
"Tidak . . . kita tak pernah bertemu sebelumnya Pendekar Trisula maut . Dan di dunia ini mungkin saja ada beberapa manusia yang punya suara hampir bersamaan.
Rangga Geblek maju satu langkah. "Dewi, kalau kau tak mau berterus terang, kasihlah tahu saja siapa namamu sebenarnya."
"Kau sudah tahu."
"Ah… Dewi Kerudung Biru itu hanya nama gelaran belaka”, jawab Rangga pula.
"Di lain hari mungkin aku baru bisa beri tahu nama. Sekarang harap kau suka tinggalkan tempat ini”.
Tapi pemuda itu tetap berkeras. "Dengar Dewi, setiap orang yang pernah menolong aku, musti kuketahui siapa dia adanya. Kalau kau tak mau kasih tahu nama tak apa. Namun apakah kau juga tak sudi buka kerudung itu sebentar dan memperlihatkan paras…?"
Dewi Kerudung Biru menghela nafas. "Itu juga tak perlu. Kau akan menyesal…"
"Menyesal kenapa?"
"Kau akan terkejut karena mukaku sangat buruk dan mengerikan".
"Muka yang buruk tapi hati yang polos dan berbudi seribu kali lebih baik dari wajah bagus dan hati busuk jahat."
"Permintaanmu tak dapat kukabulkan”, kata Dewi Kerudung Biru dengan ketegasan yang dipaksakan.
Pendekar Trisula Maut maju lebih dekat. "Kalau begitu..”, katanya, "harap maafkan karena aku terpaksa melakukan ini". Rangga ajukan tangan hendak membuka kerudung penutup wajah.
"Apakah seorang ksatria bersikap sekurang ajar ini dan tak tahu peradatan?!”, bentak Dewi Kerudung Biru.
Tangan Rangga tertahan seketika. Tapi karena perempuan itu dilihatnya tiada menjauhkan kepalanya maka diteruskannya niatnya. “Sret!”
Terbukalah kerudung biru itu. Dan terbeliaklah mata Pendekar Trisula Maut. “ Anggini !!” serunya.
Ternyata paras di balik kerudung itu adalah paras seorang gadis jelita. Gadis jelita yang dulu pernah dikenal oleh Pendekar Trisula Maut sebagai murid Raja Tuak. Untuk beberapa lamanya kemudian Rangga Geblek hanya bisa berdiri terlongong-longong, sedang Anggini sendiri tundukkan kepalanya coba menyembunyikan sepasang matanya yang berkaca-kaca, dan juga sembunyikan parasnya yang membayangkan perasaan serta gelora hatinya.
Selama beberapa bulan dia telah berkelana untuk mencari Pendekar Trisula Maut dan baru hari itu mereka jumpa dalam satu suasana yang tak terduga.
"Apakah dia dapat memaklumi bagaimana perasaan hatiku terhadapnya?", membathin Anggini atau Dewi Kerudung Biru.
__ADS_1
"Ini adalah satu hal yang tak terduga. Anggi...ni…,” desis Rangga.
Anggini anggukkan kepala. "Ya, suatu hal yang tak terduga..”. Suaranya yang rawan ditindihnya dengan tenaga dalam sehingga getaran hatinya tiada kentara oleh si pemuda.
"Tapi ini adalah juga merupakan hal yang menggembirakan”, ujar Pendekar Trisula Maut pula. "Ilmumu maju pesat sekali. Siapa yang menduga kalau Dewi Kerudung Biru itu nyatanya adalah engkau sendiri?!"
Karena Anggini diam saja dan masih tundukkan kepala maka bertanyalah Rangga. "Aku tak mengerti, mengapa tadi kau sengaja mengatakan parasmu buruk”
"Ah....” Anggini tarik nafas dalam.
Pendekar Trisula Maut merenung sejenak. Terkenang dia pada satu malam beberapa bulan yang lewat ketika dia berada berdua-duaan dengan Anggini yaitu sehabis pertempuran di Gua Nagreg.
"Selama waktu ini tentu kau telah menuntut ilmu pada seorang guru sakti. Bukankah demikian?"
Anggini mengangguk.
"Rupanya kau kurang begitu senang dengan pertemuan ini, Anggini?", tanya Rangga Geblek.
"Jangan menduga yang bukan-bukan, Rangga”, jawab Anggini dan dalam hatinya dia menambahkan. "Kalau kau tahu perasaanku terhadapmu…"
Setelah termanggu sejurus maka berkatalah Rangga. "Malam menjelang pagi tempo hari itu menyesal aku terpaksa meninggalkan kau. Apakah kau sudah kembali dan bertemu dengan gurumu Raja Tuak...?"
"Kenapa . . .?"
"Mana mungkin aku kembali jika tidak memenuhi perintahnya tempo hari". Habis mengucapkan kata-kata itu memerahlah kedua pipi Anggini karena jengah.
Rangga Geblek tertawa. "Ho-oh, jadi rupanya cerita itu masih belum juga selesai sampai sekarang”. Rangga geleng-gelengkan kepala. Sebagaimana diketahui,guru Anggini yaitu Raja Tuak berniat keras untuk menjodohkan Anggini dengan Pendekar Trisula Maut. Tentu saja Pendekar Trisula Maut tidak mau. Setelah terjadi beberapa jurus pertempuran yang sengaja ditimbulkan oleh Raja Tuak, dia kemudian memerintahkan Anggini untuk mencari Pendekar Trisula Maut, dan muridnya itu tidak diperkenankan kembali ke pertapaan, kecuali dengan membawa Pendekar Trisula Maut sebagai calon suaminya.
"Semestinya kau kembali ke tempat gurumu, Anggini. Siapa tahu dia telah merubah niatnya yang kurang bisa diterima itu"
"Aku tahu sifat guruku, Rangga. Sekali dia kasih perintah tak bakal ditariknya kembali. Dan jika aku tak bisa melaksanakan perintahnya, pulang ke pertapaan berarti hanya untuk terima hukuman.
"Dan karena itu kau tak kembali-kembali kesana ?" .
"Ya”. Lalu tanpa diminta gadis itu pun memberi penuturan. "Pagi sesudah kau pergi itu, aku terus mencarimu sampai berbulan-bulan hingga pada suatu hari aku bertemu dengan dua orang penunggang kuda berkerudung dan berjubah merah. Ternyata dia adalah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan seorang anak buahnya. Kau sudah lihat bagaimana keganasan komplotan mereka. Meskipun tak ada silang sengketa namun mereka dengan sengaja mencari gara-gara hendak meringkusku. Anak buah Iblis itu berhasil kubunuh tapi untuk menghadapi Ketua Iblis Pencabut Suma aku tiada mampu. Dalam keadaan ditotok kemudian diriku dilarikan ke sarang mereka di Lembah Batu Pualam, Aku dimasukkan ke sebuah kamar".
__ADS_1
Sampai di sini Anggini tak meneruskan kalimatnya. Ditelannya nafasnya beberapa kali. Air mata yang sejak tadi mengambang, mengalir ke pipinya yang kemerahan. Rangga sendiri merasa dadanya dan nafasnya seperti menyesak. Mungkin selama ini baru kali di saat itulah dia berada dalam suatu keadaan yang serius demikian rupa. Sifat dan sikapnya yang selama ini selalu lucu jenaka lenyap ditelan gelombang perasaan, setelah mendengar penuturan Anggini, penuturan yang masih belum habis.
Dengan menguatkan hatinya maka Anggini kemudian meneruskan penuturan. "Ketua Iblis Pencabut Sukma laknat itu hendak meperkosaku. Kemudian diriku akan diteruskannya pada bawahan-bawahannya. Tapi Tuhan masih melindungiku. Sebelum Ketua Perkumpulan laknat itu berhasil melampiaskan maksud terkutuknya, seorang nenek-nenek sakti menerobos masuk ke dalam kamar dan melarikanku". Anggini menarik nafas dalam seketika lalu meneruskan. "Ternyata nenek-nenek sakti itu adalah Dewi Kencana Wungu. Aku dibawanya ke pertapaannya dan diambilnya menjadi murid. Sekarang beliau sudah tiada. Sudah meninggal…"
Lama kesunyian menjelang.
"Apakah rencanamu untuk masa mendatang ?", bertanya Pendekar Trisula Maut.
"Aku sendiri masih belum tahu. Tapi yang pasti ialah aku harus membuat perhitungan dengan Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu"
"Agaknya kita mempunyai tujuan yang sama yaitu sama-sama menghancurkan komplotan terkutuk itu."
Lagi-lagi kesunyian menyeling.
"Anggini..” kata Rangga memecah kesunyian itu. "Sekali ini pertemuan kita tak bisa berjalan lama...”
''Kau memang selalu tidak menginginkan pertemuan lama-lama denganku”, kata Anggini atau Dewi Kerudung Biru.
Pendekar Trisula Maut letakkan tangan kirinya di bahu Kanan Anggini. Perawan itu merasakan ada hawa aneh yang nikmat dan menenangkan hati mengalir di tubuhnya.
"Aku sudah bilang tadi bahwa pertemuan ini sangat menggembirakan. Namun kita harus sama memaklumi bahwa aku harus menyelamatkan Anjarsari dan merebut kembali Keris Tumbal Wilayuda. Di lain hari kelak aku pasti akan menyambangimu di sini"
Anggini terdiam. Dipermainkannya kain biru yang tadi merupakan kerudung wajahnya.
"Aku pergi sekarang, Anggini…"
"Rangga…”, suara Anggini tersekat di tenggorokan. Langkah Pendekar Trisula Maut tertahan. Dipandanginya paras jelita di hadapannya. Kemudian dilihatnya bagaimana gadis itu menggerakkan tangannya, meremas jari-jari tangannya yang diletakkan di bahu. Sekelumit getaran menjalari darah muda Pendekar Trisula Maut. Dia membungkuk dan mencium kening Anggini.
Ketika kepalanya hendak ditariknya kembali tiba-tiba gadis itu merangkul lehernya erat sekali. "Rangga... Rangga... jangan pergi dulu…", bisik Anggini.
Nafas mereka saling menghembusi wajah masing-masing. Rangga membelai pipi yang halus lembut itu. Ketika Anggini memejamkan matanya, Pendekar Trisula Maut menempelkan bibirnya ke bibir Anggini. Betapa hangatnya pertemuan sepasang bibir itu. Mula-mula bibir itu diam membeku seperti mati. Kemudian rangsangan mulai membuat getaran-getaran pada permukaan kulit bibir masing- masing. Dan bila sudah demikian, maka sepasang bibir itupun mulai menari-nari, saling lumas melumas. Keduanya berpagutan erat-erat seperti tak hendak dilepaskan untuk selama-lamanya.
"Rangga… aku cinta padamu, Rangga. Aku cinta padamu..”, bisik Anggini berulang kali.
"Hemm..,” Pendekar Trisula Maut menggumam. Digigitnya bibir perawan itu.
__ADS_1
"Kaupun cinta padaku bukan...?"
BERSAMBUNG.........