
Begitu Kala Putih selesai menjura, Dewi Kala Hijau segera membuka mulut:
"Sejak kembalimu pergi bersama Si Jaring Hantu, ada banyak perubahan dalam sikapmu Betul ... ?"
Kala Putih agak gugup tapi menjawab juga: ”Tidak . tak ada perubahan pada diriku, Guru ..."
"Jangan bicara dusta! Jangan tipu gurumu! Jangan tipu dirimu sendiri!" membentak Dewi Kala Hijau. "Terangkan apa yang terjadi?!"
"Tak ada terjadi apa-apa, Guru." sahut Kala Putih.
Dewi Kala Hijau menggebrak meja. "Selama ini kau selalu periang suka melucu, sering tertawa dan bergurau dengan saudara-saudara seperguruanmu! Tapi sekembalimu dua hari yang lalu sikap dan sifatrnu jauh berubah! Kau jadi. pendiarn, suka menyendiri dan banyak melamun! Jangan kira aku ini buta. Putih! Kau berdusta! Angkat mukamu, pandang mataku!"
Kala Putih mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan coba memandang kedua mata gurunya. Tapi cuma sebentar. Sedetik kemudian kepalanya ditundukkan kembali. Untuk pertama kalinya Kala Putih merasa ngeri dan takut melihat sepasang mata serta paras gurunya.
Dewi Kala Hijau rnenyeringai. "Kau masih juga merahasiakan perubahan sikapmu, Putih? Masih merahasiakan apa yang terjadi?!"
Tenggorokan Kala Putih kelihatan turun naik. Kemudian terdengarlah ucapannya tersendat-sendat.” Se....sesudah Si Jaring Hantu menemui ajalnya, aku coba menghadapi... pemuda itu beberapa jurus. Aku hanya sanggup menghadapi sebanyak tiga jurus kemudian coba melarikan diri namun cepat sekali punggungku kena ditotok hingga aku menjadi kaku tegang tak bisa lagi bergerak...."
Mulut Dewi Kala Hijau komat kamit: "Lalu?!"
"Kusangka pastilah pernuda itu akan membunuhku tapi ternyata tidak. Dia bicara panjang lebar dan menasihatkan agar aku kembali ke jalan benar serta meninggalkan kaki Gunung Merapi ini...."
"Apa jawabmu?"
"Kumaki dia habis-habisan. Kuludahi mukanya malah, tapi dia hanya tertawa-tawa! Dia hendak rnelemparkan aku ke dalam jurang, kecuali jika aku berjanji mau kernbali ke jalan yang benar dan meninggalkan tempat ini. Aku ... aku terpaksa pura-pura menerima janjinya. Aku dilepas. Kemudian aku melarikan diri dan kembali ke sini ...."
"Hanya itu saja ? Hanya itu saja yang terjadi?!"
Kala Putih tak menjawab.
"Jangan diam macam orang tuli serta bisu!" bentak Dewi Kala Hijau.
”Tidak ... guru ..." kata Kala Putih akhirnya.
"Apanya yang tidak?!"
"Tidak itu saja yang terjadi ...."
__ADS_1
"Hah? Lalu apa?!"
Tenggorokan Kala Putih kembali kelihatan turun naik ”A... aku ... aku ...."
"Aku apa?!" hardik sang guru tak sabaran.
"Mohon maaf guru ... aku ... aku tertarik pada pemuda itu ...."
Mata Dewi Kala Hijau membeliak besar. "Apa katamu?! Kau tertarik pada Rangga Geblek pemuda keblinger itu?! Hah?!"
Kala Putih mengangguk perlahan.
Mulut gurunya komat kamit. "Kau tertarik padanya, kau jatuh cinta padanya?!"
Dan Kala Putih mengangguk lagi.
"Gadis sambal!" maki Dewi Kala Hijau.
Ditendangnya kursi di hadapannya hingga mental dan hancur berantakan. "Disuruh meringkus musuh, dia pergi bercinta-cintaan! Apa yang telah kalian lakukan?!”
"Tidak ada ... guru ...."
"Jika tak mau mengaku, ajalmu sampai detik ini juga!"
"Dia ... dia menciumku;guru ...."
"Menciummu?! Gila! Gilaaa! Dicium kau diam saja?"
Kala Putih tak menjawab.
"Selain dicium kau diapakan lagi olehnya?!"
"Di ... dipeluk ...."
"Anak setan!" Kali ini meja yang jadi korban tendangan Dewi Kala Hijau. "Habis dipeluk lalu apa lagi ... ?"
"Tidak ada lagi guru, sungguh."
__ADS_1
"Jangan bohong! Kau ... kau tidur bersamanya ya?!"
"Tidak, sungguh mati tidak guru ...." Dan Kala Putih mulai sesenggukan.
Dewi Kala Hijau melangkah mundar mandir di ruangan itu beberapa lamanya. "Dia bicara apa saja padamu? !"
"Dia bilang akan datang ke sini dan menggagalkan maksud pendirian Partai Lembah Tengkorak dan membunuhmu bila kau tak bertobat dan kembali kejalan yang benar.. .."
"Kentut! Kau juga kentut, Kala Putih! Dengar bila kelak peresmian Partai telah berlangsung kau akan menerima hukuman berat dariku!"
Kala Putih menjatuhkan diri berlutut. "Guru harap kau sudi memaafkan. Aku ... aku ...."
"Keluar dari sini! Aku muak melihatmu!" bentak Dewi Kala Hijau dengan amat geram.
Perlahan-lahan Kala Putih berdiri. Disekanya kedua matanya lalu dengan menundukkan kepala ditinggalkannya tempat itu.
************
Hari dua belas bulan dua belas Sang surya memunculkan diri di ufuk Timur memancarkan sinar kuning kemerahan. Berangsur tinggi sang surya berubah pula warnanya yang merah kekuningan itu menjadi putih keperakan. Di kaki Timur Gunung Merapi kelihatanlah satu pemandangan baru yang luar biasa. Sekitar Lembah Tengkorak dalam radius satu kilometer dilingkari oleh sebuah parit yang sangat dalam dan lebar empat puluh tombak. Air parit ini kelihatan hijau kelam tanda diserapi dengan racun yang jahat. Bagaimanapun saktinya seseorang, tak mungkin akan dapat melompati parit ini. Di satu bagian dari parit terdapat sebuah tangga gantung. Tangga gantung ini terbuat dari tulang belulang manusia seperti tulang kaki, lengan dan iga-iga. Di beberapa bagian dihiasi dengan tengkorak-tengkorak kepala manusia.
Di keseluruhan lembah yang dikitari oleh parit itu maka memutihlah tulang-tulang belulang dan tengkorak manusia. Di tengah-tengah lembah berdiri sebuah panggung yang sangat luas. Seperti jembatan gantung tadi, maka keseluruhan panggung ini juga terbuat dari tulang belulang manusia. Tiang panggung terdiri dari tumpukan tengkorak tengkorak kepala, lantainya dari tulang-tulang kaki, tulang-tulang lengan serta iga yang disambung satu sama lain. Pada beberapa bagian terdapat rombe rombe atau gaba-gaba yang juga semuanya terbuat dari tengkorak serta tulang-tulang manusia. Di sekitar panggung sebelah muka, duduklah ratusan tamu-tamu dari dunia persilatan yang telah diundang oleh Dewi Kala Hijau.
Dan kesemua tamu ini duduk di atas kursi-kursi yang juga dibuat dari tulang-tulang manusia. Banyak diantara tokoh-tokoh silat itu yang merasa menyesal telah datang ke Lembah Tengkorak. Namun hal ini tidak mereka perlihatkan meski di dalam hati mereka sesungguhnya merasa ngeri. Ke mana saja mata memandang, maka tengkorak-tengkorak kepala dan tulang-tulang manusia yang kelihatan, serta mereka duduki sebagai kursi.
Banyak pula di antara para tamu yang bertanya-tanya dalam hati, dari manakah semuanya tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia itu? Apakah dari manusia-manusia yang telah menjadi korban Dewi Kala Hijau?!
Sementara itu di dalam guanya, Dewi Kala Hijau tengah dikelilingi oleh tiga orang murid dan beberapa anggota Partai yang menduduki jabatan tinggi. Dewi Kala Hijau tengah memberikan beberapa tugas-tugas terakhir pada mereka. Kemudian pertemuan dibubarkan setelah semuanya disuruh bersiap siap, kecuali Kala Biru yang kemudian dipanggil dan diajak bicara empat mata.
"Apakah kau sudah melihat pemuda itu di antara para tamu?" tanya Dewi Kala Hijau.
"Sudah guru. Tapi dia tidak duduk di kursi yang disediakan melainkan duduk di cabang pohon kenari di sebelah Barat panggung...."
Dewi Kala Hijau merutuk dalam hatinya, lalu berkata: "Menyamarlah dan temui dia di atas pohon itu, lalu ajak kemari melalui pintu rahasia dan bawa langsung ke kamarku!"
"Baik guru!" Kala Biru menjawab.
"Waktumu cuma sepuluh menit, Biru!"
__ADS_1
Kala Biru menjura lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat.
BERSAMBUNG.....