
"Akh ... kiranya kalian adalah Sepasang Ruyung Emas Dari Banyuwangi. Nama besar kalian memang ada kudengar. Tapi hari ini kau tak bakal lagi dapat kembali ke Banyuwangi! Takdir sudah menentukan bahwa ajalmu lepas di sini!"
"Jangan kelewat tekebur, Kala Merah! Mungkin kepalamu yang akan kuhancurkan lebih dahulu dengan Ruyung ini!" kata Sepasang Ruyung Emas yang berdiri di sebelah kanan. Namanya Teggil Tantra. Rekannya yang berdiri di sebelah kiri bernama Situwara. Untuk daerah Jawa Timur, nama dan julukan sepasang pendekar golongan putih ini memang sudah tidak asing lagi.
Kala Merah bersuit keras. Tubuhnya melayang ke bawah panggung. "Kalian maju sendiri-sendiri atau berdua sekaligus?!" bentaknya begitu sampai di hadapan Sepasang Ruyung Emas.
Sepasang Ruyung Emas memberikan jawaban dengan seruan yang dahsyat. Tubuh mereka tak kelihatan bergerak, tapi tahu-tahu dua sabetan ruyung yang memancarkan sinar kuning emas telah menyambar ke muka hidung Kala Merah. Gadis muka tengkorak ini sampai tersurut lima langkah ke belakang. Tapi sepasang Ruyung Emas di tangan Situwara dan Teggil Tantra berkelebat pula memburunya.
Dalam waktu yang singkat dua jurus telah dilancarkan oleh tokoh-tokoh silat Jawa Timur itu. Permainan silat serta jurus-jurus serangan Ruyung mereka merupakan ilmu yang aneh dan banyak sekali pecahan-pecahannya. Angin menderu, dan tubuh ketiga orang yang bertempur itu hanya merupakan bayang-bayang saja. Jika saja Kala Merah mempunyai kesempatan untuk mempergunakan tangan kanannya mengeluarkan ilmu "Kala Hijau" yang sangat diandalkan, maka dalam satu jurus kedua jago silat itu mungkin sudah kojor. Tapi setiap dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, maka setiap kali itu pula salah satu dari Ruyung menyambar ke arah tangannya, sehingga sebelum maksudnya kesampaian, dia terpaksa tarik pulang kembali serangannya.
Jurus ketiga dan keempat, Kala Merah dibikin sangat repot. Memasuki jurus yang kelima tiba-tiba terdengarlah suitannya. Tubuhnya lenyap. Dua jurus dia bergerak cepat mengirimkan serangan-serangan kilat, namun hasilnya sia-sia belaka saja.
"Manusia-manusia keparat!" maki Kala Merah dalam hati.
Sekali lagi dia memekik. Tubuhnya Ienyap lagi dan tahu-tahu sudah ke luar lima tombak dari kalangan pertempuran. Situwara dan Teggil Tantra memburu tapi kali ini jarak mereka dengan sasaran terlalu jauh sehingga Kala Merah yang sengaja mencari kesempatan ini mempunyai peluang untuk melancarkan serangan "Kala Hijau".
Teggil Tantra yang berada agak ke muka membabat dengan Ruyung emasnya ketika melihat selarik sinar hijau menyambar ke arahnya. Seekor dari tiga kala hijau yang menyerangnya hancur lebur dihantam Ruyung emas. Kala Hijau yang kedua berhasil dielakkannya. Tapi menghadapi kala yang ketiga, tokoh silat ini menjadi gugup.
Teggil Tantra menjerit. Ruyung emasnya terlepas dan kedua tangannya menutupi mukanya yang bermandikan darah akibat tancapan kala hijau pada kening antara kedua matanya. Begitu racun binatang maut itu masuk ke dalam darahnya maka tergelimpanglah dia. Nyawanya putus pada detik tubuhnya mencium tanah.
"Kakak Kala Merah awas!" terdengar seruan Kala Hitam.
"Sreeet!"
Lengan pakaian Kala Merah robek tersambar Ruyung Emas Situwara yang saat itu menjadi kalap beringas melihat kematian saudara kandungnya. Satu jurus dia menggempur hebat Kala Merah. Tapi pada ujung jurus itu nasibnya tiada beda dengan Teggil Tantra. Dua kala hijau menancap di mukanya, satu di tenggorokan. Maka tamatlah riwayat Sepasang Ruyung Emas Dari Banyuwangi.
__ADS_1
Tokoh-tokoh silat golongan hitam yang menyadari bahwa ilmu kesaktian mereka masih berada di bawah kedua tokoh silat itu menjadi ngeri dan gelisah di kursi masing-masing. Tiba-tiba dua di antaranya melompat dan melarikan diri.
"Kurang ajar! Berani kabur ya?!" bentak Kala Hitam,
Tangan kanannya bergerak. Sinar hijau melesat. Maka tergelimpanglah kedua tokoh golongan hitam itu.
"Siapa lagi yang mau coba-coba ambil langkah seribu, silahkan!" bentak Kala Hitam.
"Perempuan-perempuan iblis! Dosa kalian tidak berampun! Hadapi golok panjangku!" Mendadak terdengar satu bentakan.
Suara bentakan itu belum lagi habis tahu-tahu telah berkilat sinar biru melanda Kala Merah.
"Edan betul! Siapa lagi ini yang mau minta mampus"" hardik Kala Merah.
"Setan betul!" maki Kala Merah. Kedua tangannya terkembang ke muka. Jari-jari menekuk membentuk cengkeraman.
”Cengkeram Kala Hijau!" seru si penyerang lalu menebas dengan golok panjangnya.
Kala Merah tertawa meringkik.
"Akh ... !" Terdengarlah erangan si penyerang.
Ketika dia melompat ke luar dari kalangan pertempuran maka baru bisa dikenali siapa dia adanya. Manusia ini adalah tokoh silat dari Utara yang berjuluk "Si Golok Sakti". Mukanya kelihatan bergurat-gurat dan berlelehan darah akibat cakaran kala hijau yang dilancarkan oleh Kala Merah. Sakitnya bukan main. Seluruh mukanya sampai ke leher seperti dibakar.
"Sebaiknya kau segera bunuh diri saja, Golok Sakti!" ejek Kata Merah.
__ADS_1
Si Golok Sakti tidak menjawab. Mulutnya kelihatan komat kamit. Tiba-tiba dia berseru nyaring. "Lihat golok!"
Dan semua orang termasuk tiga gadis muka tengkorak saudara seperguruan Kala Merah menjadi keheranan melihat Kala Merah mencak-mencak sendirian, memukul dan mencakar kian kemari, sedang Si Golok Sakti tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak dan mulutnya terus juga komat kamit.
Di samping lihai dalam ilmu silat maka Si Golok Sakti juga mendalami ilmu sihir. Dengan ilmu sihirnya itu dia telah menipu pandangan mata Kala Merah. Kala Merah seakan-akan melihat bahwa lawannya tengah menyerangnya lalu bergerak cepat kian kemari, memukul dan mengelak.
Melihat hal ini saudara seperguruannya yaitu Kala Hitam cepat berseru: "Kakak Kala Merah, awas jangan tertipu! Bangsat itu mempergunakan ilmu sihir!"
Mendengar ini, Kala Merah beringas setengah mati. Dihentikannya gerakannya. Tiba-tiba Si Golok Sakti menerjang ke muka. Golok panjang menyambar, angin deras melesat dari telapak tangan kiri. Kala Biru kini yang berteriak memberi peringatan. Pada saat itu sudah terlalu singkat bagi Kala Merah untuk mengelak. Tanpa pikir panjang Kala Biru naikkan tangan kanan dan memukul ke depan.
"Curang ... !" teriak Si Golok Sakti. Goloknya diputar laksana titiran tapi dua ekor kala hijau telah melesat melewati putaran golok dan menghantam mukanya. Si Golok Sakti terhuyung-huyung lalu roboh ke tanah tanpa nyawa.
"Siapa lagi yang ingin mampus cepatlah majukan diri!" seru Kala Merah.
Dia melangkah ke muka. Dengan geram ditendangnya tubuh Si Golok Sakti hingga mental ke atas panggung, terhampar di antara mayat-mayat anggota Partai Telaga Wangi.
Mendadak terdengar suara tarikan nafas aneh.
"Kejahatan kalian sudah punya! Dosa sebesar gunung kalian sudah pikul. Tapi rupanya juga kalian memiliki kecurangan! Manusia-manusia dajal! Sudah tiba saatnya kalian harus mampus!"
Suara itu adalah suara manusia yang tidak kelihatan tadi. Tapi kali ini rupanya dia tidak menyembunyikan diri lebih lama karena begitu ucapannya berakhir maka yang punya diri sudah melompat ke hadapan Kala Merah dan gadis-gadis muka tengkorak lainnya. Melihat siapa adanya manusia ini yang bukan lain si tua renta berjuluk "Sepuluh Jari Malaikat", maka besarlah kembali nyali para hadirin yang masih ada di tempat itu.
Siapa yang tak akan kenal dengan "Sepuluh Jari Malaikat"? Selama dua puluh tahun, kakek-kakek tua renta itu telah merajai dunia persilatan di JawaTimur. Dan bila hari ini dia muncul, pastilah keempat begundal-begundal pencabut nyawa itu akan dibikin ludes musnah.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1