
”Manusia kepar*t yang tidak tahu diri, hari ini terimalah mampus di tanganku!” bentak Mahesa Jenar seraya angkat lengan kirinya untuk menangkis pukulan lawan.
Dua lengan beradu dengan keras, Ranamaya terpelanting ke belakang sedang Mahesa Jenar hanya terjajar beberapa langkah saja.
Lengan Ranamaya yang beradu dengan lengan Mahesa Jenar kelihatan kemerahan dan perih. Laki-laki ini menggigit bibirnya menahan sakit. Dia maklum bahwa tenaga dalamnnya lebih rendah dari lawan.
Karena itu dengan memepergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sampai ke puncaknya, Ranamaya tidak lebih digdaya dari Jarot Karsa.
Sementara itu di langkan rumah terdengar jeritan-jeritan Surti pada kedua orang yang berkelahi itu.
”Suranyawa! Kakang Rana! Hentikanlah perkelahian ini! Hentikanlah!”
Surti tidak pernah tahu kalau Suranyawa telah berganti nama menjadi Mahesa Jenar.
Dan dia berteriak lagi, ”Kalian berdua tidak mempunyai permusuhan mengapa musti berkelahi?!”
”Surti masuklah ke dalam!” sahut Ranamaya kepada isterinya.
Saat itu dia harus jungkir balik di udara mengelakkan pukulan lawannya.
Di pihak Mahesa Jenar sudah barang tentu tiada niat sama sekali untuk menghentikan perkelahian. Bahkan teriakan-teriakan Surti tadi mendorongnya untuk lebih cepat menamatkan riwayat Ranamaya!
Dalam sekejapan saja kedua orang itu telah bertempur delapan jurus dan kelihatanlah dengan nyata betapa Ranamaya terdesak dengan hebat. Pukulan-pukulan tangan kosong lawan mengurungnya dari berbagai jurusan. Dengan membentak keras serta mempercepat gerakannya dan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh, Ranamaya berusaha keluar dari
kurungan pukulan lawan.
Namun percuma saja. Tubuh Mahesa Jenar laksana bayangbayang. Bergerak cepat sekali. Dan pada jurus ke sepuluh satu hantaman sikut kiri yang keras sekali menyambar rusuk kanan Ranamaya.
Ranamaya merintih tertahan. Mukanya kelihatan pucat kebiruan. Dia tahu, sekurangkurangnya dua dari tulang iganya telah patah dan tubuhnya di bagian dalam terluka hebat!
Untuk beberapa lama dia berdiri limbung dengan pemandangan mata berkunang-kunang.
”Ha.... ha....,” tertawa Mahesa Jenar. ”Sebentar lagi Ranamaya, sebentar lagi ajalmu akan sampai. Lebih bagus cepat-cepat kau minta tobat pada Tuhanmu sebelum mampus!”
Mulut Ranamaya komat kamit. Rahang-rahangnya menggembung. Kedua tangannya terpentang ke muka. Dia siap-siap untuk melancarkan pukulan tangan kosong yang
dahsyat.
Di lain pihak Mahesa Jenar berdiri laksana tugu. Kedua kakinya tenggelam satu senti ke dalam tanah. Tenaga dalamnya dialirkan ke segenap bagian tubuh untuk menghadapi serangan lawan.
Tiba-tiba jeritan sedahsyat angin punting beliung keluar dari mulut Ranamaya. Kedua tangannya bergerak susul menyusul dan gelombang Angin Panas menderu ke arah Mahesa Jenar.
Yang di serang membentak dahsyat dan lompat tiga tombak ke udara. Begitu angin panas menggebubu di bawah kakinya, membakar hangus pohon-pohon di belakangnya, maka Mahesa Jenar segera menukik ke bawah laksana seekor elang.
__ADS_1
Pukulan Angin Panas yang dilakukan oleh Ranamaya membutuhkan pemusatan tenaga dan pikiran yang besar. Beberapa detik sesudah dia melancarkan pukulan tersebut,
keadaan dirinya masih terbungkus oleh pemusatan pikiran itu
sehingga pada saat lawannya menukik dari atas dia terlambat meneyingkir. Untuk kedua kalinya Ranamaya harus menerima hantaman lawan. Kali ini badannya hampir terjungkal ke tanah.
Masih untung dia sempat menggulingkan diri kalau tidak pastilah tendangan kaki kanan Mahesa Jenar yang mengarah bawah perutnya menamatkan riwayatnya!
Begitu bangun, karena tahu bahwa dia tak akan sanggup menghadapi lawan dengan tangan kosong maka Ranamaya segera cabut keris eluk tujuh dari balik pinggangnya!
Tapi betapa terkejutnya Ranamaya ketika melihat ke muka. Mahesa Birawa berdiri dengan kedua kaki terpentang. Tangan kiri lurus-lurus ke muka, tangan kanan diangkat tingitinggi di belakang kepala dan tangan itu sudah menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau!
Surti yang telah melihat kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau itu menjerti keras.
”Sura!! Jangan....! Hentikan perkelahian ini!”
Suranyawa alias Mahesa Jenar sunggingkan senyum berbau maut.
”Jika kau punya sepuluh senjata, keluarkanlah sekaligus Ranamaya!” katanya mengejek.
Hati Ranamaya tergetar hebat. Keringat dingin mebasahi badannya. Seperti halnya dengan Jarot Karsa dia tak akan sanggup menghadapi kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau tersebut. Tapi untuk lari menyelamatkan diri, sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang yang berjiwa ksatria, tiada ada dalam kamus hidup Ranamaya.
Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup sebagai pengecut! Lagi pula dia sudah tahu benar bahwa lawan betul-betul menginginkan nyawanya. Karena itu Ranamaya ambil keputusan untuk mendahului menyerang.
Surti menjerit. Tubuh Ranamaya mencelat mental dan jatuh di tanah tanpa nyawa. Sekujur kulit tubuhnya bahkan sampai-sampai kepada keris sakti yang saat itu masih
tergenggam di tangannya menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau!
Surti pun menjerit lagi lalu lari menubruk suaminya. Tapi Mahesa Jenar cepat meloncat ke muka dan mencekal perempuan itu. Kalau sampai Surti menyentuh tubuh suaminya yang mati hijau itu maka dalam sekejapan racun yang menyerap di tubuh
Ranamaya akan mengalir ke tubuh Surti dan pastilah perempuan ini akan meregang nyawa pula!
”Lepaskan aku! Lepaskan aku manusia terkutuk! Biadab!!” pekik Surti.
”Sedikit saja kau menyentuh tubuh laki-laki itu kau akan keracunan Surti....!”
”Aku tidak takut! Aku juga ingin mati!”
”Kau masih terlalu muda untuk mati....!”
Dan dengan sekali gerakkan tangannya, maka Mahesa Jenar segera membopong Surti di bahunya. Karena perempuan itu masih meronta-ronta dan menjerit-jerit serta memukuli punggungnya, maka Mahesa Jenar segera menotok urat darah besar di pangkal leher Surti sehingga perempuan itu menjadi kejang kaku kini.
Sambil melangkah ke kudanya Mahesa Jenar memerintah kepada ketiga orang anak buahnya.
__ADS_1
”Bakar rumah keparat itu!”
Kalingundil dan Krocoweti serta Majineng segera laksanakan perintah itu. Dalam sekejapan mata maka tengelamlah rumah besar Kepala Kampung Jatiwalu itu dalam kobaran api.
Senyum puas membayang di muka Mahesa Jenar. Bila sebagian dari rumah itu sudah musnah di makan api, maka bersama anak buahnya segera ditinggalkannya tempat itu.
Jeritan bayi yang baru berumur beberapa bulan terdengar melengking-lengking di antara kobaran lidah-lidah api yang membakar rumah.
”Bayi itu! Bayi itu....!” teriak salah seorang di antara orang banyak yang berkerubung di halaman rumah Kepala Kampung.
”Oroknya Raden Rana....! Aduh, kasihan!”
”Kalau tidak lekas ditolong pasti mati!”
Tapi semua orang di situ hanya bisa berteriak dan berteriak. Mana mereka berani menghambur menyelamakan bayi itu. Dan suara tangisan bayi semakin lama semakin kecil serta parau
sementara nyala api mulai membakar tempat tidur di mana bayi itu terbaring!
Pada saat suara tangisan bayi yang menyayat hati itu hampir tidak lagi kedengaran, pada saat orang banyak sudah tak tahu lagi apa yang mesti mereka perbuat untuk menyelamatkan itu orok, maka pada saat itu pula, entah dari mana datangnya kelihatan sesosok bayangan berkelebat dan lenyap masuk ke dalam kobaran api. Sesaat kemudian sosok tubuh itu keluar lagi dan melesat ke halaman lalu lenyap di jurusan timur.
Demikian cepat dan sebatnya sosok tubuh itu bergerak sehingga tidak satu orangpun yang dapat melihat siapa adanya manusia tersebut ataukah betul bisa memastikan bahwa sosok tubuh itu adalah sesungguhnya manusia, bukan setan atau dedemit!
Jangankan untuk melihat wajahnya, untuk memastikan sosok tubuh itu laki-laki atau perempuan juga tak satu orangpun yang bisa! Begitu cepat dia datang, begitu cepat dia lenyap! Hanya warna pakaian yang hitam saja yang bisa dilihat mata orang banyak saat itu.
Dan hanya beberapa detik saja sesudah sosok tubuh itu lenyap maka rumah Ranaweleng yang terbakar itu runtuh ambruk dan
lidah api mengelombang tinggi ke udara!
Siapapun adanya sosok tubuh itu, entah dia manusia atau bukan, entah laki-laki atau perempuan, tapi yang pasti dan semua orang yang ada di situ tahu, bahwa sosok tubuh itu telah menyelamatkan bayi Ranamaya dan melarikannya ke arah timur!
****
Ketika Mahesa Jenar membuka pintu kamar dan membaringkan Surt di atas tempat tidur dan secara tak sengaja memandang ke dinding, maka meluncurlah seruan tertahan dari mulut laki-laki ini!
Pada dinding papan kayu jati yang keras itu tertulis rangkaian kalimat yang berbunyi:
APA YANG KAU LAKUKAN HARI INI
AKAN KAU TERIMA BALASANNYA PADA
TUJUH BELAS TAHUN MENDATANG!
Tiada tertera nama dari siapa yang menulis tulisan pada dinding itu. Tulisan itu dibuat dengan sangat cepat. Dan Mahesa Jenar tahu, kalau bukan manusia yang mempunyai tenaga
__ADS_1
dalam luar biasa dahsyatna pastilah tak akan sanggup membuat tulisan semacam itu pada dinding kayu jati yang keras, karena tulisan itu dibuat dengan mempergunakan ujung jari!