PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
BARISAN TELAGA MAUT


__ADS_3

"Aku lawanmu, gadis muka setan hati iblis!" bentak Indrajaya. 


Bola mata Kala Biru berputar dan berkilat melihat kegagahan paras pemuda yang berdiri di hadapannya. Diam-diam hatinya tertarik. Kala Merah yaitu gadis muka tengkorak yang berpakaian merah, mengetahui hal ini dan cepat membentak. "Kala Biru, lekas laksanakan apa yang aku bilang! Pemuda itu harus mampus dalam satu jurus!" 


Dalam malang melintang di dunia persilatan guna mencapai rencana yang ditugaskan gurunya yaitu hendak mendirikan Partai Lembah Tengkorak maka Kala Merah yang memang lebih tinggi setingkat ilmunya dari tiga kawan-kawannya yang lain, bertindak sebagai pimpinan. Kala Biru mengeluh dalam hati. Hatinya iba juga melihat pemuda segagah lndrajaya harus menemui kematian di tangannya. Tapi bila dia ingat bentakan Kala Merah serta ingat pesan orang yang tidak sudi memasuki Partainya atau coba membangkang, maka rasa iba itu dengan serta merta menjadi lenyap. 


Dengan memekik keras Kala Biru menyerang Indrajaya. Si pemuda kiblatkan pedangnya menyambuti serangan itu. Tapi Kala Biru bukanlah tandingan Indrajaya. Sebelumnya sudah disaksikan oleh semua mata bagaimana Kala Merah yang ilmunya satu tingkat saja lebih tinggi berhasil merubuhkan Si Cawat Gila serta Brahmana Wingajara dalam satu jurus, maka dapatlah diramalkan bahwa lndrajaya betul-betul akan menemui ajalnya dalam satu jurus pula. 


Demikianlah, meski dalam setengah jurus pertama itu Indrajaya dapat mengurung serta menekan lawan dengan permainan pedangnya yang cepat dan sebat, namun ketika Kala Biru mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas dan memukulkannya ke depan, ketika kala-kala hijau menghambur ke arah kepala pemuda itu, maka lndrajaya menjadi gugup. Dalam kegugupannya ini dicobanya merambas tiga ekor kalajengking yang menyerangnya dengan tebasan pedang, namun terlambat sudah. Dua ekor kala hijau menancap di keningnya. Yang ketiga di pipi kiri. lndrajaya meraung keras. Tubuhnya rebah ke lantai papan. Sebelum meregang nyawanya, pemuda ini masih sanggup melemparkan pedang ke arah Kala Biru, tapi dengan satu lambaian tangan kiri saja maka pedang itupun mental. 


Dendam kesumat yang bergejolak serta amarah murka yang membakar hati akibat kematian puteranya Jayengrana belum lagi putus, kini puteranya yang tertua menemui ajalnya pula dengan cara yang mengenaskan begitu rupa maka kalaplah Dewa Pedang. 


"Sreeet!" 


Ketua Partai Telaga Wangi itu mencabut pedangnya. Sinar putih pedang bertabur menyilaukan mata. "Jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup, Kala Biru!" bentak Dewa Pedang. 

__ADS_1


Di belakang Dewa Pedang, Suwita, Bradjasastra dan Pengurus Partai Klabangsongo melompat ke muka, tanpa banyak cerita mereka segera menerjang tiga gadis muka tengkorak lainnya yaitu Kala Merah, Kala Putih dan Kala Hitam. Maka terjadilah pertempuran yang seru di atas panggung. Namun keseruan itu tidak berjalan lama. Segera digantikan dengan kengerian. Tiga larik sinar hijau melesat maka terdengarlah jeritan maut Suwita, Indrajaya serta Brajasastra. Ketiga orang ini terkapar di lantai panggung. Masing-masing kepala mereka ditancapi kala hijau beracun. 


Dewa Pedang yang saat itu dengan ilmu pedang serta jurus-jurus yang lihai mematikan dan tengah mendesak hebat Kala Biru dalam permulaan jurus kedua, melihat kematian isteri serta putera bungsu yang paling disayanginya menjadi kalap luar biasa. Kekalapan ini membuat dia lupa diri dan mengamuk membabi buta. Pedangnya berkiblat ganas kian kemari tapi tanpa perhitungan sama sekali. Ketika taburan sinar hijau dan tiga ekor kelabang hijau beracun menderu ke arahnya, hanya satu saja dari binatang elmaut itu yang sanggup dielakkannya. Dua ekor lainnya menyambar dan menancap di kepalanya. Ketua Partai Telaga Wangi terhuyung-huyung. Matanya mendelik menahan sakit yang luar biasa. Tiba-tiba dia meraung dan menyerbu ke muka. Pedangnya berkelebat. Serangannya yang tiba-tiba sungguh tidak diduga oleh Kala Biru. Gadis muka tengkorak ini melompat dengan cepat namun tak urung bajunya kena juga tersambar sehingga robek. 


"Setan alas!" rutuk Kala Biru. 


Pada saat tubuh Dewa Pedang meliuk dalam meregang nyawa, Kala Biru hantamkan tendangannya ke perut Dewa Pedang. Tak ampun lagi Ketua Partai yang belum lagi satu hari didirikan itu mencelat mental, masuk ke dalam telaga. 


Pengurus Partai Telaga Wangi daerah Utara berseru memerintah pada dua orang anggota Partai: "Lekas ambil jenazah Ketua dan selamatkan ke hutan!" 


Pengurus Partai tadi yaitu Jambakrogo melompat ke hadapan Kala Merah. "Kekejamanmu melewati takaran, manusia iblis! Kupasrahkan selembar nyawaku untuk mencincang kau... !" 


Habis berkata begitu, Jambakrogo lancarkan serangan pedang, dua tendangan serta satu jotosan. Kehebatan serangan ini tak bisa dianggap remeh. Namun justru Kala Merah tidak pandang sebelah mata. Sekali tangan kanannya bergerak, sekali larikan sinar hijau melesat, maka terdengarlah jeritan Jambakrogo, nyawanya putus. 


Tiga pengurus Partai yaitu yang tadi sudah sama-sama kena terpukul pingsan oleh Si Cawat Gila dan Nenek Kelewang Merah, dan saat itu masih berada dalam keadaan terluka, tiada ambil perduli lagi keadaan diri masing-masing. Ketiganya menyerbu ke muka. 

__ADS_1


Klabangsongo berseru: "Seluruh anggota Partai lekas bentuk barisan telaga maut!" 


Mendengar ini anggota Partai Telaga Wangi yang memang sudah sejak tadi menahan kegeramannya dan ingin lekas-lekas turun tangan, segera bergerak membentuk barisan yang dinamakan Telaga Maut. Barisan ini berbentuk lingkaran dan terdiri dari lima lapis. Karena Partai Telaga Wangi belum lagi dikenal maka semua yang hadir di situ tak mengetahui sampai di mana kehebatan barisan "Telaga Maut" itu. Di samping itu sebagian besar dari para tamu tidak lagi memperdulikan apa yang terjadi dan bakal terjadi di atas panggung. Dalam kekacaubalauan di atas panggung itu mereka mencari kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. 


Namun begitu mereka berdiri dan bergerak, terdengarlah bentakan Kala Hitam. "Berani meninggalkan tempat ini, berani mampus!" 


Orang-orang yang hendak berlalu itu tertegun seketika. Tapi sekelompok di antaranya tiba-tiba berhamburan dan kabur. Kala Hitam dan Kala Merah yang berada di ujung panggung dan paling dekat dengan orang-orang itu membentak nyaring. "Mampuslah!" teriak mereka. 


Dua gelombang sinar hijau menyambar. Maka terdengarlah pekik-pekik maut. Keseluruhan kelompok hendak melarikan diri itu terkapar di tanah, tak satupun yang hidup. Yang menyaksikan berdiri dengan lutut gontai. 


"Siapa yang mau kabur lagi, silahkan!" berseru Kala Merah. 


Tak ada yang berani bergerak. Namun ini bukan berarti bahwa semua tamu yang hadir itu merasa jerih terhadap Kala Merah dan kawan-kawannya. Beberapa tokoh sengaja, menahan kegeraman mereka sampai saat di mana mereka merasa tepat untuk maju. Tiba-tiba di atas panggung terdengar teriakan-teriakan keras. Ternyata barisan "Telaga Maut" sudah mulai bergerak. Lingkaran sinar putih kelihatan bergulung-gulung mengurung keempat gadis bermuka tengkorak itu dengan sangat dahsyatnya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


( LIKE DAN KOMENT NYA YA, BIAR AURHOR SEMANGAT 😅 )


__ADS_2