
Tak lama kemudian di ujung Barat panggung kelihatanlah seorang kakek-kakek terbungkuk-bungkuk melangkah mendekati pohon kenari besar. Semua yang hadir tidak mengambil perhatian karena menyangka kakek-kakek itu adalah seorang dari sekian tamu yang diundang oleh Dewi Kala Hijau. Lagi pula semua mata para tamu kebanyakan tertuju ke muka panggung. Kakek-kakek itu yang tak lain dari pada Kala Biru yang telah menyamar adanya, menekuk lutut dan menjejak bumi. Tubuhnya laksana terbang melesat ke atas cabang pohon kenari di mana saat itu duduk Pendekar trisula maut Rangga Geblek sambil enak-enakan makan buah kenari.
"Eh, kakek-kakek kau siapakah yang mau-mauan naik ke tempatku duduk ini ... ?!" tanya Rangga Geblek.
Kakek Biru menarik nafas dalam dan merubah suaranya sehingga persis seperti suara orang tua renta. "Rangga Geblek, aku adalah suruhan Dewi Kala Hijau. Dewi memintamu untuk datang ke tempatnya. Dia akan bicara empat mata denganmu!"
"Hem ... begitu? lngin bicara apa?" tanya Rangga pula sedang sepasang matanya memandang meneliti paras kakek-kakek tua di hadapannya.
"Mana aku tahu? Aku cuma jalankan perintah," jawab Kala Biru pula.
"Kalau Dewimu perlu aku, suruh saja dia datang ke sini!"
"Jangan bicara pongah di sarangnya Dewi Kala Hijau" desis kakek-kakek itu. "Sekalipun kau bisa mengacaukan suasana, tapi jangan harap kau bisa ke luar dari sini. Lihat, jembatan gantung telah diputuskan!"
Pendekar trisula maut terkejut dan memandang ke jurusan kanannya. Memang betul, saat itu jembatan gantung yang terbuat dari tulang belulang manusia telah diputuskan.
”Kalau jembatan sudah diputus apa kau kira aku tak bisa ke luar dari lembah hi...?!"
"Sudahlah ... aku tak mau bicara panjang lebar dengan kau, Kau mau turut aku ke tempatnya Dewi Kala Hijau atau tidak?!"
"Eh, kakek, kau mengancam aku agaknya?”
Kala Biru tertawa mengekeh. "Apakah kau tidak punya nyali untuk berhadapan dengan Dewi kami? Ah, kukira kau betul-betul seorang satria berhati jantan! Kiranya cuma budak hina dina yang pengecut berhati dodol!"
Marahlah Pendekar trisula maut. "Di ujung langit pun Dewimu itu aku akan datangi!" katanya.
"Kalau begitu mari kita buktikan!"
__ADS_1
Si kakek alias Kala Biru melayang turun. Penuh penasaran Pendekar trisula maut mengikuti. Dia dibawa ke lembah sebelah Tenggara, melalui sebuah jalan berputar dan berliku turun naik kemudian masuk ke sebuah lobang goa yang dari luar ditutupi dengan tumpukan tulang belulang manusia. Lorong di dalam goa itu ternyata diterangi dengan lampu-lampu kuno berbentuk lampu Aladin.
Kira-kira dua menit kemudian, dihadapan sebuah pintu batu si kakek menghentikan langkahnya, lalu berpaling pada Rangga Geblek, dan berkata: "Tunggu aku sampai di lorong sebelah sana lalu ketuk pintu batu ini ...."
"Orang tua, jika ini adalah perangkap jangan harap matimu secara baik-baik! Paling tidak tangan dan kakimu akan kutanggalkan satu demi satu!"
Si Kakek alias Kala Biru tertawa mengekeh dan berlalu dari hadapan Pendekar trisula maut. Rangga sendiri merasa tidak enak saat itu dan dia yakin bahwa dirinya berada dalam satu perangkap. Namun untuk kembali mungkin akan lebih besar lagi bahayanya apalagi mengingat kata pengecut yang diberikan si kakek tadi sangat membakar hatinya.
Maka ketika si kakek dilihatnya sudah sampai di lorong ujung sana, segeralah diketuknya pintu batu di hadapannya. Pintu batu yang berat itu demikian diketuk membuka ke samping dengan sendirinya. Ternyata pintu batu itu tebalnya dua tombak lebih. Ketika Rangga memandang ke pintu yang terbuka itu, di belakang pintu kelihatanlah sebuah kamar yang sangat bagus. Belum pernah Pendekar kita melihat kamar yang demikian. Di samping kiri terdapat sebuah tempat tidur berseprai hijau berbunga-bunga merah, kuning, putih, biru dan coklat. Di dinding di samping tempat tidur ini tergantung sebuah lukisan besar yang indah. Di sebelah kanan terdapat seperangkat meja dan kursi sedang keseluruhan lantai tertutup dengan permadani tebal dan bagus.
Tapi apa yang menarik perhatian Pendekar trisula maut saat itu bukan semua keindahan tadi, melainkan pada sesosok tubuh perempuan yang duduk di atas kursi di tengah ruangan. Perempuan ini mengenakan sehelai baju panjang hijau yang terbuat dari kain sutera yang sangat tipis. Kaki kanannya dipangkukan di atas kaki kiri sehingga baju panjangnya itu tersibak lebar memperlihatkan pahanya yang putih padat serta mulus. Di balik baju sutera tipisnya itu hampir jelas kelihatan kedua buah dadanya yang besar. Namun semua keindahan badan yang laksana telanjang itu tiada artinya bila dilihat paras perempuan itu yang tertutup topeng tipis muka tengkorak.
"Silahkan masuk Rangga ...." Dewi Kala Hijau berkata sambil melambaikan tangannya.
"Jika kau mau bicara biar aku berdiri di sini saja," jawab Pendekar trisula maut pula.
"Sekalipun kau memang bermaksud menjebakku, aku tidak gentar! Nyawaku berarti juga nyawamu Dewi Kala Hijau!"
"Hem ... itu satu kata-kata yang bagus. Mari, masuklah Rangga. Aku ingin bicara denganmu."
Maka Pendekar trisula maut pun masuklah. Begitu dia masuk ke dalam kamar itu maka pintu di belakangnya bergeser cepat dan tertutup kembali. Dewi Kala Hijau tertawa. "Silahkan duduk" katanya.
Rangga tetap berdiri di tempatnya. Dan Dewi Kala Hiiau tertawa lagi lalu bertanya: "Menurutmu kamar ini bagus atau tidak?"
“Bagus sekali dan indah," jawab Rangga. "Cuma sayang ...."
"Sayang apa?"
__ADS_1
"Sayang dihuni oleh perempuan bermuka buruk!"
Dewi Kala Hijau tertawa gelak-gelak. ”Parasku tidak seburuk yang kau kira, Rangga!" katanya.
Dan habis berkata begini dengan tangan kirinya dibukanya topeng tengkorak yang menutupi mukanya. Ternyata Dewi Kala Hijau berparas cantik sekali. Hidungnya kecil mancung, bibirnya laksana delima merekah, bola matanya bening dan bersinar seperti bintang timur, di dagunya sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat kecil. Pendekar trisula maut garuk kepalanya.
"Apakah parasku buruk?" bertanya Dewi Kala Hijau.
"Tidak." jawab Rangga cepat. "Tapi buat apa paras secantik itu kalau hatimu lebih jahat dari hati iblis?!"
Dewi Kala Hijau tertawa lagi gelak-gelak. "Rangga, saat ini kita cuma punya sedikit waktu untuk bicara. Sebentar lagi aku akan ke luar untuk meresmikan berdirinya Partai Lembah Tengkorak! Kuharap kau suka bergabung dengan kami...."
Rangga Geblek menyeringai. "Kau masih saja mimpi tentang Partaimu! Juga apa kau lupa bahwa sekali aku menolak tawaranmu sampai kapan pun tetap kutolak!"
Dewi Kala Hijau berdiri dari kursinya dan melangkah ke hadapan Pendekar trisula maut. Betapa jelasnya kelihatan potongan tubuhnya yang indah itu. Pendekar kita merasa nafasnya seperti berhenti.
"Pendekar gagah, agaknya kaulah yang mimpi. Apakah kau buta pada kenyataan akan adanya panggung di luar sana? Apakah kau tidak melihat para tamu yang datang ke tempat ini untuk menyaksikan resmi berdirinya Partai Lembah Tengkorak?"
"Baik kalau kau bilang aku yang mimpi. Tapi walau bagaimanapun aku tak akan masuk ke dalam Partaimu. Bahkan kedatanganku ke sini justru untuk menghancurkannya!"
Dewi Kala Hijau melangkah dan berdiri dekat dekat di hadapan Pendekar trisula maut. Nafasnya dan bau badannya yang harum menyapu-nyapu muka dan menusuk hidung Pendekar trisula maut.
Tiba-tiba perempuan itu merangkulkan kedua tangannya ke leher si pemuda dan berbisik lirih: "Rangga ... turutlah permintaanku. Mari kita pimpin bersama-sama Partai Lembah Tengkorak. Kau boleh tinggal di sini dan aku akan mematuhi apa saja yang yang kau inginkan ...."
Dada Pendekar trisula maut menggemuruh. Darahnya mengalir cepat-cepat. Lebih-lebih ketika perempuan itu meletakkan kepalanya di dadanya dan memeluknya ketat-ketat.
BERSAMBUNG....
__ADS_1