PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
PUKULAN SERIBU ANGIN SERIBU BADAI


__ADS_3

Hampir sepeminum teh kemudian maka pondok kayu itu sudah kelihatan dari jauh. Nafsu yang menghempas-hempas pembuluh darah dan menegangkan sekujur tubuh Pendekar Kumbang Malam membuat manusia terkutuk itu tancap gas tambah percepat larinya agar lekas-lekas sampai ke pondok itu dan agar lekas pula melampiaskan nafsu bejat terkutuknya. 


Tapi betapa terkejutnya Pendekar Kumbang Malam sewaktu makin dekat ke pondok itu sepasang telinganya menangkap suara nyanyian. Yang lebih mengejutkan ialah karena suara nyanyian itu keluarnya dari dalam pondok kayu di hadapannya itu. 


Dua tahun dilepas pergi, 


Dua tahun turun gunung, 


Dua tahun berbuat keji, 


Dua tahun tak tahu untung. 


Lima tahun belajar percuma, 


Lima tahun dididik tiada guna, 


Kehancuran dimana-mana 


Pembunuhan di mana-mana 


Semua karena buta hati dan buta mata 


Semua karena buta rasa 


Percuma bagusnya gunung 


Percuma tingginya gunung 


Kalau meletus bencana di mana-mana 


Anak manusia lupa daratan 


Anak manusia membuat kebejatan 


Apakah selusin nyawa di badan? 


Apakah ilmu setinggi awan? 


Pendekar Kumbang Malam hentikan larinya. Galuh Warsih yang masih mendambun-dambun punggungnya, yang masih berteriak-teriak meskipun suaranya parau segera ditotoknya. Dipasangnya telinganya sedang kedua matanya memandang tajam-tajam ke arah pintu pondok yang terbuka. Tak satu sosok manusia pun yang dapat dilihatnya dari tempat dia berdiri. Namun suara nyanyian tadi kembali terdengar. Terdengar dan keluar dari pondok itu. 


Dua tahun dilepas pergi, 


Dua tahun turun gunung.... 


Ada suatu rasa aneh menyelinapi hati Pendekar Kumbang Malam. Rasa aneh ini bukan saja hanya sekedar menyelinap, tapi juga membuat hatinya menciut-ciut dan dadanya berdebar. Dia melangkah kembali, perlahan kini. Mata memandang tajam, ke pintu pondok yang terbuka, sikap penuh waspada. Lima tombak dari hadapan pondok, untuk kedua kalinya Pendekar Kumbang Malam hentikan langkah. Bayangan seseorang dapat dilihatnya melangkah ke pintu. Dalam kejapan mata kemudiannya maka terbenturlah pandangannya pada tubuh seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering berselempang kain putlh. Janggut dan rambutnya yang hitam menjelang panjang sampai ke pinggang. 

__ADS_1


“Guru!” seru Pendekar Kumbang Malam. 


Tubuh Galuh Warsih segera diturunkannya dari pundak, didudukkannya di bawah sebatang pohon lalu dia sendiri berlari dan berlutut dihadapan orang tua yang berdiri di ambang pintu pondok. Si orang tua, yang bukan lain dari Begawan Citrakarsa adanya menyapu paras muridnya dengan pandangan mata sedingin salju setajam pisau. 


“Betulkah kau ini si Wirapati?” 


Masih berlutut, Pendekar Kumbang Malam angkat kepalanya. “Betul guru. Masakan guru lupa sama murid sendiri!” 


Diam-diam Pendekar Kumbang Malam atau Wirapati merasa bergidik juga melihat cara memandang gurunya. 


“Guru...!” 


Begawan Citrakarsa tidak perdulikan seruan kaget muridnya melainkan meneruskan, “Mataku masih belum kabur, telingaku masih belum tuli. Otakku masih belum tumpul! Wirapati yang pernah ku gembleng lima tahun di puncak Gunung Merbabu sudah tidak ada di atas bumi ini...” 


“Guru!” seru si murid sekali lagi. 


Begawan Citrakarsa tetap tak ambil peduli seorang pemuda terkutuk yang di delapan penjuru angin dikenal sebagai Pendekar Kumbang Malam. Berubahlah paras Pendekar Kumbang Malam alias Wirapati. Dia membathin, rupanya apa yang telah dilakukannya sejak turun gunung dua tahun yang silam sudah diketahui oleh gurunya. Dia berpikir-pikir mencari akal, apakah yang bakal dikatakannya pada Begawan itu. 


“Selama ini aku dikenal sebagai tokoh silat golongan putih yang mengutamakan ilmu untuk kebaikan, dan welas asih. Dunia persilatan menyegani dan menghormatiku. Tapi kini dari delapan penjuru angin umpat dan kutuk serapah dilontarkan kepadaku. Keningku dicoreng cemoreng oleh rasa malu yang tiada terkira. Semua itu adalah akibat perbuatan bejatmu, Wirapati! Perbuatan terkutukmu!” 


“Guru,” kata Pendekar Kumbang Malam dengan cepat. 


Akal busuk sudah didapatnya saat itu “Rupanya guru telah tertiup oleh segata fitnah yang dilontarkan manusia-manusia biang racun. Lima tahun murid dididik dan digembleng oleh guru masakan sesudahnya turun gunung murid mau membuat kekotoran yang mencemarkan nama guru?! Semua fitnah belaka, guru! Percayalah! Justru murid malang melintang di dunia persilatan untuk membasmi kaum penjahat dan golongan hitam...!” 


Pendekar Kumbang Malam tidak kehabisan akal. Dia segera buka mulut pula, “Guru salah duga. Gadis itu adalah anak Bupati Sentot Sastra dari Kaliurang yang barusan murid tolong dan lepaskan dari tangan penculik-penculik dan perampok-perampok!” 


Lagi-lagi Begawan Citrakarsa tertawa tawar. “Lidah tidak bertulang memang bisa diputar balik!” katanya. “Tapi mataku tidak bisa diputar balik, Wirapati! Aku saksikan sendiri apa yang terjadi di tikungan jalan tadi! Masihkah kau mau berdusta di dalam kebejatanmu?!” 


Kini Wirapati alias Pendekar Kumbang Malam tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya terkatup rapat-rapat 


“Tak perlu kau berlutut di hadapanku Wirapati! Sejak arang cemar kau corengkan ke mukaku, sejak itu pula aku tak mengakuimu lagi sebagai murid!” 


Rahang Pendekar Kumbang Malam menonjol bergemeletak. 


“Kejahatanmu laksana laut tidak bertepi! Dosamu sudah tak sanggup ditakar lagi! Sekarang berdirilah! Dan katakan cepat, cara mati bagaimana yang kau inginkan?!” 


Kaget Pendekar Kumbang Malam bukan alang kepalang. Dipandangnya paras Begawan Citrakarsa. Mimik dan sorotan mata si orang tua jelas menyatakan bahwa apa yang diucapkannya itu bukan main-main. 


“Guru....” 


“Aku bukan gurumu!” bentak Begawan Citrakarsa. 


Perlahan-lahan Pendekar Kumbang Malam berdiri. “Guru, kau betul-betul hendak membunuhku?” tanya pemuda itu, “atau cuma main-main saja ... ?” 


“Bicara soal kematian bukan bicara main-main budak terkutuk!” hardik Begawan Citrakarsa. “Bersiaplah untuk mampus!” 

__ADS_1


Begawan itu angkat tangan kanannya. Kemudian laksana kilat dipukulkan ke muka. 


“Wuss!” 


Asap putih mengepul dahsyat melanda ke arah Pendekar Kumbang Malam. Melihat gurunya mengeluarkan ilmu dahsyat yang tak pemah dikenalnya atau diajarkan kepadanya sebelumnya, yakinlah Pendekar Kumbang Malam bahwa si orang tua betul-betul bertekad hendak menghabisi nyawanya. Tak ayal, sebelum tubuhnya diserempet asap putih yang mengandung hawa sangat panas itu, si pemuda segera melompat ke samping sampai dua tombak.


“Bagus! Kau masih bisa mengelak! Tapi nyawamu tetap harus minggat ke neraka murid laknat!” gertak Begawan Cirakarsa. 


Tubuhnya berkelebat. Kini kedua tangannya yang kurus memukul bersama-sama. Sinar putih berbuntal-buntal menyambar Pendekar Kumbang Malam.


Serangan ganas ini membuat Pendekar Kumbang Malam melompat sampai tiga tombak ke atas dan berseru nyaring, “Orang tua aku masih menaruh hormat pada kau! Hentikan seranganmu!” 


“Hormat nenek moyangmu!” maki Begawan Citrakarsa beringas. 


Kedua tangannya kembali melesatkan buntalan sinar putih. Pendekar Kumbang Malam cepat-cepat menukik menyelamatkan diri. Wirapati atau Pendekar Kumbang Malam jadi beringas pula kini. 


“Begawan!” serunya lantang, “jika kau tak hentikan serangan, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau! Harap jangan menyesal!” 


Begawan Citrakarsa tidak pedulikan ucapan bekas muridnya. Tubuhnya berkelebat cepat. Angin bersiuran, debu beterbangan dan atap rumbia pondok di atas bukit itu terbang bertaburan akibat keras dahsyatnya angin serangan sang Begawan. 


Pendekar Kumbang Malam penasarannya bukan main. Kutuk serapah tiada henti-hentinya dikeluarkan dalam hati. Kalau saja dia tidak memiliki tenaga dalam dan ilmu mengentengi tubuh yang tinggi sempurna, pastilah dalam dua jurus saja dirinya sudah konyol mati kena digebuk salah satu lengan sang Begawan atau tersambar asap putih yang panas beracun itu. 


Dalam tempo yang singkat, murid dan guru itu sudah bertempur delapan jurus. Keduanya kelihatan sama-sama gesit dan sama-sama lihai. Namun memasuki jurus kedua belas, walau bagaimanapun Pendekar Kumbang Malam tiada sanggup lagi bertahan. Sekali tubuhnya kena dilanda jotosan Begawan Citrakarsa, tubuhnya mencelat mental membobolkan dinding kajang dan melingkar di lantai tanah dalam pondok. 


Begawan Citrakarsa tidak menunggu sampai di situ saja. Mulutnya berkomat kamit. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Tangan itu berwarna merah kini. Dan sewaktu tangan itu dipukulkan ke muka, lidah api yang dahsyat menyambar laksana topan prahara. Dalam sekejapan mata saja pondok itu tenggelam dalam kobaran api 


“Tamatlah riwayatmu murid terkutuk!,” Begitu Begawan Citrakarsa membatin. 


Tapi si orang tua menjadi kaget bukan main sewaktu matanya melihat sosok tubuh bekas muridnya itu berdiri tak jauh dari pondok yang tengah terbakar. Muka Pendekar Kumbang Malam kelihatan agak pucat tanda jotosan Begawan Citrakarsa tadi telah menyebabkan luka yang cukup parah dibagian dalam tubuhnya. 


Begawan Citrakarsa sendiri diam-diam merasa heran melihat pemuda itu masih sanggup berdiri meski dengan muka pucat pasi. Jotosan yang dilancarkan tadi mempergunakan hampir setengah bagian tenaga dalamnya, namun pemuda itu tidak menemui ajalnya. Apakah selama turun gunung malang melintang berbuat kejahatan bekas muridnya itu juga telah memperdalam ilmu silat dan ilmu kesaktiannya?! 


Begawan Citrakarsa tidak mau menunggu lebih lama. Tidak mau memberi kesempatan. Makin lekas dia berhasil membunuh muridnya itu, berarti makin cepat dia mencuci tangan dan membersihkan diri dari rasa malu yang melekat selama ini. Karenanya sang Begawan segera melompat ke muka kembali, menyerbu laksana seekor singa ****** yang kelaparan. 


Dari jarak beberapa meter sebelum tubuhnya sampai ke hadapan si pemuda, Begawan Citrakarsa sudah lancarkan dua pukulan dan dua tendangan jarak jauh yang hebat. Pendekar Kumbang Malam saat itu tengah alirkan tenaga dalam kebagian dada yang terluka dan atur jalan darah serta nafas. Melihat datangnya serangan ini dia terpaksa menghindar cepat sambil melepaskan pukulan “Tapak Jagat”. 


Begawan Citrakarsa tertawa mengejek. Ilmu pukulan 'Tapak Jagat' itu dialah yang menciptakan dan mewariskan kepada Wirapati, masakan kini mempan dipakai untuk melawan penciptanya sendiri. 


Namun tawa mengejek si orang tua berubah dengan keterkejutan. Begawan Citrakarsa sampai mengeluarkan seruan tertahan. Angin pukulan yang ditimbulkan oleh pukulan 'Tapak Jagat” itu dahsyatnya bukan main, lebih dahsyat daripada jika dia sendiri yang melepaskannya. Padahal Wirapati saat itu diketahuinya sedang terluka akibat jotosannya tadi. 


Jelaslah si pemuda benar-benar telah menuntut ilmu kesaktian pada seorang tokoh utama dunia persilatan selama dia malang melintang dua tahun belakangan ini. Si orang tua kini tidak mau memberi ampun lagi dan tak mau memperpanjang waktu. Lengking yang menggidikkan ke luar dari tenggorokannya. Bumi laksana dilanda lindu. Telinga Pendekar Kumbang Malam laksana ditusuk dan kepalanya berdenyut pusing. 


Lengkingan yang keluar dari mulut Begawan Citrakarsa tiada kunjung henti sedang tubuh orang tua ini boleh dikatakan sama sekali tidak kelihatan lagi ujudnya, hanya bayangannya saja yang laksana angin bergulung-gulung menyelimuti tubuh Pendekar Kumbang Malam. 


Dan di antara angin serangan yang bergulung-gulung itu serangan kaki tangan datang laksana hujan membadai. Inilah ilmu ciptaan Begawan Citrakarsa yang dinamakan “Seribu Angin Seribu Badai”. Hebatnya memang bukan alang kepalang.

__ADS_1


__ADS_2