rupa dirinya tak akan mungkin lagi bisa selamat. Adalah percuma saja baginya untuk memberikan keterangan. Namun dalam diri manusia yang berkeadaan seperti anak buah Tapak Luwing saat itu, walau bagaimanapun senantiasa selalu terdapat sekelumit harapan untuk bisa menyelamatkan diri sehingga ancaman matanya akan dibutakan kedua-duanya itu mau tak mau mengerikannya juga. Maka diapun memberikan keterangan : 


“Anak itu disekap di satu kuil tua di Parit Kulon”. 


Lega sedikit hati Kundrawana. 


“Tapi,” katanya, “bila aku datang ke sana anakku tidak ada atau kutemui dia dalam keadaan sudah mati jangan harap kau bisa melihat dunia ini sampai esok lusa”. 


Kini pendekar Trisula Maut yang buka suara : 


“Saudara-saudara apapun yang kalian lakukan terhadap dua kunyuk ini, itu bukan urusanku lagi. Tapi sedapat-dapatnya jangan diapa-apakan dulu dia sebelum anak Ki Lurah ketemu dalam keadaan selamat. Soal Adipati Seta Boga di Linggajati, serahkan padaku. Besok kalian bisa mengambil sosok tubuhnya di Kadipaten Linggajati. Cuma aku tak dapat memastikan apakah dalam keadaan masih bernafas atau tidak. Itu tergantung pada sikapnya sendiri. Sekiranya dia masih hidup, ada baiknya kalian giring saja ke Kotaraja… Nah, selamat tinggal”. 


“Saudara tunggu dulu”, seru Kratomlinggo dan Kundrawana hampir berbarengan. 


Namun Pendekar Trisula Maut Naga Langit sudah berkelebat lewat langkan,, melewati kepala-kepala penduduk Bojongnipah lalu lenyap ditelan kegelapan malam.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2