
"Rangga .." bisik Dewi Kala Hijau lirih. "Kau mau mengabulkan permintaanku, bukan?"
Rangga tak menjawab tapi dengan perlahan dilepaskannya kedua tangan perempuan yang merangkulnya itu.
"Rangga ...."
"Aku tak bisa menerima tawaranmu itu, Dewi Kala Hijau." kata Rangga Geblek tegas.
"Kau akan kuberi kedudukan sebagai Ketua Partai dan aku akan menjadi milikmu. Kita akan hidup bersama dan bahagia ... !" ujar Dewi Kala Hijau. Sekali lagi tubuhnya merangkul badan si pemuda.
"Aku tetap tak dapat menerima tawaranmu."
Dewi Kala Hijau menggerakkan badannya. Maka detik itu juga jatuhlah pakaian yang dikenakannya ke lantai. Dalam keadaan tanpa pakaian perempuan ini kemudian kembali memeluki tubuh si pemuda. Nafasnya dan dadanya memanasi dada Rangga Geblek. Kalau saja Pendekar trisula maut bukan murid Eyang Ratih Parwati yang sudah digembleng lahir serta batinnya, mungkin saat itu akan runtuhlah imannya.
"Dewi Kala Hijau, aku akan meninggalkan tempat ini! Tunjukkan jalan ke luar!"
"Rangga ... jangan pergi. Terima tawaranku ...", kata Dewi Kala Hijau lalu ditariknya tangan pemuda itu sehingga keduanya terguling di atas tempat tidur.
"Perempuan hina, jangan coba menipu aku!" bentak Pendekar trisula maut meronta.
"Siapa yang menipumu? Aku bersungguh hati dan tidak palsu dengan ucapanku." kata Dewi Kala Hijau.
Rangga mendorong perempuan itu hingga terlentang di atas tempat tidur, kemudian dia melompat ke pintu batu darimana dia masuk tadi namun pintu itu tiada berbekas sama sekali, lenyap sama datar dengan dinding ruangan.
"Rangga!" Dewi Kala Hijau melompat dan menubruk si pemuda. "Kamar ini penuh senjata rahasia. Sekali aku menggerakkan tangan atau kaki, tamatlah riwayatmu!"
"Aku tidak takut mati! Tapi sebelum mati pasti kepalamu kupecahkan dulu!" balas mengancam Pendekar trisula maut.
__ADS_1
Dan Dewi Kala Hijau kelihatan lunak kembali. Satu tangannya memeluk lagi tubuh si pemuda. Sedang tangan yang lain menarik tangan Rangga dan meletakkannya di atas buah dadanya.
"Masuklah ke dalam Partaiku, Rangga. Kau kuserahi jabatan sebagai Ketua ...."
"Tidak!" bentak Rangga. "Pergilah!"
Sekali dorong saja maka hampir sang Dewi jatuh terjengkang. Setelah mengimbangi tubuhnya, Dewi Kala Hijau untuk kesekian kalinya merengek macam anak kecil. Namun Pendekar trisula maut tetap pada pendiriannya. Maka marahlah perempuan itu. Sementara tangan kanannya memeluk pinggang Rangga Geblek, tangan yang lain tak terduga tiba-tiba bergerak dengan cepat menotok jalan darah urat besar di tubuh Pendekar trisula maut. Tak ampun lagi pemuda ini pun roboh ke atas permadani! tanpa bisa bergerak dan tanpa sanggup membuka mulut.
"Manusia goblok! Tolol! Rasakan sekarang!" maki Dewi Kala Hijau. "Diberikan kedudukan tinggi, minta jalan ke neraka! Sehabis peresmian Partai kelak akan kutunjukkan padamu cara mampus yang paling hebat!"
Habis berkata begini maka Dewi Kala Hijau mengenakan topeng tengkoraknya kembali dan pakaian ringkas wama hijau lalu meninggalkan ruangan itu.
*****************
Ketika ratusan pasang mata memandang lekat-lekat ke arah panggung dan menunggu dengan hati tidak sabar tapi juga agak gentar akan munculnya Dewi Kala Hijau, maka terdengarlah suara gong di palu tujuh kali. Begitu gema gong menghilang, aneh sekali panggung tengkorak di hadapan para tamu bergerak ke atas lebih tinggi dan di bawah panggung kelihatanlah sebuah pintu terbuka.
Dewi Kala Hijau, tiga orang muridnya dan seluruh anggota Partai kemudian duduk di barisan kursi yang terletak di panggung sebelah Barat. Tujuh kali lagi gong dipalu dan setelah itu Dewi Kala Hijau pun selaku Ketua Partai Lembah Tengkorak melompat naik ke atas panggung. Gerakannya indah sekali waktu melompat itu, kakinya tidak kelihatan menekuk ataupun memusatkan berat badan untuk digenjot ke atas. Dari sini saja setiap yang hadir sudah dapat mengetahui bagaimana tingginya ilmu Dewi Kala Hijau.
Sebelum membuka mulut, terlebih dahulu Dewi Kala Hijau menyapu seluruh para tamu dengan sepasang matanya. Kemudian baru terdengar suaranya yang nyaring lantang, yang sekaligus bernada pongah congkak.
"Aku Dewi Kala Hijau selaku Ketua Partai Lembah Tengkorak, menghaturkan banyak terima kasih kepada saudara-saudara di sini yang telah sudi datang untuk menyaksikan sendiri dengan resmi berdirinya Partai Lembah Tengkorak!”
”Perlu saudara-saudara ketahui bahwa Partai ini mempunyai satu maksud besar yakni menggabung dan mempersatukan seluruh tokoh silat serta Partai Persilatan di dunia, untuk berpadu dalam satu Partai saja yaitu Partai kami, Partai Lembah Tengkorak. Kami tidak memaksa siapapun dan Partai Silat manapun untuk memasuki Partai Lembah Tengkorak. Tapi menurut pandangan kami, jika kalian semua sudah bersedia menerima undangan dan datang ke sini, maka itu berarti kalian telah menyatakan diri masuk ke dalam Partai Lembah Tengkorak!"
Gemparlah suasana para hadirin begitu mendengar ucapan Ketua Partai Lembah Tengkorak itu. Mereka saling pandang dengan mulut menganga dan mata membeliak besar.
Belum lagi rasa terkejut yang menggempari suasana itu berakhir, maka terdengar pula suara Dewi Kala Hijau. "Saat ini Partai Lembah Tengkorak sudah memiliki lebih dari seratus anggota yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama bahkan beberapa di antaranya pernah merajai dunia persilatan. Sekarang, untuk tidak membuang waktu, kuharap kalian semua berdiri dari kursi masing-masing dan berlutut mengangkat sumpah menyatakan diri masuk ke dalam Partai Lembah Tengkorak!"
__ADS_1
Kembali suasana menjadi gempar penuh ketegangan. Tiba-tiba seorang diantara para hadirin berdiri dan berseru. "Dewi Kala Hijau! Undangan yang kau berikan kepadaku dan semua yang hadir di sini adalah hanya untuk menghadiri berdirinya kau punya Partai! Tapi saat ini dengan menyatakan besarnya jumlah anggota Partaimu, kau memaksa kami untuk masuk menjadi anggota Partai Lembah Tengkorak! Aturan macam manakah yang kau pakai?!"
Semua kepala, termasuk kepala Dewi Kala Hijau dengan serta merta berpaling. Yang bicara ternyata adalah seorang tokoh silat golongan putih yang besar pengaruhnya dewasa itu.
”Oh, kiranya Pendekar Bambu Kuning." Kata Dewi Kala Hijau. "Tentu saja untuk orang semacammu tidak akan masuk sebagai anggota biasa, tapi anggota dengan jabatan tinggi."
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menanyakan tinggi atau rendahnya jabatanku sebagai anggota, tapi ialah menolak keras adanya unsur paksaan untuk masuk Partaimu!"
“Lantas apa maumu, Pendekar Bambu Kuning?'" tanya Dewi Kala Hijau mulai beringas.
”Kuharap kau menarik pulang kembali ucapanmu yang memaksa tadi!"
Dewi Kala Hijau tertawa dingin. "Sebenarnya aku tidak memaksa," katanya, "Tapi bila ada diantara yang hadir di sini tidak mau menuruti kehendakku, berarti itu mempersingkat umur namanya! Apa kalian tidak tahu, sekalipun kalian memiliki sayap atau pandai terbang, kalian pasti tak akan ke luar dari Lembah ini dengan selamat, kecuali jika kalian masuk dan bergabung dalam Partaiku!"
"Aku menolak mentah-mentah masuk Partaimu!" kata Pendekar Bambu Kuning dengan suara tegas mantap.
Paras Dewi Kala Hijau mengkerut di balik topeng tengkoraknya. Dia berpaling ke belakang dan berseru: "Pahat Tiga Racun, bereskan pengacau ini! Paling lambat dalam lima jurus!"
Maka seorang laki-laki berpakaian merah darah berkumis melintang yang selilit pinggangnya bergantungan lebih dari seratus buah pahat hitam beracun segera melompat ke atas panggung. Dia memandang dengan bengis kepada Pendekar Bambu Kuning lalu membentak: ”Manusia yang besar mulut dan telah menghina terhadap Ketua kami, harap naik ke panggung untuk terima kematian!"
Meluaplah amarah Pendekar Bambu Kuning. Sambil berteriak nyaring dan melompat ke panggung, dicabutnya senjatanya yaitu sebuah bambu kuning, dan terus menyerang. Si Pahat Tiga racun menyambut serangan lawan dengan melemparkan lima Pahat Beracun. Sekali memutar bambu kuningnya maka runtuhlah kelima pahat hitam itu.
Si Pahat Tiga Racun cabut lagi dua pahatnya. Dengan senjata itu kemudian dia menyerang Pendekar Bambu Kuning. Pertempuran hebat pun berkecamuk lah. Dalam waktu yang sangat singkat tiga jurus sudah berlalu. Memasuki jurus yang keempat terdengarlah seruan Pendekar Bambu Kuning karena pertengahan bambunya berhasil dijepit oleh sepasang pahat hitam lawan.
Dengan terpaksa Pendekar Bambu Kuning lepaskan bambunya. Serentak tangan melepas, serentak pula kaki kanan menendang ke muka. Pahat Tiga Racun melompat ke samping tapi dia tertipu. Tendangan tadi palsu belaka karena begitu dia mengelak, lawannya segera menghantamkan satu pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam ampuh.
BERSAMBUNG......
__ADS_1