
Si tua Ratih Parwati menerjang ke muka. Trisula besar di tangan kanannya membabat kian kemari dalam jurus ”orang gila mengebut lebah.”
Ketika tadi Rangga Saksana memainkan jurus itu dengan mempergunakan sebilah keris, kehebatannya sudah luar biasa apalagi kini penciptanya sendiri yang melakukannya maka dahsyatnya bukan olah-olah!
Trisula besar itu berkelebat kian kemari hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin deras bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Rangga. Angin deras ini bukan sembarang angin
karena bila menyambar kulit maka kulit itu perih bukan main, seperti lecet!
Dan dari mulut kepala naga pada ujung gagang trisula senantiasa keluar suara mendengung macam tawon!
Dalam sekejap saja Rangga Saksana segera terbungkus sambaran-sambaran trisula bermata perak itu. Mata dan kulit tubuhnya perih terkena angin tajam yang menderu-deru.
Telinganya pengang oleh suara yang mengaung yang keluar dari mulut kepala naganagaan pada gagang trisula.
”Ciaaaaatt!”
Rangga membentak dahsyat. Tubuhnya berkelebat dan lenyap detik itu juga. Tangan dan kakinya sambar menyambar kian kemari, membuat gerakan menghindar dan menyerang
bagian-bagian yang lowong dari gurunya.
Tapi mana dia sangup mengahadapi senjata aneh yang dahsyat itu. Apalagi senjata tersebut berada dalam tangan Ratih Parwati dan mempergunakan jurus ”orang gila mengebut lebah” yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya. Dalam sekejap saja pemuda itu terdesak hebat. Lengah atau ayal sedikit saja pastilah pinggang atau perut atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar mata Trisula Aneh itu.
Hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi yang dimilikinyalah maka Rangga Saksana dapat menghindari tusukan-tusukan dan bacokanbacokan trisula bermata perak itu.
Berkali-kali Rangga melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalam
yang dahsyat. Namun angin pukulannya terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam yang menderu yang keluar dari senjata di tangan gurunya.
”Senjata edan!” maki Rangga Saksana.
Tiba-tiba dijatuhkannya tubuhnya ke bawah.
Serentak dengan itu tangan kanannya dengan jari-jari ditekuk kedalam meluncur ke arah sambungan siku Eyang Ratih Parwati.
Tapi pada detik itu pula kaki kanan sang guru menyapu dari atas ke bawah, mencari sasaran di kepala Rangga Saksana. Mau tak mau ini pemuda terpaksa jatuhkan dan gulingkan diri di tanah.
Dengan demikian maka berakhirlah jurus pertama yang penuh kehebatan itu. Ratih Parwati berdiri dengan dada turun naik.
”Kini jurus kedua, Rangga!” katanya.
Kedua kakinya dipentang lebar-lebar. Tubuhnya membungkuk ke muka sedikit sedang trisula di tangan kanan dipegangnya lurus-lurus ke muka ke arah Rangga Saksana. Dari balik pakaian hitamnya Eyang Ratih Parwati mengeluarkan benda hitam yang berkilauan ditimpa sinar matahari.
__ADS_1
Rangga tak dapat memastikan benda apa yang ada dalam tangan kiri gurunya itu. Mungkin sebentuk besi, mungkin juga sebuah batu.
Tiba-tiba tangan kiri Ratih Parwati memukulkan benda di tangan kirinya ke kepala trisula. Bunga api memijar. Dan sedetik kemudian lidah api yang dahsyat menyambar ke arah Rangga Saksana!
Terkejutnya pemuda itu bukan alang kepalang. Dia membentak dan lompat ke udara. Lidah api lewat di bawahnya, kedua kakinya terasa perih panas dan bila dia melirik ke belakang maka dilihatnya bagaimana semak belukar serta pepohonan terbakar berkobar oleh sambaran lidah api tadi!.
Masih belum turun ke tanah lagi, maka Ratih Parwati telah menyerang pemuda itu untuk kedua kalinya. Lidah api menyambar lagi. Rangga bergulingan di tanah, menghindarkan
dengan sebat. Tanah yang tersambar lidah api trisula sakti itu menjadi hitam hangus.
Rangga leletkan lidahnya. Masih belum sempat dia mengatur nafas, tangan kiri dan tangan kanan Ratih Parwati bergerak lagi berkali-kali. Lidah-lidah api yang hampir setengah lusin
banyaknya menyambar tubuhnya dari enam jurusan!
Rangga memekik dahsyat. Meraung dan membentak. Kedua tangannya diangkat tinggitinggi ke atas. Tubuhnya melompat kian kemari, mulutnya komat-kamit. Aji angin es yang
ditebarkannya hanya bisa menahan gelombang lidah api yang menyambar tapi sama sekali tidak dapat melenyapkan hawa panas lidah-lidah api itu!
Rangga Saksana kelagapan tapi masih belum hilang akal!
Bentakan setinggi langit melengking ke udara. Tubuh Rangga Saksana lenyap keluar dari sambaran-sambaran lidahlidah api untuk sesaat kemudian berguling di tanah dengan sangat cepatnya, menuju ke tempat Eyang Ratih Parwati berdiri.
Sambil bergulingan ini, Rangga lepaskan dua pukulan tangan kosong yang hebat. Satu ”maling melempar batu” yang satu lagi ”bintang perak”!
Rangga Saksana itu berdiri dengan tubuh berkeringat dingin. Dibelakangnya kobaran api masih juga membakari semak belukar dan daun-daun pepohonan.
Gurunya dilihatnya berdiri tegak tak bergerak. Benda yang di tangan kirinya tadi ternyata adalah sebuah batu api dan kini
sudah disimpannya kembali di balik pakaian hitamnya.
”Jurus terakhir Rangga....!” kata Eyang Ratih Parwati.
Pemuda itu tahu, kalau dua jurus pertama tadi hebatnya bukan olah-olah maka jurus ketiga atau yang terakhir ini tentu lebih dahsyat lagi.
Karenanya dia benar-benar lebih waspada dan teliti kini. Sepasang matanya yang hitam pekat itu menyorot tajam-tajam ke depan.
Ratih Parwati memegang trisula itu dengan tebalik. Mulut naga-nagaan yang terbuka di dekatkannya ke mulutnya sedang jari-jari tangannya menutup enam lobang di batang trisula.
Ketika Rangga Saksana tidak mengerti apa yang bakal diperbuat gurunya maka terdengarlah suara tiupan seruling!
Ternyata trisula itulah yang mengeluarkan suara seruling tersebut dan ditiup oleh Ratih Parwati!
__ADS_1
Gema seruling itu mula-mula perlahan, halus dan lembut, memukau Rangga Saksana.
Kemudian tiupan seruling mengeras dan pembuluh-pembuluh darah di tubuh Rangga seperti ditusuk-tusuk. Darahnya mengalir tidak karuan, menyendat-nyendat. Matanya mengabur, kepalanya berat dan pusing!
Maklum bahwa tiupan seruling itu bukan tiupan biasa, cepat-cepat Rangga menghempos tenaga dalam. Mengatur jalan nafas dan darahnya!
Tapi kasip! Suara seruling semakin kencang. Melengking dan menusuk-nusuk gendang-gendang telinga!
Rangga kerahkan lagi tenaga dalamnya. Mulutnya komat-kamit, kedua tangannuya menghantam ke arah Ratih Parwati, tapi sang guru kini tidak di tempat, melainkan berlari-lari sebat mengelilingi pemuda itu.
Rangga membentak, tapi suaranya tidak keluar. Dari melompat tapi tubuhnya terhuyung. Seluruh kekuatan luar dan dalamnya punah oleh tiupan seruling!
Pinggangnya tertekuk kemuka. Mendadak samar-samar ingatan jernih melintas di otaknya. Cepat-cepat pemuda ini mentutup indera pendengarannya. Sukar sekali mulamula, karena saat itu kedua liang telinganya sudah mengeluarkan darah!
Tapi dengan kerahkan segala sisa tenaga yang ada pemuda ini sanggup juga menutup pendengarannya. Begitu suara seruling lenyap dari telinganya maka perlahan-lahan tenaga luar dan dalamnya yang tadi punah kini datang kembali. Tapi rasa yang menusuk-nusuk pembuluh-pembuluh darahnya masih belum lenyap. Karenanya, diaturnya jalan nafas dan darahnya. Pengaruh tiupan seruling sakti itu berhasil dilawannya sedikit demi sedikit.
Dan ketika dirasakannya sudah punya kekuatan untuk balas menyerang pemuda ini pura-pura jatuhkan diri ke tanah, pura-pura pingsan. Namun begitu tangan kanannya menyentuh tanah, segera diraupnya pasir tanah itu dan dilemparkannya ke arah Ratih Parwati!
Ratusan pasir yang sudah diisi dengan aji ”angin puyuh” itu menderu ke arah mulut naga-nagaan dan lobang-lobang di gagang kapak, ratusan butir lagi menyerang ke muka Ratih Parwati. Perempuan tua renta itu melepaskan mulutnya dari mulut kepala naga dan cepatcepat menghembuskan ke muka.
Pasir-pasir yang menghambur menyerangnya rontok kembali
ke tanah! Bersamaan dengan itu Ratih Parwati memasukkan trisula saktinya ke balik pakaiannya. Berarti jurus ketiga yang mendebarkan itu berakhir sudah.
Rangga berdiri tersengal-sengal bersandar. Matanya tetap menyorot lekat-lekat dan memperhatikan gerak-gerik gurunya.
Meski tadi Eyang Ratih Parwati mengatakan hanya akan menyerangnya sebanyak tiga jurus, tapi bukan mustahil nenek-nenek itu akan menyerangnya kembali!
Tapi dilihatnya Eyang Ratih Parwati cuma memandang saja
kepadanya. Rangga garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Sekian belas tahun lamanya dia menuntut ilmu kesaktian dan ilmu silat baru hari ini diketahuinya bahwa Eyang Ratih Parwati memiliki sebuah senjata berbentuk Trisula yang demikian anehnya, tapi juga demikian hebatnya!
Selama sekian tahun baru hari itu pula gurunya menggempur dia
dengan serangan-serangan yang benar-benar mematikan. Serangan-serangan yang dilancarkan tidak dengan tertawa-tawa sebagaimana biasanya!
Dihubungkannya pula dengan nyanyian yang dibawakan gurunya tadi! Benar-benar banyak keanehan yang dilihat Rangga Saksana hari ini.
Tiba-tiba dilihatnya nenek-nenek sakti itu berkelebat. Rangga segera siapkan diri.
Terdengar suara tertawa yang meringkik-ringkik macam kuda.
__ADS_1
”Gila betul!” maki Rangga. Dia cepat-cepat lompat ke samping karena Eyang Ratih Parwati berkelebat ke arahnya!