
Suasana hening mendominasi ruang sempit itu. Resti bahkan tak bicara sedikit pun selama perjalanan mereka pulang. Sesekali, Dimas meliriknya melalui ekor mata. Bukan Resti tidak tahu, bila Dimas ingin bertanya tentang pria tadi. Akan tetapi, ia tidak siap menceritakan masa lalunya.
"Jangan menatapku seperti itu," pinta Resti lirih.
Wanita itu menundukkan kepala, dengan rambut tergerai. Helaian rambut Resti, menutupi sebagian besar wajahnya.
"Aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi ingatlah! Aku selalu siap untuk mendengar semua ceritamu. Jangan pernah kau menyimpan masalah itu sendiri!"
Resti yang mendengar ucapan Dimas, merasa sedikit tenang. Ia pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Terima kasih karena tidak bertanya. Terima kasih juga karena kau selalu ada untukku," ucap Resti saat mobil tiba di depan tempat tinggalnya.
Dimas menyodorkan paper bag yang tadi ia tunjukkan. Resti tersenyum menerima hadiah kecil itu. Ia pun pamit dan meninggalkan mobil Dimas.
"Tahukah kau alasanku melakukan semua itu? Itu karena Aku mencintaimu," gumam Dimas. Ia menatap Resti hingga menghilang dari pandangannya.
***
__ADS_1
Resti menyandarkan tubuh pada pintu yang sudah tertutup. Air mata yang ia tahan sejak siang tadi, akhirnya jatuh tak terbendung. Ia bahkan menepuk dadanya yang terasa makin sesak.
Perlahan, tubuhnya merosot dan terduduk di lantai. Bukan hanya tubuh, tetapi hatinya pun lelah. Ketika Raka tak ada, pikiran Resti tertuju padanya. Namun, ketika melihat pria itu, rasa benci menguasai dirinya. Membuat Resti tak ingin bertemu Raka.
"Aku benci diriku yang seperti ini. Kenapa aku tidak bisa melupakan dia saja?" tanyanya pada diri sendiri.
Setelah puas menangis, Resti mulai beranjak untuk membersihkan dirinya. Ia menghela napas dalam saat melihat penampakkan dirinya di cermin.
"Mengerikan," gumamnya.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Resti. Terlihat, sebuah pesan masuk dari Dimas. Dimas mengatakan, bila Adam sudah merengek padanya untuk mengajak Resti bermain lagi.
"Hah ... disaat hatiku suram seperti ini, memang sangat penting untuk menghibur diri," ucapnya seraya menatap pesan itu.
***
Raka duduk bersandar di sofa. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ingatan berputar pada kejadian, di mana seorang pria membela Resti.
__ADS_1
"Hei, Bro. Bukannya mau ikut campur. Tapi, tidakkah, Anda, egois dengan memaksakan kehendak?"
Raka menegakkan posisi duduknya. Mengerutkan dahi dalam mengingat kejadian itu. "Siapa sebenarnya pria itu? Sejak kapan Resti punya teman pria?" tanyanya entah pada siapa.
Lamunannya buyar seketika, saat dering ponsel berbunyi. Terlihat, nama Riska di sana. Kali ini, Raka tak langsung menjawabnya. Dari caranya menatap ponsel, seakan ragu untuk menjawab panggilan itu.
Tak lama, panggilan terputus. Raka pun memilih mematikan ponselnya saat ini. Sengaja menon-aktifkan ponsel tersebut.
Sementara pria yang Raka pikirkan pun melakukan hal yang sama. Dimas bahkan sengaja duduk di balkon dan mengingat semua cerita Resti. Sayang, ia tak menemukan apa pun.
"Apa Resti tidak pernah cerita? Tapi ... dia siapa? Lalu, kenapa Resti terlihat tidak suka padanya?" Berbagai pertanyaan bersarang dalam benak Dimas. Sayangnya, tidak ada yang bisa menjawab selain Resti.
Dimas pun menghela napas kasar. Ia merasa frustasi saat ini. Sedetik kemudian, ia mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana. Setelahnya, ia meletakkan ponsel itu di meja.
Setiap ponselnya berbunyi, Dimas segera mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya. Akan tetapi, wajahnya berubah kecewa.
"Kenapa tidak membalas pesanku?" gumam Dimas sedikit kesal.
__ADS_1