PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
LEMBAH BATU PUALAM


__ADS_3

"Bumm !" 


Ruangan batu itu tergoncang hebat. Dinding batu angsrok, Lantai longsor sedang bagian atas ambruk. Terdengar keluhan maut Resi Macan Seta. Di saat yang rasanya seperti mau kiamat itu Pendekar Trisula Maut berkelebat cepat menyambar tubuh Dewi Kerudung Biru dan dilarikan ke luar goa. Sesaat mereka sampai di luar goa maka runtuhlah Goa Dewi Kerudung Biru.


Singo Ireng yang tak sempat selamatkan diri, mati tertimbun bersama saudaranya Resi Macan Seta. Di luar goa Pendekar Trisula Maut dan Dewi Keradung Biru saling berangkulan. 


"Anggini… sangat disesalkan tempatmu yang bagus menjadi hancur runtuh. Tapi sebagiannya masih bisa kau pergunakan...” 


Anggini mengangguk. Disembunyikannya wajahnya di dada yang bidang itu. 


"Anggini,” kata Rangga lagi. Dilepaskannya pelukannya. "Waktuku tak banyak lagi. Aku harus segera ke Lembah Batu Pualam tempat bersarangnya Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Sampai jumpa lagi, Anggini". 


"Aku ikut Rangga....!" seru gadis itu, Tapi Pendekar Trisula Maut sudah lenyap dari hadapannya. Gadis itu termangu sejurus. Tapi kemudian segera pula dia berkelebat meninggalkan tempat itu.


*************************************


Lembah Batu Pualam. 


Lembah ini dikelilingi oleh pegunungan batu pualam yang berkilauan ditimpa sinar sang surya. Di mana-mana bahkan sampai ke dasar lembah terdapat gundukan-gundukan batu pualam putih. Di tengah dasar lembah kelihatan sebuah gedung besar bertingkat dua yang keseluruhannya mulai dari lantai sampai ke atap terbuat dari batu pualam. Gedung ini indah sekali bentuknya. Di beberapa bagian di luar dan di dalam gedung batu pualam ini terdapat ukiran-ukiran yang bagus sehingga sesungguhnya tak pantaslah bila gedung itu menjadi markas atau sarangnya komplotan terkutuk Iblis Pencabut Sukma. 


Pendekar Trisula Maut berdiri di ujung timur tepi lembah, berlindung di balik sebuah onggokan batu pualam. Dari tempatnya berada dilihatnya gedung itu sepi-sepi saja. Tak ada seorangpun anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang kelihatan. Dengan berlindung di balik gugusan-gugusan dan puing-puing batu pualam, Pendekar Trisula Maut mulai menuruni lembah. Dia sampai di dasar lembah kini. Jarak antaranya dengan gedung batu pualam kurang lebih tiga puluhan tombak. Rangga melompat ke balik gugusan batu pualam yang lain, melompat lagi ke kiri, lalu ke kiri lagi sehingga jaraknya kini dengan gedung itu hanya sekira sepuluh tombak. Pintu depan gedung terbuka lebar-lebar, demikian juga jendela-jendela di tingkat bawah serta atas. Anehnya sampai saat itu suasana masih sunyi senyap seperti tadi. 


"Mungkin ada perundingan di dalam sana…,” pikir Pendekar Trisula Maut. Dia memutuskan untuk menunggu sampai kira-kira sepeminum teh. 

__ADS_1


Sementara itu di tingkat kedua gedung batu pualam. Di sebuah ruangan rahasia, kelihatan empat manusia berjubah dan berkerudung merah. Salah satu di antaranya jubah dan kerudungnya lebih merah dari yang lain-lain. Dialah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Dia duduk di sebuah kursi, membelakangi sebuah mimbar. Di Hadapannya duduk tiga orang, satu di antaranya ialah Wakil Ketua Perkumpulan. Yang dua, anggota-anggota Perkumpulan yang berilmu tinggi. Di pangkuan Wakil Ketua Perkumpulan saat itu terbaring tubuh Anjarsari. Ketua Iblis Pencabut Sukma manggutkan kepala dan Wakilnya segera berdiri. Tubuh Andjarsari diletakkannya di kursi lalu dia melangkah ke hadapan Ketua dan menjura. "Ketua, harap dimaafkan bila aku menjalankan tugas dan kembali ke sini agak terlambat. Ada beberapa rintangan di tengah jalan…” 


"Kau berhasil mendapatkan Keris Tumbal Wilayuda?" bertanya sang Ketua. Suaranya berat serak laksana palu godam. 


Wakil Ketua anggukkan kepala lalu keluarkan sebilah keris yang keseluruhannya mulai dari sarung sampai ke kerisnya terbuat dari emas. Karena senjata ini senjata mustika maka dengan sendirinya memancarkan sinar kuning yang terang. Mata Ketua Iblis Pencabut Sukma berkilat-kilat melihat senjata itu. Begitu diterimanya, diperhatikannya sejurus lalu dimasukkannya ke balik pinggang. 


"Apalagi yang kau bawa?!" tanya sang Ketua. 


Wakilnya putar tubuh sedikit dan menuding pada tubuh Anjarsari yang didudukkan di kursi. "Gadis itu adalah calon isteri Sultan Hasanuddin. Aku berhasil menculiknya” 


"Sultan sendiri bagaimana?". 


“Aku juga sebenarnya hampir berhasil menculik dia waktu berada di sarang Perkumpulan Pengemis Darah Hitam, tapi tahu-tahu sesosok bayangan biru melarikannya. Ketika ku ikuti jejaknya ternyata bayangan biru itu adalah Dewi Kerudung Biru. Perempuan dajal itu hampir berhasil kutamatkan riwayatnya bersama beberapa orang anggota, jika seorang pemuda gila bergelar Pendekar Trisula Maut tidak muncul di situ!"


"Manusia itu sakti sekali. Dia memiliki sebuah Trisula Aneh. Trisula Maut Naga Langit!" 


"Hanya sebuah trisula buat berburu ikan saja kau takuti. Bagaimana dengan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam?" 


"Mulanya, karena merasa bahwa kita masih satu golongan dan aliran dengan mereka, aku minta agar keris, Anjarsari dan Sultan diserahkan secara baik-baik. Tapi mereka membangkang. Terpaksa tak satupun yang aku kasih hidup" 


"Itu bagus!" kata Ketua Iblis Pencabut Sukma. "Dalam waktu dua atau tiga hari dimuka, kita akan segera berangkat ke Banten. Sampai saat ini secara tidak langsung, dengan adanya Keris Tumbal Wilayuda di tangan kita, maka Banten sudah milik kita. Dan sebagai balas jasamu, kau boleh ambil itu gadis!". 


Gembiralah hati sang Wakil mendengar itu. Sesaat sesudah sang Ketua meninggalkan ruangan disusul oleh dua orang anggota kelas satu tadi, maka Wakil iblis Pencabut Sukma segera memboyong tubuh Anjarsari ke dalam kamarnya yang terletak di paling ujung gedung tingkat kedua. 

__ADS_1


Sepeminum teh telah lewat. Rangga mengintai lagi dari balik gugusan batu pualam. Gedung masih tetap sunyi senyap. Dengan rasa tak sabar segera pemuda ini kerahkan ilmu mengentengi tubuh, dan laksana seekor alap-alap melesat ke atas atap gedung batu pualam tingkat kedua. 


Bagian atas gedung ini rata licin. Dan di sebelah sana beberapa tombak jauhnya, dua orang berjubah dan berkerudung merah tengah asyik bermain dam. Begitu sudut mata mereka melihat adanya bayangan sesosok tubuh di atas atap itu segera keduanya putar kepala. 


"Hai!" seru salah seorang dari mereka. 


"Siapa kau ?!” membentak yang kedua. 


Pendekar Trisula Maut melintangkan jari tetunjuk tangan kirinya di atas bibir. 


"Sssst.. “, desisnya. 


Kemudian dengan tiba tiba tangan kanannya dihantamkan ke muka. Tak ampun lagi kedua manusia berjubah merah itu rebah di atas atap dengan menyembur darah, sedang papan serta buah dam mental di udara jauh sekali. 


Pendekar Trisula Maut geli sendiri. Dia memandang berkeliling. Kemudian lapat-lapat dari ujung atas sebelah sana didengarnya suara jeritan perempuan. Dengan cepat pemuda ini lari ke ujung atap. Di bawah atap, persis di atas sebuah jendela terdapat beberapa buah lobang angin. Dari salah satu lobang angin ini Rangga mengintai ke dalam gedung. 


Dan mendidihlah darah Pendekar Trisula Maut sewaktu menyaksikan apa yang terpampang di dalam kamar di bawah atap itu. Anjarsari berada dalam keadaan hampir tak berpakaian. Rambutnya yang panjang kusut masai menjela-jela. Gadis ini megap-megap dan menjerit-jerit serta meronta. Tapi tak kuasa sama sekali untuk menyingkirkan tubuh Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang menghimpitnya dari atas. 


Tidak membuang waktu lagi Pendekar Trisula Maut melompat turun dan melabrak jendela kamar dengah satu tendangan kaki kiri. Kejut Wakil Ketua Perkumpulan Iblis itu bukan alang kepalang. Jendela kamar dilihatnya hancur berantakan dan sedetik kemudian sesosok tubuh melayang memasuki kamar. 


"Bangsat rendah!" memaki manusia bermuka angker itu.


BERSAMBUNG........

__ADS_1


__ADS_2