
Selama diam di puncak Gunung Ciremai itu bersama gurunya, walau bagaimanapun miring otak sang guru, namun baru hari itulah Rangga Saksana melihat dan mendengar Eyang
Ratih Parwati menyanyi. Kata-kata dalam nyanyian itu entah mengapa membuat Rangga jadi berdebar. Apakah maksud kata-kata nyanyian itu? Perasaan yang bagaimanakah yang
tengah dicetuskan oleh gurunya karena Rangga melihat nenek-nenek itu menyanyi dengan penuh perasaan, dengan mata memandang jauh ke muka.
Tujuh belas tahun membuat aku si tua bangka tambah tua. Kata-kata ini jelas ditujukan ke diri gurunya sendiri. Tapi pada
siapakah ditujukan kalimat yang berbunyi: Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda gagah, itu? Apakah ditujukan kepadanya? Berdebar hati Rangga Saksana.
Kemudian kalimatkalimat:
Tujuh belas tahun ujung perpisahan.... serta.... Tujuh belas tahun saat pembalasan....
Apakah arti semua itu?
Ketika Rangga Saksana memandang ke atas pada saat itu pula Eyang Ratih Parwati melihat ke bawah. Dan mata yang tajam dari Rangga Saksana, meskipun cuma sekilas, namun masih dapat melihat pantulan air muka serta cahaya mata gurunya yang lain dari biasanya!
Air muka itu. Sinar mata itu menyembunyikan satu perasaan sedih! Perasaan apakah yang menyemaki hati sang guru sebenarnya?
Tiba-tiba Eyang Ratih Parwati membentak keras sampai Rangga Saksana terkejut dan serasa terbang nyawanya.
”Tunggu apa lagi, geblek?! Orang sudah haus dianya tegak mematung! Kukencingi kepalamu baru tahu! Lemparkan gayung itu cepat!”
Dan Rangga Saksana segera lemparkan gayung batok kelapa yang berisi air ke atas.
Gayung itu melesat ke atas tanpa setetes airpun yang tumpah!
”Bagus Rangga.... bagus sekali!” memuji Ratih Parwati. Dan dengan tangan kirinya disambutnya gagang gayung.
Sesaat kemudian tenggorokannya yang kurus dan
kerinyutan itu kelihatan turun naik meneguk air dari dalam gayung. Air itu diteguknya sampai habis.
”Terima gayung ini kembali, Rangga!”
Gayunng melesat ke bawah. Rangga Saksana ulurkan tangan untuk menyambut tapi pada detik itu pula di atas pohon gurunya kelihatan menggerakkan tangan kanannya. Angin deras
mendorong kepala gayung, membuat gayung yang hendak disambuti Rangga Saksana itu mencelat ke samping dan menyerang dadanya!
”Gila betul!” bentak si pemuda. Cepat-cepat dia palangkan lengannya di muka dada.
Gayung dan lengan beradu. Gayung pecah berantakan ke tanah, gagangnya patah dua!
Pada saat itulah Ratih Parwati melayang turun ke bawah. Kedua kakinya menjejak tanah tanpa suara dan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun padahal cabang pohon jambu klutuk dari mana dia meloncat tadi hampir empat tombak tingginya. Dapat dibayangkan bagaimana luar biasanya ilmu meringankan badan perempuan sakti ini!
Kedua orang itu, guru dan murid berdiri berhadap-hadapan. Rangga Saksana dapat merasakan betapa lainnya pandangan kedua mata Sinto Gendeng kepadanya, pandangan yang
__ADS_1
tidak dimengertinya. Nenek-nenek ini bergerak mundur beberapa langkah ke belakang.
Kedua kakinya kemudian merenggang sedang kedua tangan mengembang ke muka. Mulutnya berkemik. Detik demi detik sepasang kakinya amblas ke dalam tanah sampai tiga senti
sedang seluruh tubuhnya bergetar hebat. Mukanya yang hitam dan berkerinyut itu basah oleh keringat.
Tiba-tiba kejut Rangga Saksana bukan olah-olah ketika dilihatnya bagaimana kedua tangan gurunya berwarna putih sekali sedang sepuluh kuku jari tangan perempuan itu memerak serta memancarkan sinar yang menyilakuan!
”Eyang!” seru Rangga Saksana. ”Apakah kau mau bikin aku mati konyol dengan pukulan bintang perak itu?!”
Ratih Parwati tidak menjawab. Mulutnya semakin mengemik. Rahang-rahangnya semakin mengatup dan pandangan mata serta tampangnya sangat mengerikan!
Merinding bulu kuduk Rangga Saksana. Baru kali ini dilihatnya gurunya sedahsyat itu.
Tanpa menunggu lebih lama, tanpa menunggu sampai kedua tangan yang mengepal dihantamkan ke muka, maka pemuda ini cepat-cepat pentang kaki dan dekapkan lengan dimuka dada. Matanya meram, mulutnya komat kamit. Sepasang kakinya amblas dua senti ke tanah. Tubuhnya tak bergerak barang serambutpun, laksana gunung karang yang keras membatu!
”Ciaaaaaaatttt”
Bentakan Ratih Parwati melengking melanglang langit! Kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum sinar putih yang menyilaukan serta panasnya dapat menghanguskan dan melelehkan benda apa saja menggempur ke arah sasaran di muka sana yaitu tubuh Rangga Saksana!
Pada detik yang sama Rangga Saksana membentak pula.
”Heeyyyaaaaa!”
Tangan yang tadi bersidekap dengan serentak memukul ke depan. Dan kedua tangan itu terus saja terpentang lurus ke muka. Inilah apa yang dinamakan ilmu pukulan ”perisai badai melanda samudra”!
sesuai dengan namanya juga dapat menjadi perisai tangguh atau benteng kekar yang melindungi Rangga dari serangan gurunya!
Bila angin-angin topan pukulan itu sama bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang menyenging liang telinga, debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon berguguran bahkan ranting-ranting kering patah-patah dan berjatuhan!
Puncak Gunung Ciremai bergetar. Langit seperti mau terbelah oleh dentuman itu!
Ketika debu dan pasir surut ke tanah, ketika keadaan di sekitar situ menjadi terang kembali maka Rangga Saksana melihat bagaimana kedua kaki gurunya amblas ke dalam tanah
sedalam sepuluh senti. Muka perempuan itu penuh keringat dan matanya menyipit. Namun bila ditelitinya pula keadaan dirinya maka didapatinya kedua kakinya tenggelam ke dalam tanah sampai sebatas betis. Sedangkan tubuhnya yang memercikkan keringat dingin itu terasa masih bergetar gontai akibat adu tanding tenaga dalam yang luar biasa tadi!
”Bagus Rangga, bagus sekali!” terdengar Eyang Ratih Parwati.
Meski memuji namun dari mukanya bukan menunjukkan kegembiraan, sebaliknya muka yang berkerut-kerut itu
masih memancarkan kengerian.
”Sekarang sambuti pukulan angin es ini, Rangga!”
Dan habis berkata begitu, Ratih Parwati angkat tinggi-tinggi kedua tangannya dengan telapak membuka lebar menghadap ke arah muridnya. Matanya kembali terpejam. Rangga menunggu dengan badan tiada bergerak.
Udara mendadak menjadi sangat sejuk. Kemudian ketika Ratih Parwati memutarmutar kedua tangannya maka kesejukan itu mendadak sontak berubah menjadi udara yang sangat dingin menyembilui tulang-tulang sungsum. Geraham-geraham Rangga Saksana bergemeletakan menahan rasa dingin yang amat sangat itu. Permukaan kulitnya membeku seperti ditutupi salju. Tanah yang dipijaknya laksana pedataran es. Satu menit saja hal itu
__ADS_1
berlangsung lebih lama pastilah tubuh pemuda ini menjadi beku membatu.
Inilah kehebatan ilmu kesaktian yang bernama ”angin es” itu!
Dengan badan bergetar menahan dingin, Rangga Saksana membentak dahsyat. Bersamaan dengan itu kedua tangannya diputar-putar ke udara, angin laksana badai menggebubu ke pelbagai arah. Puncak gunung itu menderu-deru. Daun-daun pohon yang tadi kaku tegang oleh dinginnya udara kini kelihatan mulai bergerak, makin kencang – makin kencang. Udara dingin yang tadi menyayat sungsum kini tergetar buyar dilanda ilmu
”angin puyuh” yang dilepaskan oleh Rangga Saksana.
Semakin keras putaran tangan pemuda itu, semakin membadai gebubu angin, semakin buyar udara dingin. Daun-daun pohon yang tadi hanya bergerak-gerak kini jatuh berhamburan
bersama rantingnya.
Kemudian satu demi satu pohon-pohon kecil bertumbangan. Pohonpohon besar yang masih bisa bertahan menjadi gundul daun dan rantingnya!
Tubuh Eyang Ratih Parwatu kelihatan tergoyang hebat. Pakaian hitamnya berkibar-kibar.
”Gila betul! Gila betul!” teriak perempuan sakti itu.
Mulutnya mengeluarkan lengkingan dahsyat kemudian dia melompat sejauh sembilan tombak dan dari situ mencabut
sebuah tusuk kundai lalu menyambitkannya ke arah Rangga.
Sang murid cepat-cepat hentikan putaran tangannya dan melompat ke samping. Tusuk kundai membawa angin maut itu melesat menghantam sebatang pohon. Pohon itu tumbang dengan batang pecah berkeping-keping!
Udara dingin lenyap. Angin yang memuyuh juga lenyap dan suasana kembali sepeti sedia kala. Ketika Rangga memandang ke muka dilihatnya gurunya berdiri memegang sebentuk
trisula yang aneh sekali. Belum lagi dia sempat meneliti lebih lama benda itu, Eyang Ratih Parwati ajukan pertanyaan,
”Kau lihat senjata di tanganku ini, Rangga? Kau lihat....?!”
Sang murid mengangguk dan matanya tetap lekat ke trisula aneh di tangan gurunya.
”Kali ini kau tak akan sanggup lagi berkelit dari seranganku, Rangga!”
”Eyang Ratih.... apakah kau sudah gila hendak membunuh murid sendiri....?!”
Perempuan itu tertawa mengikik. ”Aku memang sudah gila Rangga! Kalau tidak percuma namaku di dunia persilatan Srikandi Gila!”
Rangga memandang dengan waspada. Matanya kembali meneliti Trisula aneh di tangan gurunya. trisula itu mempunyai ujung seperti keris dan berwarna keperakan. Gagangnya putih
bersih, mungkin terbuat dari gading menurut taksiran Rangga. Pada batang Trisula yang besar hampir sebesar lengan itu kelihatan enam buah lobang-lobang kecil. Ujung terbawah dari gagang kapak ini merupakan kepala seekor naga yang mulutnya membuka.
”Rangga!”, kata Eyang Ratih. ”Aku akan pergunakan Trisula ini tiga jurus berturut-turut untuk menyerangmu! Bila kau sanggup melayaninya, kau akan selamat. Kalau tidak maka bersiaplah untuk mati konyol!”
Rangga Saksana kertakkan geraham. Dia hendak menjauhi kata-kata gurunya itu. Namun sebelum mulutnya terbuka, Eyang Ratuh Parwati sudah berseru:
”Ini jurus pertama Rangga!”
__ADS_1