Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri

Penyesalan Suami: Mengejar Cinta Mantan Istri
Part 26 ~ Peringatan


__ADS_3

Raka dan Bayu baru saja selesai bertemu dengan klien disebuah restoran. Saat keluar, mereka bertemu dengan Riska. Bukan hanya Raka yang menatapnya datar, Bayu pun melakukan hal yang sama.


Riska yang juga melihat keberadaan Raka, tersenyum manis padanya. Ia pun menghampiri Raka.


"Halo, Direktur," sapa Riska.


Sebelah alis Raka terangkat tinggi mendengar sapaan Riska. Sementara Bayu, mengerutkan dahinya dalam. Melihat wajah keheranan mereka, Riska terkekeh.


"Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik," ucapnya lagi. Senyumnya terlihat merekah. Kemudian, Riska berlalu dari hadapan mereka.


Seketika Raka dan Bayu terdiam. Mereka memang baru menemui perusahaan periklanan, untuk membahas produk yang akan dipasarkan. Namun, pihak klien tak memberitahu model yang akan mereka pakai.


"Kau tahu tentang ibu, Bay?" tanya Raka.


Saat ini, mereka mulai meninggalkan area restoran. Raka tidak mengerti, bagaimana bisa, ada kebetulan seperti ini.


"Saya tidak tahu, Bos," jawab Bayu, "apa perlu saya batalkan kerja sama ini?"


"Tidak perlu. Masalah itu, adakah urusan mereka. Pantau terus. Aku hanya tidak ingin ada kegagalan. Itu saja!"

__ADS_1


"Baik, Bos," jawab Bayu.


Selama sisa perjalanan, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Raka kembali fokus pada iPad di tangannya. Sementara Bayu, tetap fokus pada jalan di depan. Bunyi pesan masuk, membuyarkan konsentrasi Raka.


'Aku sangat menantikan kerja sama kita.' (Riska)


Raka tak membalas pesan itu. Ia memilih untuk mengabaikannya. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Kali ini, Resti lah yang menghubunginya. Senyum Raka terkembang melihat nama sang istri.


Bayu ikut tersenyum, melihat kemesraan sang atasan. Apalagi, wajah Raka terlihat lebih berseri.


***


Aku merasa dejavu dengan semua ini. Sama persis dengan saat pertama kali kami bertemu. Riska terlihat ramah dan natural.


Senyum Raka mengembang. Beberapa detik kemudian, ia menggelengkan kepala kecil, untuk menghilangkan bayangan masa lalu itu. Saat menoleh, Riska sudah tak terlihat di sana.


Setelah menunggu setengah jam, Riska keluar dengan makeup natural dan menawan. Raka terpana melihatnya. Lagi-lagi, sesuatu mengusik pikiran Raka. Saking terpananya, Raka menatap Riska tak berkedip. Ia bahkan tak menyadari, bila Bayu sudah berdiri di sampingnya.


"Jangan bilang kau kembali teringat masa lalu," ujar Bayu.

__ADS_1


Raka tersentak, mendengar suara Bayu. Cepat ia menoleh, dan mendapati sahabat, sekaligus asistennya berdiri di sisinya.


"Kau mengejutkanku saja," gerutu Raka.


Sudut bibir Bayu terangkat kecil. "Kau terlalu tenggelam dalam bayang masa lalu, hingga tak sadar, kalau aku sudah berdiri di sini selama sepuluh menit!"


"Sorry." Raka meninggalkan lokasi.


Syuting pun usai. Riska tengah menyalami setiap kru yang sudah membantu proses syuting. Kemudian, ia menghampiri Bayu.


"Mana Raka?" tanyanya.


Senyum sarkas muncul di bibir Bayu. "Kau sedang mencoba membangkitkan gairah cinta lama?"


Riska tak menunjukkan ekspresi apa pun, selain senyum yang sejak tadi sudah terkembang. Wanita itu kembali menarik tangannya yang sempat terulur.


"Aku tidak mengerti maksudmu," jawab Riska.


"Aku tidak tahu apa rencanamu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, jika sampai kau menghancurkan Raka sekali lagi, aku sendiri yang akan membalasnya!" Bayu memberi peringatan keras.

__ADS_1


Pria itu segera meninggalkan lokasi, tanpa menunggu tanggapan Riska.


__ADS_2