
Layaknya air yang mengalir, seperti itulah hubungan antara Resti, Dimas dan Raka. Meski tidak ada kesepakatan di antara kedua pria itu, tetapi mereka seakan menunjukkan sebuah persaingan yang sehat. Bagaimana pun, Raka cukup puas bisa kembali dekat dengan Resti.
"Res!" panggil Raka.
Resti yang baru saja keluar dari rumahnya mengangkat pandangan. Ia tersenyum pada pria itu. Setelah memastikan rumahnya terkunci, Resti menghampiri Raka.
"Hai, Mas," sapa Resti.
Usia Raka yang berada di atas Resti, membuat wanita itu memanggilnya dengan sebutan 'mas'. Raka pun mengulurkan paper bag padanya.
"Apa ini?" tanya Resti.
"Mama titip ini untuk kamu." Raka memasukkan tangannya ke dalam saku.
Senyum Resti terkembang, saat melihat isi paper bag tersebut. "Sampaikan terima kasihku sama mama, ya, Mas," ucap Resti tulus.
"Ok." Raka membalas senyum Resti. "Oh, iya. Kamu mau kemana?" tanya Raka kemudian.
"Aku mau beli bahan untuk bikin kue, Mas," jawab Resti.
__ADS_1
"Ayo, aku antar!" ajak Raka.
Pria itu menjadikan ini sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan Resti. Berharap wanita yang masih menempati hatinya itu, kembali mencintai dia.
"Tapi ... aku udah ada janji sama ...." Ucapan Resti terhenti, saat terdengar klakson mobil.
Keduanya menoleh bersamaan. Perlahan, pintu mobil terbuka. Menampakkan Dimas yang terlihat berpakaian santai. Kaos oblong dipadu dengan celana setinggi lutut.
"Wah, pagi-pagi udah pada ngumpul aja, nih. Lagi ngomongin apa?" tanya Dimas.
"Oh, Mas Raka cuma nganterin ini dari mama." Resti lebih dulu menjawab.
"Mas, aku pergi dulu, ya," pamit wanita itu.
"Hmm." Raka mengangguk, dengan senyum kaku di wajahnya.
Ia pun hanya mampu menatap kepergian Resti dan Dimas. Sekian detik ia terdiam, sebuah ide melintas dalam benaknya. Pria itu pun segera masuk ke dalam mobilnya. Kemudian, melajukan roda empat itu.
***
__ADS_1
"Mau ke mana mereka? Bukannya supermarket itu ke arah kanan? Kenapa mereka lurus terus?" tanya Raka pada dirinya sendiri.
Ya, pria itu memutuskan untuk mengikuti kemana Resti dan Dimas pergi. Menjaga jarak aman, dari mobil milik saingannya. Mobil Dimas pun memasuki pelataran parkir sebuah pasar tradisional.
"Ya, ampun. Tempat ini, 'kan kotor. Kenapa ke sini, sih?" rutuk Raka entah pada siapa.
Melihat Dimas dan Resti masuk ke dalam pasar, Raka memutuskan untuk menunggu di parkiran. Ia tidak menyukai tempat itu. Selain kotor, ada banyak orang yang berdesak-desakan.
Hampir satu jam Raka menunggu, tetapi Resti dan Dimas belum juga keluar dari sana. Beberapa kali ia melirik jam tangan, serta menghela napas. Sepuluh menit kemudian, kedua orang yang ia tunggu pun terlihat.
Dimas membawakan barang belanjaan Resti. Ia terlihat seperti seorang kekasih yang begitu perhatian. Ada rasa cemburu di hati Raka. Membuat pria itu meremas roda kemudinya dengan erat.
"Sialan!" umpatnya. Tak ingin melihat kemesraan yang ditunjukkan Dimas, Raka memilih tak lagi mengikuti mereka.
Resti dan Dimas yang melihat Raka pergi, menahan senyum mereka. Keduanya segera menuju mobil Dimas.
"Sudah kubilang, dia itu masih cinta sama kamu!" ujar Dimas.
"Aku hanya ingin menjaga hatiku, agar tidak kembali terluka." Resti berucap lirih.
__ADS_1
"Aku mengerti. Jadi, kamu masih mau menguji dia?" Dimas menatap Resti dalam.