PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
SURAT TANTANGAN


__ADS_3

Pendekar trisula maut naga langit Rangga Geblek melangkah perlahan menuju ke tepi sungai. Di tempat yang agak kelindungan dia membuka pakaian dan mandi membersihkan diri. Sambil mandi itu kadang-kadang dia tertawa sendiri bila mengingat kejadian malam tadi di Kadipaten Linggarjati. Mungkin pagi itu Kundrawana sudah sampai di Linggarjati, mungkin masih dalam perjalanan. Satu manusia jahat, satu kejahatan telah berakhir. Tapi Pendekar trisula maut tahu bahwa selama dunia terbentang, selama itu pula kejahatan tak pernah akan berakhir. 


Selesai mandi badannya terasa segar. Matahari sudah mulai tinggi. Suara siulan ke luar dari sela bibirnya sedang pikirannya mengingat-ingat pertempurannya dengan Tapak Luwing dan laki-laki yang telah melarikan Tapak Luwing serta menantangnya itu. Tantangan ini mengingatkannya pada pertempurannya di Gua Nagreg dengan Bergola Wungu tempo hari. Kali ini untuk kedua kalinya dia ditantang. 


Siapa pula gerangan kali ini yang menantangnya ? 


“ Hidup ini memang penuh tantangan. Tantangan yang timbul dari diri kita sendiri dan dari diri manusia-manusia lain. Sungguh gila kehidupan ini. Tapi kegilaan inilah yang mendatangkan kenikmatan…”


Maka siulan Pendekar trisula maut itu semakin meninggi dan melengking membawakan lagu tak menentu. Tentang diri manusia yang telah melarikan Tapak Luwing itu hanya dua hal yang diketahui oleh Rangga Geblek. 


Pertama, dalam kegelapan malam dia melihat bahwa manusia itu buntung tangan kanannya. 


Kedua, ketika dia melancarkan pukulan maling melempar batu dengan mempergunakan sepertiga bagian dari tenaga dalamnya, manusia bertangan buntung itu telah menyambuti pukulan tersebut dengan selarik sinar biru. Dan pukulan maling melempar batu telah terbendung oleh selarik sinar biru itu. Ini membawa pertanda bahwa si tangan buntung itu siapapun adanya pastilah memiliki ilmu yang tinggi. Pendekar trisula maut menduga manusia ini mungkin sekali guru atau kakak seperguruan Tapak Luwing. Dikenakannya pakaiannya kembali dan diteruskannya perjalanannya. 


*******


Rawasumpang satu daerah tandus penuh rawa-rawa maut yang menghisap setiap benda apa saja yang masuk ke dalamnya. Daerah ini terletak empat kilo di sebelah timur Linggarjati. Kesinilah Rangga Geblek menuju. Angin dari utara bertiup kencang membuat pakaian dan rambutnya yang gondrong berkibar-kibar. Dia memandang ke bawah. Pedataran luas penuh rawa-rawa maut itu sunyi sepi. Tak satu manusiapun yang dilihatnya. Rangga memandang ke langit. Matahari tengah bergerak dalam gerakan yang tidak kelihatan menuju ke titik tertingginya. 


Tiba-tiba dari arah timur terdengar suara bergelak yang santar sekali. Pendekar kita berpaling ke arah itu. Sesosok tubuh laksana anak panah berlari kencang sekali di pedataran luas di sela-sela tebaran rawa-rawa. Begitu suara gelaknya hilang maka tubuhnya sudah berada di bawah bukit di mana Pendekar trisula maut berada. Bukit itu tidak berapa tinggi dan dalam jarak sejauh itu Rangga Geblek segera dapat mengenali siapa adanya manusia yang bertangan buntung itu. 


“Kalau dia yang menjadi penantangku malam tadi, pastilah dia telah memiliki ilmu yang tinggi dan sangat diandalkan”, kata Rangga Geblek dalam hati. “Tapi...”, ujarnya lagi, “bagaimana mungkin dalam tempo beberapa bulan saja kepandaiannya sudah seluar biasa ini...?”. 


“Manusia yang merasa bernama Rangga Geblek, merasa bergelar Pendekar Trisula Maut Naga Langit, turunlah. Atau aku yang musti naik ke atas bukit itu?!”. Terdengar suara laki-laki di bawah bukit. 


Pendekar kita keluarkan suara bersiul. “Tikus buduk cacingan kalau sudah jadi kucing dapur memang berabe”, katanya. “Ada kabar apa kau mengundang aku ke sini kucing dapur ?”. 


Paras Kaligundil kelam membesi. Dengan suara keras dia menyahuti: “Tadinya aku kira kau tak punya nyali untuk datang ke sini pendekar edan. Hitungan kita tempo hari masih belum selesai”. 


“Oho, jadi untuk maksud itukah kau kehendaki pertemuan ini ? Bagus sekali Kaligundil. Memang urusan yang belum selesai harus diselesaikan. Benang kusut harus diurai baik-baik kembali”. 


“Tepat sekali”, jawab Kaligundil. “Cuma satu hal pendekar gila. Kaligundil yang dulu tidak sama dengan yang kau lihat hari ini”. 


Rangga Geblek tertawa bergelak. “Tentu saja. Tadi pun aku sudah bilang bahwa dari tikus buduk cacingan kau sudah berubah menjadi kucing dapur. Tapi kau tak banyak berbeda Kaligundil. Tanganmu yang dulu buntung sekarang masih tetap buntung. Seharusnya kau cari tukang kayu yang pandai untuk membuat tangan palsu”. 


Mendidih darah di kepala Kaligundil. Tangan kirinya bergerak, memukul ke atas. Setiup angin biru deras menyambar ke arah Rangga Geblek. Pendekar itu lompat ke samping dengan sebat dan menyaksikan bagaimana tanah bukit tempatnya berdiri tadi terpupus berhamburan laksana longsor dihantam angin pukulan Kaligundil. 


Diam-diam Rangga Geblek menjadi kagum juga terhadap lawannya itu. Kepada siapakah Kaligundil telah menuntut ilmu selama beberapa bulan ini ? 


“Pendekar gila, jangan petatang peteteng juga. Turunlah ke pedataran rawa-rawa ini”, teriak Kaligundil. “Turun untuk terima kematianmu!”. 

__ADS_1


“Setiap undangan baik dan buruk pantang kuelakkan, Kaligundil”, sahut Rangga Geblek. 


Laksana seekor burung garuda dia melompat ke bawah. Dalam keadaan tubuh melayang di udara itu, Kaligundil kirimkan tiga pukulan tangan kosong sekaligus, beruntun hebat sekali. Pendekar trisula maut sambut pukulan ini dengan pukulan “perisai badai melanda samudera”. 


Maka beradulah pukulan-pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam yang tinggi itu sehingga menimbulkan suara meletus hebat. Untuk sesaat Pendekar trisula maut merasakan tubuhnya yang melayang di udara laksana tertahan oleh sebuah dinding yang tak kelihatan sedang di bawah sana Kaligundil melesak kedua kakinya sampai dua dim ke dalam tanah. 


Sungguh Pendekar trisula maut tidak menyangka kehebatan tenaga dalam Kaligundil berlipat ganda banyak sekali dari beberapa bulan yang lalu. Di lain pihak, Kaligundil sendiri mengeluh dalam hati. Waktu melancarkan tiga pukulan beruntun tadi dia telah mengerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya: Meski dia telah memiliki ilmu silat, yang aneh dan tinggi mutunya, namun nyatanya lawan itu masih lebih tangguh. 


Kaligundil kertakkan geraham. “Pemuda gila, terima pukulan jotos siluman biru ini”, bentak Kaligundil. 


Tangan kanannya dipukulkan ke muka. Sinar biru berkiblat menyambar ke arah Pendekar trisula maut yang saat itu baru saja injakkan kaki kanannya di tanah dekat tepian rawa. Pendekar kita lompat setinggi empat tombak dan dari atas ganti mengirimkan pukulan balasan yang tak kalah hebatnya. 


Pukulan angin menimbulkan suara seperti ratusan seruling yang ditiup secara bersamaan. Debu berputar-putar ke udara, lumpur rawa-rawa seperti mendidih. Kaligundil kerahkan tenaga dalamnya ke kaki untuk mempertahankan diri. Tubuhnya bergetar dilanda angin pukulan lawan namun sepasang kakinya laksana baja tetap bertahan ditempatnya. 


Penasaran sekali, dengan membentak, Pendekar trisula maut lipat gandakan tenaga dalamnya dalam pukulan itu. Kini Kaligundil tak dapat lagi bertahan dengan segala kehebatan yang dimilikinya itu. Kedua kakinya laksana akar pohon berserabutan dari dalam tanah, terlepas dari pertahanannya. Tubuhnya terhuyung keras ke belakang ke arah rawa-rawa maut. Dihantamkannya tangannya ke muka untuk membendung angin pukulan lawan, dan serentak dengan itu dia jungkir balik di udara melompati sebuah rawa kecil dan berdiri di bagian lain dari pedataran. 


Dengan demikian kedua manusia itu berhadapan satu sama lain. terpisah oleh sebuah rawa-rawa. Laki-laki bertangan buntung itu tertawa dingin. Tangan kirinya bergerak ke balik pakaian. Sesaat kemudian di tangan kiri itu tergenggam sebuah pedang buntung yang berwarna biru. Meskipun buntung, melihat kepada kilauan sinar biru dari senjata itu, Rangga Geblek maklum bahwa pedang di tangan lawannya adalah sebuah pedang mustika. 


“Kau lihat pedang ini, pemuda edan?!”, bentak Kaligundil. “Nyawamu ada di ujung senjata ini”. 


Pendekar trisula maut tertawa mengekeh. “Orang dan. senjatanya sama saja. Sama-sama buntung”, mengejek murid Eyang Ratih Parwati itu. 


Kaligundil menyapukan pedang buntungnya ke arah rawa-rawa di hadapannya. Lumpur rawa itu muncrat ke atas sampai tujuh tombak. Sebagian besar menyibak laksana terbelah sehingga dasar rawa yang hitam legam terlihat jelas beberapa detik lamanya. 


“Senjata hebat”, ujar Rangga Geblek dalam hati. “Dalam keadaan buntung demikian luar biasanya. Apalagi kalau dalarn keadaan Sempurna. Bagaimana ini kucing dapur dapatkan senjata itu...?” 


“Kau sudah lihat pendekar gila?!”, terdengar bentakan Kaligundil. 


“Senjatamu boleh juga, Kaligundil. Tapi dari pada dipakai buat kejahatan lebih baik ditempa untuk membikin sambungan tangan palsumu!”. 


Marahlah Kaligundil. Disapukannya senjata itu ke arah Pendekar Trisula Maut. Maka berkiblatlah sinar biru yang menyilaukan. Pendekar trisula maut tidak bodoh. Dengan cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke kedua telapak tangan. Dia melompat ke udara. 


“Ciat!” 


Didahului oleh bentakan yang menggeledek itu maka Rangga Geblek lepaskan pukulan dinding angin berhembus tindih menindih. Begitu pukulan ini melesat memapasi serangan lawan, maka Rangga susul dengan pukulan maling melempar batu yang perbawanya disertai aliran tenaga dalam sampai setengah bagian dari yang dimilikinya. 


Pukukan yang pertama membuat serangan Kaligundil tertahan laksana menumbuk dinding karang yang atos. Pukulan yang kedua bukan saja membuat buyar sinar biru dari pukulan Kaligundil, tapi sekaligus melabrak pukulan tersebut sehingga kini Kaligundil yang berada dalam keadaan diserang. 


Ini memaksa Kaligundil menyingkir dua tombak ke samping. Kemudian tanpa membuang waktu lebih lama laki-laki ini menerjang ke muka. Pedangnya membabat deras, sinar biru yang menghamburkan hawa dingin serta tajam menyambar ke arah Pendekar Trisula Maut. 

__ADS_1


Rangga Geblek membentak nyaring. Suara bentakannya ini membuat gendang-gendang telinga Kaligundil tergetar. Pedangnya melabrak ke arah perut lawan tapi dalam kejapan itu pula lawannya berkelabat dan lenyap dari pemandangan. 


Penasaran sekali Kaligundil putar pedang buntungnya demikian rupa. Maka sinar birupun bergulung-gulung mengurung Rangga Geblek. Sebagaimana kebiasaan Pendekar Trisula Maut, dalam setiap pertempuran yang mulai menghebat maka disaat itu pula mulai terdengar suara siulannya melengking-lengking membawakan lagu tak menentu. Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini. 


Karena sukar untuk menentukan mana tubuh yang sebenarnya dan mana yang hanya bayang-bayang, maka hampir keseluruhan serangan-serangan Kaligundil menghantam tempat kosong. Namun demikian, memang permainan silat siluman yang didapat Kaligundil di Gua Siluman tempo hari, meskipun cuma sepertiganya saja yang dikuasainya, benar-benar patut dikagumi. 


Pendekar trisula maut tahu bahwa lawannya sampai dua puluh jurus dimukapun tak akan dapat mendesaknya, apalagi melukainya. Tapi di samping itu, pihaknya sendiri sukar pula melakukan serangan balasan karena setiap serangan yang dilancarkan Kaligundil merupakan jurus pertahanan. Demikianlah kehebatan ilmu silat siluman yang dimiliki oleh manusia bertangan buntung itu. 


Tapi adalah percuma saja Rangga Geblek menjadi murid dan digembleng selama tujuh belas tahun oleh nenek-nenek sakti Eyang Ratih Parwati, kalau dia tak bisa menghadapi lawan begitu rupa satu lawan satu.


Maka Pendekar trisula maut naga langit segera robah permainan silatnya. Jurus-jurus yang tak terduga dari Kaligundil dihadapinya dengan jurus-jurus tak teratur yang gerabak gerubuk kian kemari. Kedua tangannya terkembang di kedua sisi laksana sayap burung garuda sedang dari mulutnya senantiasa terdengar suara siulan melengking yang menyamaki liang telinga Kaligundil. 


Saat itu kedua orang ini sudah bertempur sampai tiga puluh jurus. Sungguh hebat. Tiga puluh jurus seperti tidak terasa. Dan kini kentara sekali bagaimana Kaligundil terdesak hebat. Bagaimanapun Kaligundil mempercepat jurus-jurus permainan silatnya, bagaimanapun dia merobah gerakan-gerakannya dan mengamuk laksana banteng terluka, namun tetap saja dia berada dibawah angin, malahan kini terdesak ke arah rawa-rawa maut. 


“Ha... ha.... rupanya jalan ke nerakamu harus melalui rawa-rawa maut ini, Kaligundil”. 


“Budak hina dina jangan ngaco. Sambut bintang silumanku ini”. 


Sambil melompat jauh, dengan masih memegang pedang buntung, Kaligundil gunakan tangan kirinya untuk mengirimkan selusin benda berbentuk bintang yang berwarna biru ke arah lawannya. 


“Akh... mainan anak-anak ini kenapa musti dipertontonkan?!”, ejek Pendekar Trisula Maut. 


Tangan kanannya diputar ke udara. Serangkum angin puyuh menggebubu dan bintang-bintang siluman itu pun berhamburanlah kian ke mari tiada mengenai sasarannya. 


Pada detik Rangga Geblek gunakan tangannya untuk menyambuti senjata rahasia lawan maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kaligundil untuk melompat ke seberang rawa-rawa kecil. 


“Kucing dapur. Kau mau lari ke mana....?!”, teriak Rangga Geblek. 


Sebagai jawaban, Kaligundil lemparkan segulung benda putih ke arah Pendekar Trisula Maut. Mulanya Rangga menyangka benda itu sebuah senjata rahasia, tapi ketika diketahuinya hanya secarik kertas putih yang digulung maka segera ditangkapnya, dan di saat itu pula Kaligundil pergunakan kesempatan sekali lagi untuk melompat jauh, lalu dengan ilmu larinya yang lihay ditinggalkannya tempat itu. 


Rangga tidak punya maksud untuk mengejar laki-laki bertangan buntung itu. Dengan penuh tanda tanya, dibukanya gulungan kertas di tangannya. Ternyata selembar surat yang ditujukan oleh Kaligundil kepadanya. 


“ Cacat di tubuhku tak akan terlupa seumur hidup. Kematian kawan-kawanku dan kematian Mahesa Birawa tak akan terlupa selama hayat. Semua itu kau yang menjadi biang sebab. Hari pembalasan akan tiba. Berani berbuat berani tanggung jawab. Hari tiga belas bulan dua belas, kutunggu kau di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kau tak punya nyali untuk datang lebih baik bunuh diri sekarang juga “. 


Pendekar trisula maut penasaran sekali. Diremasnya surat itu. “Sialan betul kucing dapur itu”, gerendang Rangga Geblek. 


Dia lari ke bukit. Namun bayangan Kaligundil sudah tak kelihatan lagi. Tantangan yang dibuat Kaligundil di Rawasumpang itu hanyalah sekedar untuk menjajaki sampai di mana kehebatan ilmu silat silumannya bisa menghadapi musuh besarnya itu. Nyatanya Rangga Geblek masih tetap jauh lebih digjaya dari dia. Namun dia tidak kecewa. Pada hari yang telah direncanakannya itu, kelak dendam kesumatnya akan kesampaian. Dan sekaligus di Rawasumpang itu dia te!ah menyampaikan surat undangan kematian bagi musuh besamya itu. Dia yakin Pendekar trisula maut akan datang ke puncak Gunung Tangkuban Perahu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


 


__ADS_2