
Kedua mata Resti membola sempurna, mendengar ucapan pria di seberang sana. Menculik dia bilang?
"Saya tidak menculik ya!" bantah Resti dengan tegas.
"Mana ada maling mengaku!"
Resti menarik napas dalam. Sepertinya sulit untuk bicara dengan orang yang tengah emosi. Di tengah rasa emosi yang sedang diredamnya, Resti merasakan seseorang menarik ujung bajunya. Refleks, Resti membuka mata.
"Biar aku yang bicara, Tante," pinta anak itu dengan suara khasnya.
Anggukkan kepala Resti berikan sebagai jawaban. Ia pun menyodorkan ponselnya pada anak itu. Ia menatap pembicaraan di antara mereka. Dari sana ia tahu, bila orang yang ia hubungi adalah pamannya.
Anak ini hebat! Dia bisa menjelaskan dengan rinci pada pamannya, gumam Resti.
"Ini, Tante. Sudah selesai." Ia menyodorkan ponsel pada Resti.
Hal itu membuat Resti sedikit terkejut. "Eh, sudah. Oke!" Resti tersenyum.
Demi membunuh waktu, Resti bertanya pada anak itu, tentang alasannya berada di taman sendiri. "Kenapa kamu bisa ada di taman? Sendiri lagi?"
__ADS_1
"Tadinya, aku sedang mengejar kucing. Tapi, kucingnya justru hilang," jawab anak itu polos.
"Kucing?" Anak itu mengangguk. "Terus, tidak ada yang mengikuti kamu?" Kali ini, Adam menggelengkan kepala. "Lain kali, jangan keluar dari rumah tanpa pengawasan, ya." Resti mencoba menasihati Adam.
"Memangnya kenapa? Om aja keluar gak pernah Adam awasi!" anak itu mencoba membantah nasihat Resti.
Resti pun terkekeh mendengar jawaban Adam. Belum sempat ia menjawab, seorang pria menarik Adam menjauhi dirinya. Resti bangkit berdiri dan menatap pria itu terkejut. Sepersekian detik mereka saling bertukar pandang.
"Om, jangan marah sama tante ini! Tante ini udah nolong aku," pinta Adam.
Sayangnya, pria itu tengah tenggelam dalam lamunannya. Resti lebih dulu bereaksi, lalu meminta maaf.
"Maaf saya tidak berniat menculik keponakan, Anda. Karena kalian sudah bertemu, saya pamit." Resti mengalihkan tatapannya pada Adam. " Sampai jumpa lagi, Ganteng," pamit Resti.
Setelah melihat lambaian tangan Adam, Resti segera berbalik. Ketika Resti sudah berjarak, pria itu pun memanggil namanya. Langkah Resti terhenti. Ia terkejut, jantungnya memompa lebih cepat.
"Kamu, Resti, 'kan?" tanya pria itu.
Dahinya mulai berkeringat. Rasa takut itu muncul tanpa bisa ia cegah. Tubuhnya ikut bereaksi dengan getaran.
__ADS_1
"Hei!" Pria itu menepuk bahu Resti pelan, dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Jangan ganggu aku lagi!" teriak Resti tanpa menatap pria itu.
Namun, ia terkejut melihat reaksi yang Resti tunjukkan. Resti, terlihat ketakutan. Ada yang melihat itu, segera menghampiri Resti dan memeluknya.
"Om, sih, asal tuduh tadi!" teriak Adam.
Merasakan tangan mungil menggenggam tangannya, Resti mulai tersadar. Ia melihat adam yang seakan tengah menenangkannya. Pandangan Resti beralih pada pria yang ada di dekat mereka.
"Maaf aku gak bermaksud menyakitimu," ucap pria itu.
Mendengar pria itu meminta maaf, Resti menghela napas lega. Rasa takutnya, berangsur-angsur hilang.
"Kamu gak ingat aku?" tanya pria itu kemudian.
Kembali Resti menatap pria itu. Rasanya, sangat tidak asing. Namun, ia tidak bisa mengingatnya dengan baik. Akhirnya, Resti menggelengkan kepala.
"Ini aku, Dimas," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Dimas?" ulang Resti.
Pria itu menganggukkan kepala. Ingatan Resti kembali pada masa putih abu-abunya dulu. Wajah pria itu pun muncul. Pria yang pernah menempati hatinya, tanpa ia ungkapkan. Senyum pun terbit di wajah cantiknya.