PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
MANUSIA GEBLEK!!


__ADS_3

Dengan sangat penasaran, Pendekar Trisula Maut putar tubuh. 


"Kalau kau tidak bertindak gegabah pasti pencuri keparat itu sudah kena diringkus!". 


Memang meski hatinya bimbang tapi Wirja Pranata sendiri juga meragu terhadap diri Rangga Geblek. "Kau siapa?!", tanyanya. 


"Sudah, saat ini bukan tempatnya untuk bertanya jawab!". 


Pendekar Trisula Maut segera berkelebat ke arah larinya si muka setan yang diduganya adalah seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Namun di belakangnya terdengar suara berseru. “Tunggu! Berhenti dulu!". 


Karena tahu yang berseru adalah Wirja Pranata maka Rangga tidak ambil peduli melainkan lari terus. Namun sesaat kemudian berdesing sejumlah senjata rahasia menyerang ke arahnya. Dengan beringas Pendekar Trisula Maut putar tubuh dan kebutkan tangan. Senjata-senjata rahasia itu berpelantingan. Dan pada ketika itu pula Wirja Pranata sudah berdiri di hadapannya. 


"Jika kau orang baik-baik mengapa tidak berani sebutkan nama terangkan diri ?! Pastilah kau bangsanya kaki tangan golongan hitam!". 


Rangga Geblek jadi betul-betul penasaran kini. "Manusia tidak tahu diri! Tidak tahu membedakan mana yang putih dan mana yang hitam! Tidak tahu dirinya tengah ditolong, malah mencap orang seenaknya! Kalau bukan mengingat bahwa kau calon mertuanya Sultan, aku sudah tampar kau punya mulut! Sekarang pergilah!". 


Rangga gerakkan kedua tangannya. Dan tahu-tahu terdorong lah tubuh Wirja Pranata ke belakang sampai empat tombak. Wirja Pranata rupanya menjadi kalap. Melihat pemuda rambut gondrong itu hendak angkat kaki kembali, maka segera dia hunus keris dan dengan cepat kirimkan lima tusukan sekaligus. 


"Manusia geblek”, maki Pendekar Trisula Maut dalam hati sambil hindarkan diri dengan cepat. 


Di lain saat maka tiba-tiba muncullah satu bayangan manusia. "Tahan!" 


Kedua orang yang bertempur, yang sama-sama mengenali suara pendatang baru itu segera hentikan pertempuran. Pendekar Trisula Maut putar kepala pada si pendatang lalu berkata. "Sultan, semangat calon mertuamu memang hebat. Nyalinya besar tapi sayang pikirannya keliwat pendek". 


Merahlah paras Wirja Pranata tapi dia juga heran mengetahui bahwa si rambut gondrong mengenali Sultan Hasanuddin. Sultan kemudian memperkenalkan kedua orang itu. Barulah saat itu Rangga menjura hormat. 


Dengan batuk-batuk Wirja Pranata bertanya pada Sultan. "Bagaimana dengan Anjarsari, apakah berhasil ditemui?" 


Sultan menundukkan paras kecewa lalu gelengkan kepala dengan perlahan. 


“Terkutuk! Terkutuk!”, maki Wirja Pranata dalam hati. Kedua tangannya terkepal membentuk tinju. Tentu saja laki-laki ini sangat mengkhawatirkan keselamatan diri anak gadisnya itu. 

__ADS_1


Dalam pada itu Pendekar Trisula Maut mengetengahi. "Bapak Wirja, kau kembalilah ke Ujung Kulon. Kami berdua segera akan mengejar bangsat pencuri itu” 


''Aku turut bersama kalian!" kata Wirja Pranata dengan hati keras. 


"Bapak”, ujar Sultan. "saya tahu bagaimana perasaan dan kecemasan hati Bapak terhadap keselamatan Anjarsari. Saya Pun lebih kawatir lagi. Tapi percayalah, bersama sahabat ini, saya pasti akan dapat mencari Anjarsari dan menemukan keris Tumbal Wilayuda serta membekuk bangsat-bangsat pencuri itu". 


"Kalau kau berkata begitu, baiklah". Wirja Pranata akhirnya mengalah. 


Maka sesudah itu, Rangga Geblek dan Sultan Hasanuddin Pun berlalu dengan cepat. Ketika hari pagi, kedua orang itu masih juga belum berhasil menemui jejak pencuri yang mereka cari. Dengan perasaan lesu mereka sampai ke sebuah kota bernama Parangwilis. Seperti Asoka, maka Parangwilis adalah juga sebuah kota dagang yang besar. 


Bau makanan yang harum menghambur keluar dari sebuah warung nasi. Kedua orang ini pun masuklah ke dalam warung tersebut. Karena rambutnya yang gondrong dan potongan tubuh yang kekar dari Rangga Geblek, serta tampang yang gagah dari Sultan Hasanuddin, maka kedua orang ini tentu saja menarik perhatian isi warung. 


Tapi tanpa acuh Rangga dan Sultan terus saja menyantap makanan mereka. Mendadak suasana dalam warung nasi itu menjadi sunyi hening laksana dipekuburan. Rangga Geblek dan Sultan segera merasakan perubahan ini. Sultan putar kepala memandang berkeliling sedang Rangga Geblek putar bola matanya memandang cepat ke beberapa jurus. 


Dari pintu muka warung, masuk seorang berpakaian kotor compang camping dan bertambal-tambal. Dari pintu belakang dua orang lagi, kemudian dari jendela di samping kiri kanan masing-masing dua orang lainnya. Muka-muka mereka rata-rata menunjukkan kebengisan, rambut kusut masai, kumis serta janggut kasar meranggas. 


Beberapa orang tamu yang sedang makan dalam warung, melihat gelagat yang tidak baik ini segera jauhkan diri ke pojok. Sultan dan Pendekar Trisula Maut, karena merasa tidak ada sangkut paut apa-apa dengan kesepuluh manusia itu, tanpa ambil peduli terus menyantap hidangan mereka. 


"Berhari-hari dicari baru kini kutemui”, kata laki-laki yang tadi melabrak meja dengan pukulannya yang hebat. 


"Kalian siapa?”, tanya Sultan sambil bersiap sedia menjaga segala kemungkinan. 


Di belakang di dengarnya Rangga Geblek mulai bersiul-siul seenaknya. Orang tadi mengekeh. Gigi-giginya hitam dan di sudut bibirnya terselip segumpal susur tembakau. 


"Kami adalah anggota-anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam”, jawab orang itu. 


Terkejutlah Sultan. "Kami berdua tidak merasa punya silang sengketa dengan kalian, mengapa datang mengganggu?" 


Anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu mengekeh lagi. "Jangan jual bacot mengatakan tiada silang-sengketa. Salah seorang dari kalian telah membunuh pemimpin kami Pengemis Bibir Sumbing" 


"Oh, jadi kalian anak-anak buahnya manusia jahat itu? Setiap manusia jahat akan menemui ajalnya secara buruk. Kalian pergilah semua!" 

__ADS_1


Anggota Pengemis Darah Hitam semburkan susurnya ke muka Sultan. Meski cuma susur tapi bahayanya besar sekali karena mengandung tenaga dalam. Dengan cepat Sultan hantamkan tangan kanannya ke depan, maka mentallah susur itu. Sebagian dari air susur menjiprat ke muka beberapa orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam, termasuk laki-laki yang telah menyemburkan susur itu tadi. 


Maka marahlah dia. Dan segera membentak. "Tangkap Sultan hidup-hidup! Yang gondrong itu cincang sampai *****!" 


Sembilan pengemis yang diberi komando segera menyerbu ke muka. Tubuh Sultan dan Rangga Geblek lenyap. Hanya suara tertawa Pendekar Trisula Maut ini saja yang terdengar. Dan sesaat kemudian terdengarlah suara . "bluk . . . . bluk .... bluk ... bluk . . .” 


Empat anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam mencelat dan menggeletak di tanah tanpa nyawa. Sekali lagi Pendekar Trisula Maut berkelebat dan dua lawan lagi mental ke luar kedai. Melihat ini, pengemis yang tadi berikan komando segera keluarkan senjatanya berupa sebuah cambuk yang berwarna hitam. Melihat ini, maka tiga anggota lainnya yang masih hidup segera pula keluarkan cambuk masing-masing. Dan sesaat kemudian maka laksana hujan, menggeletarlah cambuk-cambuk itu ke arah Rangga Geblek dan Sultan. 


Suasana tiada ubah seperti halilintar. Kedai itu seakan-akan hendak hancur Iuluh tenggelam oleh suara cambuk. Dan di saat itu tak ada satu tamu lainpun yang masih berani berada di dalam warung, sedang pemilik warung sendiri sudah kabur entah ke mana. 


Sultan melompat ke samping kiri untuk hindarkan cambuk salah seorang lawan. Begitu terhindar, segera dia kirimkan serangan balasan, namun dua cambuk lainnya tahu-tahu sudah melibat kedua tangannya. Bagaimanapun dicoba oleh Sultan untuk lepaskan diri namun sia-sia saja. 


Di lain pihak, Pendekar Trisula Maut coba keluarkan diri dari hantaman-hantaman cambuk dua orang lawannya yang datang laksana hujan. Tapi memang permainan cambuk empat anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ini hebat sekali. Sementara Sultan di sebelah sana sudah kena diringkus dan di seret ke pintu muka. Pendekar Trisula Maut dibikin sibuk dan kepepet ke bagian belakang warung. 


Geram sekali, Rangga Geblek lompat tiga tombak ke atas lalu menukik ke bawah, seraya membagi serangan tangan kiri kanan kepada dua orang lawannya. Angin pukulan Pendekar Trisula Maut membuat kedua orang itu hanya terdorong seketika, karena kebutan cambuknya yang begitu dahsyat sanggup membendung hampir sebagian besar angin pukulan Rangga. 


Dengan penasaran, Pendekar Trisula Maut begitu sampai ke tanah kembali segera menyambar sebuah bangku panjang. Dengan bangku panjang sebagai senjatanya, maka mengamuklah Pendekar Trisula Maut. Cambuk hitam anggota Pengemis Darah Hitam betul-betul luar biasa. Senjata keduanya mendera bangku hitam beberapa kali. Dan hancurlah bangku hitam itu. 


Rangga Geblek menggerung. Kedua tangannya bergetar dan dinaikkan tinggi-tinggi ke atas. 


"Wut! Wutt....” 


Warung nasi itu berderak derik. Kedua lawan coba putar dan pecutkan cambuk mereka lebih deras lagi, namun angin yang menyambar dari lengan Pendekar Trisula Maut tak sanggup lagi mereka tahan. Laksana topan, kedua orang itu bermentalan kian ke mari. Cambuk mereka terlepas dan tiba-tiba. "krraakkk !" 


Warung nasi itupun robohlah. Sesaat kemudian bangunan ini ambruk, maka Pendekar Trisula Maut sudah melabrak dinding dan lolos ke luar. Dua orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam yang tadi sudah konyol tersambar pukulan "angin puyuh" Pendekar Trisula Maut, tertimbun mentah-mentah. 


Di luar warung yang rubuh, Pendekar Trisula Maut bingung sendiri karena melihat Sultan bersama dua orang anggota Pengemis Darah Hitam sudah lenyap. Dia segera minta beberapa keterangan pada orang-orang di luar kemana lenyapnya ketiga orang itu. 


"Kawanmu kena diringkus dan dilarikan ke jurusan sana”, kata seseorang sambil menunjuk ke ujung jalan. Maka tanpa membuang waktu Rangga Geblek segera mengejar ke arah yang ditunjukkan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2