PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
CINCANG PEMUDA SEDENG INI!!


__ADS_3

"Bangsat rendah!" memaki manusia bermuka angker itu.


Secepat kilat dia melompat dari tempat tidur dan menyambar jubah merahnya. Dia tak sempat mengenakan kerudungnya karena pada saat itu Pendekar Trisula Maut sudah menyerang dengan ganas. Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma sambuti serangan lawan dengan jurus "menendang langit menjungkir awan". Begitu hebatnya jurus ini sehingga Pendekar Trisula Maut terpaksa tahan kegeramannya untuk melanjutkan serangan. Dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma untuk lari ke luar kamar. 


"Jalan lari satu-satunya bagimu hanyalah ke neraka manusia durjana!” bentak Pendekar Trisula Maut lalu memburu dengan sebat. 


Wakil Ketua itu melarikan diri ke sebuah ruangan besar yang di setiap dindingnya terdapat lima buah pintu. Begitu injakkan kaki di ruangan ini dia segera berteriak. "Anggota anggota Perkumpulan! Gedung ini kebobolan bahaya! Lekas ke luar!" 


Serentak dengan itu maka dua puluh pintu di empat dinding ruangan terbuka lebar dan melompatlah dua puluh anggota Perkumpulan. Kesemuanya berjubah dan berkerudung merah dan mencekal sebilah pedang merah. Wakil Ketua Perkumpulan sendiri cabut sebuah ruyung emas dari balik jubahnya.


"Cincang pemuda sedeng ini!” Wakil Ketua beri komando. 


Kata-katanya ini ditutup dengan sambarkan ruyung emasnya ke arah Pendekar Trisula Maut. Masih dalam jarak beberapa tombak, maka angin pukulan ruyung telah menyambar dengan dahsyat ke arah Pendekar Trisula Maut. Hampir bersamaan pula dengan itu, maka dua puluh anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma menyerbu pula. Dua Puluh batang pedang merah berkiblat. Hanya sekejapan mata saja maka terbungkus lah Pendekar Trisula Maut dalam hujan pedang dan sambaran ruyung.


Murid Eyang Ratih Parwati ini menggerung dahsyat. Dengan cepat dia jatuhkan diri ke lantai. Begitu jatuh di lantai dua tangannya dihantamkan membentuk dua lingkaran. Dua lingkaran sinar putih panas yang menyilaukan mata menggelombang. Dimana-mana terdengar pekikan kematian. Lebih dari separoh anak buah komplotan Iblis Pencabut Sukma terkapar di lantai ruangan dengan tubuh hangus tersambar ilmu pukulan "bintang perak" Pendekar Trisula Maut. 


Melihat ini mereka yang masih hidup menjadi lumer nyalinya dan mulai pikir pikir untuk undurkan diri. Namun tentu saja mereka juga takut pada pimpinan, terlebih lagi ketika Wakil Ketua mereka membentak. "Ayo! Kalian tak perlu takut! Mari gempur lagi dengan jurus menebas gunung menusuk bukit mendobrak bendungan!” 


Selama beberapa tahun belakangan ini boleh dikatakan jarang sekali Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma mengeluarkan jurus "menebas gunung menusuk bukit mendobrak bendungan" itu. Kecuali dalam menghadapi lawan yang benar-benar luar biasa tinggi ilmu silat dan kesaktiannya. Dan hari itu bila mereka mengeluarkan jurus yang dahsyat itu, nyatalah bahwa lawan yang mereka hadapi benar-benar hebat. Dan memang begitu kenyataannya. 

__ADS_1


Pendekar Trisula Maut sendiri begitu dengar nama jurus ini, tak ayal lagi segera cabut Trisula Maut Naga Langit. Selama ini dia cuma pernah dengar dan mengetahui nama jurus yang terdiri dari empat untaian kata-kata. Kini lawan menyerangnya dengan jurus enam untaian kata kata. Pastilah ini suatu jurus yang luar biasa. 


Maka begitu lawan menyerbu, Pendekar Trisula Maut sudah putar Trisula Maut Naga Langit nya. Lolong kematian pun bergemalah untuk kedua kalinya di ruangan itu. Enam anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma menggeletak mandi darah. Dua orang yang masih hidup, ditambah dengan Wakil Ketua Perkumpulan yang saat itu masih memegangi ruyung emasnya, tapi yang sudah kuntung karena diterabas Trisula Pendekar Trisula Maut, saling berikan isyarat. 


Dua anggota yang masih hidup ini melompati Rangga dan kirimkan empat serangan berantai sekaligus. Wakil Ketua mereka sendiri melompat ke sebuah pintu dan menekan satu tombol rahasia. Pada detik Pendekar Trisula Maut menerabas tubuh kedua lawannya dengan Trisula Maut, maka pada detik itu pula tiba-tiba lantai yang dipijaknya terbuka ke samping. Tak ampun lagi tubuhnya pun melayang jatuh ke dalam sebuah ruangan sedalam dua puluh tombak, sedang lantai ruangan yang tadi membuka kini secara aneh tertutup oleh jalur-jalur besi sebesar lengan. 


"Ha... ha... ha...!" Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma tertawa bekakakan. "Sekalipun kau punya sepuluh kepala dua puluh tangan dan kaki jangan harap kau bisa keluar dari perangkap ini Pendekar Trisula Maut!"


"Manusia sialan!", maki Pendekar Trisula Maut sangat geram dan penasaran. 


Dihantamkannya tangan kanannya ke atas. Sinar putih berkiblat. Lantai ruangan di atasnya hancur runtuh tapi jalur-jalur besi yang menutup lobang perangkap sedikitpun tidak berobah. Wakil Ketua Perkumpulan sendiri saat itu dengan cepat sudah menghindar ke samping kemudian dari balik jubahnya dia keluarkan sebuah lonceng kecil. Begitu lonceng dibunyikan, maka muncullah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma diiringi oleh dua orang anggota kelas satu yang berkepandaian sangat tinggi. 


"Sesudah seluruh anggota mampus begini rupa baru kau bunyikan lonceng memanggil aku? Bagus betul perbuatanmu!" 


Gemetarlah lutut Wakil Ketua mendengar bentakan atasannya itu. "Tapi Ketua, manusia itu sakti luar biasa. Namun demikian aku telah berhasil meringkusnya! Lihatlah ke bawah sana!" 


"Keberhasilanmu tetap tidak dapat menghindari hukuman yang bakal kau terima kelak!" desis Ketua Perkumpulan. 


Dia melangkah ke tepi perangkap. Namun secepat kilat bersurut mundur karena dari dasar perangkap menggebubu segumpal angin dahsyat. Atap gedung batu pualam yang tadi telah hancur dilanda pukulan sinar matahari kini kembali berpelantingan. 

__ADS_1


"Kurang ajar!” bentak Ketua Perkumpulan. Tangan kanannya dipukulkan ke dasar perangkap. Dan menderulah lima lusin jarum merah. 


Tapi lagi-lagi Ketua Perkumpulan ini dikejutkan ketika angin sedahsyat badai membuat jarum-jarum beracunnya itu menderu kembali ke atas. Jika tidak lekas pula dia menghindar dari tepi perangkap pastilah senjata makan tuan. 


"Budak hina dina! Kau boleh keluarkan seribu ilmu tapi jangan harap kau bakal keluar hidup-hidup dari dalam perangkap ini!" 


Habis berkata begitu dengan ibu jari kaki kanannya, Ketua Perkumpulan IbIis Pencabut Sukma menginjak sebuah tombol di salah satu sudut perangkap sebelah atas. Di dasar perangkap, secara aneh dinding terangkat kira-kira sejengkal, dan laksana air bah dari keempat celah dinding itu berserabutanlah ratusan binatang berbisa seperti ular, kelabang, lipan dan kalajengking. Semuanya menyerbu menyerang Pendekar Trisula Maut. 


Murid Eyang Ratih Parwati melompat dua tombak. Begitu tubuhnya mengapung di udara tangan kirinya segera mengambil batu api naga langit dari balik pinggang. Sekali batu api dan Trisula Naga langit diadu, maka lidah api pun menderulah ke lantai perangkap. Seluruh binatang berbisa itu tak satupun yang hidup. Semuanya terbakar musnah dengan mengeluarkan bau yang tak nyaman dan memegapkan jalan nafas. 


Pendekar Trisula Maut tidak menunggu lebih lama. Jika di luar dengan ilmu mengentengi tubuh dia bisa melompat sampai tiga puluhan tombak lebih, mengapa di dalam perangkap yang cuma sedalam dua puluh tombak itu dia tak bisa? 


Cuma yang dikhawatirkannya ialah jika dia tak dapat menerobos atau menghancurkan jalur-jalur besi di atas perangkap itu dengan Trisula Maut Naga Langit-nya. 


Di atas sana tiba-tiba dilihatnya Ketua dan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma kembali mendekati tepi perangkap. Pendekar Trisula Maut segera hantamkan tangan ke atas mengirim pukulan Bintang Perak dan serentak dengan itu dia melompat ke udara. Trisula Naga Langit diputar dengan sebat. 


"Trang... trang... trang...!"


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2