
Di lorong rumah sakit, sepasang suami istri berjalan dengan langkah tergesa. Mereka menuju ruang ICU. Kemarin, setelah mendapatkan kabar tentang putri mereka yang menghilang tiba-tiba, keduanya bergegas datang ke Jakarta.
Raka yang sudah menunggu kedatangan mereka pun, menyambut keduanya. Seorang wanita paruh baya menangis di depan Raka. Namun, Raka tak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi, apa kemungkinan besar Riska akan meninggal?" tanya pria paruh baya itu.
Hanya anggukkan kepala yang Raka berikan sebagai jawaban. Hal itu, sudah membuat pasangan itu menangisi nasib putri semata wayangnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Raka.
Bagi pria itu, tugasnya untuk memberitahu kondisi Riska sudah selesai. Masalah hubungan mereka, kedua orang tua Riska sudah mengetahuinya. Karena itu, Raka memilih pergi dari sana.
Raka menghentikan langkahnya, saat melihat Resti dan Dimas memasuki lobi rumah sakit. Terlihat, Resti begitu perhatian pada pria itu. Raut wajah Raka pun berubah dingin. Tanpa sadar, ia mengepalkan tangannya erat.
Bayu yang sejak tadi mengiringi langkahnya, menepuk pundak pria itu. "Kejar! Jangan sampai kau menyesalinya!" ujar Bayu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Raka. Pria itu segera melangkah turun bersama Bayu. Bertepatan dengan itu, Resti dan Dimas berbalik hendak menuju lantai dua. Keempatnya saling bertukar pandang. Tepatnya, Resti dan Dimas menatap Raka, sementara Raka, menatap keduanya bergantian.
"Res ...." Ucapan Raka terhenti.
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Ada Dimas yang menjaga dan selalu ada untukku," potong Resti. Ia bahkan menggandeng lengan Dimas yang tidak di gips.
Dimas menoleh dan menatap Resti terkejut. Pasalnya, hingga semalam Resti tak merespon perasaannya. Bahkan, saat Dimas sengaja memojokkannya, wanita itu hanya terpaku sebentar. Begitu Resti tersadar, ia segera mendorong Dimas menjauh.
"Ya. Aku memang tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi. Apa kau ingin menjenguk Riska?" tanyanya.
"Untuk apa? Aku ke sini untuk mengantar Dimas memeriksakan tangannya yang terluka. Bukan untuk melihat wanita itu!" seru Resti sedikit ketus.
"Oh!" Untuk sesaat, Raka terlihat seperti tengah berpikir. "Jika suatu saat kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku," ucap Raka kemudian.
Mendengar ucapan Raka, Resti tampak enggan menanggapinya. "Ayo, Dim! Kita harus memeriksa kondisi tanganmu." Resti menarik sedikit lengan Dimas. Pria itu pun mengikuti keinginan Resti.
__ADS_1
Mereka segera naik ke lantai dua. Resti terus menatap ke arah depan. Sementara Dimas, sesekali ia melirik ke arah Raka yang masih diam terpaku di tempatnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Dimas setelah mereka tiba di lantai dua.
"Kenapa? Ada yang aneh?" Resti justru balik bertanya.
"Bukannya kamu masih mencintai dia?" Lagi, Dimas bertanya.
Beberapa saat Resti hanya terdiam. Ia seakan tak berniat menjawab pertanyaan Dimas. Belum sempat Resti menjawab, terlihat Raka kembali naik. Namun, pria itu hanya melewatinya begitu saja.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Riska. Bukankah, itu jalan menuju ruang ICU?" Dimas melihat arah Raka melangkah.
Tak lama, para Dokter dan perawat terlihat menuju ruang Riska dirawat. Dimas pun menarik Resti ke arah yang sama. Tiba di sana, mereka melihat Raka yang memeluk wanita paruh baya. Sementara di dalam ruangan, Dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan Riska.
"Mohon maaf, pasien tidak lagi bisa diselamatkan," ucap Dokter.
__ADS_1
Pada akhirnya, Riska pun kembali pada Sang Pemilik kehidupan.