
Langit mendung seakan mewakili seperti apa perasaan Resti yang hancur berkeping-keping. Ia sadar, Andra tak pernah mencoba membuka sedikit saja hatinya. Inikah saatnya aku menyerah? tanya Resti pada diri sendiri.
Suara ketukan pintu, mengalihkan perhatian Resti. Ia pun membukakan pintu. Terlihat wajah ibu mertuanya di sana. Resti berhambur memeluk Dewi. Wanita paruh baya itu, segera membalas pelukan menantunya tercinta.
"Kita masuk, ya," ajak Dewi.
Keduanya duduk berdampingan. Melihat Resti menangis sampai tersedu, membuat Dewi jatuh iba. Ia kembali memeluk Resti erat.
"Apa Raka menyakitimu lagi?" tanya Dewi.
Resti tidak menjawab. Ia masih mencoba menekan rasa sakit yang begitu menusuk hatinya.
"Mas Raka bilang, dia hanya bermain-main dengan mereka," jawab Resti kemudian.
Raut wajah Dewi terlihat mengeras. Wanita mana yang sudih dijadikan mainan seperti itu. Dewi memejamkan matanya sesaat. Menarik napas dalam, dan menghelanya perlahan.
"Mama boleh minta tolong sama kamu, Nak?"
Resti menoleh dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dewi melipat bibirnya sesaat. Setelah itu, membasahi bibirnya.
"Tolong jangan lepaskan Raka, apa pun yang terjadi!" pinta Dewi.
Resti terlihat syok mendengar permintaan dari ibu mertuanya. Tidak tahukah Dewi betapa hancurnya hati Resti saat ini? Jika saja ia bisa mengulang waktu, Resti lebih memilih tidak akan menjalankan wasiat orang tuanya dulu.
Melihat perubahan wajah Resti, Dewi pun kembali angkat bicara. "Mama tahu, ini adalah permintaan yang tidak masuk di akal. Tapi, mama bisa lihat, kalau Raka sudah jatuh cinta padamu. Tolong beri Raka waktu, untuk menyadari perasaannya."
Dewi menggenggam tangan Resti. Haruskah Raka menyakiti Resti sedemikian rupa, bila ia mencintainya? Apakah cinta memang berarti saling menyakiti? Resti tak mampu menjawab permintaan dari ibu mertuanya.
"Tapi, jika kamu memang sudah tidak bisa bertahan, mama sendiri yang akan turun tangan memisahkan kalian." Dewi berjanji.
***
Resti kembali memikirkan permintaan sang mertua. Kenapa saat aku ingin menyerah, mama justru menahanku? Apa yang harus kulakukan? batin Resti saling berperang.
Satu sisi, ia ingin bertahan dalam pernikahannya. Baginya, pernikahan hanya sekali seumur hidup. Namun, bila Tuhan tak mengizinkan pun, ia tak akan bisa bertahan. Saat tengah tenggelam dalam pikirannya, terdengar suara seseorang yang saling tertawa di depan.
"Apa Mas Raka sudah pulang? Tapi, kenapa ada suara wanita, ya?" gumam Resti.
__ADS_1
Ia pun melangkah perlahan ke ruang tamu. Ia terkejut melihat Raka membawa seorang wanita ke rumah mereka. Tangannya mengepal erat.
"Ini sudah keterlaluan!" desis Resti.
Resti mendekati pasangan itu. Mereka menatap Resti datar. Sementara wanita yang ada di samping Raka tampak terkejut, melihat kehadiran seorang wanita di sana.
"Kamu siapa?" tanya wanita itu.
"Saya istri dari pemilik rumah ini!" tekan Resti.
Wanita itu menatap Raka horor. "Kau sudah menikah?" tanyanya.
Raka tak menjawab. Ia menatap tajam Resti. Sementara itu, Resti tak gentar sedikit pun. Ia bahkan menyilangkan tangannya.
"Jawab, Raka!" Suara wanita itu meninggi.
Tanpa melepaskan tatapannya dari sang istri. Raka pun menjawab, "Ya!"
Satu tamparan kuat mendarat di pipi Raka. Resti menutup mulut tak percaya. Namun, Raka tak membalasnya. Ia bahkan tetap menatap Resti tajam. Wanita itu bangkit berdiri dan pergi.
"Sudahlah!" Raka berlalu dari hadapan Resti.
Ia menatap nanar kepergian sang suami. Tak menyangka, bila wanita tadi akan menampar sang suami. Resti pun mengikuti Raka ke kamar.
"Gak seharusnya kamu bawa dia ke sini, Mas," ucap Resti.
"Jangan mengaturku!" desis Raka.
"Aku ini istrimu, Mas! Bisakah kau menghargai ku sedikit, saja? Kalau kau mau bermain dengan mereka, kau bisa melakukannya di luar sana. Di mana aku tak bisa melihatnya," ujar Resti.
"Ini rumahku! Siapa pun yang ingin kubawa, itu urusanku!" Raka berbalik meninggalkan Resti.
Hati Resti terasa semakin sakit mendengar ucapan Raka. Lagi, bulir bening itu lolos.
***
Langkah Resti terasa berat, mendekati makam kedua orang tuanya. Ia mengusap nisan mereka. Rasa perih di hatinya tak lagi bisa tertahan.
__ADS_1
"Bu, Pak. Resti merasa sangat sedih. Hati Resti sakit sekali. Sampai kapan aku harus merasakan ini semua? Resti ingin sekali menyerah. Tapi, mama Dewi minta Resti untuk bertahan. Apa yang harus Resti lakukan?"
Resti menangis di sana cukup lama. Ia bahkan merebahkan kepalanya di atas nisan sang ibu. Seakan menaruhnya di paha beliau. Bayu yang ingin berziarah pun, menghentikan langkahnya.
Ia tidak tega melihat Resti terus menerus disakiti. Pria itu menghela napas berat. "Aku harus bicara dengan Raka."
Bayu pun membalikkan langkahnya kembali ke kantor. Suara tangis Resti masih terngiang di kepalanya. Tiba di kantor, ia memasuki ruangan Raka. Atasannya itu hanya menatap Bayu sesaat.
"Sampai kapan lo seperti ini?" tanya Bayu.
"Ini di kantor, bicaralah yang sopan!" tegur Raka.
"Oke!" teriak Bayu. Ia memejamkan matanya sesaat. "Berhenti menyakiti istri, Anda, sebelum penyesalan itu datang!" lanjutnya.
"Apa pun yang terjadi dalam rumah tanggaku, itu bukan urusanmu!" desis Andra.
Mendengar ucapan Andra, amarah Bayu tak lagi bisa ia tahan. Ia pun menghajar Raka, hingga puas. Tak ada perlawanan dari Raka. Wajah pria itu bahkan sudah mulai lebam dan membengkak. Sudut bibirnya juga pecah.
"Saat lo menyesali semuanya, jangan pernah cari gue, dan minta bantuan gue! Camkan itu!" Bayu menghempaskan Raka.
Raka bangkit berdiri dan duduk di kursi kebesarannya. Kemudian, ia tertawa. Entah apa yang ia tertawakan saat ini.
"Aku memang tidak pantas untuk dimaafkan," ucapnya lirih.
***
Beberapa hari berlalu. Wajah Raka sudah kembali seperti semula. Selama wajahnya lebam, Raka tak pernah pulang ke rumah. Siang itu, Raka kembali lebih dulu. Ia mendatangi seorang wanita cantik dan seksi. Kemudian, mereka pun pergi.
Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah yang Raka dan Resti tempati. Sementara itu, Resti tengah sibuk bekerja. Ia tak lagi mempedulikan Raka yang jarang pulang. Meski ia tak bisa membohongi hatinya, bila ia sangat mengkhawatirkan sang suami.
Apa kamu bersama wanita-wanita itu? tanyanya dalam hati.
Tanpa sadar, jam kerja telah selesai. Resti pun segera pulang ke rumah. Dalam hati, ia berharap Raka telah kembali. Saat ia tiba, mobil Raka telah terparkir di halaman. Resti pun mempercepat langkahnya masuk ke rumah.
Tak melihat sang suami di ruang tamu, Resti mendekati ruang kerja. Namun, Raka tak berada di sana. Ia pun mendekati ke arah kamar. Entah mengapa, jantungnya berdegup dengan cepat. Ia bahkan menelan salivanya susah.
Resti mengerutkan dahi saat mendengar suara wanita dari dalam. Detak jantungnya terasa makin cepat. Apa yang mereka lakukan di dalam?
__ADS_1