PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
SIAPA TAKUT MELAKUKAN UJIAN?


__ADS_3

Mulut Si Bayangan Setan komat kamit. Dan dia angkat bicara Kembali "Dunia sejuta arah, ucapan seribu kalimat lidah bersilat kata, namun dunia persilatan tetap dunia persilatan, yang tiada mengenal adanya Satu Partai baru tanpa diketahui partai yang macam mana kelasnya! Apakah kelas keroco saja, atau bunglon, atau kadal, atau kunyuk? Setiap Partai baru wajib menghadapi batu ujian!".


 "Betul ... betul ... betul!" menyambung suara yang dari panggung sebelah Barat. "Partai baru musti diuji. Tapi apakah kau sanggup melakukan ujian itu, Bayangan Setan? Jangan kau hanya bicara besar saja tak tahu isinya cuma gemblong!" 


Marahlah Si Bayangan Setan mendengar kata-kata itu. "Siapa takut melakukan ujian?!" katanya membentak, sekali tubuhnya berkelebat maka melesatlah ia ke atas panggung. Sedikit pun gerakannya ini tiada menimbulkan suara. 


Salah seorang tokoh silat dari aliran putih yang ada di antara para tamu berbisik pada seorang kawan di sebelahnya. "Bayangan Setan memang dikenal kehebatannya. Tapi kalau untuk menghadapi Dewa Pedang dia akan sia-sia saja!" 


Kawan yang diajak bicara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mari kita saksikan saja," katanya sambil memandang kembali ke atas panggung 


Sementara itu dalam suasana yang hangat itu, mulai terdengar suitan-suitan dan sorak sorai sebagian Yang hadir untuk memberi semangat pada Si Bayangan Setan. Dan Si Bayangan Setan menjadi pongah. Sambil memandang kepada para tamu dia berkata: "Kalian semua silahkan buka mata lebar-lebar. Hari ini aku Si Bayangan Setan akan menguji satu Partai baru!” 


Tiga Putera Ketua Partai Telaga Wangi menggertakkan geraham dan mengepalkan tinju. Bahkan putera tertua yaitu Indrajaya segera berdiri dari kursinya.Melihat bangkit berdirinya putera Ketua Partai Telaga Wangi ini, maka sorak dari suara-suara membakar semangat berbagai rupa semakin santar kedengaran di kalangan para hadirin. Dewa Pedang menyipitkan mata kepada lndrajaya. Putera tertua yang melihat isyarat ini segera hentikan gerakannya. Kemudian dengan segala kegeraman yang ada terpaksa duduk ke kursinya kembali. 


"Ha ha ha!" terdengar suara tertawa bergelak Si Bayangan Setan. "Apakah aku datang ke panggung ini hanya untuk dianggurkan saja?" ujarnya mengejek. 


Dengan tenang Ketua Partai Telaga Wangi memutar kepalanya ke ujung paling kanan di mana berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas berbadan tegap dan berkumis kecil. Dia adalah Candra Masa seorang murid atau anggota Partai tingkat muda yang paling pandai. Tahu bahwa Si Bayangan Setan adalah seorang tokoh yang lihai dan banyak pengalaman, maka Dewa Pedang sengaja anggukkan kepala memberi isyarat pada Candra Masa. 

__ADS_1


Melihat anggukan ini, Candra Masa segera melangkah ke muka. Dia menjura terlebih dahulu di hadapan Dewa Pedang lalu memutar tubuh menghadapi Si Bayangan Setan. ”Bayangan Setan, atas izin Ketua kami, kuharap kau yang tua sudi memberi sedikit pelajaran pada yang lebih muda"


Si Bayangan Setan memandang dengan kerenyit kulit kening pada Candra Masa lalu tertawa gelak-gelak sampai ke luar air mata. "Ketua Partai Telaga Wangi", katanya pada Dewa Pedang sambil mengucak-ucak matanya. "Kau ini mau main badut-badutan atau apa sampai menyuruh bocah yang masih bau air ***** ini menghadapi aku?!" 


Semua pihak Partai Telaga Wangi gusar sekali menerima penghinaan dan perendahan begini rupa, terlebih-lebih Candra Masa. Kedua rahangnya kelihatan bertonjolan. Sebaliknya sang Ketua sendiri dengan tenang dan suara sabar menjawab; "Bayangan Setan, justru karena dia bau air teteklah maka kusuruh menghadapi kau! Bukankah maksudmu hendak menguji Partai kami? Dan bukankah yang lebih pandai itu biasanya menguji yang lebih bodoh? Nah silahkan dimulai ” 


Ucapan yang sabar serta tenang tapi berwibawa itu sekaligus merupakan satu tempelak bagi Si Bayangan Setan. Mukanya merah sedang para hadirin kedengaran lagi bersorak-sorak membakar semangat. 


"Kalau memang tak ada muridmu yang lebih pandai dari yang satu ini tak apalah" kata Si Bayangan Setan pula. Kemudian dengan congkaknya dia menambahkan. "Untuknya ku beri kesempatan bertahan sampai tiga jurus. Kalau dalam tiga jurus tubuhnya tidak terpelanting ke luar panggung jangan panggil aku Si Bayangan Setan dan aku akan mengaku kalah padanya!". 


"Ah, aku yang muda mana berani mulai lebih dahulu. Menurut aturan, yang lebih tua dan yang menguji lah yang musti maju lebih dahulu" jawab Candra masa. 


Si Bayangan Setan menyeringai buruk. "Baik, bila kau punya senjata keluarkanlah!" 


Candra Masa tersenyum. "Selama lawan bertangan kosong, aku murid Partai Telaga Wangi tetap akan menghadapinya juga dengan tangan kosong!" 


"Kalau begitu terimalah jurus pertama ini", kata Si Bayangan Setan gusar. 

__ADS_1


Sekali tubuhnya berkelebat maka dia pun lenyap, dan kini yang kelihatan hanyalah sesosok bayangan hitam menyambar laksana kilat ke arah Candra Masa sedang angin bersiuran turut menyerangnya dengan pesat. Dengan maksud hendak memamerkan kehebatannya dan hasrat hendak merubuhkan lawan dalam satu jurus saja, maka di jurus pertama itu Si Bayangan Setan sudah mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat, yaitu ciptaannya sendiri yang bernama: "Bayangan Hitam Menjulang Langit".


Candra Masa terkejut melihat lenyapnya tubuh lawan, dan kini hanya bayangan hitam serta angin pesat menyambar ke arahnya. Namun dalam terkejutnya, murid yang sudah terdidik ini tetap berlaku tenang dan tidak kehilangan akal. Dengan cepat dijatuhkannya dirinya ke lantai. Begitu tubuh lawan dilihatnya lewat di atasnya, pemuda ini segera lancarkan pukulan tangan kosong. Tapi pada detik itu pula Si Bayangan Setan bergerak memutar dan laksana badai, kaki kanannya menyambar ke arah tangan yang memukul. 


Walau bagaimanapun kehebatannya, tangan tak akan menang melawan kaki. Sambil tarik pulang tangannya, Candra Masa bergulingan di lantai. Tendangan lawan menghantam angin kosong. Jurus pertama yang cukup mendebarkan berlalu sudah. Dan dari panggung arah sebelah Barat terdengar suara tertawa manusia yang tadi. 


"Ah .... Bayangan Setan.. nyatanya namamu kosong belaka! Bocah yang katamu masih bau air ***** itu tak sanggup kau hadapi!” 


Hati Si Bayangan Setan laksana dibakar “Pemuda! " Suaranya bergetar tanda amarah. “Giliran kau sekarang untuk memulai!" 


Candra Masa tersenyum jumawa. "Terima kasih”, katanya. 


Tangan kanannya diacungkan ke muka seperti sikap seseorang yang tengah memegang pedang. ”Lihat perut!", teriak Candra Masa tiba-tiba dan pada kejapan itu pula tubuhnya melesat ke muka. Tangan menyambar ke perut Si Bayangan Setan. Tanpa banyak cerita si Bayangan Setan segera menyongsong serangan lawan ini dengan pukulan tangan kanan, karena dia tahu bahwa tenaga dalamnya jauh lebih tinggi dari si pemuda. 


Sedetik lagi kedua lengan mereka akan beradu, maka pada saat itu pula terdengar kembali seruan Candra Masa. "Lihat dada!". Dan laksana pedang lengan kanan anak murid Partai Telaga Wangi itu menusuk ke arah dada Si Bayangan Setan. Geram serta penasaran sekali, maka Bayangan Setan menggerakkan kedua tangannya sekaligus dalam ilmu pukulan yang disebut "Menabas Gunung Mengepit Sungai".


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2