Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 70 ~ Amnesia


__ADS_3

Dewi, Ibra dan Resti segera menghampiri Dokter. Melihat senyum di wajah Dokter itu, ada sedikit perasaan lega dalam dada Resti.


"Apa ada masalah, Dok?" tanya Dewi.


"Tidak, Bu. Tapi, otak pasien menunjukkan aktivitas. Sekarang, kita akan pindahkan pasien ke ruang rawat. Semoga saja, pasien Raka cepat sadar," harap Dokter.


"Syukurlah. Terima kasih, Dokter," ucap Ibra.


Mereka kembali melihat Raka melalui kaca penghubung. Di dalam sana, para perawat tengah melepas alat-alat yang menempel di tubuh Raka. Begitu selesai, mereka mendorong ranjang keluar dari ruang ICU.


Dewi, Ibra, dan Resti mengikuti perawat menuju ruang rawat. Ibra sengaja menempatkan Raka di ruang VVIP. Ia ingin, istri dan menantunya merasa nyaman saat menemui Raka.


Ya, Ibra memang tak pernah menganggap Resti mantan menantu. Baginya, hanya Resti yang bisa mendampingi sang putra.


"Res, sebaiknya kamu istirahat dulu, Nak. Wajahmu, kelihatan kuran tidur," ujar Dewi.


"Gak apa, Ma. Resti baik-baik aja, kok," jawab Resti.


"Papa tahu kamu khawatir dengan keadaan Raka. Tapi, kamu juga harus memikirkan kondisimu. Kalau kamu sampai sakit, kamu tidak akan bisa menjaga Raka." Ibra turut menasihati Resti.

__ADS_1


"Iya, Pa." Resti dituntun Dewi menuju ranjang lain yang tersedia untuk keluarga pasien.


"Tidurlah. Nanti, kalau Raka bangun mama pasti akan kasih tahu kamu." Dewi mengusap rambut Resti lembut.


"Iya, Ma." Resti pun berusaha memejamkan mata.


***


Setelah memastikan Resti tidur, Dewi meminta dokter memasangkan infus vitamin untuk mantan istri Raka itu. Ia tak ingin Resti ikut jatuh sakit.


"Mama, juga sebaiknya istirahat di samping Resti. Beberapa hari ini, Mama kurang tidur," ucap Ibra pada sang istri.


Rasa kantuk mulai menyerangnya. Dewi pun merebahkan kepalanya sambil menggenggam tangan sang putra. Perlahan, matanya pun tertutup. Sementara Ibra, juga tertidur di atas sofa. Rasa lelah dan khawatir, membuat mereka tak bisa tidur dengan tenang.


Namun, setelah mendengar bahwa otak Raka mulai terbaca aktifitas, mereka bisa bernapas lega. Karena itu, mereka tertidur.


***


Resti terbangun karena mendengar suara. Ia akan bergerak, saat menyadari tangannya terpasang selang infus. Resti pun menarik tiang infus mendekati ranjang Raka.

__ADS_1


Terlihat Raka mulai menggerakkan kepalanya. "Mas Raka," panggil Resti. Air mata bahagia jatuh ke pipi Resti.


Mendengar nama Raka dipanggil, Dewi segera membuka mata. Ia terkejut melihat Raka yang mulai bergerak. Dewi pun memencet tombol untuk memanggil Dokter dan perawat.


Tidak butuh waktu lama, Dokter masuk bersama dua orang perawat. Ibra yang mendengar pintu terbuka pun ikut terbangun. Mereka memeriksa tanda-tanda vital, infus, serta cairan yang ada di dalam kantong kateter.


"Ma."


Suara itu membuat Dewi melihat ke arah Raka. Rasa haru menyelimuti hati Dewi, Ibra, dan Resti. Mereka merasa senang, Raka kembali membuka matanya. Ucapan syukur keluar dari mulut mereka.


Setelah memastikan Raka baik-baik saja, Dokter dan perawat pun undur diri dari ruangan itu. Kini, tinggal Resti dan kedua orang tua Raka. Raka menatap sekelilingnya.


"Ma, di mana Riska?" tanya Raka.


Mereka terkejut mendengar pertanyaan Raka. Resti bahkan sampai memegang dadanya karena terasa sakit.


"Dia siapa?" tanya Raka lagi. Matanya tertuju pada Resti.


Pikiran buruk mulai menggelayut dalam benak Resti. Apa Mas Raka mengalami amnesia?

__ADS_1


__ADS_2