
Suara terompet berhenti.
Begitu suara tiupan terompet berhenti, maka Ketua Partai baru diikuti oleh keseluruhan anggota partai yang ada di atas panggung mendongak ke atas. Tangan kiri lurus-lurus ke bawah sedang tangan kanan di melintangkan di dada. Maka serentak dengan itu mereka pun berseru dengan suara gegap gempita.
Hari satu bulan dua
Peristiwa besar dan penting di tepi telaga
Partai baru membuka lembaran sejarah
Partai Telaga Wangi ialah namanya.
Keempat baris kalimat itu diserukan sampai tiga kali berturut-turut. Sesudah itu maka bangkitlah Ketua Partai dari kursinya dan melangkah ke muka panggung. Dengan muka berseri-seri Dewa Pedang memandang pada para hadirin lalu menjura memberi hormat.
"Saudara-saudara sekalian yang kami muliakan. Pertama sekali saya selaku Ketua dari Partai yang baru muncul ini, atas nama keseluruhan anggota Partai mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat yang setinggi-tingginya karena saudara-saudara sekalian telah sudi meringankan langkah untuk datang ke mari."
__ADS_1
Suara Ketua Partai Telaga Wangi ini keras dan lantang penuh wibawa, dan nadanya teratur demikian rupa enak didengar, sehingga seluruh mata yang hadir ditujukan kepadanya.
Setelah menyapu sekilas paras tamunya dengan sepasang matanya yang tajam maka Dewa Pedang pun meneruskan bicaranya. "Dalam pasang surutnya dunia persilatan dewasa ini, kami bersama telah memberanikan diri untuk mendirikan sebuah partai baru yang kami namakan Partai Telaga Wangi. Sesuai dengan namanya maka kami benar-benar berusaha dan menginginkan, agar kelak Partai kami ini menjadi harum dalam merintis segala sesuatu yang baik di dunia persilatan. Kami percaya bahwa hanya dengan usaha yang betul-betul, dengan segala kesungguhan hati dan ditambah pula dengan bantuan saudara-saudara sekalian disini, terutama dari saudara-saudara golongan putih, maka pastilah dunia persilatan akan diliputi ketentraman dan perdamaian abadi"
Sesudah mengakhiri pidatonya itu, maka Ketua Partai Telaga Wangi memperkenalkan istri dan ketiga putranya pada para hadirin. Empat anggota partai yang menduduki jabatan penting juga diperkenalkan. Keempatnya ialah Jambakrogo Pengurus Partai untuk daerah Utara, Klabangsongo Pengurus Partai daerah Selatan, lalu Rah Gundala Pengurus Partai daerah Barat dan yang keempat Suralangi Pengurus Partai Daerah Timur.
Dewa Pedang mengakhiri perkenalan tokoh-tokoh Partai Telaga Wangi itu dengan kata-kata penutup "Akhirul kalam, sekedar untuk pelepas dahaga dan penangkal perut saudara-saudara sekalian, maka kami persilahkan saudara-saudara untuk menikmati minuman serta hidangan selayaknya. Disamping itu jika ada kekurangan atau kekhilafan dalam bentuk apapun sudi kiranya saudara-saudara memberi maaf."
Dewa Pedang menjura lalu memutar tubuh. Namun sudut matanya menangkap acungan tangan seorang tamu yang duduk di sebelah Timur panggung
Semua kepala para hadirin yang ada segera dipalingkan ke arah Timur. Dewa Pedang sendiri juga memandang ke jurusan itu. Yang telah buka suara tadi ternyata adalah seorang tokoh silat berjubah hitam berbadan tinggi langsing, berkepala lonjong dan kedua pipinya sangat cekung. Dialah tokoh yang digelari Si Bayangan Setan. Dan dari gelarnya ini saja sudah dapat diketahui, bahwa dia adalah tokoh dari kalangan hitam. Dewa Pedang yang tajam pemandangan diam-diam sudah maklum, bahwa maksud kedatangan serta ucapan Si Bayangan Setan tadi adalah satu tantangan atau penghinaan, atau sekurang-kurangnya menganggap remeh Partainya dan dirinya selaku Ketua. Namun dengan tenang dan bijaksana Dewa Pedang buka mulut hendak menjawab.
Tapi dari panggung sebelah Barat tiba-tiba terdengar seseorang berseru. Suaranya keras menggeledek.
“Bayangan Setan! Apakah kau buta atau masih belum membuka mata lebih lebar sehingga kau berbicara begitu terhadap Partai Telaga Wangi? Jika kau kenal julukan Ketuanya tak bakal kau anggap remeh!"
__ADS_1
Kini semua kepala serentak diputar ke panggung sebelah Barat. Namun tak seorangpun, termasuk Dewa Pedang yang mengetahui siapa adanya manusia yang telah bicara tadi. Ini memberi kenyataan bahwa siapapun adanya orang itu, maka dia pastilah memiliki tenaga dalam yang tinggi dan ilmu memindahkan suara yang lihai. Meskipun orang itu berada di sebelah Selatan atau Utara, namun suaranya bisa dipindahkan sehingga kedengarannya dari arah Barat atau Timur.
Karena tak mengetahui siapa yang bicara maka Si Bayangan Setan dengan penasaran berseru. "Nama Dewa Pedang memang cukup dikenal karena permainan pedangnya yang yah boleh juga. Tapi aku bertanya dan bicara tadi bukan ditujukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk keseluruhan Partai Telaga Wangi. Atau mungkin semua anggota Partai baru ini sekaligus memiliki gelar sebagai Dewa Pedang?!"
Terdengar suara mengekeh yang mengandung ejekan. Lagi-lagi suara ini datangnya dari jurusan Barat dan lagi-lagi tak satu orang pun yang tahu siapa yang mengeluarkan suara tertawa itu. "Kau terlalu sembrono dalam bicara Bayangan Setan. Apa kau tak tahu bahwa ucapanmu itu menghina langsung nama Ketua serta seluruh anggota Partai Telaga Wangi? Tak satu tokoh silat dan Partai persilatan pun yang bisa menelan kata-katamu itu. Entah Dewa Pedang dan Partai barunya!"
Diam-diam Ketua Partai Telaga Wangi segera maklum, bahwa di antara para hadirin ada yang mulai memasukkan jarum-jarum perangsang untuk menghangatkan dan mengacaukan suasana. Dengan sikap tenang dan bijaksana dia menjawab. Waktu bicara ini dia sama sekali tidak menghadap kepada Si Bayangan Setan secara langsung, namun memandang ke tengah-tengah hadirin. Sekaligus ini merupakan satu balasan yang cukup menyakiti Si Bayangan Setan meskipun datangnya secara halus.
“Saudara-saudara sekalian! Tadi kami sudah menyatakan bahwa maksud dari didirikannya Partai Telaga Wangi ini ialah untuk berusaha menentramkan dan mendamaikan dunia persilatan. Sebagai Partai baru kami memang belum punya nama. Tetapi justru bukan namalah yang ingin.dikejar oleh Partai kami. Apa perlu nama hebat kalau kehebatan itu artinya hanya untuk merusak belaka?!"
Untuk kedua kalinya maka Si Bayangan Setan merasa disakitkan hatinya oleh kata-kata Dewa Pedang itu. Dia berprasangka bahwa gelarnya lah (Si Bayangan Setan) yang dimaksudkan oleh Ketua Partai Telaga Wangi sebagai sesuatu nama yang hanya untuk merusak.
Mulut Si Bayangan Setan komat kamit. Dan dia angkat bicara Kembali "Dunia sejuta arah, ucapan seribu kalimat lidah bersilat kata, namun dunia persilatan tetap dunia persilatan, yang tiada mengenal adanya Satu Partai baru tanpa diketahui partai yang macam mana kelasnya! Apakah kelas keroco saja, atau bunglon, atau kadal, atau kunyuk? Setiap Partai baru wajib menghadapi batu ujian!".
BERSAMBUNG.....
__ADS_1