PENDEKAR TRISULA MAUT

PENDEKAR TRISULA MAUT
KEMATIAN MAHESA JENAR


__ADS_3

Mahesa Jenar yang ada di medan pertempuran sebelah barat, yang saat itu sudah hampir berhasil mendesak pasukan Pajajaran dan membobolkan pintu gerbang pertahanan menjadi terkejut ketika selintas kepalanya dipalingkan ke arah timur. Pasukan pihaknya di jurusan ini dilihatnya bertempur dengan kacau, malah sebagian besar mundur terdesak hebat. 


Beberapa kelompok pasukan bahkan dilihatnya melarikan diri kucar kacir. Dan di antara semua apa yang disaksikannya itu sayup-sayup telinganya mendengar lengkingan suara seruling. Jaraknya dengan medan pertempuran sebelah timur terpisah puluhan tombak tapi suara seruling itu seperti menerpa-nerpa kulit tubuhnya, menyendatkan jalan darahnya dan menyakitkan anak telinganya.


Dan saat demi saat jumlah prajurit yang bertempur di medan sana itu semakin berkurang juga, banyak yang lari dan banyak yang tergelimpang mati. Mahesa Jenar serahkan pimpinan kepada seorang kepala pasukan yang dipercayainya. Kemudian dengan gerakan sebat dia menuju ke medan pertempuran sebelah timur. Begitu sampai di medan pertempuran ini, dia disambut oleh satu pemandangan yang cukup membuat bulu kuduknya merinding.


Saat itu, Raden Werku Alit sudah terdesak hebat dan tak sanggup mengelakkan sambaran pedang Prabu Kamandaka. Dari jarak yang jauh Mahesa Jenar masih berusaha untuk membokong Prabu Kamandaka dengan pukulan tangan kosong. Namun angin pukulannya yang dahsyat itu diterpa hebat oleh satu gelombang angin ganas dari samping. Ketika dia berpaling maka sepasang matanya membentur pemuda yang tak asing lagi baginya. Maka membentaklah Mahesa Jenar. Namun bentakannya belum lagi keluar, tahu-tahu satu benda menggelinding ke arah tempatnya berdiri, dan ketika diperhatikan benda itu adalah kepala Raden Werku Alit yang sesaat sebetumnya lehernya kena ditebas pedang Prabu Kamandaka. 


Kemarahan Mahesa Jenar tiada terperikan. Dengan keris di tangan kanan dan gada berduri yang mempunyai tiga mata rantai berduri pula dia menyerbu ke hadapan Prabu Kamandaka. Namun setiup angin dahsyat memotong serangannya itu dari samping. Dan ketika dia berpaling, ternyata lagi-lagi pemuda itu yang menghalanginya. 


“Aku lawanmu, Mahesa Jenar!,” teriak pendekar Trisula Maut dengan bola mata bersinar-sinar. “Kutunggu kau di bukit Jatimaleh” 


“Budak hina. Kuburmu adalah di antara tumpukan mayat di tempat ini juga.” bentak Mahesa Jenar. 


Sementara itu Prabu Kamandaka yang tahu bahwa yang tadi hendak menyerangnya adalah tokoh pemberontak kaki tangan Werku Alit yang berbahaya segera berteriak berikan perintah: 


“Kurung bangsat pemberontak ini!” 


Dua lusin prajurit, tiga kepala pasukan dan Prabu Kamandaka sendiri segera mengurung Mahesa Jenar. Namun pada saat itu pula Rangga Geblek melompat ke muka dan berseru:


“Prabu Kamandaka. Kau memang punya hak untuk menangkap dan membunuh manusia ini, karena dia adalah pentolan pemberontak musuh Pajajaran. Tapi aku merasa lebih punya hak untuk membereskannya karena dialah pembunuh ayahku dan penyebab kematian ibuku. Serahkan dia padaku Prabu Kamandaka!” 


Raja Pajajaran meski amarahnya hampir tak dapat dikendalikan lagi, tapi mendengar ucapan Rangga Geblek itu menahan juga serangannya dan bertanya: 


“Orang muda gagah, kau siapakah?” 


Rangga Geblek senyum sedikit. Diacungkannya Trisula yang di tangan kanannya. Terkejutlah Sang Prabu. Tak disangka pemuda itulah kiranya manusia aneh yang telah memberikan peringatan kepadanya sebelumnya, tentang akan pecahnya pemberontakan. Tahu kalau si pemuda gagah betul-betul berada di pihaknya sendiri maka Prabu Pajajaran itu tidak keberatan mengabulkan permintaan Rangga Geblek. Dia beri isyarat agar prajurit-prajuritnya mundur kembali. 


Sementara itu boleh dikatakan pertempuran sudah hampir berakhir. Balatentara pemberontak yang kini tidak berpimpinan lagi sudah mundur jauh dari tembok Kerajaan dan terus dikejar oleh pasukan Pajajaran sehingga lari kucar kacir. Dan di antara gelimpangan mayat manusia di atas tanah yang banjir darah, di udara yang masih hangat oleh baunya maut maka berhadapanlah dua musuh besar, Pendekar Trisula Maut Naga Langit dengan Suranyawa alias Mahesa Jenar. 


Pendekar Trisula Maut baru saja pasang kuda-kuda dan melintangkan Trisula Naga Langit di muka dada, ketika dengan membentak dahsyat Suranyawa menerjang ke muka. Keris menusuk ke kepala dan gada rantai berduri menyapu ke perut. 


“Ciaat!” 

__ADS_1


Rangga Geblek tak kalah sebat. Tubuhnya berkelebat, Trisula Naga Langit berputar dahsyat menimbulkan gelombang angin dan mengeluarkan suara mengaung laksana suara ratusan tawon. Gelombang angin itu sekaligus membentur senjata-senjata Suranyawa membuat kedua tangan-tangannya laksana kena dipukul mental. 


Suranyawa alias Mahesa Jenar kini tidak bisa bertempur tanggung-tanggung lagi. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan untuk kedua kalinya dia menyerbu ke muka. Serangan kali ini lebih dahsyat dari yang pertama, namun pendekar trisula maut menunggu dengan tenang. Setengah tombak tubuh lawan mengapung ke arahnya Rangga Geblek sapukan Trisula Naga Langit ke muka dalam jurus Orang Gila Mengebut Lebah. Suranyawa merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan. 


Dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sempurna sekali, laki-laki ini lompat ke samping. Trisula Naga Langit melesat di bawahnya dan pada detik itu pula Suranyawa kembali menukik dan babatkan gada berdurinya. Yang diserang sama sekali tidak mau mengelak, tapi putar trisula naga langitnya di atas kepala. Maka dua senjata bentrokanlah dengan hebat, mengeluarkan suara nyaring. Trisula Naga Langit memancarkan bunga api, dua dari rantai besi berduri yang bergandul pada gada berduri di tangan kiri Suranyawa putus. Membuat pemiliknya jadi terkejut sekali. 


Dan dalam saat itu pula, laksana topan Trisula Naga Langit membalik membabat ke arah selangkangannya. Suranyawa berseru keras dan jungkir balik di udara. Keringat dingin mengucur di kuduknya. Prabu Kamandaka leletkan lidah melihat pertempuran yang hebat itu. 


Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah bertempur dua puluh jurus. Dan kentara sekali bagaimana kini Suranyawa alias Mahesa Jenar mulai mendapat tekanan-tekanan hebat. Dan pada saat laki-laki ini terpaksa buang penggada berdurinya, karena senjata itu dibabat puntung oleh trisula lawan. Dengan penasaran Suranyawa cabut senjatanya yang lain yaitu sebuah tongkat besi yang ujungnya bercagak dua. Tongkat besi ini memancarkan sinar kehijauan tanda bukan senjata sembarangan dan mengandung racun yang hebat. 


Dengan keris di tangan kanan dan tongkat besi bercagak di tangan kiri, berkelebatlah Suranyawa. Kedua senjatanya memancarkan sinar dahsyat yang membungkus lawannya. Namun yang dihadapi Suranyawa saat itu bukan manusia berilmu rendah dan bukan pula yang bersenjatakan senjata biasa. Trisula Naga Langit menderu-deru mengaung mengeluarkan sinar putih menyilaukan. 


Tubuh kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang saja dan tiba-tiba terdengar teriakan Suranyawa. Keris di tangan kanannya terlepas mental patah dua. Kalau saja dia tidak cepat-cepat tarik tangan kanannya pastilah tangan itu kena pula dibabat trisula lawan. 


Suranyawa melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Mukanya memucat laksana salju. Cepat-cepat dia atur jalan nafasnya. Ketika dia melangkah ke muka maka kelihatanlah tangan kanannya sampai ke pangkal siku berwarna sangat hijau dan bergetar. 


“Pemuda hina dina. Kau lihat lengan kananku ini?!” tanya Suranyawa sambil acungkan tangan kanannya. “Tujuh belas tahun yang lalu bapakmu meregang nyawa oleh pukulan Kelabang Hijau-ku. Kini anaknya akan menerima bagian yang sama pula.” 


Rangga Geblek tahu kalau tujuh belas tahun yang lalu musuh besarnya itu telah memiliki ilmu pukulan Kelabang Hijau itu, maka kini kehebatannya tentu tak dapat dibayangkan. Namun hal ini sama sekali tidak menggetarkan hatinya. Trisula Naga Langit dipindahkan ke tangan kiri dan tiga perempat bagian tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan. Dan kelihatanlah tangan kanan itu menjadi sangat putih sedang kuku-kuku jarinya bersinar memerah menyilaukan. 


Pendekar trisula maut tertawa menggumam. “Silahkan mulai dahulu, Suranyawa” katanya menantang. 


Diam-diam Suranyawa alirkan teluruh tenaga dalamnya ke lengan kanan. Mulutnya komat-kamit. Kedua kakinya amblas lima senti ke dalam tanah yang basah oleh genangan darah. Dan sambil lompat sembilan tombak ke atas kemudian laki-laki ini hantamkan tangan kanannya ke muka. Pendekar trisula maut tetap tak bergerak di tempatnya. Sinar hijau dari pukulan lawan melesat ke arahnya dan disambutinya dengan pukulan tangan kanan. 


Dua pukulan dahsyat beradu di udara mengeluarkan suara berdentum. Sinar hijau dan putih saling nyambar dan memecah ke samping. Pekik jerit dari orang-orang yang berdiri di tepi kalangan pertempuran terdengar di mana-mana. Tubuh mereka tergelimpang mati. Ada yang menjadi hijau akibat racun pukulan Kelabang Hijau Suranyawa dan banyak yang menjadi hangus hitam tersambar pukulan bintang perak Rangga Geblek. 


Prabu Kamandaka sendiri jika tidak cepat-cepat melompat pastilah akan menjadi korban pula. Ketika dua sinar itu beradu keras Suranyawa merasakan badannya menjadi panas. 


Celaka!!! Keluhnya. 


Pukulan kelabang Hijaunya bukan saja musnah oleh pukulan lawan tapi juga kena dihantam dikembalikan ke arah kedua kakinya. Cepat-cepat laki-laki ini ambil sebuah pil dari sabuk di pinggangnya dan menelannya. Kemudian sesaat sesudah itu laksana seekor elang dia menukik ke bawah, tusukkan besi bercagaknya ke leher Rangga Geblek. Rangga memapasi dengan trisulanya. Suranyawa coba menjepit gagang trisula dengan cagakan besi. 


Tapi “trang!” 

__ADS_1


Sekali trisula itu berkiblat maka patahkan senjata Suranyawa. Sebelum dia sempat menjejakkan kaki di tanah, sebelum dia sanggup menjauhi lawan maka Trisula Naga Langit menderu lagi, kali ini tiada ampun membabat buntung bahu kanan Suranyawa. Laki-laki ini melolong seperti serigala haus darah. Tubuhnya limbung menghuyung. 


Rangga Geblek tertawa mengekeh. “Itu dari ayahku, Suranyawa!” katanya. “Dan ini dari ibuku!” Trisula Naga Langit berkiblat lagi. Suranyawa coba menghindar dengan segala daya tapi tak berhasil. Bahu kirinya terpapas mental. Darah menyembur. Sungguh mengerikan menyaksikan tubuh Suranyawa yang tanpa lengan itu. 


“Yang ini dari Eyang Ratih Parwati, Suranyawa.” kata Rangga Geblek pula dengan masih tertawa mengekeh seperti tadi. 


Trisula Naga Langit sekali lagi menderu. Tubuh Suranyawa mental tersandar ke tembok Kerajaan. Dadanya sampai ke perut robek besar. Darah membanjir dan ususnya menjela-jela. 


Pendekar Trisula Maut masih belum puas. “Yang terakhir ini dariku sendiri, Suranyawa.” katanya. 


Ketika Trisula Maut Naga Langit membelah kepala Suranyawa alias Mahesa Jenar itu, tiada terdengar pekikan atau keluh kematian dari mulutnya. Tubuhnya masih tersandar sesaat lamanya pada tembok Kerajaan, kemudian merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat-mayat pemberontak lainnya. Tapi tubuh itu tak berada lama menggeletak di sana. Sekali kaki kanan Rangga Geblek menendang maka mentallah tubuh musuh bebuyutannya itu sampai belasan tombak. 


Rangga Geblek tertawa mengekeh, lama dan panjang. dimasukkannya Trisula Naga Langit ke balik pinggangnya. Kemudian seperti tak ada kejadian apa-apa, seperti dia bukan berada di antara hamparan ratusan mayat, pemuda ini melangkah seenaknya bahkan dengan bersiul. 


“Saudara muda.” Prabu Kamandaka memburu. “Tunggu dulu.... !” 


Pendekar Trisula Maut berpaling. “Ah.... aku sampai lupa minta diri padamu Prabu Kamandaka....” 


“Saudara, kau tak boleh pergi dulu...” 


“Kenapa?” 


“Ikutlah ke istana. Kau telah berjasa besar dan....” 


“Jasa hanyalah jasa Sang Prabu. Hanya sekedar kenang-kenangan indah. Bagiku jasa tidak berarti mengharapkan balas imbalan. Selamat tinggal....” 


Prabu Kamandaka memegang bahu pemuda itu. “Kuharap kau sudi datang ke istana terlebih dahulu, saudara,” katanya. 


“Terima kasih Sang Prabu, terima kasih....,” sahut pendekar Trisula Maut. 


“Kalau begitu beri tahu saja namamu....” 


Rangga Geblek tersenyum. “Namaku tidak penting Sang Prabu. Cuma ingatlah Gambar Trisula itu. Mungkin suatu ketika gambar itu akan kembali lagi ke Pajajaran ini. Dan satu hal. jangan lupa sampaikan salamku buat adikmu, Rara Murni.” 

__ADS_1


“Akan kusampaikan” kata Prabu Kamandaka pula., Dan semua mata kemudian menyaksikan kepergian pendekar muda itu. Prabu Pajajaran akhirnya geleng-geleng kepala dan tarik nafas panjang. “Pemuda hebat.... pemuda gagah....,” katanya. “Pajajaran berhutang besar kepadamu. Jasamu tak akan dilupakan sampai turun temurun....”.


bersambung.....


__ADS_2