
Raka berdiri di samping Resti. Ia terus menggenggam tangan sang istri. Berulang kali mengucapkan maaf padanya. Tak lama, tante dari Raka mulai memeriksa Resti dengan alat USG. Ia menghela napas lelah, melihat hasilnya.
"Gimana kondisi anakku, Tante? Dia baik-baik aja, 'kan?" tanya Resti lirih.
Tak ada jawaban dari Dokter yang berstatus Tante dari suaminya itu. Wanita berusia paruh baya itu menatap sedih pada Resti. Tak lama, Dewi dan Ibra datang ke ruangan itu.
"Des, gimana menantuku?" tanya Dewi khawatir.
Dokter Desti, Tante dari Raka sekaligus Dokter kandungan Resti, hanya menggelengkan kepala. Dewi mengerutkan dahi dalam.
"Bayinya harus segera dikeluarkan. Kondisinya tidak baik," ucap Dokter Desti.
Resti menangis histeris mendengar pernyataan Dokter. Raka ikut menangis mendengar berita itu. Dokter Desti pun mengulurkan surat persetujuan, untuk melakukan kuretase.
"Gak, Mas. Aku mohon, biarkan dia hidup. Aku janji saat dia lahir, aku pasti akan berikan hak asuhnya padamu. Kumohon, jangan ambil anakku," pinta Resti di sela tangisnya.
"Raka, kamu harus mengambil keputusan sekarang!" Dokter Desti mengingatkan.
Resti terus meminta Raka untuk tidak mengambil hak janin itu. Di tengah kesedihannya, Raka pun menandatangani berkas itu. Setelah itu, perawat segera membawa Resti ke ruang tindakan.
"Tidak!" teriak Resti. Kesedihan menguasai hatinya.
__ADS_1
Raka jatuh terduduk, begitu Resti menghilang di balik pintu. Dewi memeluk suaminya dan menangis di dada Ibra.
***
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Dewi.
Saat ini, mereka sedang menunggu proses kuretase yang sedang Resti jalani. Sejujurnya, ia sangat terkejut dengan kejadian ini.
"Resti ingin bercerai," jawab Raka.
Dewi menoleh pada putra semata wayangnya. Ia tak menyangka, bila Resti akan meminta perceraian dalam waktu singkat.
"Dia mendengar pembicaraan Raka dan Riska." Raka menundukkan kepala dalam.
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Raka. Dewi menatap marah pada dirinya. Ibra yang mendengar ucapan itu, ikut melayangkan tinju di wajah putra mereka.
"Kau masih berhubungan dengan wanita itu?" Dewi sudah tak bisa menahan emosinya.
"Raka tidak bisa melupakannya, Ma," ujar Raka dengan wajah memelas.
"Kalau begitu, kau bisa melupakan Resti. Apa itu maumu?" cecar Ibra..
__ADS_1
"Raka juga tidak bisa melakukan hal itu."
"Raka!" pekik Ibra tertahan.
Kedua orang tua Raka seakan kehabisan kata-kata. Mereka tak mengerti lagi, bagaimana caranya berbicara pada pria itu. Ibra mengusap wajah kasar.
"Papa, tidak pernah mengajarimu untuk melakukan poligami. Sekarang, papa akan mendukung keinginan Resti!" tegas Ibra.
"Mama akan melakukan hal yang sama dengan papamu. Kalau kau masih ingin bersama Riska, maka lupakan, bila kau masih memiliki kami sebagai orang tua!" Dewi ikut menimpali.
Raka tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa tertunduk mendengar peringatan dari kedua orang tuanya.
***
Hampir satu jam Resti menjalani proses kuretase. Kini, ia sudah dipindahkan ke ruang rawat, untuk melakukan observasi. Wanita itu hanya bisa menangis sedih. Dewi masuk lebih dulu dan memeluk menantunya itu. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Resti saat ini.
"Dokter bilang, kamu mengalami pendarahan hebat. Jika dipaksakan, akan berbahaya pada dirimu, juga anakmu," ucap Dewi.
Resti hanya mengangguk. Ia tidak lagi memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Kini, ia hanya memiliki dirinya sendiri.
"Jika kau ingin bercerai, mama akan membantu. Bahkan, mama sendiri yang akan menyembunyikan dirimu," ujar Dewi.
__ADS_1