
Setelah mendengar percakapan mereka, Resti memilih masuk. Pasangan yang berstatus sebagai mantan kekasih itu terkejut melihat kedatangannya. Raka segera berdiri dan menjauh dari Riska. Hal itu membuat dia kesal.
Resti menatap Raka datar. Tidak ada kemarahan atau kecemburuan di sana. Sejujurnya, ia merasa lelah dengan drama rumah tangga yang terjalin selama beberapa bulan ini. Pria yang mempersunting dirinya, seakan hanya menaruh harapan palsu.
"Aku sudah mendengar pembicaraan kalian." Resti memecah kesunyian lebih dulu.
Baik Raka maupun Riska, tak bereaksi. Mereka menunggu Resti melanjutkan ucapannya. Melihat itu, Resti terkekeh sendiri.
"Sepertinya, kalian memang menungguku untuk membicarakan masalah ini," lanjut Resti.
"Bukan begitu, Sayang. Aku ...." Ucapan Raka terpotong.
"Mas, gak perlu menjelaskannya. Semua sudah sangat jelas. Aku akan segera mengajukan gugatan cerai." Resti melangkah pergi.
Baru dua langkah ia menjauh, Raka menahannya. "Kau ingin bercerai?"
__ADS_1
Resti menoleh, mencoba membaca raut wajah yang Raka tunjukkan. Ia bisa melihat kemarahan di sana. Membuatnya sedikit gemetar. Sebisa mungkin, Resti menahan diri agar tak terlihat ketakutan.
"Ya." Resti menjawab tegas.
"Oke. Setelah anak itu lahir, aku pasti akan menceraikanmu. Dengan catatan, hak asuh ada padaku!" tegas Raka.
"Kau membicarakan hak asuh?" Resti tertawa mendengar ucapan sang suami. "Apa kau yakin, bisa menjaganya? Padaku saja, kau selalu mengingkari janji. Bagaimana dengan anak yang belum lahir ini?" cecar Resti.
"Paling tidak, masa depannya jauh lebih baik, dibanding dia ada dalam asuhanmu!"
Resti mengepalkan tangannya erat. Jelas, ia tidak akan membiarkan anaknya dirawat oleh wanita lain. Belum tentu juga, wanita itu bisa menyayanginya sepenuh hati. Apalagi, anak itu bukanlah anak kandungnya.
Hati Resti semakin sakit mendengar ucapan Riska. Wanita yang menjadi mantan kekasih suaminya, sangat pintar memainkan kata-kata. Saat ini, mungkin dia bisa mengucapkan A. Namun, dilain waktu, ia akan berubah pikiran.
"Tidak perlu. Aku sendiri yang akan merawatnya!" tolak Resti.
__ADS_1
"Dengan apa? Kau bahkan hanya seorang pengangguran!" ejek Raka.
"Kau tenang saja. Aku sudah memiliki pekerjaan," jawab Resti.
"Jangan menguji kesabaran ku! Sampai kapan pun, aku pasti akan mengambil hak asuh itu!" ancam Raka.
Resti mengepalkan tangannya erat, serta menatap Raka tajam. Ia pun sengaja berbalik dan pergi meninggalkan rumah itu, tanpa membawa apa pun. Raka yang menyadari hal itu, mengejar Resti.
Riska mendengus kesal melihat adegan kejar mengejar itu. "Menyebalkan!" umpatnya. Ia pun mengikuti keduanya.
Resti terus berlari menjauh. Rasa sakit di bagian perutnya, ia abaikan. Raka terus berteriak memanggil namanya. Tiba di jalan raya, Resti hendak menghentikan taksi. Akan tetapi, ia terpeleset dan jatuh terduduk.
Sakit yang luar biasa mulai ia rasakan. Bahkan, ada darah yang mengalir dari bagian intim wanita itu. Ia berteriak histeris melihat kucuran darah itu.
"Resti!" teriak Raka. Pria itu segera menghampiri sang istri dengan wajah khawatir. Matanya menangkap aliran darah di kaki Resti.
__ADS_1
"Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Raka segera menggendong Resti.
Dari kejauhan, Riska menutup mulut dengan telapak tangannya. Raka menghentikan taksi yang lewat. Ia menyebutkan nama rumah sakit terdekat dari tempat itu. Secepat kilat, taksi meluncur menuju tempat yang disebutkan penumpangnya.