PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
AJI LENGAN TANGAN BAJA


__ADS_3

”Orang tua edan!” makinya.


”Punya sedikit ilmu saja sudah mau kasih pamer!”


Dia membungkuk dan meraup pasir. Raupan pasir itu dilemparkannya ke arah si orang tua. Meski hanya pasir namun karena diisi dengan tenaga dalam maka pasir itu melesat hebat dan dapat melukakan kulit membutakan mata!


Si orang tua tiba-tiba berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ditepuk-tepuknya pakaian hitamnya seperti seseorang yang sedang membersihkan debu dari pakaiannya. Tapi


gerakannya ini sekaligus membuat berhamburannya pasir-pasir halus yang menyerang ke arahnya!


”Kurang ajar betul!” damprat Saksoko karena merasa semakin ditantang dan dipermainkan. Dia menerjang ke muka. Dalam jarak beberapa tombak dilepaskannya pukulan tangan kosong.


Orang tua itu memutar badannya yang bungkuk ke samping.


”Apa-apaan ini?!” tanyanya dengan suaranya yang halus melengking,


”ada apa kau serang aku?!”


Namun gerakannya tadi sekaligus telah melewatkan angin pukulan Saksoko hanya beberapa jengkal saja di depan hidungnya.


Saksoko kertak rahang.


”Orang tua gelo! Siapa kau sebetulnya?!”


Orang tua itu menyeringai menunjukkan gusinya yang tidak bergigi barang sepotongpun.


”Aku sudah tua, tak usah bicara memaki!,” katanya dan didorongkannya telapak tangan kanannya ke depan. Setiup angin dahsyat melanda tubuh Saksoko. Kalau tidak cepatcepat menghindar pastilah si gemuk pendek ini akan mendapat celaka. Begitu melompat ke samping segera dia kirimkan satu jotosan kepada orang tua itu.


Pada saat inilah dari pintu rumah terdengar seruan keras:


”Ada apa di sini?! Tahan!!”


Saksoko tarik pulang tangannya dan berpaling. Seorang laki-laki muda berparas gagah dilihatnya keluar dari rumah dan berdiri di tangga langkan. Kemudian dilihatnya Kalingundil


memberi isyarat agar datang mendekatinya. Meski hatinya masih diselimuti amarah terhadap si orang tua tapi melihat isyarat kawannya itu segera dia datang juga. Keduanya melangkah ke


hadapan langkan rumah.


”Kau Ranamaya?” tanya Kalingundil membentak.


Selama menjadi Kepala Kampung di Jatiwalu, baru ini harilah Ranamaya dibentak orang demikian rupa dan oleh orang asing pula! Dari tampang-tampang serta sikap kedua tamunya itu Ranamaya segera maklum bahwa mereka tentu datang bukan membawa maksud baik. Namun demikian, dengan suara ramah dia menjawab:


”Betul, Saudara, aku memang Ranamaya,”


lalu tanyanya kemudian, ”Saudarasaudara datang dari mana dan ada keperluan apakah?”


Kalingundil cabut gulungan surat dari balik pakaiannya.


”Ini! Silahkan dibaca!” katanya.


Gulungan surat itu dilemparkannya ke hadapan Ranamaya. Karena lemparan itu disertai dengan aliran tenaga dalam maka surat tersebut melesat berdesing dan ujung kayu di mana surat itu disepit menancap pada tiang langkan!


Ranamaya kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang menancap dari tiang langkan lalu dibacanya. Kalingundil dan Saksoko memperhatikannya dengan bertolak pinggang.


*Ranamaya kepar*t*!


Aku kasih tempo satu hari untukmu agar angkat kaki


dari Jatiwalu ini! Bawa anakmu tapi tinggalkan istrimu! Ini adalah perintah! Kalau kau tidak patuhi, jangan harap kau bisa melihat matahari tenggelam esok hari! Ini adalah perintah!

__ADS_1


Mahesa Jenar


Bergetar tubuh Ranamaya. Dadanya panas dikobari luapan hawa amarah. Dia tak pernah kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Jenar itu, bahkan juga tak pernah dengar nama atau riwayat manusia itu sebelumnya.


Matanya memandang melotot pada kedua tamunya. ”Mahesa Jenar ini siapa?” tanya Ranamaya.


Kalingundil meludah dahulu ke tanah sebelum menjawab. ”Laki-laki yang kau rampas kekasihnya dan yang kini menjadi istrimu!”


Kaget Ranamaya bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara Saksoko sudah mendahului.


”Mahesa Jenar inginkan jawabanmu hari ini juga Ranamaya!”


Kalingundil menyambungi,


”Dan sebaiknya..... apa yang tertulis di surat itu kau ikuti


saja.”


”Kalau tidak?,” tanya Ranamaya menindih rasa geramnya.


Kalingundil tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat kehitaman.


Ranamaya tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatahpatahkannya kayu penyepit surat lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat mengenai mulut yang sedang tertawa mengekeh itu!


”Bangs*t rendah!” hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. ”Kau berani berlaku kurang ajar terhadapku, huh?!”


”Tak usah jual lagak di sini, setan!” balas menghardik Ranamaya.


”Kalian budakbudak sinting kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa Jenar agar lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak waras!”


”Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!” semprot Saksoko.


menantangnya tadi. Sekali dia ayunkan langkah maka satu tendangan yang didahului oleh angin hebat melanda ke bawah perut Ranamaya.


Melihat musuh yang inginkan jiwanya ini Ranamaya menggeram dan kertakkan rahang. Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan.


Saksoko bukan manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas lututnya ditekuk dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke samping.


Sebelum dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang saat itu masih belum menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang.


”Ah, Raden Ranamaya, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk kesasar ini?! Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun terhadapnya!”


Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu.


Mendengar dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko.


Dia membalik dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot Karsa. Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu juga!


Tapi Jarot Karsa ganda tertawa.


Sekali dia gerakkan tangan kanannya yang kurus maka setiup angin dahsyat memapaki serangan si gemuk pendek Saksoko. Angin pukulan Saksoko menyungsang balik menyerang


Saksoko sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang tua maka kedahsyatannya bukan olah-olah!


Tubuh Saksoko mencelat keluar langkan rumah sampai tiga tombak dan menggelinding di tanah. Dicobanya bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi setelah terlebih dahulu dari mulut Saksoko menyembur darah kental dan segar!


Kaget Kalingundil bukan kepalang. Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini menerjang ke depan. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras menggeledek membuat langkan


rumah dan tanah menjadi bergetar!

__ADS_1


Jarot Karsa merunduk cepat. Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh Kalingundil. Serangkum angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua.


Pasir menderu beterbangan, debu menggebu.


Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan tangan kanannya ke muka. Maka dua angin pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh Jarot Karsa kelihatan bergoyang gontai sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat bangun lagi.


Keringat dingin memercik di kening anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya menciut kecil. Tak nyana si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama sekali kalau tenaga dalamnya ada di bawah angin berhadapan dengan tenaga dalam Jarot Karsa!


Tapi laki-laki ini, yang menjadi buta matanya dan tumpul pikirannya karena amarah dan kebencian yang meluap, tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua bukan


tandingannya.


Kedua tangannya dipentang ke muka. Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa dan juga Ranamaya memperhatikan gerak gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan kini bagaimana sepasang lengan Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna kehitaman.


”Ha.....ha....,” terdengar kekehan si tua Jarot Karsa, ”Kau hendak pamerkan ilmu lengan tangan baja?!”


Kalingundil terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui ilmu simpanan yang paling diandalkannya. Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia pentang mulut.


”Bagus, penglihatanmu masih tajam juga, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu pukulan lengan tangan baja ini?!”


”Kau tak perlu banyak bacot, Kalingundil, majulah!” tantang Jarot Karsa.


Kalingundil menggeram. Kebetulan saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah. Sekali ayunkan tangan kanannya maka: brak!! Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai paha manusia patah. Atap rumah menurun miring!


Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia jerih


menghadapi ilmu pukulan macam begitu saja!


”Ayo monyet kesasar, majulah!” katanya dengan terbungkuk-bungkuk.


Kedua telapakan kaki Kalingundil menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka, sedikit miring.


Kaki kiri dan kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh aji ’lengan tangan baja.’


Angin yang ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini dahsyatnya bukan alang kepalang, tajam dan memerihkan mata.


Lengan kiri membabat ke pinggang Jarot Karsa, kalau kena pastilah pinggang orang tua itu akan terkutung dua. Lengan kanan menghantam dari atas ke bawah mengincar batok kepala Jarot Karsa. Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejapan mata lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan.


Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah melengking menegakkan bulu roma!


Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak,


lidahnya menjulur keluar seperti orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya,


tubuh itu pun tak bergerak-gerak lagi! Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang terdahulu.


Ranamaya menghela nafas dalam. Dipandanginya kedua manusia yang melingkar di tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. ”Bapak Jarot Karasa, kau kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu?”


Jarot Karsa menggeleng.


”Siapa dia tak penting Raden. Yang penting ialah mulai saat ini kita musti waspada karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan dengan kita!”


Ranamaya mengangguk.


”Aku tak ingin melihat kdua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka, pak Jarot.”


Si orang tua tertawa mengekeh.


”Tak usah khawatir...... tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan hidungmu, Raden.”

__ADS_1


Dua kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh Kalingundil dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar pagar halaman.


__ADS_2