PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MAKAN TRISULA KU!!


__ADS_3

"Siapa lagi yang hendak turun tangan membantu betina keparat itu silahkan naik ke atas panggung!" seru Dewi Kala Hijau. 


Semua hati yang hadir tercekat dan tak satu pun yang kelihatan berani menerima tantangan itu. Sementara itu di sudut panggung sebelah kanan, Dewi Kerudung Biru semakin kepepet. Ketika lengan baju birunya robek besar disambar ujung pedang salah satu pengeroyok, maka naiklah luapan amarahnya ke kepala. Kedua tangan kiri kanan diangkat ke atas dan dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin pukulan yang berwarna biru melabrak dari dua jurusan. 


"Pukulan Asap Kencana Biru!" seru Dewi Kala Hijau dengan paras tersirap. 


Dia memang sudah lama mendengar kehebatan ilmu pukulan itu dan baru saat ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Empat orang pengeroyok berpelantingan, terhampar di panggung dua orang, yang dua lagi terguling di bawah panggung. Keempatnya tanpa nyawa. Dan bila Dewi Kerudung Biru mengangkat lagi kedua tangannya, kembali empat korban jatuh. 


"Setan alas!" kutuk Dewi Kala Hijau. Matanya berputar ke arah dimana murid-muridnya duduk. Hanya Kala Biru dan Kala Hitam yang tampak. Kala Putih tiada kelihatan. Ini membuat Dewi Kala Hijau merasa curiga namun untuk menyelidik saat itu juga dimana Kala Putih berada tentu saja bukan pada tempatnya. 


"Kala Biru, Kala Hitam! Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan!" teriak Ketua Partai Lembah Tengkorak. 


Kedua muridnya pun segera bangkit dari kursi. Begitu melompat ke panggung, begitu mereka kirimkan serangan kala hijau ke arah Dewi Kerudung Biru. Dewi Kerudung Biru tidak tinggal diam. Dia sudah maklum kehebatan ilmu pukulan itu. Kedua tangannya dipukulkan ke depan. Dua larik sinar biru menderu menangkis dua larik sinar hijau yang membawa Pukulan kala maut. Bentrokan itu demikian hebatnya hingga menimbulkan suara laksana letusan meriam. 


Meskipun jumlah pengeroyok kini berkurang, namun dengan munculnya Kala Hitam serta Kala Biru, maka keadaan Dewi Kerudung Biru lebih hebat terdesaknya dari tadi. Sepuluh jurus dengan kehebatannya yang luar biasa dia masih sanggup bertahan, meski bertahan sambil mundur terus-terusan. 


Diam-diam Dewi Kerudung Biru mengeluh dalam hati. Sampai berapa jurus lagi dia akan sanggup bertahan? Sementara itu Ketua Partai Lembah Tengkorak yang melihat Dewi Kerudung Biru masih bisa bertahan menjadi penasaran sekali. Diam-diam dia gerakkan tangannya mengirimkan pukulan-pukulan jarak jauh. Dewi Kerudung Biru bukan tidak tahu kalau dirinya diserang secara pengecut itu, namun untuk balas menyerang dia tak punya kesempatan, apalagi menghadapi pengeroyok yang banyak dan lihai-lihai itu. Lagi-lagi perempuan itu mengeluh dalam hati. 


Pada jurus yang kelima puluh satu, itulah batas kesanggupan Dewi Kerudung Biru untuk bertahan. Ketika dua ujung pedang menusuk dari muka belakang, satu kaki menendang ke arah ************ dan dua larik sinar hijau yang membawa puluhan kala maut menyerangnya, maka perempuan ini tiada sanggup lagi berkelit. 


"Tamatlah riwayatku ..." kata Dewi Kerudung Biru. 

__ADS_1


Dia menggerung keras dan meramkan mata menunggu sampai ajalnya. Disaat yang kritis itu tahu-tahu terdengar suara mengaung laksana ribuan tawon mengamuk. Satu sinar putih berkiblat panas dan memerihkan kulit dan satu bentakan mengatasi ketegangan suasana. 


"Manusia-manusia pengecut berhati dajal! Makan trisulaku!" 


Dan enam pengeroyok menjerit rubuh. Kala Hitam kalau tidak lekas-lekas melompat mundur pasti akan terluka besar bagian dadanya.


Ketika ketua Partai Lembah Tengkorak melihat siapa adanya manusia yang muncul itu, terbeliaklah kedua matanya. "Pemuda sinting! Bagaimana kau bisa lepas?!" tanyanya garang. 


Si pemuda yang bukan lain daripada Pendekar trisula maut Rangga Geblek tertawa. "Sekarang bukan saatnya untuk bertanya jawab! kejahatanmu sudah lewat batas, dosamu sudah melampaui takaran! Karenanya mati adalah yang paling bagus buatmu!" 


Dewi Kerudung Biru sendiri yang tadi pejamkam mata menunggu ajalnya dengan terheran-heran membuka matanya kembali. Begitu melihat dan mengenali pemuda yang di hadapannya dia pun berseru gembira: "Rangga...!" 


Pendekar trisula maut mengedipkan matanya dan bersiul. "Anggini, mari kita tumpas manusia-manusia iblis ini!" 


"Seluruh anggota Partai!" teriak Ketua Partai Lembah Tengkorak pula. "Siapkan dirimu semuanya untuk ******* kedua biang racun pengacau ini!" 


Pada saat itu pulalah Ketua Partai Lembah Tengkorak melihat muridnya Si Kala Putih. "Dari mana kau?!" tanyanya membentak. 


"Dewi Kala Hijau, mulai saat ini aku bukan muridmu lagi ...." 


"Hah! Apa ... ?!" belalak Dewi Kala Hijau. 

__ADS_1


"Aku bukan muridmu lagi. Aku keluar dari Partaimu!" kata Kala Putih pula. 


"Murid kualat murtad! Pasti kau juga yang melepaskan pemuda rambut gondrong itu ya?!" , 


"Ya!" sahut Kala Putih tanpa ragu-ragu. 


Mendidih amarah Dewi Kala Hijau. "Kau boleh menjadi murid murtad! Kau boleh keluar dari Partai. Tapi nyawamu juga musti minggat dari tubuh!" 


Ketua Partai Lembah Tengkorak pukulkan kedua telapak tangan ke muka. Mulut menghembus. Dua larik sinar hijau dan empat jalur asap hijau menderu dahulu mendahului menyerang Kala putih. Karena gugup dan tak menduga gurunya akan turun tangan secepat itu, Kala Putih terlambat mengelak. Tak ampun lagi tubuhnya kena dilanda serangan Dewi Kala Hijau. Dia terguling sampai beberapa tombak dengan muka serta badan ditancapi kalajengking beracun. Dari mulutnya membuih darah kental. 


Menyaksikan kematian Kala Putih, gadis yang telah membebaskannya dari totokan dan kurungan Dewi Kala Hijau, maka Pendekar trisula maut naik pitam. Namun sebelum dia melompat ke hadapan Dewi Kala Hijau, puluhan anggota Partai Lembah Tengkorak telah mengurungnya bersama Dewi Kerudung Biru. 


"Kalian minta mampus semua, marilah!" teriak Rangga. 


Sambil tertawa menggidikkan pendekar ini memutar trisulanya dengan sebat dan berseru nyaring "Para tamu yang hadir di sini! lnilah saat dimana kalian semua harus turun tangan untuk menghancurkan manusia-manusia pembawa malapetaka ini! Jika terlambat, kalian semua akan menjadi korban dan dunia persilatan akan hancur binasa! Mari kita sama-sama berebut pahala memenggal kepala Dewi durjana Ketua Partai Lembah Tengkorak!" 


Mendengar seruan yang bersemangat ini dan mengetahui pula siapa adanya Rangga Geblek, maka besarlah nyali mereka yang hadir. Serentak mereka mencabut senjata, serentak itu pula semuanya menyerang. Maka pertempuran yang sangat dahsyat, yang tak pemah terjadi dalam sejarah dunia persilatan sebelumnya, berkecamuk lah. Ratusan senjata berkiblat mencari korban. Dan suara beradunya senjata-senjata itu, suara bentakan-bentakan serta caci maki, suara gerung dan jerit kematian serta keluh serangan mereka yang meregang nyawa menjadi satu, laksana hendak menjungkir balikkan bumi dan langit, laksana mau kiamat. 


Dan mengatasi semua suara itu maka terdengarlah dengungan Trisula maut naga langit yang dipegang oleh Rangga Geblek. Sambil berkelebat kian kemari menebar maut, pemuda itu tiada hentinya mengeluarkan suara siulan yang menusuk dan menyakitkan gendang-gendang telinga. Sekali-sekali bila dia mengeluarkan suara tertawa bekakakan, maka tergetarlah hati setiap lawan. 


Kurang dari sepeminum teh berlalu, maka sudah bertebaran puluhan mayat. Jika ada seseorang lain di luar pertempuran menyaksikan apa yang terjadi di Lembah Tengkorak saat itu, pastilah bulu kuduknya akan merinding. Apa yang disaksikannya itu adalah neraka dunia yang mengerikan. Setiap Trisula maut naga langit berkiblat dengan suara mengaung serta larikan sinar putihnya, maka terdengarlah pekik jerit kematian. Puluhan pengurung Pendekar trisula maut laksana semak belukar yang ditebas, rambas berkelompok-kelompok.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2