
Malam itu di satu ruangan rahasia, Parit Wulung, Karma Dipa, Djuanasuta dan seorang tokoh terkemuka dari Partai Api Setan, yaitu suatu partai silat yang dipimpin oleh Resi Macan Seta tengah melakukan perundingan penting. Tokoh silat ini adalah murid terpandai dari Macan Seta yang telah mewarisi seluruh kepandaian Resi itu. Namanya Rana Tikusila. Dia dan selusin anggota partai lainnya sengaja diminta datang ke Banten oleh Parit Wulung untuk memperkuat kedudukannya dan menjaga segala sesuatu yang tak diingini. Seperti Macan Seta, muka merekapun coreng moreng.
Parit Wulung yang duduk di kepala meja segera buka bicara. "Saudara-saudara, pertemuan ini adalah penting sekali sehubungan dengan Keris Tumbal Wilayuda. Sampai sekarang kita masih belum berhasil menemukannya, sedang Sultan sendiri tak diketahui jejaknya. Resi Singo Ireng dan Resi Macan Seta tidak pula kunjung ada kabar beritanya. Aku berharap…”
Parit Wulung tiba-tiba hentikan ucapannya. Dia memandang ke sebuah alat rahasia disudut ruangan. Alat itu kelihatan bergerak-gerak. "Saudara-saudara bersiaplah,” kata Parit Wulung. “Ada tamu yang tak diundang rupanya mendengarkan perundingan kita ini di atas loteng!"
Dan baru saja Parit Wulung selesai mengucapkan kalimat itu, dua lembar papan loteng terbuka dan sesosok tubuh laksana seekor alap-alap melayang turun. Suara kedua kakinya sama sekali tiada terdengar sewaktu menjajaki lantai. Rana Tikusila, Karma Dipa dan Djuanasuta segera cabut senjata.
Parit Wulung sendiri berdiri dari kursi dan membentak. "Manusia atau setan! Apakah kau punya nyawa rangkap berani datang ke sini?!"
Tamu tak diundang itu keluarkan suara bersiul yang tak asing lagi yang menandakan bahwa dia bukan lain daripada Pendekar Trisula Maut adanya. "Kau terlalu menghina padaku, Parit Wulung,” menyahuti Pendekar Trisula Maut. Dia melirik sedikit ketika melihat Rana Tikusila melangkah kehadapannya dengan pedang melintang.
"Lekas katakan apa maksud kedatanganmu ke sini!” kata Tikusila seraya angkat tinggi-tinggi tangan kanannya yang memegang pedang.
"Aku adalah utusan pribadi Sultan Hasanuddin!".
Maka terkejutlah semua yang hadir di tempat itu. Dari balik pakaiannya Pendekar Trisula Maut keluarkan segulung kertas dan melemparkan benda itu yang tepat jatuh memalang di atas gelas tuak, dihadapan Parit Wulung.
"Silahkan baca”, kata Pendekar Trisula Maut pula.
__ADS_1
Parit Wulung keretakkan rahang melihat sikap yang merendahkan ini tapi gulungan surat di atas gelas diambil dan dibacanya juga.
“ Parit Wulung, Aku berikan kesempatan padamu untuk menyerahkan diri Bersama bergundal-bergundal pemberontak lainnya malam ini. Maksud busukmu untuk menduduki takhta kerajaan Banten secara tidak syah di atas lumuran darah sekian banyak rakyat dan prajurit Banten, serta sekian banyak pembesar-pembesar istana yang tak berdosa akan sia-sia saja., Keris Tumbal Wilayuda walau bagaimanapun tak bakal kau dapat. Dua cecunguk pembantumu yaitu Resi Singo Ireng dan Macan Seta telah menemui ajalnya. Jika kalian menyerah, hukuman yang bakal dijatuhkan tidak begitu berat. Tapi bila kalian membangkang, kepala kalian jadi imbalannya, karena walau bagaimanapun yang bathil tak akan bisa mengalahkan yang hak, kejahatan tak akan bisa mengalahkan kebenaran. Ingat, waktumu cuma sampai malam ini “
Tertanda SULTAN HASANUDDIN
Mengelam wajah Parit Wulung membaca surat itu. Namun kemudian keluarlah suara tertawanya bergelak. Diserahkannya surat itu pada Karma Dipa, Karma Dipa meneruskan pada Djuanasuta dan Djuanasuta meneruskan lagi pada Rana Tikusila. Dan ruangan itu kemudian pecahlah oleh suara tertawa bergelak keempat manusia itu. Rangga sendiri mengerendeng dalam hatinya.
"Kau utusan Sultan yang tampangmu macam orang hutan!" kata Rana Tikusila, "aku mau tanya, Sultanmu itu andalkan apakah sampai berani membuat surat ancaman macam begini rupa ?!"
Rangga tertawa gelak-gelak. "Kau keliwat menghina sobat!" katanya. "Coba lihat ke kaca besar di dinding sana, tampangmu yang coreng moreng macam orang gila itu jauh lebih buruk dari padaku! Kurasa kalau orang tuamu bukannya macan jadi-jadian pastilah macan kesurupan!"
"Sret,” dicabutnya sebilah pedang lalu dengan cepat kirimkan satu tusukan mematikan ke arah dada Pendekar Trisula Maut. Tusukan ini adalah sebagian dari jurus paling tangguh dalam ilmu pedang Partai Api Setan dan dinamakan jurus "anak panah menembus rembulan". Selama menghadapi lawan-lawan tangguh, jarang dari mereka yang sanggup mengelakkannya. Kalaupun berhasil maka biasanya tak akan mampu untuk mengelakkan jurus susulan yang dinamakan "gendewa menyambar puncak gunung".
Tapi hari itu Rana Tikusila ketemu batunya. Tusukannya tiada tersangka hanya mengenai tempat kosong karena berhasil dikelit oleh Pendekar Trisula Maut. Dengan penasaran dan juga malu pada kolega-koleganya di ruangan itu maka,Tikusila segera susul dengan jurus "gendewa menyambar puncak gunung". Pedangnya membalik membabat ke arah pinggang lawan.
Namun nasib anak buah Partai Api Setan ini lebih buruk lagi. Dengan kecepatan yang sukar dilihat mata, Pendekar Trisula Maut berhasil memukul sambungan siku Tikusila. Pedang mental ke udara, Tikusila sendiri meraung kesakitan. Dan sesaat kemudian pedangnya sudah berada di tangan Pendekar Trisula Maut. Mata Parit Wulung dan dua orang lainnya membeliak besar. Rana Tikusila sendiri pucat pasi wajahnya, memercik keringat dingin di keningnya.
"Aku datang ke sini bukan untuk membuat keributan tapi hanya sekedar menyampaikan surat Sultan Banten. Aku minta jawaban sekarang juga apakah kalian sudi menyerah atau tidak?!"
__ADS_1
Parit Wulung merampas surat yang dipegang oleh Rana Tikusila lalu merobek-robeknya. "Ini jawaban kami!" kata Parit Wulung pula, serta melemparkan robekan surat ke muka Rangga Geblek.
Pendekar muda ini tiup robekan surat-surat itu hingga bertebaran di lantai. "Besok pagi jangan harap kalian masih bercokol di dalam istana ini”
"Saudara-saudara, tangkap manusia yang satu ini!" Parit Wulung beri perintah.
Pendekar Trisula Maut tertawa mengekeh. Pedang di tangan kanan dilemparkannya ke lampu besar yang menerangi ruangan itu. Dengan serta merta gelaplah suasana dan secepat kilat Rangga melompat ke atas loteng, lenyap di kegelapan malam.
Ketika pagi tiba maka gemparlah seluruh penduduk Kotaraja. Bagaimanakah tidak. Di halaman depan istana berjejer bergantungan di tiang langkan muka, lima belas manusia yang sudah menjadi mayat. Mata semuanya mendelik, lidah terjulur dan pada kening masing-masing terctak sebuah tanda yang tak asing lagi yaitu gambar trisula.
Kelima belas manusia yang telah menemui ajal dengan cara yang aneh ini ialah Rana Tikusila bersama dua belas anggota Partai Api Setan, Djuanasuta dan Karma Dipa, dua pentolan pemberontak dari Pajajaran.
Pada masing-masing leher kelima belas mayat itu tergantung secarik kertas yang bertuliskan:
“ Kepada kalian telah diberikan syarat keampunan untuk menyerah. Tapi kalian sengaja memilih kematian macam begini. Kalian lupa bahwa kebathilan akan selalu hancur oleh yang hak. Kepada para prajurit dan rakyat Banten yang masih setia pada Sultan, hari ini adalah hari kebebasan Banten dari cengkeraman kaum pemberontak “
Tertanda SULTAN HASANUDDIN
BERSAMBUNG......
__ADS_1